Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
Bab. 42. Keinginan Yang Tidak Terpenuhi


__ADS_3

Nafeesa andai bisa dia tidak ingin berhubungan lagi dengan Nyonya Dea, tapi sangat mustahil dan tidak mungkin Bisa terjadi dan dia lakukan selama mereka masih suami istri. Dan Nafeesa tidak mungkin juga harus melarang suaminya untuk bertemu dan berinteraksi dengan Neneknya.


Sakti yang tidak sengaja melihat raut wajah Nafeesa yang tadinya sumringah bahagia sekarang seperti seseorang yang memiliki beban yang cukup berat saja.


"Sayang kamu baik-baik saja kan?" tanyanya yang mencoba bertanya kepada Nafeesa tapi tangannya terus berada di pinggang Istrinya itu.


Nafeesa menoleh sekilas kearah suaminya lalu berusaha tersenyum dan menutupi kenyataan yang terjadi di dalam hatinya.


"Aku tidak apa-apa kok Mas, hanya saja sepertinya si kembar butuh makan," jawabnya dengan senyuman manis yang diperlihatkan agar Sakti tidak khawatir dan bertanya lagi lalu mengelus perut buncitnya itu.


"Maaf, Papi lupa kalau kalian lapar, maafkan Papi yah sayang," ucap Sakti yang berjongkok di hadapan Nafeesa lalu mengelus lembut perutnya Nafeesa dengan mendekatkan telinganya ke arah perutnya Naf.


"Mas,malu dilihat orang loh," ucapnya lalu mencoba membantu Sakti untuk berdiri.


Wajahnya Nafeesa bersemu merah menahan rasa malunya karena beberapa orang ada yang memperhatikan apa yang mereka lakukan.


"Biarkan saja mereka melihat kita, Mas tidak peduli dengan tanggapan mereka yang paling penting mereka harus tahu jika aku sangat bahagia menanti kehadiran dan kelahiran kedua anakku ke dunia ini," balasnya yang masih dalam posisi berlutut.


"Ya Allah, apa Mas Andra akan seperti ini juga kalau Mas Andra mengetahui jika aku hamil calon anaknya?" Nafeesa memikirkan tanggapan dari Andra mantan suaminya sekaligus ayah biologis dari anaknya.


"Mas akan lakukan yang terbaik untuk kedua anak kita sayang, dan mulai hari ini panggil Mas dengan sebutan Papi," ujarnya dengan senyumannya yang selalu menghiasi wajahnya yang seakan-akan tidak pernah pudar.


"Kalau gitu ayo pulang Papi, Mami lapar loh," ujarnya yang mengajak suaminya untuk segera berdiri lalu pulang dari rumah sakit.


Sakti sama sekali tidak pernah melepaskan pegangan tangannya dari tangan Nafeesa, seakan-akan Naf akan menghilang dari pandangan dan hidupnya jika dilepaskan tangannya. Mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah mereka yang ada di pinggir kota Berlin, Jerman.


Di dalam mobil Nafeesa lebih banyak diam dan bungkam dan mengarahkan pandangannya ke arah luar jendela. Dia seakan-akan larut dalam khayalan dan pikirannya sendiri. Sakti sama sekali tidak menyadari hal itu, karena menurutnya Mungkin Nafeesa terlalu lelah dan lapar. Sehingga dia membiarkan Nafeesa dalam keadaan seperti itu.


"Papi, kenapa perutku semakin besar saja, jika dibandingkan dengan kehamilan dan perut ibu-ibu yang lain yang hamil kembar, malahan tubuhku semakin hari semakin berat saja, untuk bergerak dikit saja sangat susah, sepertinya aku mengandung tiga bayi loh Mas," ucap Nafeesa yang memperbaiki posisi duduknya yang sedikit kesusahan dan nafasnya yang sesak.


"Kalau seperti itu Alhamdulillah sayang, Mas sangat bahagia jika emang bener kamu hamil anak kembar tiga orang dan Mas berharap sepasang ada anak cewek dan cowok," jawabnya dengan senyuman tulusnya sambil menciumi punggung tangan istrinya itu.


Sedangkan di belahan dunia lainnya, ada seseorang yang sedang tertawa terbahak-bahak mendengar kabar bahagia itu. Dia duduk di kursi kebesarannya sambil menuangkan sebuah minuman yang berwarna merah pekat seperti darah saja. Dia sedari tadi tersenyum kegirangan setelah orang suruhannya mengabarkan padanya kabar yang sangat baik dan penting.

__ADS_1


"Tersisa beberapa bulan lagi, aku akan melakukan rencana keduaku, dan tunggulah saat itu telah datang kamu akan aku tendang dari nama anggota keluargaku," ucapnya dengan seringai liciknya.


