
"Kamu itu anak sial yang terlahir penyakitan dan karena kamu adalah cucu asli dari Tuan Besar Permana makanya aku sangat membencimu dan mamimu juga," lirihnya Nyonya Dea di telinganya Daffa dengan suara yang sangat lirih dan pelan.
Tubuh Daffa langsung tergerak mundur kebelakang saat mendengar hinaan dan cacian yang dilayangkan oleh Nyonya Dea untuknya.
"Mami Nafeesa!!" Pekiknya Daffa.
Daffa terduduk di atas pusara Papinya saat Nyonya Dea sudah meninggalkan area pemakaman umum tersebut beserta rombongan antek-anteknya itu.
Deraian air matanya membasahi pipinya. Dia sangat sedih dan tidak menyangka jika neneknya yang selama ini dia hormati dan sayangi ternyata bukanlah Nenek kandungnya.
Sudah sedih karena Papinya sekarang semakin diperparah lagi oleh perkataan dari mulutnya Nyonya Dea yang sangat menusuk tajam hingga ke dalam hatinya yang paling terdalam.
"Mami Nafeesa! Mami ada dimana, tolong Daffa," ujarnya yang terduduk di atas Pusara makam Papinya.
Pak Ruslan yang baru saja bertemu dengan orang yang bertugas menjaga dan merawat seluruh makam segera mempercepat langkahnya ketika melihat Daffa terduduk dan menangis histeris.
"Papi!! Kenapa papi tega banget meninggalkan Daffa seorang diri, Mami juga tidak tahu pergi kemana dan baru saja Daffin diambil pergi sama Nenek," ratapnya Daffa yang semakin menangis histeris saja.
Tubuhnya sebagian sudah dipenuhi dengan debu dan lumpur, pakaiannya pun sudah kotor terkena tanah yang ada di gundukan tanah pusara Papinya.
Pak Ruslan segera berlari ke arah Daffa berada. Dia melihat hanya Daffa seorang diri saja sedangkan yang lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing tanpa ada yang memberitakan kepadanya terlebih dahulu.
"Daffa apa yang terjadi padamu Nak?" Tanyanya sambil mengangkat tubuhnya Daffa yang terduduk sedari tadi di atas tanah.
"Kakek, huhuhuhu Daffin dibawa pergi jauh oleh Nenek," ucapnya Daffa dalam tangisnya.
"Kamu harus tenang dan sabar, kita akan segera menyusul adikmu jadi Kakek mohon kamu harus kuat agar kita bisa bertemu kembali dengan Daffin," bujuknya Pak Ruslan.
__ADS_1
"Tapi, kakek harus janji yah kalau kita akan bawa pulang lalu pergi jauh adik Daffin dari Nenek jahat," pintanya Daffa.
"Iya Nak, kamu harus yakin bahwa kita akan segera bertemu dan berkumpul lagi dengan adikmu," dengan memegang puncak pundaknya Daffa untuk meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya adalah benar adanya.
"Aku bukan anak sial kan Kakek?" Tanyanya sambil memeluk tubuh Pak Ruslan.
"Emangnya siapa yang ngomong gitu Nak? Karena kamu bukanlah anak sial tapi anak yang penuh keberuntungan dan kebahagiaan dalam hidupnya Daffa," ujar Pak Ruslan.
Daffa mulai menghentikan tangisannya saat mendengar perkataan dan penjelasan dari Pak Ruslan.
"Ya Allah.. kenapa Nyonya Dea begitu kejamnya berkata kasar seperti itu di depan anak kecil yang sama sekali tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa," gumamnya yang menyayangkan sikap Nyonya Dea yang sudah kelewat batas.
Mereka bergegas menuju ke tempat parkiran mobil lalu Pak Ruslan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Aku harus segera datang ke rumahnya Sakti kemungkinan besarnya mereka ke sana," batinnya Pak Ruslan.
Sesekali masih terdengar sesegukan dari bibir mungilnya Daffa. Ia sedih karena kehilangan sosok yang paling disayangi dan dihormati olehnya selama ini secara tiba-tiba. Bahkan barusan dia harus melihat kepergian adik kembarnya dengan paksa oleh Nyonya Dea. Maminya yang dia tidak tahu kemana perginya.
Pak Ruslan segera mematikan mesin mobilnya setelah sampai di depan pintu pagar besi yang menjulang tinggi di depan matanya.
Dia mulai ingin membuka pintu itu tapi usahanya langsung dicegah dan digagalkan oleh dua orang Security.
"Maaf Pak Ruslan Anda tidak boleh masuk dan ini sesuai dengan perintah dari Nyonya Besar Dea," pungkasnya Security itu.
"Maaf Pak Ruslan Anda tidak boleh masuk dan ini sesuai dengan perintah dari Nyonya Besar Dea," pungkasnya Security itu dengan menghalangi langkahnya Pak Ruslan.
Pak Ruslan menatap tidak percaya ke arahnya Security tersebut.
__ADS_1
"Apa kalian tidak mengenal saya?" Tanyanya dengan sedikit ketegasan.
"Kami sangat tahu Anda itu siapa tapi,kami tidak mungkin menentang perkataan dari Nyonya Besar lagian Nyonya Dea sudah pergi dari sini," ungkapnya.
"Kakek, Daffin ada di mana?" Rengeknya dengan menarik lengan bajunya Pak Ruslan.
Pak Ruslan tidak tahu harus berbuat apa dan cara menjawab pertanyaan dari Daffa. Ia banyak memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi dari kejadian ini.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
...9. Ceo Pesakitan...
__ADS_1
...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...