Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
78. Insiden Maut


__ADS_3

Ibu Anna merasa sedih melihat cucu kesayangannya itu yang sakit gara-gara kemarin bermimpi melihat Mamanya.


"Ya Allah… kenapa semakin hari semakin aku melihat wajahnya Andra dan Nafeesa ada di dalam wajahnya Ara seakan-akan dia ada adalah putri kandungnya Andra," batin Bu Anna.


Sendok yang berisi makanan itu terpaksa Bu Anna letakkan ke atas piringnya yang masih penuh dengan berbagai lauk pauk makanan yang sedikit pun belum tersentuh dan dimakan oleh yang punya makanan.


"Kenapa Andra lama sekali? Padahal tadi katanya sudah ada di jalan mau pulang," keluh Bu Anna sembari memeriksa keningnya Ara yang suhu panasnya semakin meningkat saja.


Pak Handoko yang melihat istrinya yang sedang kebingungan dan khawatir segera berusaha untuk menenangkan istrinya.


"Ibu tenanglah, mungkin Andra sudah hampir sampai di rumah, Ara kan sudah minum obat insha Allah panasnya akan segera turun dan kondisinya akan segera membaik," terangnya yang berusaha membujuk Istrinya agar lebih sabar lagi.


"Ayah! bagaimana kalau coba telpon lagi nomornya untuk tanya dia sudah sampai atau belum," pinta Bu Anna yang menyodorkan hpnya ke tangan suaminya.


"Baiklah Ayah akan hubungi lagi nomor hpnya Andra," ucap Pak Handoko yang menuruti permintaan dari istrinya itu.


Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan segera tinggalkan pesan setelah nada suara bit berikut.


"Hpnya Andra tidak aktif dan susah untuk dihubungi Bu," tuturnya Pak Handoko.


Sedangkan di tempat lain…


"Ya Allah… apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Nenek tega sekali melakukan semua ini hanya karena harta semata!" Lirihnya.

__ADS_1


Sakti yang sangat tidak habis pikir jika Neneknya yang selama ini dianggap malaikat ternyata, dia adalah penyebab dari kehancuran Keluarganya sendiri.


"Aku sangat berterimakasih kasih kepada Kakek Permana yang telah Sudi mengulurkan tangannya untuk mengadopsiku dan mengangkat aku sebagai cucunya sendiri bahkan sama sekali tidak ada orang yang berbicara sedikit pun jika aku hanya anak dan cucu pungutnya.," Cicitnya.


Sakti terus meneteskan air matanya, hingga dia kesulitan untuk melihat dengan baik jalan yang dilaluinya itu. Pandangan matanya kabur, karena linangan air matanya yang sedari tadi menetes terus tanpa hentinya.


"Aaahhhh!!!" Pekiknya saat tiba-tiba dadanya sangat sakit.


Sakti refleks memegang bagian dadanya itu dengan meremas pakaiannya.


"Kenapa penyakitku tiba-tiba sakit?" Keluhnya yang tidak menyangka jika penyakitnya harus kambuh disaat dia mengendarai mobilnya.


Mobilnya semakin melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia tidak tahu ada apa dengan mobilnya. Remnya tiba-tiba blong.


Dia membungkukkan sedikit badannya untuk memudahkan tangannya meraih laci mobil. Tangannya yang satu masih setia menyetir dan memegang kemudi mobilnya.


Sakti sudah membongkar seluruh isi lacinya hingga tak tersisa satupun benda yang ada di dalam sana.


"Seingat aku tadi masukkan satu botol obatku, tapi kok sudah tidak ada?" Tanyanya yang keheranan dengan obatnya yang tiba-tiba menghilang di tempat penyimpanan seperti biasanya.


Dia masih kebingungan mencarinya tapi, tanpa tidak terduga ada mobil yang berlawanan arah melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi pula.


Sakti melihat hal tersebut berusaha mencoba untuk menghindari mobil sedan Corolla Altis itu dengan membanting setirnya ke kanan, tapi naas ternyata mobil dengan ukuran yang lebih besar menabraknya dengan kecepatan sangat kencang hingga tabrakan pun tak terelakkan lagi.

__ADS_1


"Aaaahhhh Nafeesa!!!!" Pekiknya sebelum mobilnya terbalik beberapa kali.


Mobil dengan tipe Alphard Vellfire itu terguling-guling beberapa kali hingga menabrak pembatas jalan. Sedangkan mobil sedan hitam yang hampir menabraknya tadi hanya berhenti sesaat lalu kembali mengemudikan mobilnya dan melanjutkan perjalanannya kembali menuju tujuannya.


Badan mobil itu ringsek hingga dan hancur tidak terbentuk lagi. Mobil truk yang menabraknya pun, lajunya tak bisa terkendali hingga menabrak mobilnya Sakti yang sudah hancur itu hingga semakin memperparah kondisi dari mobilnya Sakti.


Beberapa orang yang menjadi saksi mata dari kejadian itu segera menghubungi nomor telpon Polisi dan rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulans ke lokasi kejadian kecelakaan beruntun tersebut.


Suasana jalan di sekitar tempat kejadian itu menjadi ramai dan macet. Karena ternyata tidak hanya mobilnya yang ikut jadi korban tapi, ada beberapa pengendara motor yang ikut menjadi korban kecelakaan maut tersebut.


Suara sirine dari ambulans dan mobil polisi menambah kebisingan suasana saat itu. Hingga memekakkan telinga dari pengguna jalan raya tersebut.


Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:



Pesona Perawan


Cinta CEO Pesakitan


Pelakor Pilihan


__ADS_1


I love you all Readers....


__ADS_2