
"Silahkan!! kalau memang apa yang saya sampaikan semuanya kepada Anda dan situ tidak percaya, monggo dicek hingga Anda capek," gertak Pak Aziz lagi.
Pak Ruslan segera menyusul Daffa untuk mencari keberadaan dari Daffin tapi, langkahnya terhenti ketika melihat Daffa berjalan dengan lunglai, loyo dan tidak bersemangat sedangkan wajahnya sudah dibanjiri oleh air matanya.
"Ya Allah… aku sangat tidak percaya, jika ada manusia yang berhati kejam dan tega melakukan kejahatan seperti ini," Pak Ruslan membatin dan sangat tidak menduga jika semuanya berubah 180 derajat hanya dalam hitungan detik saja.
"Makanya pernah loh diajak gabung dengan Nyonya besar kamu terlalu songon dan bangga jadi pengikut setianya Tuan Permana ginilah jadinya," Pak Aziz membatin di tempatnya dengan seringai liciknya.
Pak Ruslan spontan memeluk tubuhnya Daffa agar segera menghentikan tangisannya. Pak Sultan terharu, sangat sedih dan iba melihat kondisinya Daffa.
"Sudah nangisnya yah, bagaimana kalau kita ke rumah sakit untuk jenguk Mami, apa Daffa setuju" tanyanya Pak Ruslan dengan sembari melap air matanya Daffa yang seakan-akan tidak ada habisnya.
Saat menyebut namanya Maminya, Daffa secepatnya menghentikan tangisannya lalu melap semua air matanya yang masih betah menetes membasahi pipinya.
"Daffa mau Kakek, tapi kalau Mami tanya Daffin dimana, aku harus ngomong apa sama Mami kek?" Ucapnya Daffa dengan wajah yang kebingungan.
Pak Ruslan tidak ingin melihat Daffa dan Nafeesa bersedih dan terbebani lagi dengan kejahatan dan kelakuan dari Nyonya Dea.
"Ya Allah…apa salahnya anak sekecil ini harus menderita dan menanggung beban dari keserakahan dan ketamakan orang dewasa?" Pak Ruslan membatin dan menerawang hingga jauh ke depan.
"Kalau gitu kita berangkat saja ke Rumah Sakit Pelita Harapan, Daffa kangen dengan Mami Kek," tuturnya Daffa yang segera menghapus jejak air matanya yang sedari tadi menetes membasahi wajahnya yang chubby itu.
"Oke, tapi apa kakek minta sesuatu sama kamu?" Tutur Pak Ruslan sembari memegang kedua lengannya Daffa dengan wajah yang serius.
"Emangnya kakek minta apa sama Daffa?" Tanya balik Daffa yang masih terdengar suara sesegukan dari bibir mungilnya itu.
"Apa yang kamu dengar dari mulutnya Nyonya Dea!, Kakek minta jangan sekali-kali katakan atau pun menyampaikan hal tersebut kepada orang lain, cukuplah kamu yang tahu, nanti kakek yang akan urus semuanya dan jika Daffa sudah berumur 20 tahun barulah kamu sampaikan kepada Mami, apa Daffa mengerti dengan penjelasan dan permintaannya Kakek?" Harap Pak Ruslan.
Dia melakukan hal itu,agar kelak tidak terjadi lagi hal besar yang tidak semestinya mereka hadapi lagi. Dan supaya kondisi dari Nafeesa tidak semakin terguncang hebat jika ia mengetahui kebenarannya itu.
__ADS_1
"Oke Kakek, Daffa bisa kakek untuk melakukan hal itu, yang penting Mami bisa secepatnya pulih dan sembuh total dari sakitnya," timpal Daffa anak kecil yang baru berusia kurang lebih 11 tahun harus pintar dan berani menanggung beban dan permasalahan kerasnya kehidupan.
"Anak yang pintar," puji Pak Ruslan yang salut dan bangga dengan karakter dari anak sambungnya almarhum Sakti.
Daffa hanya tersenyum menimpali dan menanggapi perkataan dari kakeknya pengacara dari keluarganya.
"Aku yakin kelak kamu yang akan berhasil menumbangkan tembok kekuasaan dan rezim otoriter dan kejahatan dari Nyonya Dea," batinnya Pak Ruslan dengan menaruh harapan besar pada Daffa.
"Ayo jalan kek, kasihan dengan Mami harus sendirian di rumah sakit," ajak Daffa dengan menarik tangannya Pak Ruslan.
Pak Ruslan diam-diam menyeka air matanya. Ia tak ingin bocah kecil yang ada di samping kanannya tahu jika dia rapuh dan lemah untuk saat ini.
Sedangkan di dalam suatu ruangan di tempat yang sangat jauh dan tidak diketahui keberadaannya itu.
"Tolon!!!!!!" Pekiknya seorang anak kecil yang berada di dalam suatu ruangan khusus.
"Mami!!! Aku ingin pulang, tolong Mami!! Kakak, Papi huhuhuhu," raung seseorang bocah kecil yang sangat ketakutan karena harus tinggal di dalam satu ruangan yang sangat sempit dan kecil.
Raungan dan tangisannya sama sekali tidak mampu membuat hati seseorang yang ada di balik tembok tersentuh, terenyuh dan iba serta prihatin dengan keadaannya.
Suara tangisannya sangat menyayat hati sanubari yang mendengar raungannya itu, tetapi tidak berlaku untuk beberapa orang yang sedari kemarin menjaganya.
"Sampai kapan dia kita sekap di sini Bos?" Pria yang berambut plontos itu bertanya pada bosnya yang berambut panjang dan gondrong itu dengan sedikit ikal berombak ujungnya dengan ikatan rambutnya.
"Kita tunggu sampai perintah dari Nyonya Besar memerintahkan kepada kita untuk berhenti," jawabnya Si Gondrong.
"Yang penting makanannya dan minumannya terjamin dan tidak boleh terlambat sedikit pun," imbuhnya lagi yang menambahkan penuturan dan perintah dari orang nomor satu yang menjadikan mereka sebagai anak buahnya.
Hahahaha,"rencana kita berhasil dan aku sangat tidak menyangka jika semuanya berjalan sukses dan semudah itu," terangnya sambil menyesap minuman berwarnanya dengan kandungan alkohol yang cukup tinggi itu.
__ADS_1
"Kamu sangat pintar sayang, kita akhirnya jadi konglomerat hingga tujuh turunan," sahurnya dengan sesekali mengelus punggung polos dari kekasihnya itu.
Malam itu mereka merayakan kemenangan sekaligus keberhasilan untuk merebut semua harta yang sudah lama mereka impikan.
Tawa bahagia kegirangan mereka menggema di seluruh penjuru dan pojok ruangan yang berukuran 6x8 meter itu.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
...9. Ceo Pesakitan...
...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1