
Andra sama sekali tidak menggubris perkataan dari Lidya, dia hanya langsung membalikkan tubuhnya lalu segera berjalan ke arah mobilnya.
"Aku harus segera bertemu dengan Nafeesa, semoga Naf benar ada di sana dan Lidya tidak berbohong padaku."
Baru saja ingin memutar kunci mobilnya, tangannya berhenti lalu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
Lidya memundurkan beberapa meter mobilnya, padahal sudah menjauh, "Aku sangat prihatin melihat kondisi Mas Andra yang seperti ini, bagaimana rasanya jadi duda dua kali," tanyanya Lidya dengan menampilkan senyuman liciknya.
Andra tidak berniat sedikitpun untuk membalas perkataan dari Lidya mantan istrinya itu.
"Bagaimana dengan usahanya, apa perusahaanmu sudah bangkit dari keterpurukan dana? Tapi kalau seperti yang saya lihat, sepertinya kamu masih jatuh bangkrut hingga miskin, kasihan banget nasibmu," ujarnya lalu kembali memakai kacamata hitamnya ke atas puncak hidung mancungnya.
Andra baru ingin membuka mulutnya tapi,v telponnya membuatnya membatalkan niatnya itu.
"Ibu.." gumamnya.
Andra segera mengangkat teleponnya, sambil mulai mengemudikan mobilnya menuju alamat rumahnya ibu Laila. Dia tidak ingin menunda lebih lama lagi, agar rasa bersalahnya bisa berkurang sedikit.
"Assalamualaikum Bu," ucapnya saat headset bluetooth sudah terpasang di telinganya.
"Tumben ini anak ngucapin salam, apakah perceraiannya membawa perubahan," gumam Ibu Anna yang tidak menyangka jika putranya sudah mulai ada perubahan dari sikap seperti biasanya.
"Ibu!! Halo!!" Ujarnya dengan sedikit mengeraskan suaranya beberapa oktaf.
"Assalamu alaikum, Eehhh maaf waalaikum salam, maaf ibu dengar kok Andra ," balasnya yang masih tidak percaya dengan jawaban dari Andra putra sulungnya itu.
"Emangnya kenapa Bu? tanyanya yang tangannya masih setia di atas kemudi mobilnya.
"Ibu sudah ada di jalan menuju rumahmu, apa kamu ada di rumah Nak?"tanyanya yang penuh dengan kelembutan.
__ADS_1
"Aku ada di jalan Bu, dan rencananya aku mau ke rumahnya Ibu Laila tempatnya Nafeesa," jawabnya dengan lirih.
"Ibu sangat bahagia mendengar kabar itu nak, semoga Nafeesa memaafkanmu dan setuju kembali padamu lagi," ucapnya Ibu Anna dengan penuh harap.
"Amin ya rabbal Al-Amin Bu, doakan yang terbaik untuk hubungan kami Bu, kalau gitu Andra tutup dulu telponnya Bu, assalamualaikum," tuturnya lalu mematikan sambungan teleponnya dengan kemudian menambah kecepatan mobilnya menuju rumahnya ibu Laila.
"Ibu sangat berharap Nafeesa kembali dengan putra kita Ayah, Ibu sangat berharap mereka bersatu kembali seperti dulu lagi," terangnya dengan memeluk tangannya Pak Handoko.
"Amin, Ayah juga sangat menginginkan hal itu terjadi, Ayah merindukan masakannya Nafeesa yang selalu memasakkan makanan jika kita berkunjung ke rumahnya," balas Pak Handoko yang kembali teringat beberapa bulan lalu saat menantu kesayangannya masih tinggal bersama mereka.
"Ibu akan meminta maaf pada Nafeesa Ayah karena gara-gara Ibu yang tidak tegas dan meminta Andra dulu untuk menceraikan Wanita ular berbisa itu, sehingga putra dan menantu kita yang menderita," umpatnya Ibu Anna yang sangat tidak menyukai sifatnya Lidya.
"Ayah juga akan memohon kepada Nafeesa agar dia kembali lagi bersama Andra karena mereka kan baru talak satu, jadi mereka masih bisa rujuk kembali, Ayah juga berharap Nafeesa hamil anaknya Andra Bu," katanya dengan menerawang ke beberapa bulan yang lalu.
Mobilnya Andra menuju pinggiran kota Jakarta, perlahan tapi pasti mobilnya sudah berada di depan rumah minimalis itu. Suasana rumah itu cukup ramai karena baru beberapa jam yang lalu Nafeesa mengadakan acara akad nikahnya yang kedua.
Tamu undangan dan beberapa keluarga masih berada di sana berbincang-bincang santai sambil menikmati prasmanan khas perayaan pesta pernikahan.
Andra ragu untuk turun dari mobilnya, tapi rasa penasarannya mengalahkan keraguannya sehingga mau tidak mau dia pun melangkahkan kakinya menuju rumah itu.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya sembari melangkahkan kakinya menuju pintu rumah itu.
Orang-orang menatapnya dengan intens, ada yang mengenalinya dan ada juga yang penasaran dengan sosok dan kehadirannya. Mereka sangat tahu jika pernikahan keduanya Nafeesa dilakukan tanpa mengundang orang luar atau pun yang dari jauh. Mereka saling bertatapan dan melempar pertanyaan yang seolah-olah ingin mengetahui siapa Andra.
Ibu Laila yang keluar dari rumahnya, tanpa sengaja melihat kedatangan Andra. Dia pun segera menghampiri Andra yang sedari tadi berdiri mengamati Rumahnya.
"Ini Andra, benar kan?" Tanyanya yang mencoba mengingat wajahnya Andra sewaktu Nafeeza menikah dengannya.
"Iya, benar sekali apa yang ibu katakan, saya Andra suaminya Nafeesa Bu," ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Ibu Laila.
__ADS_1
Ibu Laila menyambut uluran tangan tersebut lalu berkata," silahkan masuk ke dalam kita bicara di dalam saja," ujarnya lalu memutar badannya ke arah menghadap pintu rumahnya.
"Ibu, maksud kedatanganku kesini adalah ingin bertemu Naf," teriaknya karena Ibu Laila sudah berjalan menjauh darinya.
Langkah ibu Laila spontan terhenti lalu menoleh ke arah belakang," apa kedatanganmu kesini untuk bertemu dengannya?" Tanyanya yang menelisik ke arah Andra yang masih berdiri di tempatnya sedari tadi.
"Iya Ibu, aku sangat ingin bertemu dengannya Naf, aku ingin…." Ucapannya terpotong ketika Ibu Laila berbicara.
"Nafeesa beberapa jam yang lalu sudah menikah dengan pria lain, dan dia sudah pergi jauh dari Indonesia, Naf sudah bahagia dan tolong jangan lagi ganggu hidupnya," jelasnya dengan wajahnya yang serius.
Deg…
Perkataan dari ibu Laila menampar wajahnya dengan telak. Andra sangat tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu. Hatinya Andra langsung hancur lebur hingga tak terbentuk.
Tetap Dukung Dilema Diantara Dua Pilihan dengan:
Cara Like setiap Babnya
Rate bintang lima
Gift Poin atau Koin Seikhlasnya
Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.
...Mampir dong dinovelku yang lain dengan judul:...
...Pesona Perawan...
...Hasrat Daddy Anak Sambungku...
__ADS_1
...Aku Diantara Kalian...
...Cinta dan Dendam...