Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
16. Harapan Nafeesa


__ADS_3

Hujan tak pernah tahu ia membasahi apa, tapi air mataku tahu ia jatuh untuk siapa.


Andra melupakan logikanya hanya melihat bentuk tubuh dari istrinya sehingga melupakan keberadaan Lidya yang sedang berusaha untuk mencari air dan pertolongan. Sama sekali tidak mengingat nasib Lidya yang dia tinggalkan di Jakarta. Istri sirinya itu sedang mengalami penderitaan akibat dari ulah mamanya sendiri.


Andra kembali memacu dirinya di atas tubuh istrinya dengan berbagai macam gaya dan pose yang berbeda-beda.


Nafesa yang masih kesakitan dibagian sensitifnya berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa perih dari gempuran milik Andra.


Air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Dia menangis menahan sakitnya teramat di bagian intinya.


Dia melakukan hal itu bertujuan agar Andra tidak marah lagi padanya dan mencoba untuk membuka pintu hatinya untuk dirinya.


"Ya Allah semoga saja Mas Andra sudah mulai mencintaiku dengan aku menyerahkan semuanya dan mempersembahkan khusus hanya untuknya seorang."


"Jangan terlalu berharap yang tinggi, aku melakukan ini pada dirimu karena bentuk tubuhmu yang luar biasa membuatku tidak berdaya dan maaf saja aku melakukan hal itu bukan karena cinta tapi hanya nafsu."


Andra terus menancapkan hingga kebagian paling terdalam yang membuat Nafeesa berteriak kecil menahan perih dan sakitnya.


Andra tersenyum licik ke arah Nafesa, sedangkan dia berusaha untuk membalas senyuman itu dengan senyuman termanis yang dia miliki.


"Heeemmmm aaahhhh!!!" Nafeesa berteriak saat Andra sama sekali tidak menghiraukan rintihan dari tangisannya Nafeesa.

__ADS_1


Andra semakin berpacu dengan waktu seakan dia sedang berlomba dengan seseorang.


"Kamu harus berusaha untuk menahannya, seperti ini lah kewajiban seorang istri pada suaminya," terang Andra saat menyadari jika Nafeesa menangis dibawah kunkungannya.


"Aaahhh, sayang kenapa milikmu sangat sempit menggigit punyaku, aaahhh kamu sangat menggodaku," ujarnya dengan tangannya yang bergerilya ke mana-mana.


Sentuhan demi sentuhan yang dilakukan oleh Andra mampu membuat perlahan rasa sakit yang awalnya tak tertahankan berubah menjadi rasa nikmat yang begitu dahsyat menghujani tubuh istrinya.


Nafeesa pun mampu mengimbangi permainan suaminya sehingga Andra semakin tertantang.


"Anak ini boleh juga, aku kira hanya akan pasrah saja dan selalu menunggu apa yang akan aku lakukan, ternyata dugaan ku salah, dia membuatku sampai tergila-gila dibuatnya."


Nafesa hanya mengikuti naluri dan nuraninya saja yang berniat untuk menyenangkan hati suaminya.


Nafesa menatap wajah Andra dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Andra sedikit pun tidak merasakan cinta disaat mereka saling menyatukan dirinya.


Penyatuan mereka berlangsung beberapa menit dengan berbagai gaya dan pose yang berbeda. Andra mengakui jika tubuhnya Nafesa seperti memiliki magnet yang membuatnya lupa daratan dan lupa segala-galanya disaat berada di atas tubuhnya. Hal ini sama sekali tidak pernah dirasakan oleh Andra jika bersama dengan Lidya.


Andra menghujani dinding rahimnya Nafeesa dengan semburan lava panasnya. Dia melupakan konsekuensi dari apa yang sudah diputuskannya.


"Ya Allah semoga aku bisa hamil." Itu yang selalu muncul dalam benak dan hatinya.

__ADS_1


Andra berbaring di dekat Nafeesa setelah melepaskan tanda penyatuan mereka. Dia langsung memejamkan matanya tanpa sedikitpun menghiraukan keadaan Nafeesa yang berkeringat dingin itu.


Nafas mereka saling memburu dan ngos-ngosan. Peluh keringat membasahi kening serta seluruh tubuhnya yang masih polos.


"Seperti ini kah kebahagiaan setiap perempuan yang sudah menjadi istri sepenuhnya? Aku sangat bahagia karena bisa menyerahkan diriku seutuhnya hanya untuk suamiku seorang."


Nafeesa kembali berusaha untuk bangkit dari tidurnya tetapi rasa sakit dan perih dibagian daerah intimnya.


"Aauuuhh sakit," cicitnya karena tidak ingin menggangu kenyamanan Andra dalam tidurnya.


Nafeesa menarik ujung selimutnya dan berusaha untuk perlahan berdiri dari tempatnya. Dia merasa gelisah jika harus kembali tertidur dalam keadaan belum bersih.


Dengan segala tenaga yang tersisa, dia terus berjalan ke arah pintu kamar mandi. Dengan terseok-seok dan berjalan seperti pinguin dia akhirnya berhasil mendudukkan dirinya di atas closed.


"Aku pernah melihat film di TV saat mereka selesai melakukan hal itu pasti pasangan mereka akan memperlakukannya dengan sangat hati-hati dan melayani istrinya dengan sepenuh hati, tapi berbanding terbalik dengan kenyataan yang aku alami, Mas Andra sedikit pun tidak peduli dan menghiraukanku," air matanya kembali berhasil lolos dari pelupuk matanya.


Dia terduduk di atas closed sembari merenungi kisah perjalanan hidup biduk rumah tangganya untuk kedepannya.


Hiruk pikuk di luar di sekitar Hotel sama sekali tidak menggangu aktifitas mereka. Andra memenuhi kewajibannya sebagai sebagai seorang suami sesuai tuntutan dari kedua orang tuanya. Andra sedikit pun melakukan hal itu tanpa ada rasa cinta. Yang ada hanya sekedar kepuasan saja.


Nafesa kembali mandi untuk kedua kalinya. Dia membersihkan seluruh tubuhnya dari sisa percintaan suaminya. Sesekali Nafeesa tersenyum melihat tanda yang disimpan oleh Andra ditubuhnya.

__ADS_1


"Mungkin akan sangat terasa indah jika kami berdua melakukan hal itu dalam naungan cinta yang tulus," Nafeesa berharap agar apa yang mereka lakukan hari ini di Bali bisa berlanjut seterusnya di Jakarta di rumah pribadi mereka.


You will not find happiness if you continue to demand perfection. Be grateful for what you have, then there you will find happiness.


__ADS_2