
Sakti menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia ketakutan sekaligus cemas jika Nafeesa akan menolak dan pergi jauh dari sisinya.
Nyonya Dea memegang tangannya Nafeesa lalu berkata,"Naf, bagaimana dengan lamarannya Sakti, apa kamu bersedia menjadi istri sekaligus pendamping hidupnya Sakti?" Tanyanya dengan berharap besar pada Nafeesa.
"Aku mohon Naf, terimalah lamaranku, aku memang tidak sempurna tapi, aku janji aku akan membahagiakanmu hingga maut memisahkan kita," sayangnya perkataan itu tidak mampu lolos dari bibirnya Sakti sehingga hanya tertahan di pangkal tenggorokannya saja.
Nafeesa menatap mereka satu persatu,"Bismillahirrahmanirrahim, aku bersedia menikah dengan Sakti, tapi aku ingin Mas Sakti menerima calon bayiku menjadi anaknya seorang bukan orang lain hanya anaknya Sakti saja hingga nanti," jelas Nafeesa dengan satu kali tarikan nafas.
"Alhamdulillah," jawab mereka dengan serentak dengan dibarengi senyuman kebahagiaan.
"Tapi Nek?" Ucapnya yang membuat Nafeesa kembali menjadi pusat perhatian dari ketiganya.
"Tapi apa lagi Naf? Jangan katakan kalau kamu itu berubah pikiran untuk menolak dan membatalkan pernikahan kita," ujar Sakti yang sudah mulai nampak gusar dan ketakutan.
Nyonya Dea segera memegang tangannya Sakti agar bisa bersabar sedikit menghadapi sikap Nafeesa apalagi seorang ibu hamil kadang moodnya berubah-ubah.
Sakti melihat ke arah Nafeesa dengan matanya yang berkaca-kaca seakan-akan seperti seorang anak kecil yang sedih karena tidak dibelikan mainan.
"Bukan itu maksudku," ucap Naf sambil menggoyangkan kedua tangannya di hadapan Sakti.
"Terus, apa kalau bukan itu?"tanyanya Sakti yang sudah tidak sabaran.
"Aku belum mengurus surat ceraiku di pengadilan agama Mas, apa tidak seharusnya aku urus terlebih dahulu lalu kita menikah," jelas Naf yang menundukkan kepalanya karena takut jika membuat Sakti marah lagi.
Sakti yang melihat wajah Nafeesa yang ketakutan segera menarik tubuhnya Nafeesa ke dalam pelukannya,lalu mengelus lembut penuh kasih sayang. Nyonya Dea dan Prita yang melihat hal itu tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Rencanaku hampir sukses kalau gini, kalian pasti akan menikah dan bahagia." Tatapannya tertuju pada kedua anak cucu Adam yang masih saling berpelukan.
Nafeesa tidak membalas pelukan dari Sakti, karena dia tidak ingin membohongi dirinya jika dia masih sangat mencintai Andra mantan suaminya dulu.
"Kamu tidak perlu risaukan masalah itu Nenek yang akan mengurusnya, kamu hanya persiapkan diri yang tidak lama lagi akan menjadi Nyonya Sakti Permana," tuturnya yang masih memeluk erat tubuhnya Naf.
"Iya betul sekali yang dikatakan oleh Sakti, pihak kami yang akan mengurus semuanya itu, jadi kamu cukup persiapkan mental kamu saja dan pernikahan kalian dua dari sekarang, apa kalian setuju?"tanyanya Nyonya Dea yang menatap mereka satu persatu.
Sakti segera melepaskan pelukannya karena takut jika membuat Naf sesak nafas dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan bayinya Nafeesa. Sakti lalu menggenggam tangannya Nafeesa seakan-akan Nafeesa akan menghilang dari sisinya jika dilepas.
"Walaupun pernikahan kalian awalnya kalian bersatu karena jalannya harus seperti ini, tapi nenek janji kalian akan bahagia, itu janjinya nenek." Nyonya Dea memegang kedua tangannya mereka.
Nafeesa sesekali melirik ke arah Sakti yang tersenyum sumringah sedari tadi,"Andai saja Mas Andra seperti ini sewaktu kami menikah, pasti hati ini akan sangat bahagia, tapi sayangnya Mas Andra hanya mencintai Mbak Lidya." Wajahnya Naf berubah sendu saat mengingat kembali masa lalunya bersama Andra.
Sedangkan di dalam rumah yang tidak terlalu besar itu, seorang wanita menuruni undakan tangga dengan menarik dua koper besar miliknya.
"Maaf!! kita tidak bisa bersama lagi dan tolong ceraikan aku saat ini juga," jawabnya dengan sedikit tegas.
