
"Nafeesa!!!" Teriaknya.
Nafeesa langsung berjalan dengan cepat ke arah Andra walaupun bagian intinya masih sering perih dan sakit, tapi dia tidak menghiraukannya sama sekali.
Dia berjalan cepat agar dia tidak membuat Andra semakin marah. Dia pun berdiri di hadapan suaminya yang sedikit membuka kakinya agar lebih leluasa berdiri.
"Nafeesa!!! katakan padaku siapa pria yang pertama merenggut kesucianmu haaaa?"
Kedua matanya seakan-akan ingin keluar dari tempatnya, urat tangannya menonjol dengan kasar, tangannya mengepal kuat yang seakan-akan ingin meninju seseorang saja.
Pertanyaan yang terlontar dari bibirnya Andra membuatnya langsung terdiam dan keheranan karena tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan itu.
"Kenapa Kamu diam saja, apa Kamu tuli haaa!!!" Andra kembali berteriak di hadapan Nafeesa dengan suara yang menggelegar seperti suara petir saja.
Nafeesa masih berusaha untuk mencerna perkataan dari Andra. Dia kebingungan dan berdiri seperti patung saja.
"Emang dasar Kamu perempuan bodoh!! tuli lagi, apa semua perkataan yang aku ucapkan belum Kamu mengerti?"
Andra kembali berteriak di dekat telinganya Nafeesa hingga membuat Nafeesa refleks menutup kedua telinganya.
Wajahnya sudah memerah menahan amarahnya. Dia sangat marah karena telah mengetahui jika tidak ada sedikitpun noda darah segar di sprei yang mereka pakai sewaktu berhubungan intim.
"Nafeesa!!! katakan padaku, siapa pria yang telah mendahuluiku?"
__ADS_1
Bibirnya bergetar hebat dan tidak menyangka jika suaminya sendiri meragukan kesetiaannya. Kesucian dan kehormatannya yang selama ini selalu dia jaga dengan baik dipertanyakan oleh Andra suaminya sendiri.
"Mas!!! Kamu boleh saja menghinaku, memukulku, atau pun tidak mencintaiku hingga kapan pun, tapi jangan sekali-kali meragukan kesetiaanku padamu," jawabnya dengan nada suara yang cukup tinggi pula.
Betapa hatinya hancur saat mengetahui jika dirinya dituduh berbuat serong dengan Pria lain serta menuduhnya tidak perawan lagi saat sebelum mereka berhubungan.
"Hahahaha!!! jadi kalau Kamu masih perawan kenapa sedikit pun tidak ada tanda bercak darah yang tertinggal di atas sprei sedikit pun?"
Andra menatap penuh amarah ke arah Nafeesa seakan-akan Nafeesa adalah seorang tersangka yang diinterogasi oleh pihak kepolisian.
"Tidak perlu banyak alasan dan banyak bacok, aku tahu Kamu tidak perawan lagi kan sehingga menutupi kenyataan yang ada dengan alasanmu itu?" Ucap Andra yang menertawai perkataan dari Istrinya sendiri.
"Apa Mas perhatikan aku saat berada di dalam kamar mandi? Tidak kan? Darah yang Mas maksud memang saya akui kalau darah itu belum keluar saat kita selesai berhubungan, tapi saat aku berada di dalam kamar mandi, barulah darah itu menetes saat aku buang air kecil," jawabnya dengan lelehan air matanya.
Nafeesa balas menatap ke arah suaminya dengan tatapan tajam. Andra yang seumur pernikahannya mereka baru kali ini melihat tatapan tajam seperti itu dari istrinya sendiri.
Nafeesa maju selangkah ke hadapan Andra lalu berkata,"kalau Mas tidak mencintaiku atau pun menyayangiku aku bisa terima dengan sabar dan ikhlas, tapi Mas tuduh aku yang tidak-tidak maaf aku tidak bisa menerimanya dengan begitu saja," terang Nafeesa.
"Kamu ternyata hanya pura-pura bodoh selama ini yah!! Aku sangat terkejut mendengar penjelasanmu yang sangat tidak logis dan tidak masuk akal itu."
Andra tersenyum merendahkan kearah Nafeesa dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Jaga ucapan Mas, aku selama ini cukup bersabar menghadapi semua tingkah lakunya Mas dengan Lidya, tapi jika Mas meragukan kesetiaanku maaf aku tidak bisa terima."
__ADS_1
"Oooo yah!! Jadi Kamu marah dan tidak menerima semua perlakuanku padamu selama ini??" Tanya Andra yang ikut maju ke depannya Nafeesa sehingga hanya sejengkal saja jarak yang memisahkan mereka berdua.
Nafeesa memalingkan wajahnya saat Andra menatapnya dengan seksama. Sedangkan Andra tersenyum merendahkan saja.
"Apa sih susahnya untuk berkata jujur, lagian jika Kamu jujur padaku hubungan pernikahan kita yang hanya sebatas status saja bisa tetap berlanjut dan bertahan sampai aku bosan baru aku putuskan," terang Andra.
Hatinya Nafeesa seperti dipukul dengan godam yang sangat besar. Hancur berkeping-keping hingga tak berbentuk lagi. Betapa tidak hancur dan sedihnya jika kesetiaannya kepada suaminya yang selalu dia jaga telah ternoda dengan tuduhan yang tidak beralasan.
"Aku bukan perempuan tolol yang karena dipaksa dan terdesak sehingga berbicara kebohongan besar, dan sampai kapan pun aku tetap akan mengatakan kalau aku masih suci sebelum Kamu sentuh."
Penuturan dari mulutnya Nafeesa membuat Andra kembali tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Kamu lucu juga, sudah ketahuan salah masih saja banyak bicara, bagiku Kamu itu wanita mu ra han."
Plaaakkk!!!!!!
Suara tamparan itu sangat keras.
"Mas perlakukan aku dengan kasar aku masih bisa bersabar, Mas pergi dimalam pertama kita pulang pagi aku masih bisa diam, Mas sering membentak dan menghinaku aku masih bisa terima dengan Ikhlas, tapi untuk satu ini maaf aku tidak menerimanya."
Andra hanya tertawa lalu memalingkan wajahnya dari hadapan Nafeesa.
"Mas menikahi Lidya aku juga berusaha untuk menerimanya dengan tulus, tapi ketika kesetiaanku Mas ragukan, aku tidak bisa menutup mata dan telingaku, aku tanya Mas di mana hati nuraninya Mas saat memutuskan untuk menikahi Lidya, apa Mas pernah pikirkan tentang apa yang aku rasakan? jawabnya tidak!!"
__ADS_1
Kamu tidak akan menemukan kebahagiaan jika terus menuntut kesempurnaan. Syukuri apa yang kamu miliki, maka di sana akan kau temukan kebahagiaan.