
Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan yang cukup terbilang besar untuk jumlah mereka yang sekarang.
Pak Ruslan masih tidak percaya dengan apa pun yang terjadi dan dilihatnya saat itu juga. Dia tidak menduga dan menyangka jika wanita pujaan hatinya yang pergi sekitar 20 tahun lalu berada di depan matanya sekarang.
Mungkin inilah yang dikatakan takdir dan jodoh mau lari ke mana pun pasti akan kembali dipertemukan dalam kondisi dan suasana yang berbeda.
"Bagaimana kabarmu Laila?" Pak Ruslan berbasa-basi sebentar sebelum mereka dipersilahkan untuk masuk ke dalam.
Nafeesa mengalihkan pandangannya ke arah Pak Ruslan bergantian dengan Bu Laila. Nafeesa tidak menyangka dan percaya jika mereka saling mengenal buktinya mereka saling bertegur sapa.
"Alhamdulillah kabarku baik kok Mas, kalau Mas gimana?" Bu Laila balik bertanya kepada Pak Ruslan yang menatapnya dengan tatapan matanya yang penuh dengan kerinduan.
Bu Laila tersipu malu ditanya seperti oleh Pak Ruslan seperti anak abg labil saja. Pak Ruslan pun selalu dibuat salah tingkah oleh tatapan dan senyuman dari Laila perempuan yang sedari dulu hingga detik ini masih menjadi pemilik relung hatinya yang paling terdalam.
Nafeesa yang memperhatikan interaksi keduanya sempat tersenyum penuh arti.
"Apa Ibu sama Paman sudah saling kenal, tapi kok aku gak pernah lihat dan dengar tentang pak Ruslan yah?" Nafeesa membatin dan tersenyum melihat mereka yang tersipu dan tersenyum malu-malu.
"Silahkan masuk, maaf kalau rumahnya Ibu sempit dan kecil, tapi hati Ibu besar kok," candanya Bu Laila.
Mereka tersenyum menanggapi candaan dari Ibu Laila yang sebenarnya grogi dan salah tingkah karena selalu di tatap oleh Pak Ruslan.
"Kalau gitu, Ibu ke dalam dulu kebetulan Ibu buat kue pasti kalian suka, kalau Daffa apa suka makan makanan yang manis Sayang?" Bu Laila mengalihkan tatapannya ke arah Daffa yang sedari tadi hanya terdiam memperhatikan interaksi dari beberapa orang besar yang ada di depan matanya.
"Daffa sukanya gorengan yang gurih dan pedas Nek, kalau kue manis itu kesukaannya Daffin," jawabnya Daffa yang membuat hatinya Nafeesa kembali sedih dan mencelos teringat akan putra keduanya itu.
Aida, Aimah dan Pak Ruslan yang mendengar celotehan spontan dari Daffa ikut sedih karena mereka mengingat masa-masa bersama dengan Daffin yang selalu ceria dan aktif yang selalu mewarnai suasana kediamannya Sakti.
__ADS_1
Ibu Laila merasakan ada yang aneh yang disembunyikan oleh Nafeesa putri angkatnya,tetapi dia tidak mau mengorek informasi tersebut sebelum Nafeesa sendiri yang berbicara. Tapi, itu akan terasa sulit karena Nafeesa tipe orangnya sangat tertutup jika berhubungan mengenai kehidupan pribadinya.
"Biarlah waktu yang menjawab semuanya, aku yakin jika dia tidak sanggup untuk memikul bebannya pasti barulah dia berbicara," Ibu Laila membatin.
Air matanya Nafeesa yang sudah sedari tadi dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan lajunya akhirnya menetes membasahi pipinya. Daffa yang menyadari jika maminya menangis segera berjalan ke arah Mami Nafeesa lalu memeluk erat tubuh perempuan yang sudah berjasa besar untuk melahirkan dan membesarkannya.
"Mami, maafkan Daffa, aku tidak sengaja dan lupa kalau Daffin tidak ada bersama kita," ucapnya yang menyesali keputusannya telah berbicara yang tidak-tidak tentang Daffin adik kembarnya.
Nafeesa segera menyeka air matanya lalu menangkup ke dua pipi chubby putranya itu," sayang kamu tidak punya salah apa pun sama Mami, jadi jangan meminta maaf kepada Mami, itu tidak perlu kamu lakukan."
Daffa kemudian mengelap tetesan demi tetesan air matanya Nafeesa di wajahnya dengan kedua tangan kecilnya itu.
"Mama jangan sedih dan nangis lagi, Daffa janji kalau Sudah besar nanti Daffa akan merebut semua miliknya Papi dari tangannya Nyonya Dea bersama Daffin akan berkumpul bersama keluarga kita lagi, itu janji pria kecil untuk Mami," tuturnya Daffin.
Bu Laila terkejut mendengar penuturan dari mulut kecilnya Daffa. Ia tidak menyangka kalau kehidupan Nafeesa seperti itu akhirnya.
"Ya Allah… kenapa hidupmu Nak begitu besar cobaan dan ujian yang kamu hadapi, kalau Ibu mungkin pasti tidak akan sanggup menghadapi semuanya dengan kesabaran," gumam Bu Laila.
Nafeesa duduk di dekat putranya, tapi hati dan pikirannya tertuju pada kenangan terakhir yang ditorehkan oleh Sakti di dalam hidupnya.
Ibu Laila Sari yang melihat Nafeesa terdiam dan melamun segera menyentuh tangannya Nafeesa.
"Naf, apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya Bu Laila yang khawatir melihat Nafeesa yang kebanyakan diam itu.
Naf menoleh ke arah Bu Laila dengan tatapan sendu," Bu, ada yang ingin aku sampaikan kepada Ibu," ujarnya lalu menatap ke arah Aida dan Aimah yang sedari tadi duduk terdiam saja.
"Apa yang ingin kamu katakan Nak, bicara lah," pinta Bu Laila.
__ADS_1
"Begini Bu, Aida dan Aimah adalah maid yang selalu setia bersama Nafeesa jadi Naf meminta tolong pada Ibu untuk mengijinkan mereka tinggal bersama kita di sini, apa Ibu tidak keberatan dengan permohonan Naf?" Nafeesa memegang punggung tangannya Bu Laila.
Bu Laila memandang satu persatu dari keduanya dan menghembuskan nafas dengan cukup kasar.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...