
"Nafeesa!!!!" Teriaknya di dalam mobilnya yang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Andra baru menyadari jika penyesalan itu selalu datangnya diakhir sebuah kisah cerita. Penyesalan tidak akan ada artinya jika itu terus menerus dilakukan. Yang bisa dilakukan adalah jalan yang terbaik berusaha memperbaiki yang sudah terlanjur rusak.
Merubah semua kelakuan yang tidak baik adalah salah satu cara yang bisa dilakukan agar tidak terlalu larut dan terjatuh dalam kubangan lumpur kesedihan dan penyesalan.
Andra segera dibawa ke dalam rumahnya, untungnya banyak tetangga yang berdatangan membantunya. Raut wajah Ibu Anna dan Pak Handoko tidak ditutupi lagi. Mereka sangat sedih dan khawatir melihat kondisi putra semata wayangnya. Putra yang selama ini dia bangga-banggakan itu tapi, hari ini jatuh pingsan tak sadarkan diri.
"Andra sadarlah Nak,ini ibu sudah datang," ucap Ibu Anna disela isak tangisnya yang mencoba untuk membangunkan Andra.
"Ibu harus sabar,Ayah akan telpon dokter Amar agar segera datang ke sini," ujarnya lalu mengambil hpnya yang berada di dalam saku celana panjangnya.
Wajah Ibu Anna jelas terlihat penyesalan, kesedihan dan kecemasan yang bercampur aduk menjadi satu bagian saat itu.
Tok.. tok..
Ketukan pintu itu membuat perhatian mereka tertuju pada pintu yang diketuk orang dari luar. Ibu Anna saling berpandangan dengan suaminya.
"Apa itu dokter Amar yah Ayah?" Tanyanya Ibu Anna.
"Mungkin saja yah, Ayah buka pintunya dulu," balasnya lalu berjalan ke arah pintu.
Pintu yang terbuat dari kayu jati itu terbuka dan ternyata yang mengetuk pintu adalah Supirnya.
"Ada apa?" Tanyanya Pak Handoko yang sedikit ketus karena mengira yang datang adalah Dokter Amar dokter keluarganya.
Pak Juanda selaku supir pribadi di dalam keluarganya menyerahkan sebuah map yang terjatuh di atas jalan saat mereka mengevakuasi tubuhnya Andra yang pingsan tadi.
"Mungkin ini barang milik Tuan Muda, soalnya terjatuh saat Tuan muda digotong ke dalam rumah Tuan," terangnya lalu menundukkan kepalanya.
Pak Handoko mengambil map itu dari dalam tangannya Pak Juanda,"makasih banyak Pak dan tolong jangan pulang dulu,nanti ada yang ingin aku sampaikan," ujarnya lalu berjalan kembali ke hadapan Istrinya.
Ibu Anna yang melihat suaminya memegang sebuah map segera melemparkan pertanyaan,"Mas, apa itu?" Tanyanya dengan singkat dan sangat ingin mengetahui apa yang dipegang oleh suaminya itu.
"Mas, juga tidak tahu, entah ini isinya apa?" Tanyanya yang mulai membuka map itu.
Pak Handoko mulai membaca isi dari map itu, wajahnya langsung berubah sendu dan sedikit emosi setelah berhasil membaca semua isi dalam berkas map itu.
Ibu Anna memperhatikan sedari tadi perubahan dari wajahnya Pak Handoko yang berubah-ubah ketika membaca isinya. Dia ingin meremas kertas itu, tapi dia teringat jika kertas itu sangat penting untuk putranya.
__ADS_1
"Mas,apa yang terjadi?" Tanyanya yang sudah berdiri di samping tubuh tegak suaminya yang terdiam dalam keterpakuannya.
Ibu Anna sedikit menggoyang tubuhnya Pak Handoko agar segera membuka mulutnya untuk berbicara.
"Mas!!!" Teriakannya dengan suara cukup besar dan nyaring membuatnya terlonjak terkejut lalu menatap dalam mata Istrinya sembari berbicara," Pantesan Andra terluka dan hancur pasti gara-gara ini alasannya yang membuatnya terpuruk dan pingsan," ujarnya yang memberikan isi map itu ke dalam tangannya Ibu Anna.
"Ini tidak mungkin Mas!! Pasti ada kesalahan di dalamnya, aku yakin jika ini bukan kemauannya Nafeesa, aku tahu betul bagaimana karakternya Nafeesa Mas," ucapnya yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya.
Ibu Anna yakin jika surat cerai itu bukanlah keinginannya semata dari Nafeesa, ibu Anna sangat tahu karakternya Nafeesa yang sangat membenci yang namanya perceraian.
"Ibu yakin ada seseorang yang memanfaatkan keadaan ini, dan bodohnya Andra terlalu bego hingga masuk ke dalam perangkap orang itu.
"Kalau bukan Nafeesa terus siapa Bu, apa ini perbuatan dari Lidya yah?" Tanyanya yang menduga jika semua hal itu Lidya lah yang bertanggung jawab dan merencanakan semua ini dengan matang.
