Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
83. Kepergian Sakti Untuk Selamanya


__ADS_3

Hal yang paling jauh dari kita adalah waktu, yang paling berat adalah amanah, yang paling dekat adalah kematian.


Kematian adalah hal yang paling jauh dari pikiran kita, walaupun sebenarnya ia yang paling dekat dari segala yang dekat dari kita.


"Naf! Paman mohon bersabarlah dan kamu harus kuat dan tegar menghadapi semua ujian ini," ungkap Pak Ruslan.


Nafeesa maju ke depan lalu perlahan membuka penutup wajahnya Sakti yang tertutup dengan kain putih polos itu. Tangannya bergetar dan tidak kuasa untuk melakukannya. Hingga ada tangan seseorang yang membantunya untuk membuka kain tersebut.


Seketika Nafeesa menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika melihat tubuh suaminya dengan banyak terdapat beberapa luka yang cukup parah.


"Tidak!!!!!! Mas Sakti jangan tinggalkan aku!!" Teriak Nafeesa lalu terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi.


Aida dan Aimah yang berada di sampingnya segera membantu Nafeesa agar dia tidak terjatuh tepat menyentuh lantai.


Nafeesa meraung meratapi kepergian suaminya untuk selamanya. Nafeesa segera dilarikan ke dalam kamar perawatan ICU untuk segera mendapatkan pertolongan dan penanganan segera.


Semua orang khawatir melihat kondisi yang dialami dan diderita oleh Nafeesa. Mereka sangat sedih atas duka yang menimpa keluarga besar Permana.


"Kamu berdua tinggal di sini saja menemani Nyonya Muda, biarkan saya saja yang mengurus segala keperluan pemakaman dan segalanya untuk Tuan Muda Sakti," jelas Pak Ruslan di depan Aida dan Aimah.


"Iya, kalian aku tugaskan untuk menjaganya dengan baik," timpal Nyonya Dea yang ikut menimpali dan menambahkan pembicaraan mereka.


Nyonya Dea dengan sesekali sesegukan disela tangisnya yang tidak henti-hentinya meneteskan air matanya.


Prita hanya terdiam memandangi mereka dan tidak menduga jika Tuan Mudanya akan meninggalkan dunia secepat ini.


"Apa semua kecelakaan maut itu ada hubungannya dengan Nyonya Dea yah?" Prita membatin dengan ketidak percayaannya dengan insiden maut yang menewaskan Sakti.

__ADS_1


Mereka meninggalkan koridor area rumah sakit dan segera pulang ke kediamannya Tuan Besar Permana.


"Akhirnya anak pungut itu sudah mati, berarti aku harus segera memerintahkannya untuk menjalankan semua rencana kami selama ini tapi, aku tidak yakin jika Sakti hanya kecelakaan biasa tanpa ada campur tangannya," gumam orang itu.


Suara sirine ambulance tengah malam itu terdengar sangat menyayat hati dan mencekam. Siapa saja yang langsung mendengarnya pasti mereka sudah tahu dan cepat mengambil kesimpulan jika ada seseorang yang sedang tidak baik-baik saja.


Nafeesa masih ditangani oleh beberapa perawat dan dokter. Mereka memeriksa kondisi mental dan psikis Nafeesa yang masih terbujur dalam kondisi yang tidak sadarkan diri setelah seluruh hati dan jiwanya terguncang hebat.


Setelah berselang beberapa saat kemudian, dokter dan perawat telah melakukan pemeriksaan terhadap Nafeesa mereka meninggalkan ruangan perawatan Nafeesa bersama dua orang maid yang selalu setia menjaganya sedari tadi.


Sedangkan di kediaman Utama Keluarga Permana segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh Nyonya Dea untuk melakukan prosesi pemakaman jenazah dari Sakti. Jenazahnya Sakti disemayamkan di rumah duka milik Kakek angkatnya.


Mulai dari sewaktu dimandikan, proses kremasi hingga dishalatkan di salah satu Masjid terdekat dari tempat tinggal mereka berada.


Awalnya terjadi perdebatan kecil antara Nyonya Dea dengan Pak Ruslan. Nyonya Dea menginginkan segera dan secepatnya jenazah Sakti disemayamkan tanpa harus terlebih dahulu menunggu Nafeesa sadar dan sembuh dari pingsannya.


"Kenapa seolah-olah Nyonya Dea menghalangi kedatangan Nafeesa untuk mendampingi di sisinya Sakti untuk terakhir kalinya? Sepertinya ada yang aneh dan ganjal di sini dan semoga feelingku salah jika kematian Sakti ada campur tangannya," batinnya Pak Ruslan.


"Tapi, Nyonya bagaimana pun juga Nafeesa adalah istri sahnya Sakti jadi dia wajib kita tunggu dan saya yakin kalau dia secepatnya sadar dan pulih dari sakitnya yang hanya pingsan saja," ucap Pak Ruslan yang mati-matian membelah haknya Nafeesa.


"Pak Ruslan coba bapak lihat baik-baik kondisi Sakti sudah dua kali kita ganti kain kafannya yang berlumuran darah dan jika dibiarkan terlalu lama, harus berapa kali mereka akan bekerja untuk menggantinya dan sama saja itu menyiksa jasadnya Sakti Pak," sanggah Nyonya Dea dengan sesekali sesegukan dan dengan derai air matanya.


Dan dengan berat hati dan terpaksa Pak Ruslan mengiyakan keinginan dan masukan dari Nyonya Dea walaupun hati nuraninya menentang sangat keputusan yang diambil dan dipilih oleh Nyonya Dea.


Setelah mereka melewati dan melalui beberapa argumen dan perselisihan akhirnya beberapa orang yang turut hadir di tempat itu, mereka memutuskan untuk segera memakamkan jenazah Sakti dengan memperhatikan dan menimbang kondisi dari tubuh jenazah Sakti.


"Ya Allah… aku harus mengikuti jalan dan alur yang telah ditentukan oleh wanita jahat itu, padahal aku sangat kasihan dengan Nafeesa," Pak Ruslan membatin.

__ADS_1


Sedangkan di dalam ruangan khusus tempat perawatan Nafeesa, hingga detik ini Nafeesa masih tertidur pulas tanpa sedikitpun ada tanda-tanda akan segera bangun dari keadaan pingsannya.


"Baru beberapa bulan Nyonya Nafeesa ada di rumah itu, tapi sudah terkena kemalangan dan ujian yang sungguh sangat besar dalam hidupnya," tutur Aida yang menangis tersedu-sedu melihat kondisi Nyonya mudanya dan kepergian Sakti untuk selamanya.


"Iya betul sekali, aku pun tidak menyangka jika Nyonya Nafeesa akan kembali jadi janda untuk kedua kalinya di dalam hidupnya," sahut Aimah.


Mereka berdua sama-sama larut dalam kesedihannya. Suasana duka sangat kental menyelimuti kepergian Sakti untuk selamanya. Mereka semua berduka cita dan sedih karena kehilangan seseorang sosok yang sangat baik dimata mereka secara tiba-tiba.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Cinta dan Dendam...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...


...8. Hanya Sekedar Pengasuh...


...9. Ceo Pesakitan...

__ADS_1


...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


__ADS_2