Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
37. Kebahagiaan Sakti


__ADS_3

"Aku sangat bahagia, akhirnya cucuku satu-satunya bisa juga menikah, dan semoga Nafeesa bisa menerima segala kekurangannya Sakti," ucapnya sambil menikmati minuman berwarna di dalam gelasnya.


"Nyonya sangat pintar mencari perempuan yang sangat cantik tapi juga bisa kita manfaatkan," timpal Prita sang asisten pribadinya.


"Untungnya hari itu, aku datang di Perusahaan jika tidak, mungkin sampai sekarang kita tidak akan menemukan seorang wanita yang bisa kita andalkan," balasnya dengan tersenyum licik ke arah Prita.


"Dewi Fortuna menaungi hidup Nyonya, kita tunggu sekitar lima bulan lagi, kita akan mendapatkan penerus keluarga Perkasa," ujarnya sembari menuang minuman ke dalam gelasnya Nyonya Dea.


Mereka menghabiskan waktunya di dalam ruangan yang cukup mewah dan besar. Mereka menikmati dan merayakan keberhasilan dan kesuksesan mereka menemukan istri untuk Sakti. Mereka sudah mencari kemana-mana tapi, satupun dari mereka sama sekali tidak ada yang siap dan sudi menjadi seorang istri dari suami yang tidak bisa melayani mereka di atas ranjang.


"Apa kamu kelelahan?" Tanyanya saat melirik ke arah Nafeesa yang tampak kelelahan dilihat dari wajahnya yang sesekali membuang nafasnya dengan kasar.


Nafeesa menatap ke arah Sakti lalu membalas pertanyaan dari suaminya,"enggak apa-apa kok Abang, aku baik-baik saja kok," Nafeesa kemudian memperbaiki posisinya di atas kursinya.


"Kalau kamu capek atau ngantuk, ke kamar saja istirahatnya perjalanan kita juga masih sangat jauh dan lama, kasihan dede bayinya jika nanti kamu kurang istirahat," tuturnya dengan mengelus lembut perutnya Naf yang mulai membuncit itu.


"Eehh Abang, Dede bayi nendang loh saat Abang mengelus perutku," ujarnya Naf yang kegirangan saat ada reaksi dari calon bayinya itu.


Sakti yang mendengar perkataan dari istrinya segera melakukan kembali seperti apa yang tadi dia lakukan karena rasa cinta penasarannya yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Dia juga pun mulai meletakkan telapak tangannya di atas perutnya Naf, bayinya Naf pun segera memberikan reaksi yang bagus dengan bergerak di dalam perutnya Naf.


"Iya, dia bergerak," ucapnya lalu mulai berlutut di hadapan Nafeesa dengan meletakkan telinganya pas depan perutnya Nafeesa.


Seolah-olah calon bayinya itu mengetahui jika kehadirannya di dunia ini sangat diinginkan dan diinginkan oleh Sakti, walaupun Sakti sangat tahu jika anak itu bukanlah darah dagingnya. Sakti melupakan kondisi kesehatannya yang sama sekali tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang pria dan suami seutuhnya.


"Apa Abang senang?" Tanyanya Nafeesa yang melihat mimik wajahnya Sakti yang berubah dari penasaran dan berakhir dengan kebahagiaan.

__ADS_1


"Abang sangat senang, Abang sudah tidak sabar menunggunya anak kita lahir," terangnya yang membuat Nafeesa terenyuh mendengar perkataan dari Sakti.


"Makasih banyak ya Allah Abang Sakti sangat bahagia rupanya menyambut kelahiran anakku walaupun bukan darah dagingnya sendiri."


Air matanya Nafeesa menetes tanpa aba-aba, dia sangat bahagia karena Sakti sebagai calon Papi sambungnya sangat bahagia dengan kehamilannya padahal dia sangat tahu jika, bukanlah bayinya.


Sakti yang melihat tetesan butiran air matanya Nafeesa segera mengelap air matanya itu. Kemudian berdiri dari posisi berlututnya, lalu menarik tubuhnya Nafeesa ke dalam pelukannya.


"Naf, aku sangat mencintaimu dan Abang sangat bahagia karena kamu bersedia menikah dan menjadi istriku," terangnya dengan ikut menangis sambil memeluk tubuhnya Nafeesa dengan erat.


"Abang, longgarin dikit pelukannya, aku sulit bernafas," katanya yang berusaha melonggarkan pelukannya Sakti dibalik punggungnya.


"Maaf, Abang terlalu bahagia Naf dan jujur saja Abang sudah tidak sabar menunggu kelahirannya, ucapnya Sakti yang menyesal karena telah membuat Naf sesak nafas.


