
"Maafkan aku Nyonya, sepertinya aku tidak bisa memenuhi permintaan Nyonya," ucapnya lalu menyibak selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya itu.
Nafeesa tidak ingin jika, kehamilannya itu dimanfaatkan oleh seseorang dengan niat yang tidak baik pula.
"Anda salah orang!! saya tidak bisa melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nuraniku, apa lagi mengatas namakan calon anakku" ucap Nafeesa dengan tegas.
"Perempuan ini tidak bisa aku pandang remeh, dari wajahnya kelihatan lugu dan polos tapi, ternyata cukup tegas dan tidak mudah untuk dipengaruhi bahkan untuk diatur sesuai dengan keinginanku pun cukup sulit." Nyonya Dea memutar otaknya untuk berpikir agar Nafeesa setuju dengan permintaannya.
"Maaf jika aku tidak bisa memenuhi permintaan dari Nyonya," ucapnya lalu meraih tangannya Nyonya untuk dia cium punggung tangannya.
Nafeesa segera berjalan ke arah pintu, tapi tangannya baru ingin meraih gagang pintu, telinganya menangkap suara benda yang jatuh. Hingga tangannya hanya menggantung di udara.
Brakk…
Nafeesa terkejut sekaligus penasaran dalam waktu yang bersamaan. Dia menolehkan kepalanya ke arah belakang. Dan betapa terkejutnya melihat Nyonya Dea sudah terbaring di atas lantai.
"Nyonya Dea!!" Teriaknya lalu berjalan tergesa-gesa ke arah Nyonya Dea berada.
Nafeesa segera memangku kepalanya Nyonya Dea lalu mengambil minyak angin yang berada di dalam tasnya. Kemudian mengoleskan minyak angin aromatherapy tersebut ke kening dan lehernya Nyonya Dea.
"Ya Allah… kenapa Nyonya Dea tiba-tiba pingsan? Bagaimana kalau gara-gara perkataanku tadi dia sakit, aku harus gimana?" Tanyanya yang mulai kebingungan dengan apa yang terjadi barusan.
__ADS_1
Nafeesa kebingungan dengan apa yang terjadi, dan kepalanya yang masih sedikit pusing membuatnya sulit untuk berfikir dengan jernih.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika Nyonya Dea kenapa-kenapa, pasti aku yang akan disalahkan oleh mereka," ujarnya dengan penuh ketakutan.
"Ayo, teruslah ketakutan dan khawatir hingga membuatmu menerima permintaanku."
Nafeesa segera berdiri lalu mengambil bantal untuk meletakkan kepalanya Nyonya Dea di atasnya, dia segera bangkit lalu berlari ke arah luar. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, tapi tidak ada satupun orang yang dilihatnya.
"Bagaimana ini? Satupun orang tidak ada di sini, kalau lama-lama bisa gawat dan kondisinya Nyonya Dea semakin parah," semakin cemaslah Nafeesa.
Nyonya Dea segera mengirim chatnya ke nomornya Prita agar dia mencegah siapa pun untuk masuk ke dalam kamarnya disaat Nafeesa tidak ada. Nyonya Dea berharap agar rencananya kali ini berhasil.
"Aku tidak boleh gagal dan jika kali ini kembali tidak berhasil, berarti rencana terakhir yang harus aku jalankan."
Suara adzan isya sudah berkumandang dari Toa Masjid, Nyonya Dea masih terbaring di atas lantai. Nafeesa kembali mengoleskan minyak kayu putih di tengkuk lehernya. Tapi, kondisi Nyonya Dea masih sama hingga pintu kamar itu terbuka lebar dari luar. Nafeesa tersenyum lega saat mendengar pintu itu berdecit pertanda ada yang membuka pintu itu.
Nafeesa melihat pria yang tadi pagi menentang keputusan dari Neneknya. Pria tampan dengan tubuh yang cukup atletis, hidung yang mancung khas orang blasteran Indonesia-Belanda, rambutnya yang sedikit pirang dan berombak itu memasuki kamarnya.
Sakti sedikit terkejut melihat Nafeesa yang berada di dalam kamarnya, tapi dia semakin dibuat shock saat melihat siapa orang yang terbaring lemah di atas lantai yang dingin.
"Nenek!!" teriaknya lalu melempar jas yang dipegangnya sedari tadi.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada Nenekku haaa??" Tanyanya yang sedikit kasar dan menatap tajam ke arah Nafeesa.
"Tadi…" perkataan Naf terpotong karena langsung disanggah oleh Sakti.
Sakti mendorong sedikit kasar tubuhnya Nafeesa,"pindah dari situ."
Tubuhnya Nafeesa terdorong ke belakang hingga dia terduduk di atas lantai.
"Jangan-jangan gara-gara kamu sehingga nenekku seperti ini?"tanyanya lagi sembari berusaha untuk mengangkat tubuh Neneknya dengan sekuat tenaga.
"Tolong, ambil kunci mobilku di atas meja nakas," perintahnya ke arah Nafeesa dengan suara yang cukup besar itu.
Nafeesa tanpa banyak pikir langsung mengambil kunci mobil yang dimaksud oleh Sakti. Lalu dia segera berlari kecil mengikuti langkahnya Sakti menuruni tangga.
Prita segera berjalan ke arah mereka, saat melihat Nyonya Dea digendong,"apa Nyonya Dea benar-benar sakit atau ini hanya bagian dari aktingnya saja?"
Prita ikut berlari disampingnya Nafeesa lalu segera membuka pintu mobil bagian belakang. Dia sedikit terlonjak kaget karena dia menyadari jika ada tangan seseorang yang mencubitnya.
"Ahhh sakit!!" Teriak Prita saat tangannya Nyonya Dea mencubit lengannya Prita.
"Mbak kenapa?" Tanyanya Nafeesa yang sudah duduk di sampingnya Nyonya Dea yang masih tidak sadarkan diri itu.
__ADS_1
Sakti yang masih sedikit cemas dengan kondisi Neneknya sesekali melirik ke arah Nafeesa. Dia mengusap gusar wajahnya ketika teringat dengan apa yang dia lakukan tadi.
"Maaf,aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, aku terlalu takut jika terjadi sesuatu kepada Nenekku." Tatapannya tertuju pada Nafeesa sedang Nafeesa yang diperhatikan intens oleh Sakti Perkasa tidak menyadari hal itu.