
Nyonya Dea menyodorkan sebuah map ke hadapan Nafeesa, sedangkan Nafeesa menatap ke arah Nyonya Dea yang seolah-olah meminta jawaban maksud dari map tersebut.
"Bukalah, setelah kamu baca pasti akan mengetahui apa tujuanku memberikan map tersebut," ujarnya dengan tatapan matanya yang tajam.
Nafeesa tanpa banyak pikir segera membuka dan membaca map itu dengan seksama hingga mulutnya menganga dan matanya membulat sempurna. Nyonya Dea hanya tersenyum tipis menanggapi keterkejutan Nafeesa.
"Ini?" Tanyanya Nafeesa yang tidak menduga jika isi tulisan dari dalam map tersebut setelah membacanya.
"Jadi saya mohon terima lah permohonanku padamu, anggap saja ini adalah permintaan dari seorang Nenek yang menginginkan kebahagiaan cucunya," ungkap Nyonya Dea dengan sembari memegang tangannya Nafeesa.
Nafeesa kembali terdiam dan bungkam seribu bahasa. Dia tidak menyangka jika cucu tunggalnya Tuan Muda Sakti mengidap penyakit yang berbahaya dan sesuai dengan hasil pemeriksaan terakhirnya adalah dokter memvonis Sakti akan hidup beberapa bulan lagi.
"Tapi setahu saya sesuai dengan apa yang saya lihat, Tuan Muda seperti orang yang tidak mengidap penyakit yang mematikan," tutur Nafeesa yang ingatannya kembali terlintas wajahnya Sakti tadi pagi yang sehat bugar menurutnya.
Nyonya Dea hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Nafeesa," betul sekali apa yang kamu katakan itu, dan hanya saya berdua yang tahu penyakitnya, bahkan Sakti pun menutupinya dari saya," jawabnya dengan berusaha menahan laju air matanya yang sudah berembun di kelopak matanya itu.
Nafeesa terdiam sambil mendengarkan dengan seksama penuturan dari Nyonya Dea. Dia hanya terdiam dan membisu karena tidak tahu harus berbuat apa juga.
"Saya ingin melihat cucuku bahagia di sisa hidupnya, dan hanya kamu yang mampu melakukan itu semua," balasnya yang kembali memegang tangannya Nafeesa.
"Tapi, kenapa aku yang Nyonya pilih sedangkan di luar sana banyak perempuan yang lebih layak dan pantas untuk mendampingi hidup Tuan Muda Sakti," ujarnya yang tidak mengerti kenapa dia yang dipilih.
"Kenapa? Alasannya karena kamu lah gadis kecil yang selalu dicari oleh cucuku hampir dua puluh tahun yang lalu," jelasnya dengan seulas senyumannya.
"Maksudnya Nyonya? Maaf aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nyonya?" Tanyanya yang semakin dibuat kebingungan.
__ADS_1
"Kamu adalah gadis kecil yang membantu cucuku dulu sewaktu dia dikejar oleh anjing gila, waktu itu untuk pertama kalinya cucuku berbaur dengan anak seumurannya di luar tapi tidak disangka malahan menjadi akhir dari pilihannya juga untuk bermain dengan anak sebayanya karena harus trauma sewaktu itu," jawabnya dengan menatap ke arah Nafeesa.
Flashback on..
Nafeesa kembali mengingat kejadian itu saat umurnya baru berusia sepuluh tahun. Dia yang disuruh oleh kakeknya untuk membeli sesuatu di toko Indo Mei. Dalam perjalanan pulang tanpa sengaja sudut matanya melihat ada seorang anak laki-laki yang tingginya lebih besar dari postur tubuhnya sedang berlari kencang dengan nafas yang ngos-ngosan.
Nafeesa yang melihat kejadian itu segera menghentikan laju sepedanya dan segera membantu anak itu. Nafeesa langsung memberikan kode kepada seekor anjing itu agar segera beralih ke arahnya. Anjing tersebut menggonggong terlebih dahulu lalu beralih menatap ke arah Nafeesa yang memegang sebuah benda yang sangat disukai oleh anjing itu.
Anak laki-laki itu setelah mengetahui jika dirinya mendapatkan bala bantuan segera berlindung dibalik punggungnya Nafeesa. Dia segera melempar satu potong daging ayam yang ada di dalam kantong kresek yang dipegangnya ke arah yang jauh dari tempat mereka. Anjing itu segera berlari mengejar potongan daging ayam itu.
