Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
105. Permintaan Nafeesa


__ADS_3

Ting…


Bunyi pintu lift terbuka, dia tanpa menunggu pintu cukup terbuka lebar dia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat pelaksanaan tesnya. Tapi langkahnya terhenti saat dia menabrak dari belakang tubuh seseorang yang berjalan di depannya. Nafeesa langsung ngerem dan berusaha untuk menghentikan kecepatan larinya.


"Awas!! Minggir Pak!!!!!" Pekiknya Nafeesa yang sudah terlambat karena dia terlanjur menabrak tubuh orang itu.


Semua mata langsung tertuju pada teriakannya Nafeesa dengan suara cemprengnya mampu mengalihkan perhatian semua orang di tempat itu.


Tapi begitu kokohnya punggung lebar pria itu hingga hanya bergeser Selangkah saja dari dorongan kepala dan tangannya Nafeesa.


Malahan Nafeesa yang terdorong sedikit ke arah belakang. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu tersentak terkejut dengan aksi dari Nafeesa. Helm yang dipakainya pun masih terpasang dengan cantik menutupi mahkota kepalanya.


Berbagai macam pandangan mata tertuju pada aksinya. Dia pun tidak menyangka akan melakukan hal seperti itu yang sama sekali tidak pernah dia lakukan dalam hidupnya. Berbagai suara sumbang dan sedikit memojokkan sudah terdengar dari mulut mereka.


Nafeesa segera tersadar dari keterkejutannya sendiri, dan segera meminta maaf kepada orang yang ditabraknya itu. Nafeesa melangkahkan kakinya ke arah depan. Tapi, belum sempat mulutnya berbicara sepatah kata pun, ia spontan meneteskan air matanya.


Air matanya mengalir deras membasahi pipinya saat mengetahui siapa sosok orang yang berada di depannya itu.


"Papa!" Cicitnya Nafeesa yang nafasnya tercekat serasa pasokan udara yang berada di lantai 9 sudah hampir habis stoknya.


Pria yang dipanggil papa tersebut tidak beda dengan apa yang dirasakan oleh Nafeesa. Beliau terkejut bukan main dan dia tidak menyangka jika hari ini setelah hampir kurang lebih 11 tahun mereka kembali dipertemukan lagi.


"Nafeesa" lirihnya Pak Handoko dengan raut wajahnya yang bahagia karena bisa bertemu kembali dengan anak menantunya.


Semua mata yang melihat mereka saling beradu pandang dan penuh dengan tanda tanya. Mereka terdiam dan menunggu apa lagi yang akan terjadi dan mereka lakukan. Sebagian dari mereka mengetahui siapa Pak Handoko di Perusahaan tersebut.


Pak Handoko segera memerintahkan mereka untuk kembali bekerja. Sehingga satu persatu dari mereka meninggalkan tempat itu tanpa terkecuali.


Tes yang seharusnya beberapa menit yang lalu sudah dimulai yang sempat tertunda gara-gara insiden kecil pihak panitia pun menyelenggarakan kembali sehingga suasana kembali kondusif seperti sendok.


Nafeesa masih berdiri mematung di tempatnya. Ia sama sekali tidak bergeming sedikitpun di tempatnya. Hanya air matanya menetes memperlihatkan bahwa dirinya sedih sekaligus bahagia karena bisa bertemu kembali dengan ayah mertuanya yang sudah seperti papa kandungnya sendiri.

__ADS_1


Pak Handoko membantu Nafeesa untuk melepas helm yang dipakainya. Nafeesa sama sekali tidak melawan ataupun melarang papanya untuk melakukan hal itu.


"Makasih," ucapanya.


Saat Pak Handoko melepas helm yang sedari tadi melindungi dan menutupi kepalanya yang keberadaannya dilupakan oleh Nafeesa yang menjadikan dia menjadi pusat tontonan.


Asisten pribadinya Pak Handoko pun tidak menyangka jika mereka akan kembali bertemu dengan mantan istrinya Andra pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


"Ikut Papa ke dalam," perintah Pak Handoko.


Tanpa banyak tanya atau apa pun itu, dia mengikuti langkah kakinya Pak Handoko masuk ke dalam ruangannya. Nafeesa berusaha untuk menyeka air matanya yang sedari tadi menetes membasahi pipinya.


"Duduklah nak," pintanya lagi saat dia sudah berada di dalam ruangan itu.


Nafeesa menuruti semua perkataan dari pak Handoko tanpa menyela atau membantahnya sedikitpun.


"Bagaimana kabarmu Nak?" Tanyanya Pak Handoko yang membuka percakapan diantara mereka.


"Alhamdulillah kabar Nafeesa baik-baik saja Pak," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.


Pak Handoko mengirim chat kepada Asistennya untuk segera membeli sepasang sepatu yang sesuai dengan ukuran Nafeesa. Tanpa sepengetahuan dari Nafeesa sendiri.


"Pasti Andra akan sangat bahagia jika mengetahui tentang dirimu," tuturnya Pak Handoko yang langsung disela oleh Nafeesa.


"Papa! Naf minta tolong dengan sangat kepada Papa, jangan sekali-kali beritahukan kepada Mas Andra jika kita bertemu," terangnya Nafeesa sembari memegang tangannya Pak Handoko.


"Kenapa Nak, bukannya itu sangat baik jika Andra mengetahui kalau kita bertemu," tuturnya Pak Handoko yang menatap penuh dengan tanda tanya ke arahnya Nafeesa.


"Maaf Pa, belum saatnya aku bertemu dengan Mas Andra dan Nafeesa juga tidak sanggup untuk bertemu dengannya," jawab Nafeesa dengan wajah sendu.


Ia masih teringat disaat dirinya diusir dari hidupnya Andra dan dicurigai serta tidak dipercaya dengan kejujurannya. Nafeesa masih kecewa dengan sikapnya Andra.

__ADS_1


"Maaf Papa, mungkin belum saat yang tepat untuk kami bertemu dan juga aku masih kecewa dengan sikapnya Mas Andra, jadi aku mohon maklumi keputusanku Pa," harap Nafeesa agar Pak Handoko mengerti dan bersedia untuk memenuhi permintaannya itu.


"Tapi, sampai kapan kamu akan bersembunyi dibalik rasa kecewa itu, Naf yang berlalu biarlah berlalu kalian sama-sama dewasa apa salahnya dan apa susahnya untuk menjalin tali silaturahmi walaupun kalian sudah bercerai," jelasnya Pak Handoko lagi.


"Maafkan Nafeesa Pa, aku belum siap," balasnya Nafeesa menundukkan kepalanya yang berusaha untuk menahan tangisnya.


"Kalau seperti itu keputusanmu, maka papa tidak akan mendesak atau memaksamu semua keputusan ada di tanganmu," pungkas Pak Handoko.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan

__ADS_1



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....


__ADS_2