Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
29. Sebuah Map


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi oleh Nafeesa mengikuti laju mobil yang ada di depannya. Milik Nyonya Dea. Nenek dari pemilik Perusahaan Perkasa tbk. Nafeesa selama berada di dalam mobil,dia kebanyakan terdiam dan tidak tahu harus berbicara apa.


Nafeesa masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Padahal biasanya dia yang paling cepat tanggap selama ini. Seakan-akan otaknya lambat menangkap sesuatu selama menikah dengan Andra.


"Nyonya Dea itu sebenarnya orangnya baik,hanya saja belakangan ini dipusingkan dengan masalah dari cucu tunggalnya yang selalu menolak untuk menikah dengan perempuan pilihannya," ucap Prita yang mencoba mencairkan kebisuan diantara mereka.


Nafeesa hanya menjadi pendengar setia saja tanpa ada niat untuk menimpali perkataannya. Prita diam-diam memperhatikan gerak gerik dari Nafeesa, "perempuan ini cantik, tapi tertutupi dengan penampilannya yang kampungan."


"Apa sebenarnya maksud dari mereka yang selalu saja mengatakan ingin menjodohkan saya dengan CEO mereka?" Dia kebingungan dengan kenyataan yang terjadi padanya hari ini.


Mobil sudah berhenti, Prita segera turun dari mobilnya dan berjalan ke arah mobil satunya untuk membuka pintu mobil tersebut agar Nyonya Dea segera turun dari mobilnya.


"Antar Nafeesa ke dalam ruanganku ada yang ingin aku bicarakan dengannya," ucap Nyonya Dea sambil berjalan ke dalam istananya.


"Baik Nyonya," seraya membungkukkan tubuhnya sedikit.

__ADS_1


Prita berjalan ke arah Nafeesa yang baru saja turun dari mobil, "Katanya Nyonya kamu harus mengikuti Nyonya ke dalam ruangannya karena ada yang ingin disampaikan."


Nafeesa berjalan ke arah dalam rumah saat mendengar perkataan dari Prita tapi saat berada di ujung jalan, dia baru tersadar jika tidak mengetahui letak ruangannya Nyonya Dea. Dia pun berbalik berjalan ke arah Prita yang tersenyum kearahnya.


"Maaf Mbak kalau ruangannya Nyonya Dea ada di bagian mana?" Tanyanya yang malu-malu karena belum selesai dijelaskan dia sudah ngacir lebih duluan.


"Makanya kalau orang bicara itu didengerin dulu baru bergerak," tutur Prita yang sedikit mendumel kesal ke arah Nafeesa.


"Maaf Mbak," balasnya dengan wajahnya yang memerah menahan rasa malunya.


"Mbak ikut saya dan tolong jangan melakukan apa pun tanpa ada perintah sebelumnya dan tolong jangan sekali-kali untuk berani membantah perkataan dari Nyonya Dea," terangnya yang meminta kepada Nafeesa agar berhati-hati jangan sampai melakukan kesalahan lagi.


Prita berada di depan sedangkan Nafeesa berada di belakangnya. Semakin dekat langkah mereka ke ruangan Nyonya Dea, langkahnya semakin berat saja. Ia takut jika apa yang akan disampaikan oleh Nyonya Dea adalah sesuatu hal yang membuatnya ditolak bekerja di kediaman itu.


"Ini ruangannya Nyonya dan silahkan masuk," terangnya Prita yang berdiri di ambang pintu sambil memutar kenop pintu.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kita berjalan bersama ke arah dalam saja, aku takut jika aku salah lagi," ucap Nafeesa yang meminta ditemani oleh Prita.


"Maaf Mbak, bagi siapa saja yang tidak berkepentingan siapa pun itu dilarang untuk masuk ke dalam dengan alasan yang tidak masuk akal," terang Prita.


"Oooh gitu, baiklah kalau," jawabnya dengan pasrah.


Nafeesa dengan pasrah berjalan ke arah dalam, pandangan matanya mengedar ke segala arah ruangan. Nafeesa mengagumi keindahan arsitektur dan desain dari ruangan pribadi yang baru beberapa jam lalu menjadi bosnya.


Siapa pun yang melihat keadaan ruangan itu pasti akan mengagumi furniture dan semua benda pendukungnya. Kemegahan dan kemewahan seolah diperlihatkan begitu kentara. Nafeesa melihat Nyonya Dea sudah duduk di kursi kebesarannya dan tersenyum ramah ke arah Nafeesa yang sedikit grogi.


"Silahkan duduk dan tidak perlu sungkan, santai saja," seulas senyum yang selalu terpancar dari wajahnya.


"Makasih banyak Nyonya," balasnya saat sudah mendudukkan dirinya di depan Nyonya Dea.


Nyonya Dea menyodorkan sebuah map ke hadapan Nafeesa, sedangkan Nafeesa menatap ke arah Nyonya Dea yang seolah-olah meminta jawaban maksud dari map tersebut.

__ADS_1


"Bukalah, setelah kamu baca pasti akan mengetahui apa tujuanku memberikan map tersebut," ujarnya dengan tatapan matanya yang tajam.


Nafeesa tanpa banyak pikir segera membuka dan membaca map itu dengan seksama hingga mulutnya menganga dan matanya membulat sempurna. Nyonya Dea hanya tersenyum tipis menanggapi keterkejutan Nafeesa.


__ADS_2