
Keesokan paginya, Pak Handoko, Ibu Anna dan juga Andra sudah berada di pesawat menuju ke Jerman.
Mereka berharap agar usahanya kali ini berhasil dan membuahkan hasil yang maksimal sehingga Andra bisa segera bisa disembuhkan penyakitnya.
Bagi mereka selama cara yang ditempuh mereka adalah baik, maka mereka akan melakukan segala cara akan mereka tempuh,demi kesembuhan total dari Andra.
Menukar segala harta benda yang mereka punya pun mereka tidak akan pernah segan dan banyak fikir akan segera melakukan dan melaksanakannya.
Pak Handoko, Ibu Anna dan putranya Andra sudah bertolak ke Negara Jerman. Mereka sangat antusias untuk menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Andra.
Andra duduk di dalam kabin pesawatnya, dia sedari tadi terbengong, dengan tatapan mata yang kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya itu.
"Bayi kembar," lirihnya.
Ada setitik tetesan air matanya menetes membasahi pipinya yang sudah tirus tidak seperti dulu lagi.
Ibu Anna selalu berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan putra tunggalnya itu. Hati kecilnya menjerit mana kala melihat putranya menderita akibat kebodohannya sendiri.
"Ya Allah… sembuhkan lah penyakitnya putraku, aku tidak sanggup melihat anakku seperti ini terus, maafkanlah segala kesalahan nya ya Allah…" air mata seorang ibu yang tulus mendoakan anaknya yang sudah hampir dua bulan sakit.
Itulah doa yang selalu dipanjatkan oleh Ibu Anna. Sedih, kecewa menjadi satu bagian di dalam hatinya, jika melihat kondisi fisik dan mental putranya yang tidak kunjung ada perubahan.
Padahal berbagai cara telah dia lakukan untuk kesembuhan putra semata wayangnya.
Pak Handoko yang tidak langsung mendengar doa istrinya, setelah melaksanakan shalat dzuhur ikut meneteskan air matanya.
"Ayah yang seharusnya disalahkan karena sudah tahu kelakuan bejat putra kita, tapi terdiam saja tanpa menegur dan memberikan nasihat kepada Andra untuk menghentikan perbuatan jeleknya," gumam Pak Handoko.
Beberapa jam kemudian, pesawat terbang yang mereka pakai ke Berlin sudah mendarat dengan selamat hingga ke tujuan.
Mereka dijemput oleh anak dan menantunya yang kebetulan sudah lama menetap di Jerman.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bu," ucap salam Kenan anak menantunya.
Kenan segera mengambil tangan ibu mertuanya untuk dia cium punggung tangannya itu.
"Waalaikum salam Nak, istrimu mana?" Tanyanya yang melihat ke sekeliling tapi, tidak menemukan keberadaan dari putrinya adik dari Andra.
Kenan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Ayah mertuanya," Andira ada di rumah Ayah, aku larang ke bandara jemput kalian karena kebetulan insyaallah 6 bulan lagi kami akan punya anak pertama."
Ibu Anna yang mendengar penjelasan dari anak menantunya tersenyum bahagia,saking bahagianya dia langsung memeluk tubuh menantunya tersebut.
"Syukur Alhamdulillah, selamat Nak, ibu turut bahagia mendengar kabar tersebut," ujarnya dengan senyuman yang tulus dari hatinya.
"Makasih banyak Bu, Kenan juga sangat bahagia karena setelah sekian lamanya akhirnya Andira bisa hamil buah cinta kami," balasnya dengan senyuman sumringah pula.
"Jaga baik-baik calon penerusmu Ken, jangan biarkan dia kekurangan sedikit pun apa pun itu," tutur Pak Handoko sembari menepuk pundak anak menantunya lalu berjalan ke arah mobil yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan mereka.
"Hampir empat yah kamu menikah dan akhirnya buah kesabaranmu telah berhasil mendapatkan calon bayi, Ibu sangat bahagia mendengarnya,semoga Andra ikut sembuh setelah kita bawa berobat," jelas Bu Anna lagi.
"Amin ya rabbal alamin," jawab mereka.
Hal itu dilakukan bertujuan agar menstimulasi kemampuan berbicara, berinteraksi dan daya ingatnya untuk berfikir dan berbicara dengan orang lain.
Mereka masuk ke dalam mobil untuk segera pulang ke rumah pribadinya Kenan.
Kenan adalah pria keturunan Jerman, China Indonesia yang lahir di Jakarta, tetapi besar di Cina dan sejak umur 18 tahun sudah pindah ke Berlin Jerman.
Kenan bertemu dengan Adinda saat Kenan pulang ke Indonesia. Awal pertemuan mereka saat di Airport yang waktu itu Andira akan kembali ke Inggris melanjutkan kuliahnya.
Mereka duduk di kursi jok mobil masing-masing, tapi tiba-tiba mereka dibuat terkejut ketika mendengar suara Andra.
"Baby twins!!" Andra membeo.
__ADS_1
Pandangan mereka langsung tertuju pada sosok Andra yang menatap ke arah luar jendela, tapi mulutnya terus menyebut bayi kembar.
Ibu Anna langsung menangis tersedu-sedu mendengar perkataan dari putranya. Karena hampir dua bulan satupun kata tak pernah Andra ucapkan.
"Alhamdulillah, ada perubahan pada anakku," ujarnya yang langsung memeluk tubuh putranya itu.
"Kenan, bagaimana dengan yang Ayah perintahkan padamu, apa sudah berhasil menemukan alamatnya Dokter Bertrand?" Tanyanya yang ikut bahagia mendengar kemajuan dari putranya.
Ada secercah harapan untuk melihat perubahan, perkembangan dan kesembuhan dari Andra.
"Alhamdulillah, tadi pagi teman Ken mengabarkan bahwa dokter Bertrand bekerja di sebuah rumah sakit swasta yang tidak terlalu jauh dari rumah Ayah," pungkasnya Kenan yang tangannya masih setia mengemudikan mobilnya.
"Alhamdulillah, makasih banyak nak,kamu sudah membantu Ayah untuk mencari alamat tersebut," ujarnya yang berterima kasih kepada anak menantunya itu.
Kenan melirik sepintas ke arah Ayah mertuanya," Ayah tidak perlu sungkan kepadaku, ini sudah menjadi tanggung jawabnya Ken sebagai anaknya Ayah."
"Makasih banyak ya Allah.. engkau memberikan dan mengirimkan anak-anak menantu yang sangat baik di dalam hidupku," batin Pak Handoko.
...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
__ADS_1
...7. Pelakor Pilihan...
...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......