"Kamu memang sangat pintar sayang, memang cucu kita yang berhak atas harta mereka yang melimpah, bukan untuk orang lain yang sama sekali tidak berhak, aku salut kamu sangat pintar mencari orang yang bisa kamu manfaatkan sebagai bidak catur dalam rencanamu yang sangat brilian itu," tuturnya dengan menarik tubuh kekasihnya ke dalam pangkuannya lalu mulai mencumbu mesra tubuhnya wanitanya itu dengan penuh kelembutan.


Mereka menghabiskan malam itu dengan penuh gairah yang panas. Sudah hampir tiga puluh tahun hubungan mereka terjalin tapi hingga detik ini mereka belum berencana untuk meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.


"Aku semakin mencintaimu sayang, kamu semakin lama semakin menggoda saja, punyamu mampu menjepit punyaku dengan kuat dan cengkeraman sangat membuatku tergila-gila dan lupa diri saja," terangnya sambil mengelus punggung polos nan putih milik kekasihnya sekaligus istrinya itu.


"Aku pun sama sayang, andai saja aku tidak mencintaimu tidak mungkin aku melakukan semua ini dan mengorbankan hidupku menikah dan hidup dengan pria mandul itu," jawabnya dengan menggelinjang kegelian saat suami gelapnya itu menciumi ujung telinganya dengan penuh kelembutan.


Berbeda halnya dengan yang dialami Nafeesa siang itu. Nafeesa entah kenapa hari itu menginginkan sesuatu dari suaminya. Menurutnya sudah hampir dua bulan pernikahannya tapi, sedikit pun Suaminya belum menyentuhnya. Entah dorongan dari mana sehingga Naf saat menginginkan agar Sakti membelai dan memuaskan gairahnya yang tiba-tiba datang menyeruak ke permukaan hati dan pikirannya.


"Apa karena pengaruh hormon kehamilanku yang menginginkan hal itu yah?"tanyanya pada dirinya sendiri yang kebingungan dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.


Padahal sebelumnya,dia tidak pernah berpikiran apa lagi menuntut kepada suaminya untuk memenuhi kewajibannya, tetapi hal itu berbeda saat ini juga. Dari awal Nafeesa sudah berjanji untuk tidak akan menyerahkan tubuhnya pada Sakti sebelum dia melahirkan ataupun mencintai Sakti dengan setulus hatinya.


"Mas!! Teriaknya saat mengetuk pintu kamar mandi.


Nafeesa kesulitan untuk berdiri padahal usia kandungannya baru jalan lima bulan lebih. Dan perutnya semakin membesar setiap minggunya seakan-akan tubuhnya sudah seperti gentong yang berjalan saja. Nafeesa berjalan tergopoh-gopoh dan seperti Ikan buntal yang berjalan. Selama dirinya di Jerman perutnya seolah-olah semakin besar saja.


"Mungkin karena anakku kembar dan sudah jalan enam bulan jadi perutku semakin bertambah bobotnya dan besar pula," lirihnya yang sudah ngos-ngosan berjalan padahal hanya beberapa langkah saja dia sudah kelelahan.


"Mas!! Buka dong pintunya," ucapnya yang tangannya mengetuk pintu kamar mandi.


Sakti segera menyelesaikan mandinya dan bergegas ke luar dari kamar mandi dan memakai pakaian jubah mandinya di tubuhnya yang masih meneteskan air bekas siraman di tubuhnya.


Sakti dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh istrinya, yaitu langsung memeluk tubuh Sakti dengan eratnya lalu perlahan mengendus bau dan aroma sabun mandi yang bercampur dengan wangi sampo yang dipakai oleh Sakti.


Sakti dibuat kelimpungan dengan apa yang dilakukan oleh Nafeesa diatas tubuhnya. Nafeesa mencium dan mencumbu Sakti dengan penuh kelembutan. Hingga bulu kuduknya Sakti meremang seketika. Nafeesa tidak berhenti di situ saja malahan mulai turun ke bawah tapi, segera dicegah oleh Sakti.


Sakti ingin dan bahkan sangat ingin melakukan hal itu, tapi apa daya dia tidak mungkin bisa melakukannya hingga sampai kapanpun itu. Sakti segera menyadarkan Nafeesa untuk berhenti melakukan hal itu. Dengan menggendong tubuh istrinya ke dalam kamar mandi dan memasukkan ke dalam bathtub nya dan segera mengisi air dingin kedalamnya.


"Mas!! Kenapa??" Teriaknya dengan penuh kekesalan dan amarah di hadapan Sakti yang hanya terdiam membeku di tempatnya.

__ADS_1


"Maaf," hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirnya Sakti lalu keluar dari kamar mandi.


"Aaaaahhhhh!!!" Teriak Nafeesa dengan kesalnya yang memukul permukaan air.


Tetap Dukung Dilema Diantara Dua Pilihan dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin Seikhlasnya


Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.


Mampir dong dinovelku yang lain dengan judul:



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian



Makasih banyak, i love you all...

__ADS_1


__ADS_2