Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
104. Rem Blong


__ADS_3

Mereka tersenyum bahagia melihat keceriaan dan kegembiraan yang terpancar dari wajah ayu dan cantiknya Ara yang semakin besar semakin mirip saja dengan Mamanya Nafeesa.


"Ya Allah.. syukur Alhamdulillah aku panjatkan kehadiratMu.. karena setelah sekian lama cucuku akhirnya bisa tersenyum lepas tanpa ada beban berat yang dialami, semoga anak dan cucuku mendapatkan kembali kebahagiaannya yang pernah terenggut dulu," Bu Anna membatin.


Beberapa saat kemudian, Ara dan Mang Alam sudah bersiap menuju sekolah sedangkan Pak Handoko dan Andra akan ke Perusahaan karena hari ini mereka berdua akan mengetes langsung beberapa calon karyawan dan karyawati yang menurut mereka memiliki potensi dan skill yang baik dan mumpuni.


Ara sudah berjanji kepada Papa serta Kakek Neneknya untuk tidak akan manja lagi dan mulai hari itu dia akan berangkat sekolah diantar jemput oleh Mang Udin saja.


"Jadi Papa akan ikut bersama beberapa manajer akan turun langsung mengevaluasi dan mengetes beberapa calon karyawan dan karyawati yang akan bekerja di perusahaanku khusus yang masuk 20 besar," tanyanya Andra saat sudah memutar kunci mobilnya.


Pak Handoko menatap ke arah anaknya sebelum mengiyakan pertanyaan dari putra tunggalnya itu.


"Rencananya Papa akan langsung mengetes mereka, Papa tidak mau menerima orang yang bekerja di tempatmu dengan asal-asalan saja dan aku paling menentang jika ada karyawan yang hanya mampu di atas kertas saja tapi buktinya di lapangan berbeda," jelasnya Pak Handoko.


Beliau dengan penuh semangat karena dia tidak ingin Perusahaan anaknya menderita kerugian yang mempekerjakan orang-orang yang hanya makan gaji buta saja.


"Itu ide yang sangat bagus Papa, aku akan mendukung usulan Papa dengan dukungan penuh," timpalnya P


Andra.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di area parkiran mobil khusus petinggi perusahaan. Pak Handoko dan Andra bagaikan pinang dibelah dua saat mereka berjalan beriringan.


Semua mata yang memandang mereka cukup takjub dengan penampilan Pria beda usia tersebut, tapi karisma dan kredibilitas mereka cukup diperhitungkan di dunia bisnis di dalam negeri maupun mancanegara.


Setelan jas pakaian kerja mereka membungkus tubuh atletik Andra dan Pak Handoko. Wibawa dan kebijaksanaan dari mereka terpancar cukup bersinar dan aura kepemimpinan mereka nampak jelas sekali.


Nafeesa yang baru saja sampai di perusahaan segera mempercepat langkahnya hingga dia melupakan melepas helmnya.

__ADS_1


"Ya Allah.. tersisa satu menit lagi acaranya akan segera dimulai walaupun nomorku agak di belakang tapi, aku tidak boleh memperlihatkan kepada mereka jika aku aku tidak disiplin," gumamnya yang tidak mengendorkan langkah kakinya untuk semakin mempercepat langkahnya.


Nafeesa sampai-sampai tidak menyadari jika dirinya sudah menjadi bahan tontonan gratis dari beberapa orang berlalu lalang dan kebetulan berpapasan dengannya. Mereka saling berbisik-bisik menggunjingkan penampilan Nafeesa.


Helm masih setia terpasang di kepalanya menutupi mahkota rambutnya yang panjang hitam legam dan berkilau jika terkena dengan sinar matahari langsung ataupun cahaya lampu.


"Itu orang gila atau apa sih? Kok masuk ke perusahaan tanpa memakai sepatu hanya sendal jepit saja," cibir si A.


"Iya lihat helmnya juga, motifnya itu Doraemon lagi kayak anak TK saja," timpal si B yang mencemooh gaya penampilan Nafeesa.


"Kalau aku pasti sudah segera cabut dari sini, mana ada orang selama ini ke perusahaan memakai sandal merk swallow lagi," sahutnya yang satu yang ikut menghina dan merendahkan Nafeesa.


"Aku sangat yakin kalau dia tidak bakalan diterima di sini, kalau aku Pak Handoko tidak akan berani mengambil resiko dan berniat untuk menerima karyawan modelan gitu," umpat si A lagi.


Mereka bersamaan tertawa terbahak-bahak menanggapi sikapnya Nafeesa yang sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi padanya.


"Bagaimana kalau mereka mengatakan aku tidak lulus lagi," lirihnya yang mulai ragu dengan hasil tesnya.


Ting…


Bunyi pintu lift terbuka, dia tanpa menunggu pintu cukup terbuka lebar dia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat pelaksanaan tesnya. Tapi langkahnya terhenti saat dia menabrak dari belakang tubuh seseorang yang berjalan di depannya. Nafeesa langsung ngerem dan berusaha untuk menghentikan kecepatan larinya.


"Awas!! Minggir Pak!!!!!" Pekiknya Nafeesa yang sudah terlambat karena dia terlanjur menabrak tubuh orang itu.


Semua mata langsung tertuju pada teriakannya Nafeesa dengan suara cemprengnya mampu mengalihkan perhatian semua orang di tempat itu.


Tapi begitu kokohnya punggung lebar pria itu hingga hanya bergeser Selangkah saja dari dorongan kepala dan tangannya Nafeesa.

__ADS_1


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....

__ADS_1


__ADS_2