
Sedangkan Nafeesa sudah sampai di Airport Soekarno Hatta. Dia menarik kopernya hingga ke bagian depan bandara. Dia ingin memesan ojek online, tapi belum dia buka aplikasinya, dia mencari dompetnya yang sudah tidak berada di dalam tas selempangnya.
"Ya Allah… dompetku di mana? Seingat aku terakhir tadi memasukkan kembali saat sudah membayar taksi," terangnya yang berusaha mengingat kejadian tadi.
Dia refleks menutup mulutnya saat menyadari jika tadi resleting tasnya terbuka. Wajahnya kembali sendu dan sedih karena dompetnya terjatuh entah di mana.
Air matanya jatuh membasahi pipinya, dia tidak menyangka jika cobaan datang lagi mendekatinya.
"Ya Allah… bagaimana caraku bisa sampai ke rumahnya Ibu, uang sepeserpun tidak ada, semua kartu ATM aku ada di dalam dompet itu." Dia berdiri seperti orang linglung saja.
Mau jalan ke rumahnya Ibu panti bukan pilihan yang terbaik. Karena jaraknya juga cukup lumayan jauh dari Bandara.
"Apa aku minta bantuan sama teman kerja saja, sempat ada yang bisa membantuku," ia segera mencari nomor kontak hp temannya yang dikira dapat membantu mengatasi masalahnya.
Hingga beberapa kali dicoba dengan nomor yang berbeda tetapi satu pun dari mereka tidak ada yang bersedia menolongnya. Temannya menolak dengan berbagai alasan. Ada juga yang nomornya tidak aktif.
Piiiiittttttttt!!!
Suara klakson dari sebuah mobil sedan putih membuatnya terkejut. Nafeesa hampir saja terjatuh untuk ke dua kalinya dalam sehari. Dia memegang dadanya karena terkejut dengan kejadian tersebut.
"Astaugfirullah," dengan perlahan mengelus dadanya dan menatap jengkel ke arah mobil yang sudah menjauh dari tempatnya
Dia tersenyum saat mengingat sahabatnya yang selalu ada di setiap dia butuh bantuan selama ini. Dia mencari menscroll beberapa nama kontak dihpnya. Lalu dia tersenyum bahagia saat telponnya tersambung ke nomor hp yang dia akan hubungin.
Tut.. tut.. tut..
Nafeesa bersabar menunggu telponnya diangkat, "ya Allah.. semoga saja Nadira mengangkat telponku."
Hingga berulang kali, Nadira tidak menggubris telponnya Nafeesa yang membuat wajahnya kecewa dan sedih. Hanya Nadira lah orang satu-satunya yang bisa menolongnya. Tetapi harapannya pupus saat telponnya sama sekali tidak mendapat jawaban.
"Mungkin aku harus berjalan kaki ke sana, hitung-hitung olahraga, sudah lama kan tidak pernah olahraga."
__ADS_1
Nafeesa memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke arah jalan raya. Teriknya panas matahari siang itu tidak menyurutkan langkahnya untuk menapaki satu persatu pepin trotoar tersebut. Dia memakai masker untuk menjalankan aturan dari pemerintah sesuai protokol kesehatan yang sudah ditentukan. Dan membantunya melindungi wajahnya dari paparan sinar matahari.
Nafeesa terus melangkahkan kakinya menuju alamat ibu panti asuhan yang dulu berjasa membesarkannya dan sering dia temui jika berkunjung ke Panti.
Sesekali ia berhenti di pinggir jalan untuk mengistirahatkan sejenak tubuhnya. Tatapan dari beberapa orang yang melihatnya sama sekali tidak dihiraukannya.
Sudah tiga jam dia berjalan, tetapi hingga detik itu juga dia belum sampai di alamat yang akan dia datangi. Perjalanannya baru separuh jalan dan masih butuh waktu sekitar kurang lebih dua jam lagi.
Rasa lelah sudah menggerogoti tubuhnya, dia melihat ke arah beberapa warung yang berjejer di sepanjang jalan yang dilaluinya,dia tiba-tiba kehausan tapi, untuk saat itu dia tidak mampu untuk membeli segelas air putih mineral kemasan pun tak sanggup dia beli.
Nafeesa ikut berteduh dengan beberapa masyarakat yang kebetulan berada di lokasi yang sama dengannya. Dia hanya bisa mengelus lembut lehernya yang sudah kehausan. Dengan menatap nanar orang yang meminum air putih tersebut.
