Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
28. Perdebatan Nyonya Dea Dengan Cucunya


__ADS_3

"Cantik, walaupun penampilannya sedikit kampungan."


Nyonya Dea menyelesaikan kunyahan makanannya lalu melihat ke arah Nafeesa yang berdiri di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Nafeesa harap-harap cemas saat Nenek dari pemilik perusahaan mencicipi makanan hasil buatannya.


"Ya Allah… semoga Nyonya cantik itu menyukai masakanku dan aku diterima, aku tidak ingin bergantung terus pada Ibu kasihan juga sama ibu walaupun usaha katering ibu sudah cukup maju tapi ibu punya banyak tanggung jawab juga terutama pada anak-anak panti."


Nyonya Dea melap ujung bibirnya dengan tissue yang tersedia di ujung meja. Dia melihat wajah Nafeesa yang tampak tegang itu. Dia menyunggingkan senyumannya.


"Apa kamu bersedia menikah dengan cucuku?" Tanya Nyonya Dea.


Perkataan yang terlontar dari mulutnya membuat Sakti terlonjak kaget sedangkan Nafeesa mulutnya menganga dan kedua bola matanya membulat sempurna saking terkejut dan shocknya mendengar perkataan dari Nyonya Dea.


"Apa perkataan ku kurang jelas?"tanyanya yang menatap ke arah Nafeesa dengan tatapan tajam.


Nafeesa yang ditatap seperti itu mereka minder dan tidak enak hati, "ya Allah.. apa aku melakukan kesalahan sehingga Nyonya itu menatapku dengan tatapan yang tajam?"Nafeesa membatin melihat kearah Nyonya Dea.


"Nenek!! Apa maksud dari perkataan Nenek? Pernikahan itu bukan permainan Nek dengan semudahnya menjatuhkan pilihan Nenek pada orang yang baru nenek temui," ujarnya disaat sudah berada di hadapan neneknya.


"Sakti!! Apa selama ini kamu selalu memikirkan perasaan nenek? Tidak kan?" Balas Neneknya yang masih bersikap tenang dan biasa saja.


"Tapi!! Nenek lihatlah gadis yang Nenek pilih apa dia layak untuk menjadi istriku dan pendamping hidupku?" Teriak Sakti Perkasa sembari menunjuk dan menatap tajam kearah Nafeesa.

__ADS_1


Nyonya Dea hanya tersenyum menanggapi perkataan dari cucu tunggalnya itu, "Sakti, di mana kamu selama ini? Semua gadis yang Nenek pertemukan dengan kamu semuanya sangat sempurna dari penampilannya tapi kamu selalu menolaknya dengan berbagai alasan jadi untuk kali ini Nenek memilihnya dan tidak akan merubah pendirian Nenek," jelasnya panjang lebar sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.


Sakti mengalihkan pandangannya ke arah Nafeesa dan terkejut bukan main. Perempuan sudah hampir dua puluh tahun itu ternyata berdiri di depannya. Gadis SMA yang menolongnya sewaktu dia dikejar anjing gila dulu.


"Tapi apa mungkin aku tidak salah, jangan sampai dia bukanlah gadis berkepang dua yang aku cari selama ini, tapi wajahnya ada kemiripan,aku harus mencari tahu siapa dia sebenarnya."


Tatapannya tajam menelisik kearah Nafeesa yang sedari tadi hanya bisa terdiam kebingungan dengan apa yang terjadi di dalam ruangan itu yang menurutnya begitu cepatnya.


"Intinya Nenek tidak ingin mendengar perkataan tidak setuju dari mulutmu lagi, jika pilihan nenek ini kamu tolak lagi, maka jangan muncul dari hadapannya nenek untuk selamanya dan anggap saja Nenek sudah mati," untuk pertama kalinya Nyonya Dea berbicara dan mengancam dengan perkataan seperti itu.


Nyonya Dea sudah jenuh dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi kepada cucunya itu agar segera mengakhiri masa lajangnya. Setiap kali dijodohkan dengan perempuan dari kalangan jetset selalu saja ditolaknya dengan mentah-mentah. Dan dari awal melihat Nafeesa Nyonya Dea sudah jatuh hati dan tertarik pada kemampuan Nafeesa.


"Rencanaku kali ini harus berhasil, Sakti harus menikahi Nafeesa, aku sangat yakin jika gadis ini mampu meluluhkan keegoisan hatinya dan keras kepalanya."


