
Beda orang, beda cerita, beda porsi, beda prinsip. Nikmati apa yang kamu jalani sekarang, karena pohon yang besar untuk tumbuh butuh proses yang panjang.
"Antara keluarga tidak ada kata berterima kasih satu sama lainnya, ini juga sudah tanggung jawabnya Paman sesuai amanah Pak Permana dan Sakti almarhum suamimu," balasnya Pak Ruslan.
Bu Nurlaila Sari yang mendengar perkataan dan penjelasan dari Pak Ruslan tentang menyebut namanya Sakti sudah almarhum sangat sedih dan terpukul.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun, Ya Allah… putriku untuk kedua kalinya kembali menjadi janda, sungguh malang nasibmu Nak," Bu Laila membatin.
Bu Laila menatap sedih dan penuh haru kearahnya Nafeesa. Beliau tidak menyangka jika, anak angkatnya akan bernasib seperti itu. Padahal dia mengetahui awalnya nikah karena paksaan dari Nyonya Dea sendiri.
"Apa semua ini karena ada orang yang mengatur dengan sengaja agar Nafeeza menikah dengan Sakti? padahal diketahui jika Nafeesa waktu itu sudah hamil!" Bu Laila semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi pada nasib Nafeesa.
Pak Ruslan yang sedari tadi terdiam di tempatnya hanya memperhatikan aktivitas yang dilakukan oleh Nafeesa dengan Bu Laila. Laila Sari adalah perempuan yang pernah hadir di dalam kehidupannya. Hingga detik ini rasa itu masih sama dengan apa yang dia rasakan hampir dua puluh tahun silam.
"Laila! Sebenarnya ada yang ingin aku katakan sebenarnya padamu, tapi sepertinya hari ini tidak cocok aku katakan padamu," ungkapnya Pak Ruslan dengan penuh pertimbangan dan hati-hati.
"Katakan saja Mas, jika memang itu sangat penting," imbuhnya Bu Laila.
"Sudah larut malam juga, gak enak sama yang lain lagian kamu pasti banyak pesanan jadi beristirahatlah, Mas akan pulang dan insya Allah.. kalau ada waktu Mas akan berkunjung kembali ke sini," ujarnya sembari melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Baiklah kalau seperti itu keinginan dan keputusannya Mas, saya akan menunggu Mas untuk menyampaikan hal tersebut," ucapnya dengan seulas senyuman yang khas dipersembahkan oleh Bu Laila di hadapan Pak Ruslan.
Sedangkan di tempat yang sedikit jauh dari tempat mereka berada. Sekitar dua jam perjalanan. Ada seorang anak kecil dalam keadaan demam yang tinggi.
Suara jangkrik, burung hantu serta anjing menggonggong saling bersahutan satu dengan yang lainnya, memeriahkan suasana malam itu yang begitu mencekam.
Kamar yang didesain dengan motif princess Sofia itu, cat temboknya dipadukan dengan warna pink biru itu menjadi saksi kesedihan Kakek dan Neneknya melihat kondisi dan keadaan dari cucu satu-satunya perempuan di dalam keluarganya.
Papa, Neneknya serta kakeknya dibuat kelimpungan dan ketakutan. Mereka silih berganti menjaga cucu sekaligus anak tunggal dari putra sulung mereka.
"Ara! minum obatnya yah sayang! kalau tidak minum obat gimana caranya mau sembuh," bujuk neneknya Bu Anna.
__ADS_1
Ara terus menggelengkan kepalanya dengan menutup mulutnya yang menolak obat yang berbentuk sirup yang disodorkan oleh Neneknya.
Andra yang melihat hal tersebut yang sebenarnya baru pulang dari kantornya melihat hal tersebut langsung turun tangan untuk membujuk putrinya itu.
Andra duduk di tepi ranjangnya Ara sembari berkata kepada anaknya," Sayang! Ara yang cantik dengerin papa yah kali ini Ara harus minum obat agar cepat sembuh dan pulih, apa Ara gak mau bermain sama temannya atau enggak mau ke sekolah lagi?" Tanyanya dengan memangku putri semata wayangnya itu.
Andra mengelus rambut panjang anaknya dengan penuh kasih sayang. Pak Handoko dan Ibu Anna jika Ara sakit belakangan ini pasti ingin bertemu dengan ibunya.
"Ara putrinya papa, princess nya Papa kok gak mau minum obat, apa gak mau ke sekolah?" Tanya Andra yang sesekali mengecup ujung rambut putrinya itu.
Ara menatap ke arah Papanya berada sebelum menjawab semua pertanyaan dari orang dewasa yang ada di dalam kamarnya yang bernuansa pink soft itu.
"Coba katakan sama Papa apa alasannya Ara jadi tidak ingin minum obat?" Andra memandangi wajah putrinya yang selalu mengingatkan dia dengan mantan istrinya Nafeesa.
"Ara gak mau minum obat, percuma ara sembuh karena Ara tidak mau ke sekolah," jawab Ara dengan tetesan air matanya yang sudah membasahi pipinya itu.
"Kenapa Ara gak mau ke sekolah emangnya ada apa di sekolahannya Ara?" Bu Anna ikut menimpali percakapan mereka berdua Papa dan anak itu.
Andra pun menatap ke arah ibunya yang seolah-olah meminta jawaban dari apa yang terjadi sebenarnya pada Ara.
Bu Anna yang ditatap seperti itu pun hanya mampu untuk menaikkan kedua bahunya tanda tidak mengerti.
"Ara!! Papa mohon bicaralah sayang kalau Ara tidak bicara bagaimana caranya Papa bisa bantuin Ara," tuturnya Andra.
Ara kemudian mengangkat wajahnya lalu melihat ke arah wajahnya Andra. Ia terisak dalam tangisnya yang suaranya sudah serak.
"Teman-teman bilang kalau Ara itu anak yang tidak dinginkan oleh Mama Nafeesa, mereka juga ada yang ngomong kalau Ara anak yang dibuang lalu dipungut sama Papa," ungkapnya Ara yang langsung memeluk tubuh Papanya dengan meraung dalam pelukan Papanya.
Tidak ada manusia yang sempurna. Pasti manusia pernah melakukan kesalahan. Seperti itulah yang dialami oleh Andra. Masa lalunya yang penuh dengan kesalahan yang membuatnya defresi berat dan disaat dia sembuh.
Ia berharap dan berjuang untuk berusaha untuk menjadi seorang manusia yang lebih baik dari hari sebelumnya dengan menutupi kesalahannya dengan kebaikan.
__ADS_1
Tapi dunia ini di penuhi orang-orang baik, jika kita tak bisa menemukannya maka jadilah salah satunya.
Kadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan hanya sebagai pendamping hidup, melainkan kita harus belajar banyak hal darinya
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....
__ADS_1