
Pernikahan yang sukses adalah jatuh cinta sering kali dan selalu terhadap orang yang sama.
Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah, dan setiap ibadah bermuara pada cinta-Nya sebagai tujuan. Sudah sewajarnya setiap upaya meraih cinta-Nya dilakukan dengan sukacita.
Nafeesa duduk di balkon kamarnya sambil menatap indahnya pemandangan sore hari itu. Nafeesa sengaja duduk terkena paparan sinar matahari sore itu. Dia berniat duduk hingga sunset muncul di ufuk barat.
Sesekali tersenyum manis melihat beberapa orang yang berlalu lalang serta anak-anak yang bermain pasir di pesisir pantai.
Sedangkan di Jakarta, Lidya tidak henti-hentinya marah-marah. Dia bahkan sudah menghamburkan semua barang-barang yang kebetulan berada di dalam kamarnya Andra.
Sudah berulang kali Lidya menghubungi nomor hp Alex tetapi hingga detik ini satu pun panggilannya tidak digubris.
"Apa sih yang dikerjakan oleh Axel, apa dia bersama dengan istrinya?"
Lidya berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Dengan melipat salah satu tangannya di depan dadanya sedangkan tangannya yang satu memegang hpnya sembari menyentuhkan keujung dagunya yang lancip itu.
"Sebaiknya aku menelpon Ardi saja, mungkin dia lagi kosong dan bisa membantuku, selama ini anak itu bisa aku andalkan dan selalu bersedia menolongku," ujarnya sambil tersenyum licik.
Dia pun segera menelpon nomor hp Ardi. Dan senyumannya langsung terpancar saat telponnya tersambung.
Tut.. Tut.. Tut…
"Ardi, aku bisa minta tolong enggak?" Tanyanya dengan suara yang lebih dibuat terkesan manja.
"Bisa, emangnya Kamu mau minta tolong apa?" Tanya Ardi dari seberang telpon.
Lidya bercermin di depan cermin besar itu dan berputar meliukkan tubuhnya seperti seorang yang sedang berdansa sedangkan hpnya masih berada di dekat telinganya.
"Ini kamarnya suamiku tiba-tiba kuncinya macet dan mesin air dishowerku juga macet enggak tahu kenapa bisa gitu," jelasnya dengan sedikit serak seperti suara orang yang sedang menangis.
Ardi yang tidak tahu dengan kenyataan yang ada sudah panik dengan yang terjadi pada perempuan yang diam-diam dia sukai itu. Ardi sangat sadar jika hal itu tidak boleh terjadi dikarenakan karena Lidya sudah menikah dengan pria lain.
__ADS_1
"Tunggu yah, aku akan segera menolongmu, gak lama kok cuma sekitar 15 menit saja," ujarnya.
Lidya langsung menutup telponnya lalu bergegas mengambil kunci motornya yang tergantung dipaku yang ada di tembok.
Lidya tertawa terbahak-bahak karena mendapatkan pria yang bisa diandalkan.
Dia tersenyum licik sambil berkata, " Alex hari ini loh gw End dan Mas silahkan bersenang-senang dengan si Upik Abu itu, karena aku juga akan berpesta di sini."
Baru beberapa menit Lidya bahagia setelah berbicara lewat telpon dengan Ardi, tapi tiba-tiba dia histeris lalu berteriak-teriak tidak jelas.
"Aaaaahhhh brengsek!!! Aku akan buktikan siapa Lidya sebenarnya kepada kalian, dan jangan panggil aku dengan nama Lidya jika dalam waktu dekat ini menantu kesayangan kalian tidak angkat kaki dari sini."
Lidya berteriak dengan keras, dia mengeluarkan segala amarahnya dengan melempar semua benda dalam jangkauannya.
"Kalau seperti ini aku seharusnya segera hamil agar Mas Andra menjadikan aku satu-satunya istri sahnya dan menendang si perempuan bodoh itu dari sini," seringai liciknya muncul di ujung bibirnya.
Lidya segera memeriksa laci mejanya lalu membuang ke dalam klosed beberapa tablet pil KB yang sering dia konsumsi. Dia pun setiap kali berhubungan dengan pria lain selalu menyuruh prianya untuk memakai alat pengaman.
