Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
25. Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Lidya berjalan ke arah kamarnya Nafeesa yang berniat untuk membuka kotak paket kiriman itu. Dia duduk di pinggir ranjangnya Nafeesa.


"Dompet?" Tanyanya saat mengambil isi dari kotak tersebut.


"Kok bisa dompetnya ada di sini tapi orangnya gak ada yah? Sepertinya aku bisa memanfaatkan dompet ini untuk menghasut Mas Andra agar semakin membenci perempuan cupu itu."


Lidya tersenyum licik dan tertawa terbahak-bahak di dalam bekas kamarnya Nafeesa. Dia memiliki sebuah rencana untuk memprovokasi hubungan Andra dan Nafeesa.


Dia segera keluar dari sana dan berjalan ke arah kamarnya. Senyuman selalu tersungging di wajahnya. Dia sudah membayangkan rencananya bakalan berhasil.


"Mas Andra," teriaknya saat berada di ambang pintu.


Andra yang baru beberapa menit memejamkan matanya, terbangun dan menatap jengah Lidya. Sedangkan Lidya yang ditatap seperti itu salah tingkah dan berusaha untuk menjalankan misinya.


Lidya merangkak naik ke atas ranjang lalu memeluk tubuh Andra dengan belaian penuh kemesraan dan kelembutan. Seperti yang biasa dia lakukan jika menginginkan sesuatu.


"Mas kok Nafeesa gak ada yah, Nafeesa ke mana yah Mas kalau boleh tahu?" Tanyanya dengan tangannya yang mengelus dadanya Andra yang polos.


Andra menatap tajam ke arah Lidya lalu melepaskan pelukannya dari tubuhnya.


"Mulai detik ini!! Jangan sekali-kali kamu menyebut nama wanita itu, Mas tidak ingin ada yang mengungkit tentang Nafeesa, bagiku Nafeesa itu sudah mati!!"


"Ma-maksudnya Mas?" Tanyanya yang pura-pura tergagap karena terkejut.


"Apa kurang jelas apa yang Mas katakan tadi? Mulai detik ini dan seterusnya Nafeesa bukan lagi istriku dan apa yang terjadi kalau Ayah dan ibu datang, jangan pernah menyinggung perihal Nafeesa di rumah ini."


Andra langsung berdiri, awalnya mood-nya sudah membaik gara-gara Lidya dia kembali emosi dan marah. Dia berdiri sembari meraih kunci mobilnya berjalan ke arah luar kamarnya. Wajahnya ditekuk, kedua bola matanya memerah saking marahnya karena Lidya mengingatkan dia tentang Nafeesa.


Lidya hanya tersenyum menanggapi sikap Andra. Dia tidak mau ambil pusing baginya sekarang Andra adalah hanya tempat untuk mendapatkan status sosial ekonomi dan sebagai alat untuk melindungi hubungannya dengan brondong manisnya.

__ADS_1


"Akhirnya!!! Aku bisa bebas bernafas di rumah ini, sepertinya harus merayakan kemenangan ku kali ini," Lidya terduduk dan memikirkan cara yang tepat untuk mengapresiasikan kebahagiaannya.


Lidya segera berjalan ke arah kamar mandi setelah mengirimkan pesan chat ke nomor hpnya Ardi. Mereka janjian bertemu di rumah kosan Ardi untuk merayakan keberhasilannya mengusir Nafeesa dari hidup suami sirinya.


Andra yang tidak tahu harus kemana, hanya melajukan mobilnya entah kemana tanpa tujuan dan arah yang pasti.


"Soal!!! Kenapa Lidya harus mengingatkan aku dengan dia lagi, Nafeesa aku membencimu!!!" Teriaknya saat mobilnya sudah melaju jauh dari rumahnya.


Setiap hari seperti itu yang dilakukan oleh Andra dan Lidya. Mulai detik itu Andra sedikit pun tidak pernah lagi menyentuh dan menjamah Lidya. Seolah-olah perasaan dan hasratnya sudah mati dan terhempas jauh setelah berhubungan intim dengan Nafeesa. Dia pun kadang heran dengan apa yang terjadi padanya.


Mulai hari itu juga dia menenggelamkan dirinya ke dalam dunia kerja kerja dan kerja saja. Hingga dia melupakan keberadaan Lidya yang seatap dengannya.


Lidya yang diperlakukan seperti itu sama sekali tidak mempermasalahkan apa pun. Yang paling penting dia bisa bersenang-senang dan membahagiakan Ardi kekasih gelapnya baginya sudah cukup.


