Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
95. Kebaikan Bu Laila


__ADS_3

Naf menoleh ke arah Bu Laila dengan tatapan sendu," Bu, ada yang ingin aku sampaikan kepada Ibu," ujarnya lalu menatap ke arah Aida dan Aimah yang sedari tadi duduk terdiam saja.


"Apa yang ingin kamu katakan Nak, bicara lah," pinta Bu Laila.


"Begini Bu, Aida dan Aimah adalah maid yang selalu setia bersama Nafeesa jadi Naf meminta tolong pada Ibu untuk mengijinkan mereka tinggal bersama kita di sini, apa Ibu tidak keberatan dengan permohonan Naf?" Nafeesa memegang punggung tangannya Bu Laila.


Bu Laila memandang satu persatu dari keduanya dan menghembuskan nafas dengan cukup kasar.


Aida dan Aimah yang ditatap seperti itu jadi ragu dan saling berpandangan satu sama lainnya.


"Kalau Ibu Laila tidak menerima kami, aku sudah tidak tahu mau cari pekerjaan di mana lagi, tidak mungkin juga aku akan pulang kampung ke Sulawesi lagi," Aimah membatin.


"Ya Allah.. bantulah kami agar Bu Laila setuju menerima kami untuk tinggal dan bekerja di sini, keluargaku di kampung sangat butuh biaya," Aida terdiam dengan memikirkan banyak hal tentang sanak saudaranya yang ada di desa tempat kelahirannya.


"Tapi… maaf Ibu belum mampu menggaji kalian dengan tinggi, karena pasti gaji kalian di sini dengan waktu bekerja di rumahnya Nyonya Dea berbeda," ungkap Bu Laila.


"Itu tidak masalah Bu, kami sama sekali tidak mempermasalahkan masalah besar kecilnya upah yang ibu berikan yang paling penting saat ini kami memiliki tempat berlindung dan bernaung dari paparan sinar matahari dan terjangan angin dan air hujan Bu," jelasnya Aida dengan panjang lebar dengan penuh perumpamaan serta dibumbui dengan gurauan.


Mereka berdua sangat senang dan bersemangat karena sudah dapat sinyal yang bagus untuk mendapatkan pekerjaan yang baru dan tempat yang aman dan baik.


"Syukur Alhamdulillah, kalau Ibu menerima mereka dan mengijinkan untuk tinggal di rumahnya Ibu, Naf sangat bahagia mendengarnya Bu," tutur Nafeesa sambil memeluk tubuh ibu angkatnya itu.


"Kalau gitu kalian bawa barang-barang kalian ke dalam kamar di bagian belakang paling pojok, maaf hanya itu kamar yang kebetulan kosong di sini, dan satu lagi beristirahat lah kalian karena Ibu lihat kalian sangat lelah dan capek," jelas Bu Laila yang menyarankan mereka agar segera beristirahat besok baru kembali bekerja.

__ADS_1


"Kalau begitu kalian istirahat saja sesuai yang dikatakan oleh Ibu, besok pagi kalian baru mulai bekerja," timpal Nafeesa dengan tersenyum penuh bahagia karena orang yang banyak berjasa dalam hidupnya dapat terbantu walaupun hanya pekerjaan yang sedikit uangnya.


Aida dan Aimah berjalan ke arah kamar tidur mereka untuk mengatur barang-barang serta untuk mengistirahatkan tubuhnya mereka yang beberapa hari ini sangat lelah.


Daffa, Pak Ruslan yang sedari tadi hanya terdiam dan menjadi pendengar setia hanya duduk terpaku dan mematung dalam kediamannya itu. Mereka kembali duduk dan berbincang-bincang santai sembari menikmati suguhan makanan dan minuman pelengkap mereka.


"Makasih banyak ibu sudah membantu mereka, kasihan mereka berdua jika harus pulang kampung tanpa membawa apa-apa," ujarnya Nafeesa sambil mengelus punggung tangan ibunya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu tidak perlu berterima kasih, kamu seperti orang lain saja," tuturnya Ibu Laila Sari.


"Kalau gitu kami pamit ke dalam kamar dulu Bu, Pak Ruslan Kasihan Daffa sepertinya sudah mengantuk," ujar Nafeesa yang memang sangat butuh istirahat yang cukup sehabis dari rumah sakit.


"Silahkan Naf, kamu juga butuh waktu istirahat yang banyak, kondisi kesehatan kamu belum sembuh dan pulih total," terang Pak Ruslan.


"Makasih banyak Paman atas dukungannya dan bantuannya selama ini, tanpa uluran tangannya Paman, Naf tidak tahu akan bagaimana dengan nasibnya jika Allah SWT tidak mengirimkan Paman ke dalam kehidupan kami selama ini," pungkasnya Nafeesa yang berterima kasih setulus hatinya.


"Antara keluarga tidak ada kata berterima kasih satu sama lainnya, ini juga sudah tanggung jawabnya Paman sesuai amanah Pak Permana dan Sakti almarhum suamimu," balasnya Pak Ruslan.


Bu Nurlaila Sari yang mendengar perkataan dan penjelasan dari Pak Ruslan tentang menyebut namanya Sakti sudah almarhum sangat sedih dan terpukul.


"Ya Allah… putriku untuk kedua kalinya kembali menjadi janda, sungguh malang nasibmu Nak," Bu Laila membatin.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:

__ADS_1



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


__ADS_1


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....


__ADS_2