"Maksudmu apa Lidya? Apa salahku dan apa kekuranganku padamu selama ini?"tanyanya yang menarik tangannya Lidya agar tidak pergi dari sisinya.
"Mas Andra, dulu aku memang sangat mencintaimu, tapi setelah kamu bangkrut rasa cintaku padamu perlahan terkikis hingga detik ini sudah tidak tersisa sedikitpun," jawabnya yang berusaha melepaskan pegangan tangannya.
"Apa!!! Jadi seperti ini lah besarnya cintamu padaku haaa!!!" Teriak Andra tepat di depan wajahnya Lidya.
"Iya, kalau benar itu adanya, memang kenapa?" Tanyanya yang sudah melipat kedua tangannya di depan dadanya Lidya.
__ADS_1
"Lidya hampir empat tahun kita bersama, hanya sebesar inikah rasa cintamu untukku? Ingat gara-gara kamu aku harus menceraikan istri sahku dan gara-gara kamu lah aku terpaksa jadi anak durhaka!!" Ujarnya Andra yang sudah tersulut emosinya.
Lidya hanya tersenyum licik ke arah Andra," satu hal yang perlu kamu tahu, kalau bukan cuma kamu pria yang selama ini ada di dalam hidupku tapi banyak!!"
Andra terkejut mendengar perkataan dari Lidya,dia tidak menyangka jika Lidya yang dia sayangi, cintai sepenuh hati ternyata perempuan brengsek dan nakal yang menjajakan tubuhnya pada kekasihnya yang berada di luar sana.
"Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu itu, iya aku sudah tidak perawan lagi saat pertama kali melakukannya dan kamu adalah pria yang ketiga dalam hidupku yang sudah mencicipi tubuh ku ini," balasnya Lidya yang tersenyum meremehkan Andra sambil menunjuk dadanya Andra.
Andra mengusap wajahnya dengan gusar dan penuh penyesalan. Dia tidak menyangka selama ini hidup dengan perempuan ular berbisa berkepala dua.
"Makanya setiap kali kita berhubungan aku selalu menyuruhmu untuk memakai alat kontrasepsi agar aku tidak hamil, dan satu hal lagi, aku tidak pernah mencintaimu dan aku hanya memperalat kamu agar membuat Nafeesa perempuan kampungan dan cupu itu menderita," jelasnya lagi.
Tangannya Andra yang sedari tadi memegang tangannya Lidya perlahan terlepas dengan sendirinya. Dia tersungkur ke atas lantai saking terkejutnya mendengar kenyataan pahit yang barusan didengarnya itu.
"Karena urusanku di dalam rumah ini sudah tidak ada, jadi aku akan pergi dari sini, tapi aku mohon talak aku, karena aku tidak ingin terikat lagi pernikahan dengan Pria yang miskin dan melarat seperti kamu," terangnya Lidya dengan senyuman liciknya.
"Baiklah karena itu pilihanmu, mulai detik ini kamu Lidya bukanlah istri dari Andra Maheswara Liem Handoko," ujarnya dengan penuh penyesalan dan sedih serta kecewa dalam waktu yang bersamaan.
Andra berlutut di hadapan Lidya sambil mengucap kata cerai. Dia tidak ingin untuk kedua kalinya menyebut kata cerai lagi dari bibirnya, tapi Lidya yang memaksanya untuk mengucapkan kata sakral itu. Lidya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar rumah yang satu tahun itu dia tempati. Dia menatap ke arah Andra yang masih setia berlutut di ujung tangga.
Lidya belum sempat membuka pintu rumahnya, seorang pria yang masuk nyelonong ke dalam rumahnya.
"Hey Sayang, apa sudah siap untuk pergi dari sini?" Tanyanya sambil menciumi seluruh wajahnya Lidya.
Andra yang menyadari ada suara seorang pria segera menolehkan kepalanya ke arah pintu. Betapa terkejutnya melihat sosok pria itu. Pria yang pernah datang bahkan sering datang ke rumahnya dengan berbagai alasan yang katanya seorang teknisi mesin itu.
__ADS_1
"Ayo kita pergi dari sini, aku tidak bisa bernafas dengan baik kalau terus berada di rumahnya orang miskin," katanya Lidya dengan mengibaskan tangannya di depan hidungnya seakan-akan ada bau busuk yang dia cium.
Andra kembali teringat saat dia menceraikan Nafeesa karena kesalahpahaman yang dia lakukan. Dia tidak menyangka jika Nafeesa sama sekali tidak bersalah malahan dia lah yang terlalu bodoh dan naif dengan mudahnya hidup dalam kebohongan Lidya.