
"Jika aku telah pergi dari hidupmu untuk selamanya Naf, tolong jangan pernah sekalipun untuk melupakan aku sayang hingga kamu tua nanti," pungkas Sakti yang sorot matanya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam.
Nafeesa langsung membungkam mulutnya Sakti dengan ciuman yang hangat dan penuh kasih sayang. Nafeesa kembali mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya sedikit berjinjit karena tinggi badannya Sakti yang jauh berbeda walaupun Naf juga bodynya cukup tinggi.
"Nafeesa mohon jangan sekali-kali mengucapkan kata seperti itu lagi, mari kita sama-sama berdo'a agar pernikahan kita langgeng hingga kakek nenek dan hanya maut yang memisahkan kita berdua," tutur Nafeesa yang sangat tidak menyukai jika suaminya selalu berbicara pesimis seolah-olah dia akan meninggal esok hari.
"Tapi, itulah kenyataannya Nafeesa, umur Mas tidak lama lagi entah kapan Allah akan memanggil aku untuk pergi selamanya dari sisi hidupmu," perkataan hanya mampu terucap di pangkal tenggorokannya saja.
Sakti tidak punya kemampuan dan keberanian untuk mengatakan kondisi kesehatannya kepada keluarganya. Terutama kepada istri dan neneknya, ia tidak ingin membuat mereka khawatir,cemas dan sedih yang berkepanjangan.
"Biarlah ini menjadi rahasiaku dan akan aku bawa hingga aku mati nanti," batin Sakti yang memeluk tubuh istrinya dengan erat dan penuh kasih sayang dan kehangatan.
Beberapa saat kemudian, setelah membangunkan di kembar twins D. Mereka lalu pulang menuju rumah baru mereka. Sakti memutuskan untuk menempati rumah yang beberapa tahun lalu dia beli khusus untuk istri dan anak kembarnya.
"Mas kok kita jalan pulang ke sini? Seingat aku ini kan jalan pulang bukan ke rumahnya Nenek," ucapnya Nafeesa yang keheranan karena mereka tidak pulang ke rumahnya Nyonya Dea.
"Mas akan membawa kalian ke suatu tempat yang pastinya kalian akan menyukai tempat itu," jawabnya dengan seulas senyuman.
Sakti melirik sekilas ke arah istrinya kemudian memandang ke arah ke dua putranya yang ada di kursi belakang. Si kembar sedang asyik bermain dengan gejednya.
"Tapi, bagaimana jika Nenek marah Mas?" Tanyanya lagi yang khawatir jika Nyonya Dea marah besar gara-gara keputusan dari suaminya.
"Biarlah menjadi urusan Mas, kamu tidak perlu risau dengan hal itu, aku yakin insya Allah nenek pasti mengerti dengan maksud dari Mas pindah ke rumah baru kita," tuturnya yang membalas perkataan dari istrinya.
"Ya Allah… kenapa feeling ku merasakan akan ada sesuatu yang besar akan terjadi mengenai pilihan dan keputusannya Mas Sakti untuk pindah rumah dan apa aku saja yang terlalu terbawa perasaan entah kenapa Nyonya Dea sudah berubah tidak seperti awal kami menikah?" batinnya Nafeesa yang menatap intens ke arah suaminya.
__ADS_1
"Hey sayang, kok melamun apa yang kamu pikirkan?" Tanya Sakti yang tidak sengaja melihat istrinya yang melamunkan sesuatu
Tangan kanannya masih setia menyetir mobilnya sedangkan tangan kirinya mengeluh punggung tangan Nafeesa.
Nafeesa kemudian menolehkan kepalanya ke arah Sakti sembari tersenyum," aku tidak apa-apa kok Mas, mungkin kelelahan saja maklum perjalanan jauh jadi sedikit ngantuk."
Nafeesa berusaha untuk menutupi kebenaran tentang apa yang dia rasakan belakangan ini.
"Mas Sakti tidak boleh tahu apa yang aku rasakan, biarlah menjadi rahasiaku sendiri hingga kelak," Nafeesa membatin.
Nafeesa berusaha untuk tersenyum dan menetralkan perasaannya agar tidak ketahuan oleh Sakti dan orang lain dengan kecurigaan tentang sikapnya Nenek Dea padanya.
Hanya butuh sekitar setengah jam perjalanan dari Bandara internasional Soekarno Hatta. Mobil yang dipakainya sudah memasuki pekarangan rumah yang cukup mewah dan elegan serta luas dengan model yang sangat cantik.
Kondisi di dalam rumah dan luar rumah dikelilingi oleh taman yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang sangat cantik. Terutama bunga-bunga jenis mawar dengan berbagai varietas unggul yang mempercantik tampilan halaman rumahnya.
"Ayo kita turun dan lihat lebih dalam lagi, ini adalah rumah kita bersama anak-anak dan Mas buat sesuai dengan keinginan dan impian kamu selama ini," terang Sakti.
Sakti segera berjalan ke arah kursi yang diduduki oleh Nafeesa lalu membuka pintu mobilnya dengan mengulurkan tangannya ke arah Nafeesa.
Nafeesa tersenyum penuh kelembutan sambil menyambut uluran tangannya Sakti Perkasa yang sudah menunggunya di atas mobil.
"Makasih banyak Mas," ujar Nafeesa yang malu diperlakukan seperti begitu.
"Sama-sama sayang," balasnya dengan senyuman tulus dipersembahkan oleh Sakti ke depan istrinya.
__ADS_1
"Daffa, Daffin kita sudah sampai di rumah sayang, ayo bangun Nak apa kalian tidak ingin melihat Mami bahagia?" Tanyanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang saat membangunkan kedua anaknya.
Nafeesa menepuk pelan pipi chubby mereka yang masih terlelap dalam tidurnya padahal baru beberapa detik lalu mata keduanya terpejam. Daffa memilih tidur saat selesai main game, Daffin pun ikut menyusul kakaknya tertidur di dalam mobil.
"Mas ke dalam dulu untuk panggil maid untuk mengangkat barang-barang, kamu terus bangunin mereka yah," pinta Sakti lalu berjalan ke arah dalam rumahnya yang sudah terbuka dibantu oleh tukang kebunnya dan Security rumahnya.
...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
...9. Ceo Pesakitan...
__ADS_1
...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......