Pak Handoko kembali merogoh sakunya untuk mengambil hpnya. Dia berniat untuk menghubungi nomor hp mantan menantu sirinya itu.
"Mas, stop tidak usah menelponnya lagi, Ibu tidak ingin berhubungan dengannya lagi sampai kapan pun dan apa pun yang terjadi, kalau perlu blokir nomor hpnya Lidya dari hp Ayah dan Andra, tidak ada gunanya berhubungan lagi dengan iblis wanita itu," makinya Ibu Anna.
"Betul yang kamu katakan, semua kemalangan, kesedihan dan kehancuran hidupnya Andra dan pernikahannya dengan Nafeesa semuanya gara-gara Lidya si ular betina itu," timpal Pak Handoko yang memaki Lidya.
"Setelah semua kejadian ini, Ibu akan tinggal bersama dengan Andra dan akan selektif menjaganya dari semua ancaman dari mana saja, dan Ibu berharap Nafeesa suatu saat nanti masih menjadi menantu kita Mas," terangnya dengan panjang lebar yang sudah mulai emosi mengingat kejadian yang menimpa rumah tangga anak sulungnya.
Sedangkan di sebuah rumah sakit khusus untuk ibu hamil. Nafeesa dan Sakti memeriksakan kondisi kehamilannya. Sakti tersenyum bahagia melihat layar komputer empat dimensi itu yang memperlihatkan keadaan calon bayinya Nafeesa yang ternyata kembar.
Nafeesa dan Sakti tidak menyangka jika calon bayinya adalah anak kembar, tetapi mereka belum mengetahui jenis kelamin keduanya karena mereka seakan-akan selalu menutupi jati diri mereka. Hingga membuat mereka penasaran dan eksaitik menanti kelahiran dua buah hatinya yang tersisa kurang lebih empat bulan lagi.
"Syukur Alhamdulillah, anak-anak kita sehat dan baik-baik saja sayang," ucapnya dengan memegang kedua tangannya Naf sambil terus memperhatikan layar komputer itu.
"Iya Mas, Naf sangat bahagia dan bersyukur mereka dalam keadaan yang baik-baik saja dan semoga mereka sehat hingga keduanya lahir ke dunia ini," balasnya yang raut wajahnya memancarkan binar kebahagiaan.
"Selamat yah Bu, Anda mengandung bayi kembar," ucap tulus dokter sembari terus meletakan alat untuk mengetahui keadaan dari kedua calon penerus Sakti.
Setelah dokter melakukan pemeriksaan dengan menggunakan teknologi yang cukup canggih. Dokter pun menuliskan resep obat dan vitamin yang paling terbaik yang ada untuk kedua calon anak mereka.
"Kita harus segera menghubungi Nenek sayang dan mengabarkan kepadanya kalau calon anak kita adalah twins," usulnya Sakti.
"Nanti saja Mas, kalau kita sampai di rumah, soalnya aku capek banget," lirihnya yang menunjukkan wajah sendu di hadapan suaminya.
Sakti mengelus pelan dan penuh kelembutan di atas puncak perutnya Nafeesa.
__ADS_1
"Entah kenapa, perasaanku tidak enak jika mengingat tentang Nyonya Dea, kenapa perasaanku akhir-akhir ini tidak enak jika mengingat namanya Nyonya Dea." Batinnya Nafeesa selalu mengalami kegelisahan dan ketakutan jika berhubungan dengan nenek dari suaminya itu.
"Ini resep obat untuk istri Tuan dan tolong dijaga baik kehamilannya ibu, dan jangan lupa untuk selalu mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi serta beberapa obat dan vitamin yang saya sudah dituliskan di dalam kertas itu Tuan," ujarnya dokter kandungan yang nantinya akan selalu menangani kesehatan dari Nafeesa hingga melahirkan sesuai dengan rekomendasi dari Nyonya Dea tentunya.
"Makasih banyak Dok, Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Sakti yang sudah menggandeng tangannya Nafeesa dengan penuh kehati-hatian.
Keduanya tersenyum lalu meninggalkan ruangan praktek dokter. Dokter tersebut segera mengambil hpnya dan mengirim pesan ke nomor seseorang dan mengabarkan jika anaknya Nafeesa adalah kembar.
Nafeesa andai bisa dia tidak ingin berhubungan lagi dengan Nyonya Dea, tapi sangat mustahil dan tidak mungkin Bisa terjadi dan dia lakukan selama mereka masih suami istri. Dan Nafeesa tidak mungkin juga harus melarang suaminya untuk bertemu dan berinteraksi dengan Neneknya.
Tetap Dukung Dilema Diantara Dua Pilihan dengan:
Cara Like setiap Babnya
Rate bintang lima
Gift Poin atau Koin Seikhlasnya
Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.
Mampir dong dinovelku yang lain dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Makasih banyak, i love you all...
__ADS_1