Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
23. Pilihan Lidya


__ADS_3

Lidya berjalan ke arah luar dan mencari keberadaan adik sepupunya sekaligus istri sah dari suaminya itu.


"Perempuan kampungan itu dimana, kok tidak ada, apa jangan-jangan sudah dicampakkan oleh Mas Andra? kalau gitu jalanku semakin terbuka lebar."


Lidya semakin sumringah jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan.


"Aku akan merayakan hal ini dengan Ardi brondong manisku."


Lidya berjalan ke arah luar pas depan pintu, dia mencari keberadaan Nafeesa untuk memastikan apa yang dia harapkan menjadi kenyataan.


"Akhirnya perempuan bego itu dicampakkan, aku harus berterima kasih kepada Ibu dan ayah mertua kalau gini," senyuman liciknya selalu muncul menghiasi wajahnya.


Lidya segera berjalan ke arah kamarnya saat teringat dengan Ardi yang masih di dalam kamar mandi. Dia tidak ingin Andra sampai mencurigai keberadaan Ardi di rumahnya.


Wajahnya sudah nampak cemas, tapi langkahnya perlahan berubah saat mendengar Ardi dan Andra berbincang-bincang. Kekhawatirannya langsung reda dan dia sangat bahagia karena selingkuhannya persis sama dengannya sifat dan karakternya yang pintar berakting.


"Makasih banyak Anda sudah memperbaiki mesin airnya, dan Ini ongkos kerjanya Pak," ucap Andra sembari mengeluarkan beberapa uang ke dalam tangannya Ardi.


Ardi menatap kearah Lidya sebelum mengambil uang itu. Lidya yang ditatap seperti itu hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis melihat Ardi.


"Makasih banyak Pak, dan ini sepertinya terlalu banyak," jawabnya dengan menghitung upahnya.


Andra langsung menarik tubuh Lidya lalu memeluknya dengan posesifnya. Lidya yang diperlakukan seperti itu menatap ke arah Ardi yang nampak cemburu melihat kekasihnya diperlakukan mesra seperti itu di hadapan matanya. Andra mencium tengkuk lehernya Lidya di depan Ardi.


"Mas udah dong, nanti saja lanjutnya nggak enak dilihat sama pak Ardi," ujarnya yang berusaha untuk mencegah Andra berbuat lebih di atas tubuhnya di depan Ardi yang sudah mulai terbakar api cemburu.


Lidya yang tidak tahu persis apa yang terjadi dengan kekasihnya segera menghentikan aktivitasnya bersama Andra.


"Sayang sudah dulu yah, aku mau antar Pak Ardi ke depan kasihan kalau jalan sendiri entar kesasar lagi," jelasnya.


Lidya mau jika kekasih gelapnya itu cemburu. Dia pun mengikuti langkah Ardi yang sudah di ujung tangga.


"Hmmm," suara dari Lidya membuat langkah Ardi terhenti.

__ADS_1


Ardi celingak-celinguk mencari keberadaan Andra. Setelah merasa aman dia segera menarik tangan Lidya lalu membawanya ke dalam ruangan yang kebetulan terbuka.


Lidya sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang akan dilakukan oleh Ardi terhadap dirinya. Ardi menarik handle pintu lalu menguncinya. Dia mulai mencumbu Lidya dengan penuh gairah.


Tangannya sudah bergerilya ke sana kemari hingga me re mas dua bukit kembar Himalaya. ******* demi ******* berhasil lolos dari bibirnya Lidya.


Ardi membisikkan sesuatu kata-kata di telinganya Lidya, "cukup aku saja yang memiliki semua ini, aku tidak ingin suamimu menyentuh semua milikku."


Ardi menyentuh seluruh aset terpenting yang dimiliki oleh Lidya. Dia tidak ingin Lidya memenuhi kewajibannya terhadap Andra suami sirinya.


"Kalau tidak aku tidak akan menemuimu lagi sampai kapan pun," terang Ardi.


Lidya hanya tersenyum penuh kemenangan, dia berhasil menaklukkan hati si bronisnya itu dengan memainkan bibir seksi dan sedikit montok milik Ardi.


"Sayangku tidak perlu takut ataupun khawatir, aku akan mencari segala cara untuk menolak keinginannya demi kamu seorang," tutur Lidya.


