
Beberapa menit kemudian, Daffa sudah duduk di kursi belakang di atas motornya Nafeesa. Dia tidak lupa membantu putranya untuk memasang helm khusus untuk Daffa.
"Makasih Mami cantik," timpal Daffa.
Motor matic injeksi kesayangannya yang berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang dan sudah ikut bergabung dengan pengendara lainnya yang memadati jalan raya.
Nafeesa berusaha, berdoa dan berharap agar sekolah anaknya berjalan lancar, dan usaha yang dia lakukan juga sukses sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Hanya butuh waktu 15 menit perjalanan yang ditempuh oleh Nafeesa untuk sampai di sekolah barunya Daffa.
"Sayang,ingat jangan nakal yah dan dengarkan baik-baik arahannya Ibu guru," nasehat Nafeesa kepada anaknya saat mengantar Daffa hingga di depan pintu kelasnya.
"Oke Mami," balasnya Daffa dengan menarik tangannya Nafeesa untuk segera dia cium punggung tangan Maminya.
"Assalamualaikum," salamnya Daffa lalu berlari ke arah dalam ruangan kelasnya.
Nafeesa tersenyum melihat tingkah laku putranya yang sangat gembira dihari pertama Sekolahnya.
Nafeesa berjalan ke arah luar pintu gerbang sekolah ketika mobil dengan merk A dengan warna hitam itu meninggalkan lokasi sekolah Pertiwi.
Nafeesa baru ingin memutar kunci kontak motonya tapi, kegiatannya terhenti beberapa saat setelah menyadari ada anak kecil yang seumuran dengan putranya sedari tadi berdiri di depan motor kesayangannya itu.
Gadis itu berkepang dua, dengan menggendong tas di punggungnya dengan motif gambar Sofia tokoh kartun kesukaannya. Dia menatap nanar ke arahnya Nafeesa dengan deraian air matanya.
Nafeesa tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh gadis kecil tersebut. Tapi, entah apa yang terjadi padanya hanya melihat wajahnya saja yang sendu mampu membuat Nafeesa ikut sedih dan terharu.
Ia ikut meneteskan air matanya saking sedih hatinya yang dia rasakan. Dia pun kebingungan dengan apa yang terjadi padanya. Nafeesa turun dari motornya, dan memeluk tubuh anak kecil itu tanpa segan.
Ara semakin mengeraskan tangisannya yang awalnya hanya tersedu-sedu. Ara memeluk erat tubuhnya Nafeesa dengan kedua tangan mungilnya.
"Mama!!" lirihnya Ara dengan deraian air matanya yang sudah membanjiri pipinya yang chubby itu.
Nafeesa mengelus punggung anak itu, dan terheran heran serta bertanya-tanya kenapa anak itu memanggilnya dengan sebutan Mama.
"Sudah Sayang, jangan nangis lagi nanti Ibu gurunya datang kamu terlambat lagi," bujuknya Nafeesa yang berusaha memberikan pengertian kepada Ara.
Ara secepatnya menghentikan tangisannya setelah mendengar perkataan dari Nafeesa. Dia buru-buru menyeka air matanya yang mengalir membasahi wajahnya itu.
"Anak pintar," pujian Nafeesa sembari menghapus air matanya Ara yang masih sesekali menetes.
Ara tanpa terduga langsung mencium pipi kanannya Nafeesa tanpa aba-aba.
__ADS_1
"Mama Naf," cicitnya Ara yang spontan tersenyum setelah beberapa detik lalu menangis.
Nafeesa kembali dibuat terkejut sekaligus tercengang mendengar penuturan dari mulutnya Ara.
"Mama," beo Nafeesa dengan raut wajahnya yang kaget sekaligus penasaran dalam waktu yang bersamaan.
"Maafkan Ara yang menganggap Aunty adalah Mamanya Ara," pungkasnya Ara dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa kok sayang, kamu panggil Aunty dengan panggilan Mama, Aunty sama sekali tidak marah," ujar Nafeesa.