Nyonya Dea segera melangkahkan kakinya menuju tempat Nafeesa berdiri. Lalu memegang kedua tangannya Nafeesa.


"Tapi a-ku su-dah.." ucapan Nafeesa terpotong karena langsung disanggah oleh Nyonya Dea.


"Nenek tidak ingin mendengar penolakan darimu, dan mulai detik ini kamu diterima bekerja di rumahku bukan di Perusahaan ini," jelasnya lalu berjalan ke arah luar.


Nyonya Dea memberikan kode kepada asistennya untuk segera membantu Nafeesa agar mengikuti langkahnya. Prita yang diserahi tugas segera bertindak dan menjalankan perintah dari Nyonya Dea.


"Nona mari ikut bersamaku, kita akan ke rumahnya Nyonya Dea dan mulai detik ini Nona sudah mulai bekerja," terangnya lalu menuntun langkahnya Nafeesa.

__ADS_1


"Saya kira kerjanya di Kantin Mbak bukan di rumahnya Nyonya Dea?"tanyanya yang masih keheranan dengan situasi yang tengah terjadi.


"Nona beruntung karena bisa bekerja di rumahnya Nyonya Dea dan kalau boleh jujur tidak mudah untuk masuk dan bekerja di sana dengan peraturan yang sangat super ketat itu," terangnya lagi.


"Ooohh gitu, jadi saya ikut dengan Mbak ke rumahnya Nyonya Dea maksudnya gitu?" tanyanya yang sudah mengekor di belakangnya Prita.


Prita berhenti sesaat lalu menjawab pertanyaan dari Nafeesa sembari menolehkan kepalanya ke arah Nafeesa berdiri, "benar sekali,mulai detik ini kamu bagian dari rumah Nyonya Dea dan saya harap kamu bisa bekerja dengan baik dan apa yang diminta oleh Nyonya Dea harus kamu perimbangkan dengan baik karena menurutku semua perkataan Nyonya bukanlah permainan."


Prita kembali berjalan ke arah pintu keluar diikuti oleh Nafeesa dibelakangnya. Nafeesa tidak percaya dengan permintaan dari Nyonya Dea apalagi mengingat statusnya yang seorang janda pasti mereka akan berubah pikiran jika mengetahuinya. Pemikiran itu yang melanda hati dan pikirannya.


"Aku baru empat bulan cerai dengan Mas Andra dan ada pria yang ingin menikahiku apa semua ini hanya permainan takdir saja."


Mereka berjalan ke arah mobil yang terparkir sedari tadi dan menunggu kedatangan mereka. Prita dan Nafeesa masuk ke dalam mobil bagian di belakang sedangkan Nyonya Dea duduk di dalam mobil yang pertama paling depan. Mobil mereka sudah meninggalkan Perusahaan Perkasa tbk menuju Kediaman Perkasa.


Sakti segera menghubungi asisten pribadinya untuk mencari tahu siapa Nafeesa sebenarnya. Dia tidak ingin salah orang dan ingin mengetahui apa dugaannya benar atau salah. Feeling-nya mengatakan kalau dia adalah orang yang sedari dulu dicari keberadaannya.


"Yuda buka email kamu, dan selidiki siapa perempuan itu saya tunggu informasinya hingga jam 2 siang dari sekarang," ucapnya saat telepon sudah tersambung.


"Baik Bos perintah siap dilaksanakan, tapi seperti biasa lah Bosku," tuturnya yang sengaja dia gantung perkataannya.


"Masalah itu beres yang penting apa yang aku inginkan lima dari sekarang sudah ada di depanku," timpalnya lalu mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak.


"Ini bos perintahnya seperti membeli kacang goreng saja seenak jidatnya memberikan perintah yang selalu saja menginginkan hasil yang selalu cepat dan tanpa kesalahan dan cacat sedikitpun," Yudha menggelengkan kepalanya dan sedikit ngomel tidak jelas saking tidak percayanya dengan sikap atasannya itu.

__ADS_1


"Semoga saja dia adalah gadis penolongku, kalau memang dia orangnya pasti aku akan segera halalkan dan mempercepat pernikahan kami."


Tatapannya nanar ke arah jendela ruangan kantornya senantiasa menatap ke arah gedung pencakar langit yang berjejer rapi itu.


__ADS_2