Dalam sehari juga kadang Andra dan Lidya hanya bertemu beberapa jam, Andra sudah pergi dan meninggalkan rumahnya untuk menjalankan bisnisnya yang baru mulai berkembang dan menanjak di kancah dunia bisnis.


Dia menerima beberapa pesanan dari orang-orang yang sudah mengenal dan mempercayai kemampuannya dalam mengolah makanan dan menciptakan masakan yang menggugah selera.


Dua bulan sudah berlalu, mereka hidup dengan dunianya sendiri. Nafeesa masih sering memikirkan perihal kehidupan rumah tangganya. Kadang air matanya menetes membasahi pipinya. Dia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan tapi, yang namanya hati seorang istri pasti akan kecewa dan sedih jika mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari suaminya.


Nafeesa duduk di teras belakang rumahnya, menikmati suasana sore itu. Di atas meja sudah ada secangkir teh hijau dan sepiring pisang goreng yang masih mengepul asap dari makanan dan minuman tersebut.


"Ya Allah… semoga aku bisa lebih sabar menjalani hari-hariku, dan maafkanlah diri ini yang terlalu banyak dosa."


Dia duduk termenung menerawang ke beberapa hari yang lalu. Saat dirinya melewati malam yang panjang bersama Andra. Dan disaat tangannya dengan mudahnya menampar pria yang telah menikahinya itu.


Air matanya yang sedari tadi dia tahan, akhirnya luluh juga membasahi pipinya. Kecewa, sedih, hancur saat suaminya menuduhnya jika dirinya tidak perawan lagi sebelum mereka menikah.


Ibu Laila yang berjalan ke arah Nafeesa sedari tadi memperhatikan semua yang dilakukannya. Beliau duduk di samping Nafeesa yang arah pandangannya tertuju pada isi kolam ikan milik ibu Laila.

__ADS_1


Ibu Laila memegang tangan anak angkatnya sembari tersenyum, "Nak, apa kamu masih ingin bekerja?" Tanyanya dengan penuh hati-hati.


Ibu Laila takut jika perkataannya menyinggung perasaan dari Nafeesa.


Ia menatap ke arah Ibu Laila lalu tersenyum dengan membalas pegangan tangannya.


"Tentu saja Bu, saya ingin bekerja, emangnya pekerjaan apa sih Bu?" Tanyanya Nafeesa dengan sumringah.


"Kemarin ibu bertemu dengan teman, dan dia yang memberitahukan kepada ibu, kalau ada Perusahaan baru di kota membuka lowongan kerja," terangnya sembari mencicipi pisang goreng buatannya sendiri.


"Serius Bu?" Tanyanya yang mulai antusias.


"Iya, kalau kamu mau besok bisa ke sana langsung untuk bertanya perihal lowongan tersebut," jelasnya Bu Laila.


Nafeesa kembali berwajah sendu saat dirinya baru teringat, jika semua ijazah dan berkas yang bisa dipakai untuk melamar pekerjaan ternyata ada di rumahnya Andra. Dia kebingungan bagaimana caranya untuk mendapatkan berkas tersebut. Ibu Laila yang melihat ada kegelisahan dan kegundahan yang terbaca dari raut wajahnya langsung memegang kedua tangannya Nafeesa.


"Nak, apa yang terjadi padamu? Tanyanya yang melihat kesedihan di kedua matanya Nafeesa.


"Sepertinya saya tidak jadi Bu," Jawabnya.


"Kenapa Nak, tidak jadi? Setahu ibu katanya jurusan kamu yang paling banyak dicari di perusahaan itu, dan ini kesempatan yang sangat bagus untuk kamu manfaatkan," ujarnya dengan serius.


"Masalahnya semua berkas dan beberapa dokumen penting tertinggal di rumahnya Mas Andra Bu," jelasnya sembari menundukkan kepalanya.


"Kalau menurut ibu coba saja dulu ke sana nak, jangan sampai ada lowongan pekerjaan yang tidak mencari ijazah hanya melihat dari keterampilan dan skill seseorang," terangnya yang berharap apa yang dikatakannya menjadi kenyataan.


"Insya Allah,, besok aku akan kesana untuk mencari informasi dan mudah-mudahan apa yang dikatakan ibu benar adanya," tuturnya sambil tersenyum.


Mereka bersantai sore itu hingga menjelang magrib. Hari itu, tidak ada yang memesan kateringnya jadi bisa beristirahat sejenak dari rutinitas sehari-harinya

__ADS_1


__ADS_2