"Bye, bye pil aku terpaksa membuangmu agar Mas Andra bertekuk lutut di hadapanku," dia menutup kembali kamar mandinya.
Berselang beberapa menit, Ardi sudah berhasil masuk ke dalam rumahnya Andra. Dia pun bergegas menaiki undakan tangga sesuai dengan petunjuk dan perintah dari Lidya.
Ardi membawa beberapa kunci cadangan dan perlengkapan serta peralatan yang bisa dipakai oleh dia untuk membuka kuncinya.
Lidya duduk di atas ranjang king size-nya dengan pakaian kimono mandinya yang tersingkap sedikit agar paha mulusnya terekspos dan terpampang jelas dimatanya Ardi. Dia sengaja melakukan hal itu memancing Ardi agar memakan umpannya.
Ardi terdiam sesaat dan matanya membulat sempurna saat melihat tubuh seksinya Lidya. Liurnya hampir menetes membasahi bibirnya andai saja dia tidak segera tersadar dari pikiran liarnya.
Pasti itu sudah terjadi pada dirinya.
Lidya yang mengetahui hal tersebut berpura-pura tidak melihatnya. Lidya tersenyum penuh arti ke arah Ardi yang berdiam seperti patung saja.
__ADS_1
"Kamu sudah datang Ar? Mbak sangat bersyukur Kamu datang menolongku," ujarnya dengan mulai berakting menangis tersedu-sedu.
Ardi yang melihat hal tersebut segera mendekati Lidya lalu refleks memeluk tubuh Lidya, " Mbak jangan sedih lagi, ada Ardi di sini, jadi jangan takut lagi."
Lidya tersenyum dibalik punggung bidang Ardi.
"Yes berhasil, kamu sudah masuk perangkapku."
"Huhuhuhu, makasih banyak Ardi kamu sudah menyelematkan diriku, untung ada Kamu kalau tidak pasti aku sudah tidak tahu apa yang akan terjadi padaku yang tidak berdaya ini," jelasnya.
Lidya berbicara dengan air matanya yang terus membasahi pipinya sedangkan tangannya segera melempar botol kebawah kolom meja obat tetes air matanya. Dengan beberapa tetesan sehingga semakin nampak seperti air mata sungguhan.
"Sudah nangisnya Mbak, kalau begini terus aku pasti ikut bersedih juga," ucapnya dengan wajah sendunya.
"Oke aku akan berhenti menangis dan tolong perbaiki mesin showerku, aku sudah gerah mau mandi soalnya," tangannya sengaja mengipas-ipas kerah bajunya sehingga sedikit nampak tonjolan buah dadanya yang begitu menggoda.
Ardi dibuat kelimpungan dengan apa yang dilakukan oleh Lidya. Ardi segera mengalihkan perhatiannya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk segera memperbaiki shower tersebut.
Hanya butuh waktu sebentar saja, semuanya sudah baik seperti semula. Kunci pintu sudah tidak macet lagi.
"Makasih banyak Ardi kamu memang dewa penolong ku, Mbak sangat bersyukur loh atas bantuan," jelasnya dengan menggandeng tangannya Ardi.
Ardi kembali dibuat gemetaran dan cenat cenut gara-gara Lidya yang sangat dekat dengan dirinya.
"Ya Allah kalau seperti ini terus aku bisa apa."
"Kalau gitu aku mandi dulu yah, Kamu boleh istirahat atau nonton TV saja tungguin aku," ucapnya sembari mencium sepintas pipinya Ardi.
Perlakuan yang dilakukan oleh Lidya membuat sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Ardi kembali berfantasi liar saat membayangkan sesuatu yang ingin menyembul keluar dari sarangnya.
Teriakan Lidya dari dalam kamar mandi membuyarkan khayalan dan lamunannya itu. Dia spontan berlari ke arah dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Tooolongggg!!!"
Tapi, langka kakinya terhenti sesaat ketika dia melihat kondisi dari Lidya. Ardi terperangah dan terdiam mematung. Ardi membelalakkan matanya saking tidak percayanya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya itu.