Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
50. Kemarahan Nafeesa Yang Awet


__ADS_3

Bruk!!!!


Pintu itu tertutup dengan cukup keras membuat tembok disekitarnya bergetar hingga sedikit bergoyang.


"Siapa yang selingkuh? Apa mungkin Nafeesa seperti itu karena hormon kehamilan yang dominan berperan pada sifatnya akhir-akhir ini, katanya dokter mood seorang wanita hamil itu berubah-ubah sesuai dengan efek dari hormon," tuturnya sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum menanggapi kemarahan dari istrinya yang masih tidak sadar juga penyebab dari kemarahannya itu.


Nafeesa berjalan dengan susah payah hingga ke pintu depan. Hatinya kacau, kalut dan sedih serta kecewa menjadi satu. Air matanya terus menetes membasahi pipinya.


"Aku harus pergi dari sini kalau Mas tidak ingin berkata jujur padaku," gumamnya sambil berjalan ke arah belakang rumahnya.


Nafeesa duduk di kursi yang ada di sekitar area Taman. Perlahan perasannya Nafeesa bisa pulih dan membaik seperti semula.


"Kenapa semua pria seperti itu, Mas Sakti dan Mas Andra sama saja mereka tidak berbeda sedikitpun juga," lirihnya dengan sesekali mengusap tetesan air matanya.


Sakti berjalan ke arah Cermin yang kebetulan botol sabun ada di wastafel. Sudut ekor matanya melihat banyaknya tanda kissmark bekas gincu milik seorang perempuan tapi, itu bukan Miliknya Nafeesa.


Sakti menutup mulutnya sembari berkata,"pasti gara-gara ini alasannya Nafeesa marah ngambek dan mengira aku selingkuh."


Sakti bukannya kecewa ataupun sedih, malahan dia sangat bahagia karena mengetahui jika Nafeesa sudah mulai membuka hatinya untuk dirinya. Cemburu itu tanda sayang.


"Aku sangat bahagia setelah tahu jika kamu sudah mulai sayang denganku Naf," cicitnya lalu perlahan memeriksa semua tanda itu satu persatu.


"Ini semua gara-gara Lusia si wanita ular berbisa Tapi, aku juga harus berterima kasih karena gara-gara itu aku tahu isi hatinya Istriku, aku harus berterima kasih kepada Lusia kalau gini," lirihnya dengan senyumnya yang sedari tadi mengembang menghiasi wajahnya.


Nafeesa berjalan di sekitar Taman, dia memetik beberapa tangkai bunga mawar merah, putih dan pink tapi sebelumnya dia meminta izin terlebih dahulu kepada pengurus taman itu.


Nafeesa berjalan perlahan dengan sandal jepit yang mengalasi kakinya itu. Senyuman tulus diberikan oleh si Tukang kebun.

__ADS_1


"Siang Pak," sapanya Nafeesa dengan senyuman ramahnya yang tulus dari dalam hatinya yang terdalam.


Tukang Kebun itu langsung menghentikan aktivitasnya setelah melihat dan mendengar sapaan dari Nyonya pemilik rumah besar itu.


"Siang juga Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya yang sedikit membungkukkan badannya.


"Aku lihat semua bunga di taman ini sudah bermekaran, saya sangat suka melihatnya membuat hati menjadi tenang, damai dan sejuk dipandang mata," terangnya sembari mencium aroma wangi bunga itu.


"Hati-hati Nyonya nanti tangannya ketusuk duri mawar," cegah Pak Alex tukang kebun.


"Auh!!" Teriak Nafeesa saat tanpa sengaja tangannya tertusuk salah satu duri dari tangkai bunganya.


Nafeesa meringis kesakitan karena perih bekas tusukan dari duri tersebut. Sakti yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik apa yang dilakukan oleh istrinya segera berlari hingga dia melompati pagar pembatas taman tersebut.


Dia meraih tangan kanan Nafeesa yang berdarah lalu menghisap darah segar itu. Naf yang melihat jika Sakti yang spontan membantunya segera menarik tangannya.


Dia tidak menyangka jika Nafeesa masih marah padanya hanya karena salah paham dengan tanda merah yang tadi sempat ada di tubuhnya. Ia terdiam mematung sambil hanya bisa memandangi punggung dari wanita yang sejak kecil disayanginya itu.


"Nafeesa apa kamu akan tetap mencintaiku jika kamu tahu tentang penyakit dan kekuranganku?" Tanyanya yang sangat lirih malah seperti orang yang berbisik saja.


Tukang Kebun yang diberikan kode untuk segera mengambil kotak obat berjalan tergesa-gesa ke arah Sakti yang sedari tadi berdiri membeku dan hanya mampu menatap kepergian Nafeesa dari depannya.


"Tuan ini kotak p3knya yang Tuan minta," ujarnya sambil menyodorkan sebuah benda berbentuk kotak persegi panjang yang berwarna putih dengan tulisan yang berwarna merah.


"Pak tadi Nyonya ke sini, apa yang dia inginkan?" Tanyanya yang menatap tajam ke tukang kebun sambil mengambil alih kotak itu.


"Tadi, Nyonya Muda sempat menginginkan beberapa tangkai bunga mawar, tapi belum sempat aku petik tangannya Nyonya sudah tertusuk salah satu duri bunga Tuan," jawabnya dengan sangat hati-hati dia takut perkataannya menyinggung Tuannya.

__ADS_1


"Kalau gitu, sini alat pemotong bunganya Pak, Saya akan mengambil beberapa tangkai bunga mawar untuk istriku tercinta yang paling cantik," tuturnya lalu segera memilih beberapa bunga mawar yang segar dan cantik.


Sakti dibantuin oleh Pak Alex untuk memilih bunga yang paling bagus kualitas dan jenisnya yang bertahan lama jika disimpan di dalam vas bunga.


"Makasih banyak Pak atas bantuannya, silahkan lanjutkan pekerjaannya," ujarnya lalu mengambil bunga yang sudah berhasil dia petik.


Sakti berjalan kembali ke dalam rumahnya dengan senyuman yang selalu setia menghiasi wajahnya.


Mampir dong dinovelku yang lain dengan judul:



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


__ADS_2