
Tapi dunia ini di penuhi orang-orang baik, jika kita tak bisa menemukannya maka jadilah salah satunya.
Kadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan hanya sebagai pendamping hidup, melainkan kita harus belajar banyak hal darinya
Nafeesa memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya Bu Laila, wanita yang pernah menjadi pengurus Panti Asuhan tempat dia dibesarkan sebelum diadopsi oleh keluarga Brawijaya kakeknya.
Nafeesa sebelumnya ingin menenangkan pikirannya dan hatinya terlebih dahulu sebelum mengunjungi makam Sakti. Karena kondisi kesehatannya yang belum juga stabil sehingga mau tidak mau dia memutuskan untuk menunda keberangkatannya untuk berziarah ke makam suaminya.
Nafeesa duduk termenung di dalam mobil. Pandangan matanya gamang dan kosong. Sesekali ada tetesan embun yang menetes membasahi pipinya. Tapi, selalu dia secepatnya menyeka air matanya itu agar tidak ada orang yang melihat hal tersebut.
"Ya Allah… sabarkanlah hati ini jangan biarkan selalu mengeluh dengan ujian kecil yang Engkau berikan, dan makasih banyak ya Allah Engkau masih mengingatkan aku tentang arti dan hakikat kematian dan tidak ada apapun yang kekal dan abadi di dunia ini," Nafeesa membatin sambil memandangi hamparan gedung pencakar langit yang berjejer di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Pak Ruslan yang melihat hal itu, sangat mengerti dan memaklumi keadaan ini. Dia hanya kecewa pada dirinya sendiri karena tidak mampu membantu Nafeesa untuk melawan Nyonya Dea yang sangat jahat itu.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di depan jalan rumahnya Bu Laila.
"Naf kita sudah sampai," sapa Pak Ruslan yang sudah mematikan mesin mobilnya lalu memarkirkan tepat di depan sebuah rumah yang minimalis dengan cat tembok berwarna hijau itu.
"Iya Pak, Alhamdulillah kita sudah sampai, Aida tolong bangunin Daffa yah," pintanya Nafeesa yang berada di kursi depan bersama dengan Pak Ruslan.
Mereka bersama-sama turun dari mobil dan berjalan perlahan ke arah dalam ruangan pagar rumah minimalis modern yang kebetulan terbuka lebar itu.
Pemilik rumah yang kebetulan sibuk membuat masakan khusus pesanan dari pelanggan nya segera menghentikan kegiatannya setelah mendengar ada mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Ibu Laila tergesa-gesa mencuci tangannya lalu melapnya. Dia tergopoh-gopoh berjalan ke arah depan. Dia tersentak kaget ketika melihat kedatangan Nafeesa. Dan yang semakin membuatnya tidak menyangka jika pria dewasa yang sudah masuk tua itu yang berdiri di sampingnya Daffa membuatnya mati langkah.
"Mas Ruslan," cicitnya Bu Laila.
"Laila," gumam Pak Ruslan dengan kedua matanya yang berbinar cerah melihat perempuan yang membuatnya harus melajang hingga usianya kepala lima.
__ADS_1
Nafeesa tidak mengetahui pergolakan batin keduanya apa lagi untuk mengetahui ada hubungan apa diantara keduanya.
Nafeesa meraih tangan kanannya Bu Laila seperti biasanya. Dia mencium punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang dan takzim.
"Sayang ini nenek Laila, ayok salim sama Nenek," perintah Naf kepada putra sulungnya itu.
Daffa langsung melakukan perintah dari Maminya tanpa drama penolakan ataupun ragu. Daffa tanpa segan melakukan dan memenuhi permintaan dari Maminya itu.
"Anakmu sudah besar Nak, bagaimana kabarmu?" Tanyanya Bu Laila yang memperhatikan kondisinya Nafeesa dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
"Alhamdulillah kabar kami baik Bu, kalau ibu bagaimana?" Tanya balik Nafeesa yang berusaha tersenyum walaupun hatinya sangat sedih dan terluka.
"Seperti yang kamu lihat Nak, Ibu sangat baik-baik saja," jawabnya tapi pandangan matanya sesekali mengarah ke hadapannya Pak Ruslan.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu Bu, Nafeesa bersyukur dan bahagia mendengarnya," balas Nafeesa.
"Kalian masuk dulu,kita sambung ceritanya di dalam saja, karena aku lihat kalian pasti capek dari perjalanan jauh," ujarnya Bu Laila sambil menggandeng tangannya Daffa.
Pak Ruslan masih tidak percaya dengan apa pun yang terjadi dan dilihatnya saat itu juga. Dia tidak menduga dan menyangka jika wanita pujaan hatinya yang pergi sekitar 20 tahun lalu berada di depan matanya sekarang.
Mungkin inilah yang dikatakan takdir dan jodoh mau lari ke mana pun pasti akan kembali dipertemukan dalam kondisi dan suasana yang berbeda.
Sejatinya tidak pernah ada yang menyakiti kita, hanya saja kita yang memilih merasa sakit. belajarlah dan latihlah hati kita untuk selalu sabar, dan jadilah pemaaf pada mereka yang sudah berbuat salah pada kita, maka semuanya akan terasa baik-baik saja.
Sebetulnya tidak pernah ada yang mengecewakan kita, hanya saja kita memilih untuk kecewa. luaskan hati kita maka semuanya akan terasa ringan dan jangan pernah menaruh harapan yang lebih pada sesama manusia jika tidak ingin kecewa, berharaplah hanya pada Allah karena hanya Dia lah yang tidak akan pernah mengecewakan kita.
Dan juga tidak pernah ada yang menyinggung kita, hanya saja kita memilih untuk tersinggung. andai saja kita bisa melapangkan hati kita maka semua akan terasa manis.
kita yang memilih rasa dalam hati kita, maka jika sekiranya kita masih bisa memilih berlapang dada maka pilihlah kelapangan. Karena kita akan merasa tenang dan selalu bahagia. semua tentang rasa yang kita sendiri yang memilikinya dan kita juga yang memilihnya.
__ADS_1
Berbuatlah hal-hal kebaikan agar yang kita dapatkan juga kebaikan. Karena sejatinya apa yang kita perbuat hari ini esok ataupun lusa pasti akan kembali pada diri kita sendiri.
Apa yang kita tanam dan itu lah yang akan kita tuai
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...