
Beberapa cinta harus dilepaskan dengan sedih dan kau harus menerima kenyataan pedih.
Beberapa saat kemudian, Andra sudah berada di dalam kabin Pesawat siap untuk terbang kembali ke Ibu Kota Jakarta. Dia merasakan kesedihan dan kecewa dengan apa yang terjadi dengannya. Andra sama sekali tidak berniat untuk menceraikan istrinya tetapi Nafesa sendiri yang memancing amarahnya.
Nafeesa saking lelahnya menangis tanpa dia sadari harus tertidur pulas dalam keadaan tertidur di atas lantai.
Kenyataan memang tak selalu beriringan dengan harapan, tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan.
Andra sudah sampai di Jakarta, tapi dia tidak langsung pulang ke rumahnya. Malahan dia menghabiskan waktunya di Apartemennya seorang diri. Hingga subuh menjelang barulah dia bisa tertidur pulas setelah menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol.
Apartemen yang biasanya bersih dan rapi, pagi itu sudah berantakan. Dimana-mana terdapat botol yang berguling serta beberapa bekas bungkusan makanan serta puntung rokok pun menambah daftar benda yang tergeletak di atas lantai.
Entah kenapa dia tidak ingin bertemu dengan Lidya istri sirinya saat itu, Andra masih kepikiran dengan kenyataan yang baru diketahuinya jika istri sahnya yang menjadi menantu kesayangan kedua orang tuanya ternyata sudah tidak suci lagi dan betapa marahnya karena istrinya baginya tidak mau jujur tentang hal itu semua.
Mentari pagi menyapa bumi dengan cahayanya yang berkilauan. Nafesa baru terbangun saat matahari sudah tinggi di ufuk timur. Dia mengerjapkan matanya berulang-ulang kali. Dia tertidur pulas di atas lantai tanpa alas dan selimut yang melindungi tubuhnya dari paparan dinginnya ac.
"Alhamdulillah sudah pagi, aku harus segera mengemas semua barang-barangku."
Nafeesa segera bangkit lalu berjalan tertatih ke dalam kamar mandi. Dia ingin membasuh wajahnya dengan air. Ia berjalan kearah cermin kaca yang ada di dalam kamar mandi. Nafeesa memperhatikan wajahnya dengan seksama.
__ADS_1
Kelopak mata yang menghitam, sedikit bengkak, hidung mancungnya yang memerah serta rambutnya yang acak-acakan. Dia kembali teringat dengan kejadian kemarin di mana Andra suami sahnya telah menjatuhkan talaq kepadanya.
Perlahan air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Dia menangis tergugu mengingat semua perkataan dari Andra yang menuduhnya telah melakukan hubungan terlarang dengan pria lain. Tuduhan itu lebih sakit dia rasakan dari pada saat Andra menyebut kata cerai di hadapannya.
"Ya Allah aku harus bagaimana lagi? Tidak mungkin aku pulang ke rumahnya Mas Andra, ke rumah Kakek juga pasti mereka akan menolak kehadiranku terlebih lagi papa dan mama terang-terangan tidak menyukai kehadiranku selama ini di dalam keluarganya."
Tubuhnya terduduk di atas closed, dengan deraian air matanya terus membasahi pipinya. Mau tidak mau dia harus segera memutuskan untuk pulang ke Jakarta atau ke tempat lain saja.
Dan hari ini juga adalah hari terakhir dia menginap di Hotel Nusa Dua Bali. Dia bingung harus kemana lagi sedangkan dia tidak punya seorang pun keluarga. Karena statusnya hanya anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga besar pak Brawijaya.
Beberapa saat kemudian, dia segera berdiri lalu membersihkan seluruh tubuhnya. Dai sudah memutuskan untuk pergi dari Bali dan hendak ke rumah Ibu panti asuhan yang dulu merawatnya. Menurutnya hanya beliau lah tempat yang paling tepat dia datangi.
"Maaf Mbak ini kunci kamar XX," ucapnya sembari mengulurkan sebuah kunci ke hadapan Resepsionis.
"Makasih banyak Mbak sudah percaya kepada Hotel kami untuk melaksanakan bulan madunya," dengan senyuman ramahnya.
"Sama-sama Mbak," balasnya lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Nafeesa kembali berjalan ke depan Hotel untuk menunggu mobil Ojol yang sudah dipesan sebelumnya lewat aplikasinya yang berwarna hijau itu. Nafeesa sesekali melirik ke arah jam tangannya.
__ADS_1
"Biasanya kalau pesan mobil gak pernah selama ini," ujarnya yang keheranan dengan mobil yang dipesannya belum datang juga.
Nafeesa sudah gelisah karena sisa beberapa menit lagi, pesawatnya akan berangkat ke Kota Jakarta.
"Ya Allah kenapa supir mobilnya juga gak balas chat aku malahan nomornya gak aktif, padahal tadi sempat nelpon katanya sudah jalan ke sini," terangnya dengan kecemasan yang terpancar di wajahnya.
Keberangkatan pesawatnya jam 01.00 siang dan sekarang sudah jam 12.40 menit jadi tersisa 20 menit lagi dari sekarang.
Nafeesa segera berjalan ke arah jalan raya untuk memanggil taksi saja yang kebetulan lewat. Nafeesa berjalan tanpa memperhatikan kondisi jalan yang ramai. Dia terburu-buru dan dari arah yang berlawanan mobil meluncur dengan kecepatan sedang hampir saja menabraknya.
"Aaaaahhhhhhh!!"
Nafeesa hampir saja tertabrak mobil mewah sedan berwarna hitam. Dia sudah terduduk di atas aspal sedangkan koper besarnya yang sedari tadi ditariknya sudah terlempar jauh dari tempatnya terjatuh.
Mobil itu berhenti tepat didepannya lalu pintu mobil itu pun terbuka dan turunlah seorang pria dengan stelan jas lengkapnya yang berwarna abu-abu. Pria itu memakai kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Nafeesa masih berusaha untuk bangkit dari duduknya, tapi dia kembali hampir terduduk karena tiba-tiba rasa ngilu dan sakit dibagian mata kakinya. Dia kembali berteriak saat tubuhnya hampir limbung ke atas aspal untuk kedua kalinya.
Bila memang tak lagi cinta, lebih baik engkau katakan saja, kurelakan bila kau ingin pergi meninggalkan luka di dalam hati. Cukup sudah kau lukai hatiku yang selalu tulus mencintaimu. Kuikhlaskan semua yang terjadi. Kuakhiri, cukup sampai disini. Pergilah engkau bersamanya. Anggaplah diriku yang tak pernah ada. Aku mohon jangan lukai hatinya, cukup aku saja.
__ADS_1