
"Aku berharap sama kamu jangan sekali-kali katakan pada siapa pun termasuk Sakti, jika kamu membocorkan rahasia besar ini maka kamu tidak akan pernah melihat kedua anak kembarmu lagi untuk selamanya, jadi pilihan aku serahkan padamu, nasib dan masa depan anak-anakmu berada di dalam genggamanku sekarang," ujarnya Nyonya Dea dengan wajahnya yang sangat serius.
"Ya Allah… apa yang terjadi sebenarnya di sini? apa yang harus aku sekarang Yah Allah," Nafeesa membatin memikirkan bagaimana nasib suami dan anaknya.
"Tidak lama lagi,aku akan mendepak kamu dari sini dan nantinya aku lah yang menjadi pewaris tunggal dari harta yang tak habis ini."
Air matanya yang berusaha sekuat tenaga dia tahan akhirnya luruh juga membahasi pipinya. Dia menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak keluar.
Nyonya Dea yang melihat langsung kondisi dari Nafeesa tertawa penuh kemenangan.
"Makanya jangan terlalu besar kepala dan jangan terlalu naif jika kamu akan selamanya bahagia bersama dengan Sakti dan dengan seenaknya kamu menikmati semua kekayaan dari Sakti," batin Nyonya Dea.
Prita yang sudah menyelesaikan perintah dari Nyonya Dea sebagai bosnya itu masuk ke dalam ruangan. Prita iba dan simpati melihat keadaan dan keterpurukan Nafeesa.
"Dasar Nenek lampir sudah ditolong malah menghancurkan nasib orang yang sudah iklhas menolong," umpat Prita yang masih berjalan ke arah mereka yang sudah tahu apa yang sudah terjadi dengan keduanya.
Nyonya Dea memandangi langkah Prita, sedangkan Prita menganggukkan kepalanya tanda dia sudah selesai menyelesaikan tugas yang diembannya.
"Kasihan sekali nasibmu Naf, aku yakin suatu saat nanti kau akan bahagia walaupun kamu nantinya ditinggal pergi oleh Sakti, aku yakin dengan hal itu," Prita membatin dan hatinya tersentuh melihat air matanya Nafeesa.
"Silahkan keluar dari sini, dan ingat jangan sekali-kali kamu katakan kepada orang lain semua yang aku katakan padamu terutama pada Sakti dan terkhusus penyakitnya itu," pinta Nyonya Dea..
Dia mengancam Nafeesa untuk bungkam dan diam tanpa harus membeberkan rahasia besar tersebut.
Nafeesa hanya menganggukkan kepalanya lalu mengusap dengan lembut lelehan air matanya yang menetes sedari tadi.
__ADS_1
"Bagus,kamu memang anak yang penurut dan satu hal yang kamu perlu ketahui kamu tidak perlu khawatir ataupun takut jatuh miskin, karena aku akan memberikan uang tunjangan setelah kamu pergi dari sini," jelas Nyonya Dea sebelum melangkah jauh dari dalam ruangan itu.
"Nyonya Muda harus sabar aku sangat yakin Nyonya akan lebih bisa bahagia jika Nyonya pergi dari sini," gumam Prita yang saat berpapasan dengan Nafeesa.
Nafeesa terus melangkahkan kakinya menuju taman yang ada di bagian belakang rumahnya. Dia menengadahkan wajahnya ke arah atas langit. Hal itu dia lakukan agar air matanya berhenti untuk mengalir.
"Aku harus bagaimana, pasti ini semua hanya mimpi di siang bolong, kenapa Mas Sakti menutupi kenyataan jika dirinya sakit, ya Allah serasa ini lebih sakit dibandingkan saat Mas Andra menceraikan aku," lirihnya yang terduduk di kursi dibawah paparan sinar matahari langsung sore itu.
Nafeesa terus bertanya dan tak henti-hentinya bersikap tidak percaya dengan fakta yang membuat dirinya hancur sekejap mata.
Dia harus menyerahkan dan mengikhlaskan anaknya Daffin untuk hidup bersama dengan Nyonya Dea untuk selamanya. Apabila dia tidak melakukan hal itu,maka nyawa kedua buah hatinya yang akan menjadi taruhannya.
"Ya Allah… apa salahku kenapa Nyonya Dea tega ingin memisahkan aku dengan putraku?" Ratapnya yang sangat sedih dan kecewa.
Nafeesa harus hidup dalam kebimbangan, ketakutan, kecemasan yang berlebih. Hidupnya yang akhir-akhir ini sudah tenang dan damai harus ternoda oleh
"Aku baru merasakan indahnya cinta yang tulus dan kehangatan dari suami dan anak-anakku harus segera berakhir dalam sekejap mata," cicitnya Nafeesa.
Beberapa maid yang melihat kejadian itu ikut tersentuh dan terenyuh hatinya melihat kondisi dari Nyonya Muda mereka, walaupun mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa penyebab dari kesedihan Nafeesa Nyonya mereka.
"Jika Mas Sakti pergi meninggalkan aku, bagaimana sudah nasibku tanpa Mas, aku pasti akan semakin hancur dan sedih tanpa kasih sayangmu Mas, aku tidak sanggup berpisah denganmu Mas," lirih Nafeesa yang sangat tertekan dengan keadaannya.
"Prita bagaimana dengan yang aku perintahkan padamu, apa semuanya sudah kamu urus?" Tanyanya Nyonya Dea sembari menuang minuman beralkohol kedalam gelasnya yang sedari tadi tersedia di depannya.
"Sudah Nyonya, sesuai dengan apa yang Nyonya perintahkan," jawabnya seraya menundukkan kepalanya yang tidak ingin bertatapan langsung dengan junjungannya.
__ADS_1
"Kerja yang bagus,akhir bulan aku akan memberikan kepadamu dua kali lipat bonus dari seperti biasanya," pungkasnya yang sesekali menyesap minumannya itu.
"Semoga saja apa yang aku lakukan sewaktu di Washington DC tidak diketahui oleh Nyonya Dea hingga nanti," Prita membatin dengan tatapannya sendu ke arah Nyonya Dea.
Tawa Nyonya Dea menggelar memenuhi ruangan tersebut. Prita sampai bergidik ngeri mendengar tawanya yang membahana itu.
...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
...9. Ceo Pesakitan...
__ADS_1
...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......