
Plaaakkk!!!!!!
Suara tamparan itu sangat keras.
Nafeesa tak segan-segan menampar pipi kiri suaminya. Tangannya masih menggantung di udara. Saking kuatnya, hingga tangannya memerah. Sedangkan di wajahnya Andra nampak sangat jelas tercetak buah tangan dari istrinya yang telah dituduh yang tidak-tidak.
Andra semakin marah, kedua bola matanya memerah dan tangannya mengepal kuat siap membalas tamparan keras dari Nafeesa.
Nafeesa adalah perempuan sekaligus orang pertama yang mampu memukulnya. Selama ini tidak ada yang berani melakukannya mengingat siapa dan bagaimana statusnya Andra di lingkungan dan juga Andra jago taekwondo juga.
Andra mengurungkan niatnya karena teringat dengan perkataan dari ibunya. Dan sudah berjanji untuk tidak bakalan bermain tangan kepada seorang perempuan dalam keadaan apapun.
"Jangan samakan dirimu dengan Lidya, dia tidak seperti dirimu yang sudah tidak suci lagi sebelum aku sentuh," ujarnya.
Andra mengelus pipinya yang memerah itu sembari berkata, "Mulai detik ini aku talak Kamu dan tolong jangan pernah muncul lagi di hadapanku!!"
Nafeesa tidak menyangka jika suaminya akan menjatuhkan talak hanya karena kesalahpahaman dan masalah yang seharusnya dibicarakan baik-baik.
"Semudah itu kah Mas ucapkan kata cerai tanpa ingin mendengarkan dan menerima penjelasanku!!"
Air matanya semakin menetes membasahi pipinya setelah ucapan talaq itu meluncur dari bibirnya. Andra berdiri dan tidak bergeming sedikitpun dari posisinya, hanya tangannya yang mengepal kuat.
Tubuhnya langsung lemas dan loyo seketika apa lagi berhubung dia melewatkan jadwal makan siangnya gara-gara Andra. Tubuhnya mundur beberapa langkah sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ya Allah, ini tidak mungkin!! Pasti semua ini hanya mimpi saja?"
Andra sama sekali tidak perduli dengan kondisi dari Nafeesa. Dia segera membuka pintu lemari lalu meraih koper besar yang tersimpan di atas lemari tersebut dengan tergesa-gesa.
Dia sama sekali tidak ingin melihat wajahnya Nafeesa lagi. Awalnya sempat membuat dadanya sedikit bergetar saat melihat kecantikan alami istrinya yang tanpa polesan make up. Dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Hotel Nusa Dua Bali dengan wajah sangarnya.
Tapi langkahnya kembali terhenti lalu melirik kearah Nafeesa dengan berucap, " Tolong jangan pulang ke rumahku lagi dan masalah Ayah dan Ibu itu menjadi urusan dan tanggung jawabku, Kamu tidak perlu merisaukannya."
Nafeesa mengejar Andra dengan terseok-seok memegang tangannya Andra lalu berkata, "Mas semudah itu kah mengucap kata cerai!! aku ingin tertawa mendengar perkataan Mas, memang semua lelaki itu egois, dimana hati nurani Mas saat menikahi Lidya dan membawanya ke rumah? pernah kah Mas pikirkan perasaanku?"
__ADS_1
Andra menghempaskan tangannya Nafeesa dengan kasar dengan kilatan matanya penuh amarah. Andra melangkahkan kakinya dan memegang handle pintu.
Buuukkkkkk!!!
Pintu itu tertutup dengan sangat keras membuat Nafeesa terkejut. Tangisannya semakin menjadi saja. Dia meratapi nasibnya yang begitu malang.
"Ya Allah apa seperti ini kah akhir dari kisah biduk rumah tanggaku yang sudah aku perjuangkan dengan mati-matian."
Tetesan air matanya semakin membasahi pipinya hingga berjatuhan membasahi lantai keramik. Nafeesa terduduk di lantai, matanya sudah memerah, hidungnya pun sudah sembab.
"Aaaaaahhhhhh ini tidak mungkin!!"
Nafeesa berteriak kencang saking sedih dan hancurnya perasaan dan hatinya saat itu. Hati istri mana yang tidak akan sedih dan kecewa jika diceraikan dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri diwaktu yang bersamaan.
