
Pak Ruslan menatap tidak percaya ke arahnya Security tersebut.
"Apa kalian tidak mengenal saya?" Tanyanya dengan sedikit ketegasan.
"Kami sangat tahu Anda itu siapa tapi,kami tidak mungkin menentang perkataan dari Nyonya Besar lagian Nyonya Dea sudah pergi dari sini," ungkapnya.
"Kakek, dimana Daffin?" Rengeknya dengan menarik lengan bajunya Pak Ruslan.
Pak Ruslan tidak tahu harus berbuat apa dan cara menjawab pertanyaan dari Daffa. Ia banyak memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi dari kejadian ini.
"Aku tidak percaya jika Nyonya Dea tidak ada di dalam, kecuali kalian membolehkan aku masuk ke dalam untuk melihat langsung," ucap Pak Ruslan dengan menaikkan sebelah alisnya yang sangat tidak percaya dengan perkataan mereka.
Pak Ruslan beranggapan ini hanya alibi dan alasannya mereka semata untuk menyembunyikan keberadaan Daffin dan Nyonya Dea.
Security itu saling berpandangan lalu segera menghubungi kepala pelayan untuk menginformasikan apa yang telah terjadi di depan pagar.
"Kalau bapak tidak percaya, aku akan segera menelpon nomor kepala pelayan kami, agar Bapak bisa yakin dan percaya jika kami tidak berbohong atau pun mengada-ada saja," ungkapnya Security itu.
Setelah beberapa saat kemudian, Security itu mengijinkan Pak Ruslan dan Daffa untuk masuk memeriksa langsung keadaannya.
Pagar menjulang tinggi itu terbuka lebar, Daffa langsung berlari kencang masuk ke area rumah yang bagaikan istana itu. Dia kemudian mencari keberadaan adik kembarnya hingga ke seluruh penjuru rumah.
"Daffin… Daffin kamu di mana? Kakak datang menjemputmu!!" Teriaknya dengan suaranya yang cukup tinggi membuat bising ruangan tersebut.
Beberapa maid maupun pelayan yang mendengar teriakannya dan melihat langsung kedatangannya tidak ada yang berani berkomentar atau pun mendekatinya seperti biasanya jika dia datang berkunjung ke rumah itu.
Mata mereka hanya memandang penuh kasihan, rasa iba kearahnya Daffa. Mereka semua yang tahu apa yang telah terjadi dengan anak kembar itu tapi, satupun dari mereka tidak ada yang berani untuk membuka mulutnya lalu berbicara.
__ADS_1
Mereka terlalu takut dengan ancaman dari Nyonya Dea junjungannya yang menjadi atasan mereka.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa ada anak kecil yang berlarian Di dalam rumah lalu berteriak-teriak seakan-akan rumah ini adalah hutan belantara yang dipenuhi dengan pohon dan hewan," sarkas kepala Pelayan Pak Asiz dengan tatapan merendah ke arah Daffa dan Pak Ruslan berada.
Pak Aziz dengan wajahnya yang jumawa dan penuh kesombongan berdiri di depan Pak Ruslan seakan-akan dia lebih hebat dari segala-galanya yang dimiliki oleh Pak Ruslan.
Pak Ruslan terperangah melihat betapa besar perubahan yang terjadi di sana setelah kepergian Sakti. Baru dalam hitungan jam Sakti meninggal dunia dan disemayamkan di TPU setempat, Sudah nampak jelas semua antek-anteknya Nyonya Dea yang jahat.
"Makasih banyak atas sambutannya Pak Kepala Pelayan," tutur Pak Ruslan dengan menekan perkataannya yang paling ujung.
Pak Ruslan membalas menatap ke arah Pak Aziz dengan tatapan mencemooh dan merendah.
"Kami ke sini hanya ingin menjemput pulang Daffin, karena di sini bukanlah Rumahnya," sarkas Pak Ruslan yang sangat tahu siapa Pak Aziz itu.
Hahahaha," maaf dengan sangat terpaksa saya harus mengatakan kepada Anda Tuan Ruslan pengacara terhebat yang dimiliki oleh keluarga Permana tapi sayangnya tertipu oleh kehebatan Nyonya Dea kalau Nyonya Besar Dea satu jam yang lalu sudah meninggalkan tanah air tercinta," jelas Pak Aziz dengan gayanya yang congkak itu.
"Kalau seperti itu kenyataannya, ijinkan kami untuk memeriksa semua ruangan di dalam istana ini untuk meyakinkan kami apa kah bapak Aziz yang agung tidak membual dan berbicara kebohongan," imbuhnya Pak Ruslan yang sudah muak melihat tampang penjilat dan bermuka dua miliknya Aziz.
Pak Ruslan segera menyusul Daffa untuk mencari keberadaan dari Daffin tapi, langkahnya terhenti ketika melihat Daffa berjalan dengan lunglai, loyo dan tidak bersemangat sedangkan wajahnya sudah dibanjiri oleh air matanya.
"Ya Allah… aku sangat tidak o jika ada manusia yang berhati kejam dan tega melakukan kejahatan seperti ini," Pak Ruslan membatin dan sangat tidak menduga jika semuanya berubah 180 derajat hanya dalam hitungan detik saja.
Tapi dunia ini di penuhi orang-orang baik, jika kita tak bisa menemukannya maka jadilah salah satunya.
Kadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan hanya sebagai pendamping hidup, melainkan kita harus belajar banyak hal darinya.
Sebetulnya tidak pernah ada yang mengecewakan kita, hanya saja kita memilih untuk kecewa. luaskan hati kita maka semuanya akan terasa ringan dan jangan pernah menaruh harapan yang lebih pada sesama manusia jika tidak ingin kecewa, berharaplah hanya pada Allah karena hanya Dia lah yang tidak akan pernah mengecewakan kita.
__ADS_1
Dan juga tidak pernah ada yang menyinggung kita, hanya saja kita memilih untuk tersinggung. andai saja kita bisa melapangkan hati kita maka semua akan terasa manis.
Kita yang memilih rasa dalam hati kita, maka jika sekiranya kita masih bisa memilih berlapang dada maka pilihlah kelapangan. Karena kita akan merasa tenang dan selalu bahagia. semua tentang rasa yang kita sendiri yang memilikinya dan kita juga yang memilihnya.
Berbuatlah hal-hal kebaikan agar yang kita dapatkan juga kebaikan. Karena sejatinya apa yang kita perbuat hari ini esok ataupun lusa pasti akan kembali pada diri kita sendiri.
Apa yang kita tanam dan itu lah yang akan kita tuai.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
...9. Ceo Pesakitan...
__ADS_1
...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...