
"Hamil!!!" Ucap Nyonya Dea.
"Betul Nyonya, cucu Nyonya positif hamil dan kemungkinannya, usia kandungannya sudah empat bulan lebih," terang Dokter Hana.
"Alhamdulillah, makasih banyak dokter," ucap Nyonya Dea yang sangat bahagia dengan kenyataan jika Nafeesa hamil walaupun dia sangat tahu jika, calon anaknya Naf bukanlah anak dari cucunya Sakti.
"Saya tuliskan resep vitamin dan obat untuknya, Nyonya sisa menebusnya di apotek," ucap Dokter Hana sambil menyodorkan sebuah kertas yang sudah bertuliskan beberapa nama obat.
"Makasih banyak, dan jangan segan untuk datang kembali jika saya membutuhkan bantuannya Dokter," tutur Nyonya Dea yang sedari tadi tersenyum penuh kebahagiaan.
Prita segera mengantar Dokter Hana hingga ke depan mobilnya. Nyonya Dea segera mendekati Nafessa yang masih terbaring lemah dan tidak sadarkan diri.
"Aku harus segera melamar Naf, dan segera mengurus perceraiannya Naf agar langkah mereka untuk menikah bisa berjalan mulus, aku tidak peduli siapa Ayah biologis dari anaknya Naf yang penting Sakti memiliki anak sehingga penyakitnya itu tidak ketahuan oleh orang lain."
Nyonya Dea akhirnya mendapatkan cara untuk menutupi kekurangan cucu tunggalnya dari orang-orang. Nyonya Dea bisa menerima jika Sakti mengidap penyakit yang cukup berbahaya, tapi untuk yang satu itu dia tidak mau kompromi.
"Aku harus membuat Naf menutupi kenyataan bahwa dia hamil dengan mantan suaminya, apapun caranya aku harus membuat Naf setuju nantinya."
__ADS_1
Nyonya Dea segera menghubungi pengacara keluarganya yang bisa diajak untuk bekerjasama sesuai dengan yang dia inginkan.
"Tolong, laksanakan semuanya sesuai dengan yang aku inginkan, dan paling lambat surat cerainya hari senin pagi sudah ada di tanganku," tuturnya dibalik telponnya.
Nyonya Dea tersenyum penuh kemenangan karena rencananya semakin terbuka lebar untuk menguasai seluruh harta kekayaan suaminya berada di tangan cucunya.
"Apapun yang terjadi tidak boleh ada orang lain yang tahu jika anak yang dikandung oleh Naf adalah bukan lah milik Sakti tapi milik mantan suaminya."
Nyonya Dea menikmati minumannya yang masih mengepul asapnya di depan jendela kamarnya Sakti.
Nafeesa mengerjapkan matanya berulang-ulang untuk menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya. Nyonya Dea segera mendekati Nafeesa dan mulai berakting.
"Naf, tolong Nenek sayang," ucapnya dengan berusaha menangis tersedu-sedu.
Nafeesa yang baru terbangun dari pingsannya tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Nyonya Dea kenapa?"tanya Nafeesa sambil berusaha untuk bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Nyonya Dea segera mencegah Nafeesa untuk bangkit dari tidurnya," kamu baring saja Nak, kamu baru saja sadar, jadi butuh bedrest untuk pemulihan mu."
"Aku tidak sakit parah kok Nyonya, kalau seperti itu seakan-akan aku adalah orang yang penyakitan saja," jawabnya yang tidak menyetujui keputusan dari Nyonya Dea.
"Naf, apa boleh Nenek minta tolong padamu?"tanyanya yang menatap wajah Nafeesa.
"Nyonya mau minta tolong apa? Kalau saya bisa penuhi dan lakukan pasti akan aku akan penuhi," balasnya sambil bersandar ke kepala ranjangnya Sakti.
"Nenek ingin anak yang ada di dalam kandunganmu menjadi anaknya Sakti untuk selamanya apapun yang terjadi, jangan biarkan siapapun tahu jika anakmu itu adalah bukan darah dagingnya Sakti," terangnya dengan wajahnya yang serius.
"Aku hamil!!" Tanyanya Nafeesa yang tidak percaya dengan kenyataan yang baru didengarnya itu.
"Iya kamu hamil sudah empat bulan, dan Nenek mohon untuk menutupinya dari siapapun," ujarnya dengan memegang kedua tangannya Nafeesa.
"Tapi Nek, itu tidak mungkin pasti orang-orang akan tahu bahwa aku adalah janda dan sedang hamil, lagian aku belum menyetujui permintaan dari Nyonya karena itu bertentangan dengan hati nuraniku yang harus membohongi orang lain," balasnya.
"Ternyata tidak semudah itu yang aku pikirkan, sulit juga untuk menundukkan dan bekerja sama dengannya."
__ADS_1