Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
82. Nafeesa Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

"Kamu ambil dengan baik kan Foto dari mobil sedan hitam itu yang kebetulan ada di tempat kejadian?" tanyanya seseorng dari balik telponnya.


"semuanya sesuai dengan permintaan dan petunjuk dari Bos, Anda tenang saja tidak akan ada yang mencurigai bahwa kita lah yang melakukannya semua ini," timpalnya lagi.


"Hahahaha!! bidak caturku satu lagi sudah menuju alam baka, dan tidak ada lagi penghalang bagiku untuk menjadi penguasa harta kekayaan yang sangat banyak hingga delapan turunan tidak akan pernah habis," pekiknya dengan tertawa terbahak-bahak mendengar keberhasilannya.


Tawanya sungguh memekakkan telinga bagi yang mendengarnya. Suara tawanya sangat nyaring bunyinya hingga bergema di dalam ruangan pribadinya.


Dia menikmati minuman beralkohol yang ada di dalam genggamannya itu. Senyumannya terus tersungging di bibirnya.


Nafeesa dan yang lainnya semakin menambah kecepatan langkahnya hingga dia spontan menghentikan laju larinya.


Kepanikan, kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan dan kecemasan menjadi satu bagian dalam dirinya. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi jika Sakti meninggalkannya.


Setelah ia melihat Pak Ruslan berada di samping sebuah bangkar rumah sakit, yang diatasnya ada seseorang yang sudah terbujur kaku yang ditutupi oleh kain putih.


"Aku yakin itu pasti bukan Mas Sakti" gumamnya Naf yang sudah memelankan langkahnya menuju bangkar tersebut.


Pak Ruslan yang wajahnya sangat terpukul dan ada bekas tetesan air mata di ujung ekor matanya menunjukkan bahwa dia baru saja menangis.


Nafeesa berjalan ke arah Pak Ruslan dengan air matanya yang sedari tidak berhenti. Dia sangat ingin kabur dari tempat itu tapi, itu tidak mungkin dia lakukan.


Pak Ruslan yang sudah menyadari bahwa Nafeesa sudah berada di depannya hanya bisa terdiam tanpa suara.

__ADS_1


"Nafeesa kamu harus sabar Nak, ini sudah takdir dan kehendak yang Maha Kuasa," ujarnya yang memegang lengannya Nafeesa.


"Paman dia siapa?" Tanyanya Nafeesa sembari menunjuk ke arah mayat yang ada di hadapannya langsung.


Tapi Nafeesa tidak ingin mempercayai keyakinannya,dia berharap apa yang diduganya adalah salah dan keliru besar adanya.


"Nafeesa dia adalah suamimu," lirihnya Pak Ruslan.


Nafeesa menolehkan wajahnya ke arah Pak Ruslan dengan secepatnya menggelengkan kepalanya.


"Itu tidak mungkin Paman!! Aku yakin Dia bukan Mas Sakti!! Itu mustahil terjadi tadi pagi Mas Sakti memelukku dengan erat dan berjanji padaku akan memberikan sesuatu padaku nanti malam," terangnya Nafeesa dengan tergugu dalam tangisannya.


Aida dan Aimah segera memeluk tubuh Nafeesa yang sudah bergetar menahan tangisnya dan hampir saja tersungkur ke atas lantai keramik putih itu.


"Naf! Paman mohon bersabarlah dan kamu harus kuat dan tegar menghadapi semua ujian ini," ungkap Pak Ruslan.


Seketika Nafeesa menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika melihat tubuh suaminya dengan banyak terdapat beberapa luka yang cukup parah.


"Tidak!!!!!! Mas Sakti jangan tinggalkan aku!!" Teriak Nafeesa lalu terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi.


"Nyonya Nafeesa!!" teriak mereka yang ada di sana.


mereka segera bergegas membantu dan menolong Nafeesa yang sudah pingsan yang hampir jatuh tersungkur ke atas lantai keramik.

__ADS_1


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan

__ADS_1



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


__ADS_2