"Apa seperti ini kah bahagianya Mas Andra, jika mengetahui kalau aku hamil anaknya?" Nafeesa membatin dan kembali teringat dengan Andra mantan suaminya.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya yang ketakutan jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada istrinya dengan memegang pundaknya Nafeesa.


Nafeesa langsung tersadar dengan memberikan seulas senyuman manisnya di depan suaminya, Naf langsung membalas memeluk tubuhnya Sakti.


"Walaupun, hati ini masih tetap untuk Mas Andra, tetapi aku akan memberikan seutuhnya perhatianku dan akan belajar untuk mencintaimu."


"Sayang nanti kalau kita sampai di Berlin kita cek kehamilan nya, tapi kamu tidak apa-apa kan kalau kita akan tinggal di Berlin hingga anak kita berusia 1 tahun?" Tanyanya yang masih berpelukan dengan istrinya.


"Kemanapun Abang pergi, Naf akan selalu mengikuti di sampingnya Abang, walaupun harus ke ujung dunia," terangnya.

__ADS_1


Perkataan Nafeesa barusan membuat hatinya Sakti menghangat seketika itu. Sakti sangat bahagia dan tidak menyangka jika gadis kecil yang menolongnya dulu menjelma menjadi perempuan yang sangat baik hatinya. Sakti sangat bahagia dan tidak sedikitpun terbersit di benaknya kalau dia menyesal menikahi Nafeesa.


"Abang janji, akan mencintaimu seumur hidup Abang dan hanya kamu wanita yang ada di dalam hidupnya Abang, tapi ada yang aku tutupi dari dirimu dan tidak mungkin aku mampu mengatakannya di depanmu."


Sedangkan di dalam negeri, Ibu Anna dan Pak Handoko sudah tiba di Jakarta. Mereka segera menuju rumahnya Andra. Mereka tidak ingin menunda lebih lama lagi untuk bertemu dengan Andra putra mereka. Andra segera keluar dari rumahnya, dia ingin mencoba mencari Nafeesa di rumah kedua orang tua angkatnya.


"Aku harus segera mencari Nafeesa dan meminta maaf padanya, aku tidak ingin hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan terus menerus."


Andra segera mengemudikan mobilnya menuju Bandung tempat tinggal kedua orang tuanya Nafeesa. Andra sangat berharap agar dia masih bisa bertemu dengan Nafeesa agar dia bisa meminta maaf karena meminta untuk kembali sepertinya itu tidak mungkin terjadi.


Sore harinya menjelang magrib, Andra sudah sampai di kota Bandung. Dia tersenyum gembira saat mematikan mesin mobilnya saat sudah berada di jalan depan rumahnya Pak Brawijaya kakek dari Naf.


Andra langsung disambut hangat oleh Security rumah tersebut," assalamu Tuan Muda Andra," sapanya sambil membuka pagar yang menjulang tinggi itu.


"Waalaikum salam, makasih banyak Pak, apa Nafeesa ada di dalam?" Tanyanya dengan menunjuk ke arah dalam rumah yang bercorak modern itu.


"Non Naf, sudah kurang lebih empat bulan tidak pulang Tuan, Bapak kira Nona Nafeesa tinggal bersama dengan Tuan Muda," jawabnya dengan wajah kebingungan dengan pertanyaan dari Andra.


"Kalau Nafeesa tidak ada di dalam, terus dia ada di mana?" Tatapan matanya tertuju pada seorang perempuan yang sangat dia benci dan sama sekali tidak ingin dia lihat lagi.


"Kalau kamu ingin mencobanya silahkan cari di Jakarta di jalan XX, sepertinya hidup kamu cukup bahagia setelah bangkrut dan tidak punya istri,* sarkasnya Lidya sambil berjalan ke arah dalam mobilnya Nafeesa yang sudah dipakai sehari-hari.


"Apa semua yang kamu katakan itu benar adanya, jangan-jangan kamu bohong lagi sama aku, dan semua perkataanmu tidak ada yang bisa dipercaya, satu pun itu," ujarnya dengan memutar bola matanya jengah.


"Kalau kamu tidak percaya, silahkan kesana agar kamu tahu apa aku benar atau bohong, bye mantan suamiku ummu aaahh," ucapnya Lidya lalu menjalankan mobilnya meninggalkan Andra yang berdiri di dekat pintu mobilnya.

__ADS_1


Andra sama sekali tidak menggubris perkataan dari Lidya, dia hanya langsung membalikkan tubuhnya lalu segera berjalan ke arah mobilnya.


"Aku harus segera bertemu dengan Nafeesa, semoga Naf benar ada di sana dan Lidya tidak berbohong."


__ADS_2