
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, Mami akan segera pulang, Mami minta maaf karena tidak datang menjemputmu karena tesnya cukup banyak," jelas Nafeesa yang belum juga memasang helmnya.
"Tidak apa-apa kok Mi, tidak usah terlalu cemas dengan Daffa, aku sudah besar loh Mi, bukan anak kecil lagi jadi Mami cukup konsentrasi dengan pekerjaan Mami," tutur Daffa yang sudah seperti orang besar saja.
"Alhamdulillah Mami sangat senang mendengar penjelasanmu nak, kalau gitu Mami tutup dulu telponnya, Mami sudah bersiap untuk pulang, Assalamualaikum," tutur Nafeesa lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Waalaikum salam," jawab Daffa yang hanya tersenyum menanggapi sikap Maminya itu.
Nafeesa segera menyalakan mesin motornya lalu menjalankan motornya untuk segera pulang ke rumahnya. Nafeesa bersyukur karena diterima di perusahaan tempat dia melamar.
Nafeesa menganggap bahwa keberadaan Pak Handoko mantan mertuanya itu hanya kebetulan saja. Ia mengira jika Pak Handoko adalah rekan bisnisnya pemilik perusahaan itu.
"Cepat buntuti dan ikuti kemanapun perginya perempuan yang memakai motor matic merah dengan plat nomor xx itu dan apa yang dia lakukan segera laporkan padaku tanpa terkecuali," perintahnya
"Syukur Alhamdulillah.. makasih banyak ya Allah… aku bisa bekerja dan membiayai hidup aku dan anakku, aku tidak mungkin bergantung terus kepada Laila apa lagi ibu sudah memiliki dua panti asuhan yang beliau biayai," gumamnya.
Beberapa saat kemudian ia sudah sampai di depan rumahnya Bu Laila. Wajahnya sumringah melihat putranya yang tersenyum bahagia sedang berlari ke arahnya yang baru mematikan mesin mobilnya.
Orang yang mengikuti sedari tadi Nafeesa segera mengambil gambar saat Daffa berlari ke arah Nafeesa, saat mereka juga berpelukan. Walaupun keadaan sudah masuk magrib tapi, kamera digital yang dipakai oleh orang tersebut cukup bagus kualitasnya. Sehingga hasil jepretan gambar yang diambil dengan kualitas yang cukup bagus dan jelas.
"Aku yakin bos Nendra akan berikan aku bonus yang banyak jika dia lihat hasil yang aku dapatkan ini," lirihnya yang masih terus mengambil beberapa gambar lagi hingga rumah Bu Laila pun tak luput dia ambil gambarnya.
Pria itu tersenyum bahagia karena telah berhasil mendapatkan informasi yang sangat akurat dan menjalankan tugasnya dengan baik dan hasilnya cukup memuaskan.
"Sebaiknya aku segera menghubungi nomor hpnya Bos Nendra agar dia dapat pujian dan pastinya akan naik jabatan dan gaji yang tinggi dari Tuan Besar Handoko," ucapnya lagi lalu meraih hpnya dan tidak menunggu waktu lama ia mengirimkan pesan chat ke nomor hpnya Nendra apa pun yang dia dapatkan di tempat itu.
Nendra yang sedang memeriksa beberapa berkas hasil tes beberapa calon karyawan dan karyawati yang lulus interview dan beberapa tes lainnya pekerjaannya harus terhenti sesaat setelah mendengar hpnya berdering plus bergetar.
__ADS_1
Tring….
Dia menghentikan pekerjaannya beberapa saat untuk memeriksa siapa yang mengirim chat tersebut. Tapi,raut wajahnya langsung berubah menjadi kegirangan saking bahagianya melihat beberapa foto dan video yang dikirim oleh mata-matanya. Orang yang ia diperintahkan olehnya, khusus untuk mengikuti Nafeesa hingga pulang ke rumahnya.
Nendra segera melipat kembali berkas tersebut lalu segera bangkit dari duduknya. Ia kemudian berjalan cepat ke arah ruangan pribadi Pak Handoko. Dia ingin secepatnya memberitahukan kepada beliau informasi apa yang dia dapatkan baru saja.
"Pak Handoko harus tahu jika Nafeesa memiliki seorang putra dan dia sangat mirip dengan Tuan Muda Andra," lirihnya.
Dia sudah tidak menggubris sapaan dari beberapa bawahannya yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan yang dilaluinya. Nendra tersenyum lega saat melihat Pak Handoko berjalan ke arah luar ruangannya.
"Tuan Besar!" Teriaknya Nendra sambil berlari agar dia tidak ketinggalan dan terlambat memberitahukan hal yang sangat penting itu.
Pak Handoko segera menoleh dan melihat Nendra yang berlarian ke arahnya. Dia segera menghentikan langkahnya. Tapi, senyumannya langsung pudar dari wajahnya seketika ketika melihat Andra berada bersama dengan papanya.
"Tuan Besar, apa kita bisa bicara sebentar?" Tanyanya Nendra dengan nada dan volume suara yang dia rendahkan dan menatap penuh maksud tertentu ke arahnya Pak Handoko lalu melirik ke arah Andra berada di samping kanannya Pak Handoko.
Pak Handoko mengerti maksud dari tatapannya Nendra lalu ia segera meminta kepada Andra untuk segera meninggalkan mereka berdua.
"Oke Papa, kalau gitu Papa ikut dengan Nendra biarkan dia yang antar Papa pulang ke rumah," tutur Andra tanpa banyak tanya dan protes sedikit pun itu.
"Hati-hati dijalan,kalau Mama bertanya katakan saja kalau Papa masih ada urusan pekerjaan yang sangat penting," jelasnya.
Andra berjalan meninggalkan mereka berdua, sedangkan Pak Handoko dan Nendra masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang terjadi Nendra? Sepertinya penting sekali?" Tanyanya Pak Handoko yang sudah duduk di kursi kebesarannya itu dengan menatap tajam ke arah Nendra yang menuntut jawaban dari maksud dia ingin bertemu dengannya.
Nedra segera membuka aplikasi galeri foto di hpnya. Dia lalu langsung mengarahkan ke hadapan Pak Handoko.
__ADS_1
"Apa ini?" Tanya Pak Handoko yang tidak paham kenapa dia diberikan hp milik Nendra.
"Bukalah Tuan! jawaban segala pertanyaan dari Tuan ada di dalam sana," terangnya Nendra.
Pak Handoko tanpa banyak tanya lagi dia segera membuka galeri foto tersebut dan saking terkejutnya saat melihat siapa pemilik foto tersebut.
"Ini tidak mungkin!!" Gumam Pak Handoko.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
...9. Ceo Pesakitan...
__ADS_1
...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....