Ardi tersenyum bahagia mendengar hal tersebut. Dia kembali mencumbu Lidya dengan penuh gairah. Tangannya sudah menyusup hingga ke bagian terdalam milik Lidya.


Lidya dan Ardi sama-sama saling memberi kepuasan dan kenikmatan yang tiada henti


Mereka melakukan berbagai penetrasi yang membuat Lidya berteriak kencang saking nikmatnya yang dia rasakan.


Bel berbunyi yang membuat mereka segera menyudahi apa yang mereka lakukan.


"Ardi buruan pakai bajumu," perintah Lidya yang juga terburu-buru berpakaian lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka.


Ardi pun melakukan hal yang sama, mereka membuka kenop pintu dengan sangat pelan dan hati-hati, matanya menelisik ke segala ruangan dan mencari keberadaan dari Andra suaminya.


"Bagaimana sayang?" Tanya Ardi yang kembali menciumi rambutnya Lidya yang sangat harum, dia tidak bosan-bosannya mengendus baunya.


Lidya yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum dan segera menghentikan kesenangan Ardi.


"Stop sayang, nanti esok kita lanjut lagi yah, tunggu aku di Kosanmu, dan uang yang aku janjikan pasti aku akan kirim," Lidya segera berjalan ke arah luar setelah dirasanya sudah cukup aman.

__ADS_1


Lidya memberikan kode kepada Ardi untuk mengikutinya di belakangnya, " ingat jangan sekali-kali menghubungi kalau bukan aku yang duluan kalau kamu ingin menikmati terus kemewahan dan tubuhku," terangnya yang mewanti-wanti Ardi untuk selalu mengikuti perintah dan larangan-nya.


Mereka berjalan ke arah pintu, terlebih dahulu Lidya melihat siapa orang yang telah datang bertamu ke rumahnya dan mengganggu kesenangannya. Dia bisa bernafas lega saat mengetahui siapa orang itu.


Lidya memutar handle pintu lalu pura-pura tersenyum ramah kepada orang yang telah mengusik kebahagiaannya.


"Maaf Pak Anda cari siapa?" Tanyanya yang melihat orang itu dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.


"Ini ada kiriman paket dari seseorang untuk Tuan Andra Maheswara Liem Handoko Ibu," jawabnya.


"Ohh itu suami saya," jelasnya.


Dia memberikan isyarat kepada Ardi untuk segera pulang pergi dari sini. Ardi pun bergegas ke arah motornya yang terparkir. Dan tak lupa menoleh ke arah Lidya berada dengan memberikan seulas senyuman manis. Lidya yang diperlakukan seperti itu pun membalas senyumannya.


"Tanda tangan di sini yah Bu," Ucap Bapak pengantar paket tersebut.


"Makasih banyak Bu," setelah pekerjaan bapak itu selesai.


"Sama-sama," Lidya kembali menutup pintunya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.


Dia sangat bahagia dengan perlakuan lembut dan manis dari Ardi. Apa lagi Ardi mampu memberikan kepuasan kepada dirinya di atas ranjang yang membuatnya terbang melayang.


"Aku tidak boleh membuatnya cemburu, dan mulai detik ini aku akan selalu mencari cara dan alasan untuk tidak berhubungan badan lagi dengan Andra," sembari tersenyum licik.


Lidya berjalan ke kembali ke dalam kamarnya, dia mendapati Suaminya sudah terlelap dalam tidurnya.


"Nanti saja tanyanya kalau bangun, aku akan mengorek informasi tentang Nafeesa yang tidak pulang bersamanya," lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Sedangkan Nafeesa sudah sampai di Airport Soekarno Hatta. Dia menarik kopernya hingga ke bagian depan bandara. Dia ingin memesan ojek online, tapi belum dia buka aplikasinya, dia mencari dompetnya yang sudah tidak berada di dalam tas selempangnya.


"Ya Allah… dompetku di mana? Seingat aku terakhir tadi memasukkan kembali saat sudah membayar taksi," terangnya yang berusaha mengingat kejadian tadi.


Dia refleks menutup mulutnya saat menyadari jika tadi resleting tasnya terbuka. Wajahnya kembali sendu dan sedih karena dompetnya terjatuh entah di mana.

__ADS_1


__ADS_2