
"Nendra! jangan biarkan Nafeesa tahu jika perusahaan ini miliknya Andra, saya takut jika Nafeesa memutuskan untuk berhenti dan membatalkan rencananya semula untuk bekerja di sini, kamu bertugas untuk menghalangi mereka untuk sementara waktu bertemu, kalau sudah lama biarkan mereka bertemu," perintah Pak Handoko dengan tersenyum tipis.
"Baik Pak!" Jawabnya Nendra dengan tegas.
Nendra segera menjalankan sesuai dengan perintah dan petunjuk dari Pak Handoko ayah dari orang nomor satu di Perusahaannya.
Hahaha "Kalau seperti ini Cinta lama belum kelar juga," lirihnya Nendra yang berjalan ke ruangan Presdirnya.
Berselang beberapa saat kemudian, semua proses telah dilaksanakan sesuai aturan yang sudah ditentukan oleh pihak perusahaan. Nafeesa bersyukur karena dia keterima di Perusahaan tersebut.
"Alhamdulillah, makasih banyak ya Allah… aku diterima di Perusahaan ini tapi, aku berharap semoga bukan karena Papa jadi aku diterima bekerja di sini," gumamnya.
Nendra berjalan ke arah Nafeesa yang juga berjalan ke arah pintu keluar. Nendra segera mempercepat langkahnya agar mereka saling berjejeran di jalan tersebut.
Nafeesa memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangannya," ya Allah… Daffa sudah waktunya pulang, pasti anakku sudah terlalu lama menunggu kedatanganku, sekarang sudah jam 5 sore," cicitnya.
Nafeesa semakin menambah kecepatan langkahnya menuju pintu tapi, langkahnya terhenti saat ada intrupsi suara seseorang yang pasti dia kenal.
Dia refleks menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Naf langsung tersenyum ramah ke orang itu. Nafeesa menghentikan langkahnya walaupun hatinya sudah khawatir dengan keadaan putranya yang sudah lama sekali waktu jam pulangnya.
Raut wajahnya Nafeesa sudah khawatir dan cemas karena putra sulungnya sama sekali tidak menghubunginya. Padahal dia memiliki hp yang baru sekitar tiga hari yang lalu dia belikan khusus untuk anaknya, karena untuk mempermudah proses komunikasi diantara mereka.
Hal itu kemungkinannya bisa terjadi jika sewaktu-waktu Nafeesa terlambat datang sepulang dari kerja.
"Sepertinya kamu nampak mencemaskan sesuatu," tuturnya Nendra ketika sudah berdiri di samping kanannya Nafeesa.
Nafeesa yang ditegur dan diajak berbicara segera menyahut seruan dari sahabat lamanya itu.
"Anu… anu itu…" raut wajahnya kebingungan karena bingung apa harus jujur atau tidak.
__ADS_1
Nafeesa tidak ingin jika ada yang mengetahui jika dia memiliki seorang putra dari Andra.
"Anu… anu apaan sih Naf? Kamu gagap seperti itu, apa yang terjadi padamu sebenarnya?" Tanyanya Nendra yang tersenyum simpul.
Nendra sudah berdiri tegak di depan Nafeesa yang bingung dengan situasi yang terjadi. Ia memperhatikan secara seksama apa yang sedang dilakukan oleh Nafeesa.
"Kenapa feeling ku mengatakan jika ada yang disembunyikan oleh Nafeesa, tapi itu apa? Apa aku sebaiknya menyelidiki semuanya baru aku laporkan semuanya pada Pak Handoko saja yah?" Nendra membatin dengan penuh tanda tanya besar yang muncul dan terlintas di dalam benaknya.
"Aku ingin ke suatu tempat tapi, kayaknya sudah terlambat," jawabnya Nafeesa yang berusaha menutupi kenyataan yang ada.
"Ohh gt yah, kalau seperti itu kamu jalan saja lagian sudah terlalu sore juga," ujarnya Nendra yang tidak ingin menahan Nafeesa lebih lama lagi.
"Makasih, aku pamit kalau begitu, Assalamu alaikum," salamnya Nafeesa sambil mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum meninggalkan Loby Perusahaan.
Nendra berjalan tergesa-gesa ke arah Ruangan Pak Handoko karena sudah ingin menyampaikan beberapa hal yang menurutnya penting.
"Apa sebaiknya aku kirim seseorang untuk mengawasi agar tidak ketinggalan sesuatu hal?" Tanyanya Nendra yang kebingungan dan bimbang apa yang seharusnya dia lakukan.
"Assalamualaikum Mami," sahut orang yang berada di seberang telpon.
"Waalaikum salam Nak, kamu sudah pulang di rumah? Apa kamu baik-baik saja, kenapa hpnya sedari tadi tidak aktif? Mami sangat khawatir denganmu nak," tanyanya Nafeesa yang sudah menyerang putranya dengan berbagai macam pertanyaan.
Daffa hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Maminya yang sudah terbiasa mengalami dan mendengar perkataan dan sikap maminya yang seperti itu.
"Alhamdulillah Daffa baik-baik saja kok Mi, Daffa sudah sampai di rumah, ini lagi ngerjain tugas dari Bu guru," pungkasnya Daffa yang tersenyum manis.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, Mami akan segera pulang, Mami minta maaf karena tidak datang menjemputmu karena tesnya cukup banyak," jelas Nafeesa yang belum juga memasang helmnya.
"Tidak apa-apa kok Mi, tidak usah terlalu cemas dengan Daffa, aku sudah besar loh Mi, bukan anak kecil lagi jadi Mami cukup konsentrasi dengan pekerjaan Mami," tutur Daffa yang sudah seperti orang besar saja.
__ADS_1
"Alhamdulillah Mami sangat senang mendengar penjelasanmu nak, kalau gitu Mami tutup dulu telponnya, Mami sudah bersiap untuk pulang, Assalamu alaikum," tutur Nafeesa lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Waalaikum salam," jawab Daffa yang hanya tersenyum menanggapi sikap Maminya itu.
Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan.
Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.
Fun starts from being together with the closest people, especially family.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
...9. Ceo Pesakitan...
__ADS_1
...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....