Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
82. Pilihan Nafeesa


__ADS_3

"Insya Allah dokter, makasih banyak atas bantuannya," pungkasnya Nafeesa yang bahagia karena kesehatannya sudah membaik.


Daffa dan maid dua orang itu hanya melihat interaksi mereka secara bergantian sembari menyantap makanan yang dibawa oleh Pak Ruslan sebagai sarapan paginya.


"Hore mami bisa pulang ke rumah lagi, Daffa sudah merindukan masakannya mami Nafeesa," teriak Daffa dengan kegirangan sambil lompat-lompat di tempatnya.


Dokter dan perawat yang belum meninggalkan tempat tersebut ikut tersenyum bahagia melihat tingkahnya Daffa.


"Naf, ada yang ingin Paman sampaikan tapi Paman mohon kamu harus bersabar," tutur Pak Ruslan yang ragu untuk menyampaikan kepada Nafeesa tentang rumah pemberian Sakti untuknya yang sudah mau dijual oleh Nyonya Dea sepihak.


Nafeesa menatap ke arah Pak Ruslan sembari tersenyum dan sudah ada sedikit bayangan tentang apa yang terjadi.


"Katakan saja Paman, tidak perlu sungkan seperti itu terhadap Nafeesa, katanya tadi sudah anggap Nafeesa putrinya sendiri," gurau Nafeesa yang masih duduk di atas ranjang RS.


Pak Ruslan yang duduk di salah satu Sofa agak ragu untuk berbicara tapi, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga. Sedangkan tiga orang lainnya kembali menikmati makanan yang dibawa Pak Ruslan.


"Paman meminta maaf kepada kamu yang sebenarnya karena tidak mampu mencegah Nyonya Dea untuk membawa pergi Daffin, dan Paman sudah mengerahkan anak buah Paman tapi, sampai detik ini keberadaan mereka belum kami ketahui," terangnya Pak Ruslan dengan sedikit ragu dan cemas dengan kondisi psikologis dari Nafeesa.


Nafeesa tersentak kaget mendengar hal itu walaupun dia sudah mengetahui hal itu jauh-jauh hari sebelum kematian Sakti. Itu sebagai syarat untuk keselamatan dari Daffa dan Daffin sendiri.


"Ya Allah… ternyata Nyonya Dea melakukan hal itu padahal aku pikir itu hanya gertakan dan ancaman biasa saja, ternyata Nyonya Dea sungguh kejam dan tidak punya hati nurani," lirihnya dengan air matanya yang kembali menetes membasahi pipinya.


Dua maid yang melihat kehancuran dan kesedihan Nafeesa tersentuh dan ikut sedih dengan peristiwa serta kejadian yang menimpa mereka karena disebabkan oleh Nyonya Dea.


"Kenapa yah,aku berpikir jika semua ini adalah taktik dan campur tangan Nyonya Dea yang sengaja melakukan hal ini karena harta," batinnya Aida sambil menyeka air matanya.


"Kenapa ada orang di dunia ini yang sangat jahat rela melakukan apapun demi uang padahal harta dan uang itu tidak dibawa mati," cicitnya Aimah yang menggenggam sendok makannya dengan kuat saking marahnya dengan kejahatan dari Nyonya Dea.


"Kalau seperti itu kejadiannya, aku hanya bisa bersabar dan banyak berdoa untuk keselamatan putraku Daffin, moga saja Nyonya Dea menjaga Daffin setulus hatinya," harap Nafeesa yang menundukkan kepalanya dan berusaha untuk menahan tangisnya.


Dia tidak ingin Daffa ikut terpengaruh dengan kesedihan, kegalauan dan kegundahan hatinya harus berpisah jauh dari anak keduanya itu.

__ADS_1


Daffa berjalan ke arah Maminya lalu memeluk tubuh Nafeesa dengan erat.


"Mami jangan nangis lagi, Daffa akan cari Daffa kalau nanti Daffa sudah besar," bujuk Daffa di depan perempuannya yang telah berjasa melahirkannya kedunia ini.


Nafeesa berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya sangat hancur dan kacau balau. Sedih, kecewa,sakit hati dan kehilangan rasa itu bercampur satu dalam bagian di dalam hatinya.


"Aku harus bisa tegar dan kuat menghadapi semua ini, karena aku yakin Allah SWT selalu bersama orang yang selalu bersabar dan tak pernah putus asa," lirihnya Nafeesa lalu menyeka air matanya.


Tidak ada satu pun orang yang hidup di dunia ini yang menginginkan kejelekan di dalam hidupnya. Tapi, semua itu tergantung takdir yang sangat berperang penting. Manusia hanya bisa berencana, berikhtiar, berdoa serta tawakal kepada Allah SWT.


"Aida! Tolong kemas seluruh pakaian dan barang-barangnya Nyonya Muda, kita akan pulang ke rumahku," perintah Pak Ruslan lalu menatap ke arah Aida.


Aida dan Aimah segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh Pak Ruslan tanpa banyak bicara lagi.


"Maksudnya Paman? Kenapa harus pulang rumahnya Paman? Kan masih ada rumahnya Mas Sakti," ungkap Nafeesa dengan wajah keheranan serta kebingungan dalam waktu yang bersamaan.


"Nyonya Dea memasang segel di depan pagar rumah kamu, dia Ingin menjual rumahmu itu dan bahkan semua maid dan Security yang bekerja di sana dipecat tidak hormat oleh Nyonya Dea," terang Pak Ruslan yang sebenarnya tidak ingin mengatakan hal itu.


"Apa! Dipecat?" Aimah membeo yang mulutnya menganga saking terkejutnya dan tidak percaya dengan perbuatan dari Nyonya Dea yang tega memecat mereka dengan tanpa pemberitahuan dan pesangon.


"Tidak apa-apa Paman, kalau gitu antar Nafeesa ke jalan ini paman, bagaimana dengan kalian apa mau ikut bersamaku dengan keadaan yang seperti ini, aku berikan kalian kebebasan untuk memilih," ucap Nafeesa dengan wajahnya yang sendu.


"Kami akan selamanya ikut bersama dengan Nyonya Muda kemanapun pergi kami akan pergi jauh dari hidupnya Nyonya jika Anda yang menginginkan kami untuk membuang pergi," sahut Aida dengan mantap.


"Kalau gitu, kita berangkat ke rumahnya Bu Laila sekarang juga, Paman sudah urus semuanya jadi tinggal berangkat ke sana saja," tuturnya Pak Ruslan.


Dengan berbagai perasaan yang berbeda-beda yang hadir di dalam diri masing-masing.


Setiap yang namanya manusia pasti akan mengalami yang namanya ujian. Allah SWT tidak akan menguji umatnya melebihi dari batas kemampuannya.


Tingkat kesabaran setiap manusia itu berbeda-beda, tapi kesabaranlah yang tidak terbatas.

__ADS_1


Saat kita menanam padi, akan selalu ada rumput yang ikut tumbuh apalagi jika yang kita tanam adalah rumput, tidak akan ada padi yang ikut tumbuh.


Begitulah hidup kebaikan yang kita tanam tak selalu tumbuh kebaikan pula, bagaimana jika yang kita tanam adalah keburukan, tak akan ada kebaikan yang tumbuh.


Tapi dunia ini di penuhi orang-orang baik, jika kita tak bisa menemukannya maka jadilah salah satunya.


Kadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan hanya sebagai pendamping hidup, melainkan kita harus belajar banyak hal darinya


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan

__ADS_1



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


__ADS_2