"Ayo cepat lari sebelum anjingnya balik lagi," teriak Nafeesa yang menarik tangan anak laki-laki yang umurnya lebih tua dan tingginya melebihi usianya itu ke arah sepedanya berada.
"Naik di belakang sepedaku, aku antar kamu pulang," ucap gadis yang berkepang dua itu.
Anak pria itu langsung menuruti perkataan dari Nafeesa kecil dan berpegangan erat di pinggangnya Nafeesa.
"Kamu tinggalnya dimana? Supaya aku bisa mengantarmu pulang," tanyanya yang sudah memelankan sedikit laju kayuhan sepedanya.
Dari situlah awal pertemuan mereka yang pertama hingga hari ini yang membuat Sakti merasa berhutang budi kepada Nafeesa kecil.
Flashback off.
Nafeesa menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kenyataan yang ada, jika anak laki-laki itu adalah calon Tuan Mudanya sekarang.
"Apa kamu sudah mengingatnya?" Tanya Nyonya Dea yang memperhatikan raut wajah Nafeesa yang masih tidak percaya dengan yang terjadi.
__ADS_1
"Semoga kamu bisa mempertimbangkan apa yang aku pinta sama kamu," harap Nyonya Dea yang sangat berharap agar Nafeesa menyetujui dan bersedia memenuhi keinginan Nyonya Dea.
Nafeesa kembali dibuat bimbang dan belum bisa memberikan jawaban dari permintaan Nyonya Dea.
"Nafeesa kamu sudah mengetahui kondisi kesehatan dari Sakti, Nenek mohon jangan biarkan dia mengetahui jika kamu tahu tentang penyakitnya itu, pasti dia akan marah," ucapnya dengan meminta tolong pada Nafeesa.
Nafeesa tidak tahu harus menjawab apa, karena dia tidak ingin menikah lagi untuk kedua kalinya jika calon suaminya sama sekali tidak mencintainya dan satu hal lagi yang paling penting adalah dia baru empat bulan lebih bercerai secara agama dari suaminya.
"Bagaimana Nafeesa, apa kamu bersedia menikah dengan cucuku?" Tanyanya dengan penuh harap.
"Maaf sepertinya itu sulit untuk saya penuhi Nyonya, mengingat status saya yang baru jadi janda dan kami tidak saling mencintai," jelas Nafeesa.
Nyonya Nafeesa hanya tersenyum mendengar penjelasan dari mulutnya Nafeesa sambil berkata,"status kamu sudah janda jadi apa yang perlu dirisaukan lagi dan sesuai yang saya dengar kalau suamimu sama sekali tidak peduli dengan hidupmu, jadi apa yang harus kamu ragukan dan pertambangkan lagi?"tanyanya yang masih menunggu Nafeesa menjawab ya.
"Aku tidak tahu harus memutuskan bagaimana disisi lain aku masih sangat mencintai Mas Andra walaupun kami sudah bercerai, tapi aku juga kasihan melihat Nyonya Dea yang ingin melihat Shakti bahagia juga."
Nafeesa benar-benar dilema untuk memutuskan apa yang terbaik yang dia harus pilih. Nafeesa takut jika Pernikahannya akan seperti yang telah lalu apa lagi Sakti sama sekali tidak mencintainya.
"Karena kamu diam!! Berarti kamu setuju dan maaf saya tidak menerima penolakan lagi," ucapnya sambil menekan tombol kunci ruangannya.
Masuklah Prita yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Prita yang mengetahui jika kehadirannya dibutuhkan oleh atasannya segera berjalan ke arah dalam.
"Prita segera urus semua kebutuhan dan seserahan lamaran ke rumahnya Nafeesa, ingat jangan sampai ada yang kurang ataupun kesalahan, saya ingin lamaran tersebut terbaik di negara Kita ini," ucapnya yang tidak ingin dibantah.
"Nyonya apa sebaiknya lamarannya besok pagi saja, karena lamaran yang dilakukan malam-malam kurang baik katanya emakku di rumah Nyonya," terangnya dengan menundukkan kepalanya diucapan terakhirnya.
__ADS_1
"Ok, tapi ingat sebelum jam 10 kita sudah di rumahnya Nafeesa," ucapnya lagi yang tersenyum sumringah karena apa yang diinginkan selama ini akan menjadi kenyataan.
Nafeesa kembali dibuat shock dengan perintah dari Nyonya Dea. Dia tidak ingin menikah dalam waktu dekat ini dan hati dan perasaannya masih tertuju untuk Andra seorang.