Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
68. Kesedihan Sakti


__ADS_3

Irfan Hakim dan yang lainnya penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Ara.


"Ma-ma pergi belum pulang katanya Papa Om," jawabnya dengan suara yang lirih sangat kecil dengan menundukkan kepalanya.


Semua orang ikut sedih dan menangis,tak ada satupun di dalam sana yang ikut bersedih. Begitu pula halnya dengan Sakti dan Nafeesa yang menonton langsung acara tersebut.


"Kasihan sekali anak itu diusianya yang masih kecil,dia sudah tidak punya mama," tutur Sakti yang prihatin dengan Ara.


"Kenapa ada seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya begitu saja, dimana sih mereka simpan hati nuraninya," cerca Nafeesa yang sangat marah dengan tindakan dan perilaku dari mamanya Ara.


"Maafkan Mas sayang, jika Mas tidak bisa memenuhi permintaan dan keinginan kamu, aku yakin kamu pasti menginginkan seorang anak perempuan tapi, Mas tidak mampu untuk memenuhi permintaanmu itu," lirihnya Sakti.


Sakti memegang tangannya Nafeesa," jangan emosional gitu dong sayang, mungkin ada alasan dibalik mamanya yang pergi tidak pulang-pulang, kita tidak boleh menghakimi orang lain tanpa mengetahui kenyataan yang ada," sanggah Sakti yang tak setuju dengan pendapat dari Nafeesa.

__ADS_1


"Aku terlalu kasihan dengan anak itu, seharusnya mamanya bangga dan bersyukur memiliki anak seperti itu, apa lagi sudah membanggakan dan memiliki kemampuan untuk membaca ayat suci Al-Qur'an dengan fasih, aku pun sangat berharap agar kedua anak kembar bisa lancar baca tulis Al-Qur'an," terangnya yang sedikit mulai emosi.


"Makanya Mas bawa pulang anak-anak kita, saya tidak ingin melihat mereka buta tentang pelajaran agama walaupun di Amerika serikat mereka tetap mendapatkan pendidikan yang sangat bagus tapi, pergaulan dan lingkungan di sana tidak cocok untuk mereka," jelas Sakti yang menerawang jauh ke masa depan.


Mereka saling berpegangan tangan, Nafeesa menyandarkan kepalanya ke bahu kirinya Sakti. Dia masih asyik menonton acara TV tersebut.


"Semakin aku pandang wajah anak itu kenapa semakin aku rasa aku mengenalnya, seakan-akan dia adalah orang terdekat aku," gumamnya yang tidak mengalihkan pandangannya dari televisi.


Setelah acara televisi tersebut selesai, Nafeesa dan Sakti mematikan tv tersebut lalu mengistirahatkan tubuhnya.


"Ya Allah… berilah aku waktu yang banyak dan panjang aku ingin membahagiakan anak dan Istriku, berilah aku kesempatan untuk melihat mereka besar," cicitnya yang mengamati kedua anak kembarnya yang terlelap dalam tidurnya.


Sakti duduk di tepi ranjang anak sambungnya. Walaupun mereka berdua, hanya anak sambung saja tetapi, kasih sayang, perhatian dan segalanya ikhlas dan tulus dia berikan untuk Daffa dan Daffin.

__ADS_1


"Kehadiran kalian dalam hidupnya Papi seolah dikirim oleh Allah SWT untuk sebagai pengobat, penguat pelipur lara Papi," batin Sakti yang sangat sedih jika mengingat penyakitnya.


Ia kemudian mengecup kening mereka satu persatu. Daffa seperti biasa selalu meminta kepada Papinya untuk dibacakan beberapa cerita dongeng sebelum dia tidur.


"Apa pun akan Papi lakukan demi kebahagiaan kalian dan jika, memang Allah memanggil papi sebelum kalian dewasa Papi sudah menyiapkan harta yang cukup banyak untuk masa depan kalian berdua dan juga Mami, istriku tercinta," ungkapnya.


Sakti duduk terpaku dengan lelehan air matanya yang setitik demi sedikit sudah mengalir. Setiap saat seakan-akan dia sangat ketakutan, apabila penyakitnya semakin parah dan dia harus meninggal dunia untuk selamanya.


"Astagfirullah, aku tidak boleh seperti ini, semuanya salah dan tidak boleh terjadi, aku salah besar kalau seperti ini," batinnya Sakti.


Sakti kemudian meninggalkan kamar twins D. Dengan perasaan haru bercampur sedih, bahagia dalam hatinya.


Sakti berulang kali beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT karena telah berdosa.

__ADS_1


Tapi,Sakti selalu menanamkan pada dirinya sendiri agar tidak kufur nikmat. Dia berpikir jika dibandingkan dengan nasib dan rezeki yang diberikan oleh orang lain untuknya pasti, kehidupannya lebih baik dan beruntung dibandingkan dengan orang lain di luar sana


__ADS_2