
Penyesalan itu datangnya selalu di akhir agar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar.
Adanya penyesalan adalah untuk menyadarkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat diulang. Ketakutan itu sementara, penyesalan itu hanya selamanya.
"Hatinya Dafa memang sangat baik, Papi bangga padamu Nak, makasih banyak kalian sudah hadir di dalam hidupnya Papi," ujarnya sembari menarik tubuh putra sulungnya itu kedalam pelukannya.
Nafeesa tanpa sengaja mendengar perkataan terakhirnya Suami dan putranya. Dia bangga pada putranya yang sangat simpatik dan baik kepada siapa pun sedangkan Daffin dia lebih bersifat cuek dan pendiam di mana pun berada.
Tapi sifat Daffin lebih dewasa, tegas dan tetap perhatian pada keluarga intinya. Sifat Daffin sering kali mengingatkannya pada Andra mantan suaminya yang sangat mirip karakter mereka berdua.
"Kenapa sampai sekarang aku belum bisa melupakan rasa sayang ini untuk Mas Andra, aku masih sangat mencintainya bahkan rasa sayangku kepada Mas Andra masih lebih besar dibandingkan untuk Mas Sakti," lirihnya lalu menutup rapat pintu ruangan pribadi suaminya itu.
"Ya Allah… kenapa disaat aku merasakan kebahagiaan yang hakiki, penyakitku mulai kambuh lagi
Sakti yang sudah merasa sedikit baikan setelah minum obat, berdiri lalu membungkukkan sedikit tubuhnya agar lebih leluasa berbicara dengan putra sulungnya.
"Sayang putranya Papi, apa Papi boleh minta sesuatu gak?" Tanyanya dengan mengelus surau Daffa.
Daffa yang tidak tahu maksud dari perkataan sekaligus permintaan Papinya keheranan dengan matanya yang berbinar menandakan rasa ingin tahunya yang mencuak tiba-tiba.
"Papi mau minta sesuatu sama Daffa?" Tanyanya yang raut wajah yang kebingungannya.
"Iya Papi ingin meminta tolong kepada Daffa tapi, apa Daffa bisa mengabulkan permintaan dari papi?" Tanyanya lagi.
Sakti sangat berharap kepada anaknya untuk memenuhi permintaannya tersebut.
"Daffa bisa kabulkan semua keinginan dan permintaannya papi tapi ada syaratnya papiku sayang," ujarnya dengan menangkup ke dua pipi Sakti dengan tangan kecilnya.
__ADS_1
"Syarat!" Sakti membeo.
"Iya Papi ada syaratnya, dan itu sangat mudah," ucap Daffa yang tersenyum penuh arti ke arah Papinya.
"Kalau gitu katakan pada Papi apa syartnya?" Tanyanya lagi yang bisa semakin dibuat penasaran oleh pria kecil yang berdiri tegak di depannya itu.
Daffa kemudian menunjuk ke arah pipinya yang chubby. Sakti tersentak kaget karena tidak menyangka jika, permintaan dari putranya itu hanya sekedar kecupan dipipi saja.
Sakti langsung mengecup pipi tembem anaknya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Daffa sangat bahagia karena dicium oleh Papinya.
Padahal setiap hari bahkan setiap mereka bertemu pasti, Sakti akan menyempatkan waktunya untuk mencium kening atau anggota tubuhnya yang lain yang ada di wajahnya itu.
"Bagaimana apa Daffa sudah bisa memenuhi permintaan dari papi?" Tanyanya lagi yang mengulang pertanyaannya.
Daffa hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan tersenyum sambil menunggu permintaan dari Papinya.
"Papi hanya minta sama kamu tolong jangan katakan kepada siapa pun, apa saja yang kamu dengar dan lihat tadi sewaktu masuk ke dalam ruangan kerjanya Papi, apa kamu bisa janji?"
Dia mengarahkan jari kelingkingnya ke arah depan wajah papinya, Sakti yang melihat hal tersebut segera menautkan jari kelingkingnya sebagai tanda mereka sudah sama-sama berjanji untuk saling menjaga rahasia besar tersebut.
"Janji dua pria, papi tidak perlu takut Daffa akan tutup mulut," tuturnya lalu mengarahkan jarinya ke depan mulutnya.
Sakti yang melihat tingkahnya Daffa segera memeluk tubuh kecil Daffa ke dalam pelukannya.
"Papi sangat bahagia dan bersyukur bisa memiliki putra yang sangat baik hati dan pengertian," terangnya disertai dengan tetesan air matanya.
"Syukur Alhamdulillah makasih banyak ya Allah… atas segala nikmat dan karunia yang Engkau berikan pada kami selama ini," batinnya Sakti.
__ADS_1
Keesokan harinya, mereka sudah bertolak ke Indonesia tepatnya ke Ibu Kota Jakarta. Duos kembar D sangat antusias dan senang karena selama ini mereka hanya mendengar kata Jakarta dan Indonesia dari mulut Maminya saja.
"Mami apa hari ini, kita akan ke Indonesia?" tanyanya Daffin yang paling eksaitik untuk pulang ke Indonesia tanah air tercinta.
"Iya Mi apa Kita serius akan pulang?" Sahut Daffa yang ikut bergabung dalam percakapan mereka berdua.
"Iya sayang, mami serius kita akan balik ke Indonesia tepatnya di rumahnya Oma Dea, apa kalian bahagia?" Tanyanya Nafeesa di depan kedua anak kembarnya itu.
"Hore kita akan pulang ke Indonesia, aku cinta Indonesia," ucapnya Daffa yang sudah melompat-lompat kegirangan saking bahagianya karena akan menginjakkan kakinya ke tanah air negara kelahiran ke dua orang tuanya.
Begitu banyak kata andai untuk mengawali setiap penyesalan. Begitu kamu mulai menyesal itu sudah terlambat. Akan selalu ada penyesalan setelah kehilangan sesuatu, yang selama ini kamu sia-siakan.
...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
__ADS_1
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......