Andra berjalan ke arah Lift dengan terburu-buru. Dia sangat kecewa karena Nafeesa tidak mau jujur. Padahal mau suci atau pun tidak lagi dia tidak akan permasalahkan yang penting kejujurannya yang Andra butuhkan.
Andra semakin mempercepat langkahnya hingga tanpa sengaja menyenggol lengan seseorang yang kebetulan berjalan berpapasan dengannya di depan Lift. Ia segera meminta maaf karena gara-gara dirinya terburu-buru sampai-sampai menabrak tubuh orang itu. Dia pun segera meminta maaf atas kecerobohannya.
Pria itu tersenyum tipis ke arah Andra sembari berkata, " Tidak apa-apa Kok, Tuan santai saja hal ini biasa terjadi, ist oke."
Andra kemudian jongkok di hadapan Pria tersebut sambil membantu pria itu memungut barang-barangnya. Pria yang ditabraknya itu berpakaian rapi dan lengkap dan elegan serta dari penampilannya sudah bisa dipastikan dia berasal dari kalangan kaum jetset.
"Maafkan saya Pak, ini semua kesalahan dari saya yang sudah tidak berhati-hati dan tidak menyimpan terlebih dulu semua berkas penting ini," terang seorang perempuan yang cukup cantik jika ditelisik dari pakaiannya mungkin dia adalah sekretaris dari salah satu pria itu.
Pria itu melirik ke arah asisten pribadinya untuk segera mengamankan berkas yang tercecer tersebut ke dalam tasnya. Asistennya cepat tanggap lalu memberikan kode kepada perempuan itu untuk berhenti meminta maaf.
Andra lalu mengulurkan tangannya saat mereka sudah berada di dalam Lift. "Kenalkan nama saya Andra Liem Maheswara Handoko," ujarnya.
Pria kembali tersenyum hangat ke arah Andra sambil mengulurkan tangannya, "Sakti Perkasa Kim."
Andra terkejut setelah mendengar nama itu. Dia sangat tahu jika orang yang pemilik nama itu adalah seorang Pengusaha Muda yang sangat sukses dan menduduki posisi kedua di Negara ini. Bahkan jika dibandingkan dengan kekayaan keluarganya yang dimiliknya sangat jauh dibawahnya.
"Anda pemilik sekaligus CEO Perusahaan Perkasa tbk kan?" Tanyanya yang sangat antusias karena selama ini dirinya selalu membuat janji untuk bertemu selalu saja gagal.
__ADS_1
Sakti hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Andra.
Ting…
Pintu Lift terbuka, Sakti serta beberapa rombongannya keluar dari lift
Andra baru saja ingin meminta nomor hpnya tapi hal itu terlambat dia lakukan.
"Aaaahhh!! Sial aku belum meminta nomor hpnya dia sudah pergi padahal hari ini adalah kesempatan emas untuk mempermudah jalan Kami untuk bekerja sama dengan Perusahaannya."
Beberapa saat kemudian, Andra sudah berada di dalam kabin Pesawat siap untuk terbang kembali ke Ibu Kota Jakarta. Dia merasakan kesedihan dan kecewa dengan apa yang terjadi dengannya. Andra sama sekali tidak berniat untuk menceraikan istrinya tetapi Nafesa sendiri yang memancing amarahnya.
Nafeesa saking lelahnya menangis tanpa dia sadari harus tertidur pulas dalam keadaan tertidur di atas lantai.
Biarlah aku pergi
jangan lagi kau tangisi
Semoga pilihanmu yang terbaik untukmu
Memang berat bagiku berpisah denganmu
Tapi harus kurelakan, Cinta Tak bisa dipaksakan.
Mungkin kau bukan cinta sejatiku
Mungkin kau bukan belahan jiwaku yang diturunkan Tuhan untuk menjadi pendamping hidupku
Mungkin kau bukan cinta sejatiku
Mungkin kau bukan belahan jiwaku yang diturunkan Tuhan untuk menjadi pendamping hidupku
Memang berat bagiku berpisah denganmu, Tapi harus kurelakan cinta tak bisa dipaksakan.
__ADS_1