"Ayo semangat, sudah dekat." Dia kembali menyemangati dirinya sendiri agar bisa menjalaninya dengan baik hingga sampai ke rumah ibu Laila.
Nafeesa kembali melanjutkan perjalanannya yang tersisa sekitar 6 kilometer lagi. Langkahnya kembali terhenti saat ada sebuah pengendara sepeda motor yang mengehentikan laju motornya tepat di hadapannya.
Orang itu turun dari motornya dan berjalan ke arah Nafeesa. Nafeesa yang tidak tahu apa-apa tetap berjalan. Beberapa meter, orang itu memanggil namanya.
Langkahnya terhenti sesaat lalu menolehkan wajahnya ke arah sumber suara yang memanggilnya. Orang itu berlari kecil ke arahnya sedangkan helmnya masih setia terpasang di atas kepalanya. Dia terengah-engah dan ngos-ngosan berlari. Maklumlah usianya sudah tidak muda lagi untuk melakukan hal itu.
Nafeesa langsung memeluk tubuh orang tersebut dengan erat. Nafeesa sampai menangis terharu karena orang yang ingin dia temui ternyata bertemu di jalan.
"Ibu," ucapnya dengan penuh kebahagiaan hingga air matanya menetes membasahi pipinya saking bahagianya.
"Nafeesa ibu sangat merindukanmu," balas Ibu Laila.
"Nafeesa juga Bu, sangat merindukan ibu," ujarnya.
Ibu Laila melerai pelukannya lalu mengamati nafeesa dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Dia bahkan memutar tubuhnya Nafeesa.
"Nafeesa kok kamu ada di sini, emangnya mau kemana, terus suami kamu ada di mana?" Tanyanya yang celingak-celinguk mencari keberadaan Andra.
__ADS_1
"Nanti Nafeesa akan jawab, kita ke rumah Ibu saja dulu, apa Ibu gak kasihan sama Nafeesa yang sudah kelelahan berjalan," terangnya dengan disertai tawa garingnya.
"Jalan kaki!! Maksudnya?" Tanyanya lagi.
Nafeesa menarik tangan Ibu Laila menuju motor maticknya yang terparkir di pinggir jalan.
"Nanti Nafeesa bicara haus Bu," ujarnya sembari mengelus lehernya.
"Sepertinya ada masalah besar yang dihadapinya."
Ibu Laila melajukan mobilnya menuju rumahnya. Kebetulan dari pasar dan tadi entah kenapa dia melewati jalan itu padahal dia tidak pernah melewati jalan itu yang kebetulan jaraknya jauh dari rumahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan rumahnya Ibu Laila.
"Ibu tadi aku hubungi nomor hpnya ibu tapi, kok gak aktif yah padahal banyak kali aku hubungi," terangnya.
Ibu Laila membuka pengait tali helmnya lalu menjawab pertanyaan dari Nafeesa," hpnya Ibu rusak nak, tiga hari yang lalu terjatuh ke dalam kolam ikan yang ada di belakang rumah."
"Ohh gitu yah, kasihan hpnya ya nyemplung dan berenang menemani ikan-ikan Ibu," ucapnya Nafeesa yang tertawa.
"Ayok masuk Katanya tadi kehausan," tuturnya lalu membuka kenop kunci pintunya.
Sedangkan di dalam rumahnya Andra. Lidya yang baru saja menerima sebuah paket dari kurir, tidak mengetahui siapa yang mengirimkan paket tersebut karena hanya mamanya nafeesa yang tertera dari atas kotak tersebut.
Lidya mengamati dengan seksama, menunggingkan, memutar balik bungkusan itu tapi, Lidya sama sekali tidak mengerti.
"Apa aku buka saja yah paketnya, kalau milik Mas Andra pasti namanya tertera di atas sini, berarti benar ini punya perempuan bego itu, aku buka saja kalau gini."
Lidya berjalan ke arah kamarnya Nafeesa yang berniat untuk membuka kotak paket kiriman itu. Dia duduk di pinggir ranjangnya Nafeesa.
"Dompet?" Tanyanya saat mengambil isi dari kotak tersebut.
__ADS_1
"Kok bisa dompetnya ada di sini tapi orangnya gak ada yah? Sepertinya aku bisa memanfaatkan dompet ini untuk menghasut Mas Andra agar semakin membenci perempuan cupu itu."