
Nedra segera membuka aplikasi galeri foto di hpnya. Dia lalu langsung mengarahkan ke hadapan Pak Handoko.
"Apa ini?" Tanya Pak Handoko yang tidak paham kenapa dia diberikan hp milik Nendra.
"Bukalah Tuan! jawaban segala pertanyaan dari Tuan ada di dalam sana," terangnya Nendra.
Pak Handoko tanpa banyak tanya lagi dia segera membuka galeri foto tersebut dan saking terkejutnya saat melihat siapa pemilik foto tersebut.
"Ini tidak mungkin!!" Gumam Pak Handoko.
Pak Handoko melototkan matanya seakan-akan kedua bola matanya ingin melompat keluar dari kelopak matanya itu. Saking tidak percayanya dengan apa yang dia lihat. Beberapa foto dan rekaman video yang dia lihat membuatnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ya Allah… apa Nafeesa hamil saat dia diusir dari rumah oleh Andra? Kalau begitu aku memiliki seorang cucu laki-laki," Pak Handoko membatin.
Raut wajahnya yang awalnya tegang, tidak percaya, shock, kaget sekarang perlahan berubah jadi bahagia dan kegirangan tetapi berakhir dengan sendu. Air matanya menetes membasahi pipinya. Ia bahagia sekaligus sedih karena merasa terlambat mengetahui jika dia memiliki seorang cucu laki-laki penerus tampuk pimpinan kekuasaan kekayaannya.
Nendra yang duduk di kursi yang ada di depannya, terkejut dan tidak mengerti dengan perubahan air muka dari apa yang terjadi dan dialami oleh Tuan Besarnya.
"Hendra! Tolong perintahkan beberapa orang untuk mengawasi terus mereka dan laporkan apa pun kegiatan cucu dan menantuku dan yang paling penting jangan biarkan ada sesuatu hal yang terjadi padanya," titah Pak Handoko sembari menyeka air matanya.
"Baik Tuan Besar, kami akan melaksanakan dan mengerjakan semuanya sesuai dengan perintah Tuan Besar," ujarnya Nendra.
__ADS_1
"Tapi, ingat jangan beritahu hal ini dulu kepada Andra sebelum kita tahu dengan persis apa dia benar-benar cucuku atau bukan, kita harus terlebih dahulu melakukan tes DNA, jadi kamu atur apa saja yang dibutuhkan untuk prosedur tes itu, saya menyerahkan tugas itu khusus kepadamu dan bonus besar menantimu," tutur Pak Handoko sebelum beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah luar Perusahaan putranya.
Hati dan perasaan Nendra bersorak gembira, karena mendapatkan bonus yang tentunya tidak sedikit seperti yang lalu-lalu jika dia berhasil dengan baik menjalankan semua tugas yang diembannya pasti akan berbuah cuan.. cuan.
Karena hal itu lah Nendra bertahan dan setia bekerja di Perusahaan itu. Dia diperlakukan layaknya saudara sendiri bukan seperti bawahan dengan atasannya. Padahal banyak sekali pemilik perusahaan yang menginginkan jasanya untuk bekerja di Perusahaannya mereka.
Hati Nendra bersorak gembira karena bisa mendapatkan tambahan biaya untuk segera melangsungkan pernikahannya dengan perempuan yang sudah lama dia impikan dan incar.
"Tunggu aku sayang, insya Allah Akhir bulan aku akan melamarmu," gumamnya Nendra kemudian Ikut berdiri dan keluar dari ruangan pribadinya Pak Handoko.
Dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya dengan langkah kaki yang cukup panjang dia meninggalkan perusaahan untuk bertemu dengan beberapa anak buahnya yang cukup dia percaya untuk mengembang dan menjalankan misi tugas khusus dan penting yang diberikan oleh orang nomor dua di perusahaan tempat dia bekerja.
"Aku yakin Ibu akan sangat bahagia setelah mendengar kabar baik ini," lirihnya Pak Handoko yang sudah berada di dalam mobil untuk pulang ke rumahnya.
Wajah Pak Handoko bercahaya dan berbinar binar saking bahagianya mengetahui jika Nafeesa dan Andra memiliki seorang anak yang sangat tampan.
"Wajahmu sangat mirip dengan papa kamu waktu Papamu seumuran denganmu," lirihnya sambil melihat beberapa foto Daffa yang sempat di ambil oleh anak buahnya Nendra yang sudah berada di dalam hpnya.
Pak supir diam-diam memperhatikan perubahan dari raut wajah junjungannya yang selalu berseri-seri senang dan kadang bergumam sendiri yang kurang jelas di telinganya.
"Semoga saja kebahagiaan Tuan menular sampai ke kami bawahannya sehingga akhir bulan mendapatkan bonus dan gaji tambahan," Pak supir penuh harap.
__ADS_1
Sedangkan di rumahnya Bu Anna pun mengalami hal yang serupa dan mirip dengan apa yang terjadi dan dialami oleh suaminya. Kedatangan sahabat barunya Ara ke rumahnya tadi siang membuatnya bahagia. Dia tidak menyangka jika ada anak kecil yang seumuran dengan cucunya mirip sekali dengan putra tunggalnya saat masih kecil dulu.
"Aku harus mengatakan ini kepada Mas Handoko, entah kenapa perasaanku mengatakan jika kami berhubungan dengan Daffa teman sekelasnya Ara," cicitnya yang mondar-mandir di depan pintu menunggu kedatangan suaminya dari kantor.
Dilara Aysila Aireen yang melihat Neneknya yang berjalan ke sana kemari seperti setrikaan saja hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.
Karena walaupun ada yang menegur atau pun melarangnya pasti akan berakhir dengan omelan dan beliau akan marah jika, ada yang merusak moment bahagianya yang dirasakannya saat itu juga.
Ara hanya sesekali tersenyum manis ke arah Neneknya yang tidak bisa terdiam walaupun sesaat saja sambil terus mengerjakan tugas dari Ibu gurunya.
Sepuluh tahun kemudian,
Ara dan kedua orang tuanya berkumpul bersama. Kakek Nenek mereka pun bahagia bersama.
Pak Handoko sudah mencari tahu siapa Ara sebenarnya, mereka hanya butuh waktu sekitar seminggu saja untuk mencari tahu kebenarannya. Pak Handoko menemui kedua anak menantunya untuk mengatakan apa yang sebenarnya.
Nafeesa sangat bahagia setelah bertemu dengan mantan ayah mertuanya itu dengan beberapa fakta yang cukup membuatnya bahagia.
"Ya Allah... aku sangat bahagia dengan berita gembira ini,"
Pertemuan dua orang itu sungguh mengharukan, setelah sekian purnama akhirnya Nafeesa bertemu dengan anaknya dan kembali memutuskan untuk menikah dengan mantan suaminya Andra atas kegigihan Andra yang tidak pantang memperlihatkan kebaikan dan perubahannya itu.
__ADS_1
Kehidupan semua orang bahagia tanpa ada yang tersakiti lagi.
...********END********...