Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
102. Bekal Makanan Untuk Ara


__ADS_3

"Seperti yang Papa lihat, ia teman yang baik dan sopan kalau menurut Papa sih kamu gak rugi berteman dengan dia," ujarnya Andra lalu menekan kunci otomatis mobilnya itu.


Andra membuka pintu yang berada di dekat tempat duduknya Ara lalu segera menggendong tubuh putrinya ke dalam mobilnya. Setelah memasang setbelt barulah dia menutup pintu lalu berlari kecil ke arah pintu mobil yang ada di sebelah kanan.


Mobil mereka sudah meninggalkan halaman sekolah Pertiwi menuju rumahnya. Andra terlebih dahulu sebelum kembali ke perusahaannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah hampir tiga jam tertunda.


Pikiran Andra masih tertuju pada sosok anak kecil yang mampu menarik perhatiannya. Dia merasakan ada hal yang aneh yang dia rasakan saat melihat ke dalam bola mata anak laki-laki itu.


"Ya Allah… kenapa hatiku sedih dan merasakan kerinduan yang sangat jika memandangi wajah anak itu, seolah-olah dia sangat dekat denganku, dan aku tidak sanggup dan mampu untuk terlalu lama menatap wajahnya pasti akan sedih hatiku jika melakukannya," Andra membatin.


Ara yang tidak pernah sedikit pun senyumannya pudar dari wajahnya saking bahagianya hari ini. Ia bahagia karena mendapatkan sahabat yang baik bahkan sudah seperti Abangnya sendiri.


"Papa!" sapanya Ara sambil menatap ke arah papanya yang serius mengemudikan mobilnya.


Andra yang ditegur oleh putrinya segera menolehkan kepalanya ke arah Ara," iya sayang ada apa?"


Perkataan sekaligus pertanyaan dari putrinya mampu membuyarkan lamunannya dan pikirannya yang tertuju pada sosok anak kecil yang bernama Daffa.


"Boleh tak ajak temannya Ara untuk datang di rumah?" Tanyanya Ara dengan penuh harap.


"Teman," Andra membeo.


"Iya temannya Ara yang baru kenal, tapi hatinya baik banget sama Ara," jawabnya dengan penuh semangat dan antusias.


"Boleh sayang kamu ajak mereka datang ke rumah, malahan Nenek sama kakek akan suka kalau kamu undang teman kamu, emangnya berapa orang temannya dan siapa namanya nak?" Tanyanya Andra yang mengelus puncak rambut putrinya yang panjang yang diikat berkepang dua itu.


"Serius, Ara boleh tak ajakin temannya Ara?" Tanyanya Ara lagi untuk memastikan apa benar hal itu.


Andra menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan yang dilayangkan oleh anaknya.


"Hore!! Ara bisa ajak temannya datang ke rumah, kalau gitu aku mau tanya Ibu Siti untuk masak makanan yang banyak dan paling lezat kalau gitu," timpalnya Ara dengan wajahnya yang berseri-seri penuh kebahagiaan.


Andra tersenyum bahagia melihat kelakuan putrinya jika bahagia. Ara tak bosan-bosannya tersenyum sumringah karena dari sekian lama dia sudah duduk di bangku sekolah baru kali ini berniat untuk mengajak temannya datang padahal sebelumnya dia sedikit tertutup dan lebih introver.

__ADS_1


Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Andra hanya menurunkan anaknya lalu segera melajukan mobilnya menuju Perusahaannya.


Sedangkan di tempat lain tepatnya dari jalan raya, Nafeesa membonceng putranya untuk segera pulang ke rumahnya. Dia melewati rute yang berbeda dengan awal mereka berangkat menuju ke sekolah anaknya.


Hari ini ia bahagia karena bisa melewati hari ini dengan cukup baik dan lancar. Dia tidak menyangka jika di sekolahan barunya Daffa, semua guru-gurunya baik serta beberapa orang tua murid juga baik tidak ada yang macam-macam seperti di sekolah sebelumnya Daffa yang memang semua dari kalangan jetset.


Tiga hari kemudian, Nafeesa kembali ke Perusahaan tempat dia melamar pekerjaan karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan tesnya.


Nafeesa menyediakan makanan bekal untuk putranya sekalian untuk sarapan pagi mereka. Bu Laila sudah dua hari pulang ke kampung halamannya, karena ada beberapa Keluarganya yang mengadakan hajatan pesta pernikahan.


Jadilah Nafeesa dan Aida yang harus mengatur dan menghandle semua pesanan kattering dan pesanan beberapa kue kering maupun kue basah.


"Mbak Aida! Tolong Mbak atur semua kebutuhan yang kita perlukan untuk hari ini dan besok, karena aku mau ke Perusahaan karena ada panggilan dari sana," tuturnya Nafeesa saat sudah duduk di hadapan meja makan yang sudah tersaji dan terhidang beberapa jenis makanan yang pastinya sangat menggugah selera makan meningkat.


"Siap Nyonya Muda!" Jawabnya dengan seulas senyumannya.


"Mbak Aimah di mana, kok gak ikut gabung kita sarapan?" Tanyanya dengan celingak-celinguk mencari keberadaan dari Aimah mantan baby sitternya Daffa dan Daffin.


"Ohh gitu, mari makan kalau begitu, nanti Mbak Aimah datang baru nyusul sarapannya," terangnya Nafeesa yang mulai menyendok makanan ke dalam piringnya.


Mereka makan dengan penuh hikmat, sesekali mereka berbincang-bincang jika ada yang perlu mereka bicarakan.


"Mami! Apa kotak bekal untuk teman barunya Daffa juga sudah diisi makanan?" Tanyanya Daffa yang memandang ke arah perempuan yang sangat besar jasanya melahirkan dan membesarkannya itu.


Nafeesa tersenyum terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari anaknya itu," iya sayang, Mami sudah isi sesuai dengan yang kamu katakan, tidak pakai cumi karena Ara alergi iya kan?" Tanyanya yang memang ingin memastikan hal itu.


Daff hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia karena Maminya tidak keberatan dan mempermasalahkan bekal makanan untuk Dilara Aysila Aireen.


"Kok sama dengan kesukaannya Mas Andra, dia juga tidak suka dengan cumi karena alergi, tapi kalau udang sama kepiting suka sekali," gumam Nafeesa yang tidak sengaja teringat dengan mantan suaminya itu.


Beberapa saat kemudian, Nafeesa dan Daffa sudah bersiap berangkat ke Sekolah dan Perusahaan tempat mereka akan beraktifitas.


"Bismillahirrahmanirrahim semoga semuanya dilancarkan dan aku diterima bekerja di Perusahaan itu," Batinnya Nafeesa saat sudah melaju dengan kecepatan sedang dan sudah bergabung dengan pengendara lainnya di jalan raya.

__ADS_1


Dengan perasaan yang penuh semangat, dan penuh harapan besar. Ia yakin bisa lulus di sana karena kemampuan dan spesifikasi pekerjaan dan jabatan yang dibutuhkan di sana sesuai dengan ijazahnya cukup banyak yang dibutuhkan dan dicari.


Setelah mesin motornya mati, Daffa buru-buru melompat turun dari atas jok motor setelah melihat Ara yang kebetulan baru juga sampai di sekolahan mereka. Daffa sedikit menarik tangan Nafeesa karena terlalu tergesa-gesa untuk segera dia cium punggung tangannya.


"Assalamualaikum Mami," ujar Daffa lalu langsung berlarian ke arah Ara.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....

__ADS_1


__ADS_2