Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
98. Otw Sekolah


__ADS_3

Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.


Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.


Jika kebaikan dibalas kejahatan maka itu adalah zhalim.


Tapi, jika kejahatan dibalas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji.


Yang mereka ketahui adalah wajahnya Ara mirip dengan Nafeesa sedangkan sifatnya hampir seratus persen sama dengan Andra sewaktu kecil. Mereka kadang mengira jika Ara adalah cucu kandung mereka sendiri bukanlah cucu angkat saja.


Jam menunjukkan pukul 12 malam, barulah Ara bisa tertidur pulas di ranjangnya. Andra membacakan beberapa buku dongeng baru Ara bisa tertidur dengan lelap sambil memeluk tubuh bonekanya yang cukup besar itu. Boneka Teddy bear warna coklat selalu menjadi teman tidurnya, jika papanya tidak ada.


Anjing menggonggong dan burung hantu saling bersahutan satu sama lainnya. Mereka memeriahkan suasana malam itu yang begitu gelap dan sedikit ada rasa mencekam karena sudah tidak ada aktivitas lalu lintas dan jalan raya sekitar kompleks perumahan elit.


Daffa malamnya sangat gelisah dalam tidurnya. Ia kesusahan menutup matanya karena dia mencari kebiasaannya, yaitu dibacakan dongeng atau cerita anak sebelum dia tidur oleh Sakti Papinya.


"Papi!! Daffa sangat merindukanmu, aku sangat ingin bertemu denganmu," batinnya Daffa.


Nafeesa yang kebetulan datang mengecek putranya apa sudah tidur atau belum. Dia melihat kondisi putranya yang gelisah. Daffa memutar dan berguling-guling kanan kiri agar bisa memejamkan matanya, tetapi hal itu tidak terjadi malah sebaliknya dia semakin kesusahan untuk tidur


Nafeesa segera mengambil beberapa buku yang sangat cocok dibacakan oleh Nafeesa untuk putra sulungnya itu agar segera tenang dan bisa tidur.


Dengan penuh kasih sayang yang tulus, Nafeesa membacakan beberapa buku dongeng yang sangat cocok untuk anaknya.


Mentari pagi menyapa bumi dengan sinarnya yang kemilauan. Cahayanya yang terang memberi kehangatan kepada setiap insan manusia yang sudah mulai aktivitasnya di luar rumah.


Ara bangun pagi-pagi sekali, dia antusias dan bersemangat untuk berangkat sekolah. Andra memutuskan untuk memindahkan putrinya ke Sekolah lain gara-gara insiden kecil.


"Nenek, apa Papa sudah bangun?" Tanyanya Ara sambil menarik kursi yang bersiap untuk sarapan pagi.


Ara menatap ke arah neneknya yang sedang menyajikan beberapa macam jenis makanan di atas meja makan.


"Papa kamu sudah bersiap sepertinya di dalam kamarnya, karena tadi Nenek sempat lihat," jawabnya Bu Anna.


"Ohh," jawab Ara dengan mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O.

__ADS_1


Berselang beberapa saat kemudian, Andra sudah menuruni anak tangga satu persatu. Dengan langkah kakinya yang cukup lebar. Kemeja biru muda serta celana chinos hitam membalut tubuhnya dengan ketat dan pas di bodynya dengan baik.


Wajahnya yang semakin bersinar tampan di usianya yang sudah 35 tahun itu. Pemikiran dan kebijaksanaannya pun semakin terpancar.


Bukan hanya itu, tapi Perusahaannya pun semakin menunjukkan tajinya. Selama kehadiran Ara di dalam kehidupannya, perlahan usahanya semakin maju dengan pesat seakan-akan Ara pembawa hoki di dalam hidupnya.


Andra langsung mengecup pipi putri kecilnya sebelum mengambil kursi untuk didudukinya.


"Pagi cantik," sapanya Andra di hadapan Ara.


Dilara Aysila Airen namanya gadis kecil yang kurang lebih 11 tahun mewarnai kehidupan dan hari-hari Andra dan kedua orang tuanya.


Kedatangan Ara di dalam keluarga mereka seperti membawa angin segar untuk kebahagiaan dan perubahan yang signifikan terhadap kepribadian Andra. Bahkan tahun Andra sudah berhasil dan mampu membangun perusahaan baru yang cukup besar dari uangnya sendiri.


Perusahaan yang dipimpinnya itu sudah berdiri hampir tiga tahun, tapi kemampuannya hingga keluar negeri.


Mulai tiga bulan lalu, Perusahaan yang dipimpinnya langsung itu membuka dan menerima lowongan pekerjaan yang besar-besaran karena kebetulan Perusahaan itu masih sangat baru tapi, kemampuannya tidak bisa dipandang remeh dan sebelah mata saja.


"Cepat habiskan makanannya sayang, sudah jam 7 nih," ujarnya Andra sembari memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tunggu Papa!" Balasnya Ara lalu secepatnya menyambar tas ranselnya yang bergambar Sofia itu.


Ara segera meraih tangan kakek dan neneknya secara bergantian. Lalu mencium punggung tangannya dengan penuh takzim. Pak Handoko mengelus rambut panjang yang berkepang dua itu.


"Hati-hati sayang, jangan nakal dan main paling penting harus semangat belajar," pesan amanatnya Pak Handoko dengan mencium puncak kepala Ara.


"Assalamualaikum," ucap Ara dengan cepat karena takut Papanya berteriak-teriak memanggil namanya lagi.


Andra secepatnya mendapatkan informasi tentang sekolah yang sangat cocok untuk putrinya. Hanya sekitar setengah jam perjalanan yang ditempuh dari rumahnya.


Andra menyetir mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia tidak ingin putrinya terlambat datang di hari pertamanya.


Sedangkan di dalam ruangan rumah yang cukup minimalis dengan desain interior khas Indonesia pada umumnya. Seorang wanita sudah sibuk sejak subuh tadi. Dia mempersiapkan segala sesuatunya keperluan putranya sebelum berangkat sekolah.


"Mami! Apa Mami akan berangkat cari kerjaan?" Tanyanya Daffa.

__ADS_1


"Insya Allah.. hari ini Mami akan mencobanya sayang, doain Mami yah semoga diterima," pinta Nafeesa dengan tersenyum bahagia ke arah putra sulungnya itu.


"Amin, semoga Mami diterima di Perusahaan Golden Globe," tutur Daffa yang menghabiskan sisa makanannya.


Beberapa menit kemudian, Daffa sudah duduk di kursi belakang di atas motornya Nafeesa. Dia tidak lupa membantu putranya untuk memasang helm khusus untuk Daffa.


"Makasih Mami cantik," timpal Daffa.


Motor matic injeksi kesayangannya itu yang berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang dan sudah ikut bergabung dengan pengendara lainnya yang memadati jalan raya itu.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


__ADS_1


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....


__ADS_2