"Apa Aunty bisa antarin Ara masuk ke dalam kelas?" Harap Ara karena sedikit ketakutan jika harus terlambat masuk ke dalam ruangan kelasnya yang sudah terlambat beberapa menit.
Matanya yang berbinar-binar dengan penuh harap agar supaya Nafeesa memenuhi permintaannya itu.
"Ya Allah… semoga Aunty mau mengabulkan keinginanku," gumam Ara.
Nafeesa yang sedari tadi membungkukkan sedikit tubuhnya untuk memudahkan dia berbicara dengan Ara. Nafeesa mengecup keningnya Ara sebelum menjawab permohonan Ara.
"Kalau gitu ayo kita masuk sayang, jangan nunggu sampai Ibu gurunya marah-marah," tutur Nafeesa yang langsung menggandeng tangannya Ara.
Siapa pun yang melihat mereka pasti akan mengira bahwa mereka adalah anak dan ibunya. Orang-orang memandangi mereka berdua dengan tatapan mata yang berbeda-beda.
Nafeesa melirik sekilas ke arah Ara lalu menjawab, "Kenapa harus marah sayang? Kalau hanya nganterin kamu ke dalam, itukan pekerjaan yang sangat mudah dan tidak perlu bayar uang," canda Nafeesa yang tersenyum sangat manis kedepan Ara.
"Alhamdulillah.. kalau Aunty tidak terbebani dan dengan ikhlas membantu Ara," timpalnya Ara.
Tok.. tok..
Pintu itu diketuk oleh Nafeesa dengan sabarnya tanpa ada niat untuk tergesa-gesa. Berselang beberapa detik, pintu itu terbuka lebar dan menyembul kepala Ibu guru kelas lima di Sekolah Pertiwi.
Ibu guru itu menyambut kedatangan mereka dengan senyuman yang cukup ramah dan sopan.
"Maafkan kami Bu, Ara harus datang terlambat karena ada sesuatu dan lain hal yang membuat Ara harus terpaksa datang terlambat," terang Nafeesa dengan tersenyum membalas senyuman Bu guru.
"Tidak apa-apa Bu, ini kan siswa baru pindahan itu kan nak?" Tanyanya Bu guru Naurah yang tertulis di name tagnya.
"Iya Ibu guru, maafkan Ara Ibu guru sudah terlambat datang ke sekolah," tutur Ara dengan wajah penuh penyesalan.
"Anak baru pindahan? Kok bersamaan dengan Daffa juga yah?" Nafeesa membatin.
"Kalau gitu silahkan duduk di kursi paling pojok dekat jendela karena hanya itu yang kosong," perintah Bu Naurah.
__ADS_1
"Makasih banyak Bu," balas Ara yang melangkahkan kakinya menuju sesuai meja yang ditunjuk oleh Ibu gurunya.
Tapi Ara, kembali memutar tubuhnya dan sedikit berlari ke arah Nafeesa yang sudah berjalan meninggalkan ruangan itu. Dia meraih tangan kanan Nafeesa lalu menciumi punggung tangannya.
Nafeesa tersenyum bahagia karena Ara anak yang berbudi pekerti luhur yang baik, jika dilihat dan dibandingkan dengan anak-anak seusianya saat ini.
Nafeesa meninggalkan area kelas itu dan segera menuju ke Perusahaan tempat dia akan mendaftar sebagai calon karyawan.
Tapi, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan cukup tajam dan penuh tanda tanya. Dia awalnya tidak mengetahui kedatangan kembali Maminya karena sibuk dan fokus dengan tugas yang diberikan oleh Ibu Naurah.
"Kok Mami pulang lagi ke sini, terus apa hubungannya dia dengan anak brrkuncir dua itu," gumam Daffa.
Ketika anda membuat pengorbanan dalam pernikahan, anda tidak hanya mengorbankan satu sama lain, tetapi satu kesatuan dalam suatu hubungan. Pernikahan yang sukses selalu segitiga seorang pria, seorang wanita dan Allah.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....
__ADS_1