Driver My Hubby

Driver My Hubby
draft


__ADS_3

Ketika Zavier ingin menjelaskan apa yang tengah disampaikan oleh Zoya saat ini padanya bahwa keterangan yang baru saja Zoya katakan itu adalah keterangan salah dan keterangan belum pasti. Saat itu juga Zoya kembali tidak menerima penjelasan dari Zavier dan masih tetap saja bersikeras dalam pendapatnya sendiri.


" Salah ?" Tanya Zavier balik pada Zoya dengan tatapan heran.


" Ya tentu saja salah,," Ucap Zoya dengan nada suara yang terdengar begitu jelas dan juga tinggi.


Sehingga membuat Zavier sedikit terkejut dan semakin bingung dengan ucapan yang baru saja disampaikan oleh Zoya padanya. Karena, Zoya masih saja mengira bahwa Zavier melakukan misi rahasia ini dalam penangkapan kembali Ziya untuk dibawa langsung ke tempat Alberto. Hal itu membuat insiden yang begitu memberatkan hati Zoya, karena, disaat Zoya berada di dalam ruang penahanan yang ada di dalam bagian markas besar milik Roserish saat itu juga Jimmy pergi untuk selamanya meninggalkan Zoya dalam keadaan yang begitu menyakitkan Zoya.


" Jimmy sama sekali tidak bersalah mengenai hal ini,," Ucap Zoya lagi yang semakin membuat Zavier bingung menatapnya dengan heran.


" Apa yang dikatakan oleh Zoya, kenapa aku tidak mengerti dan semakin bingung dengan ungkapan-ungkapannya yang semakin menuju ke arah tidak karuan dan jelas-jelas bukan misi dari Alberto,," Gumam Zavier dalam hatinya saat mendengar secara seksama perkataan demi perkataan yang baru saja disampaikan oleh Zoya dengan begitu ambisius padanya.


" Jika teman kau itu, ingin menangkap aku atas kesalahan yang telah aku perbuat padanya,," Sambung Zoya lagi mengakui kesalahan yang telah ia perbuat kepada Albert.


" Cukup berikan hukuman padaku saja,," Ungkap Zoya dengan ucapan yang terdengar begitu tulus.


" Bukan kepada Jimmy,," Sambung Zoya lagi dengan suara yang begitu jelas sekali bahwa tindakan yang dilakukan oleh Albert untuk menangkap dirinya dan membuat Jimmy pergi selamanya itu adalah sebuah tindakan yang salah.


" Hiks, hiks, hiks, Jimmy sama sekali tidak bersalah,," Ucap Zoya yang kembali menangis mengenang kepergian Jimmy dari sisinya yang begitu teringat dalam hatinya yang paling dalam.


" Kenapa Alberto tega memberikan sebuah perintah kepada anak buahnya untuk membuat Jimmy pergi selamanya,," Ucap Zoya dengan suara yang terdengar cukup jelas di dalam tangisannya.


Dan tentu saja dari ucapan Zoya itu bisa dimengerti oleh Zavier secara langsung, karena, baru saat ini Zavier mengetahui dan memahami apa yang baru saja dikatakan oleh Zoya mengenai Jimmy serta mengenai Alberto sahabatnya juga. Di dalam pemikirannya Zavier, Zoya mengira bahwa penangkapan yang dilakukan oleh Roserish di dalam villa nya Jimmy dengan secara terang-terangan dan langsung itu adalah perintah dari Alberto.


Tapi nyatanya itu adalah salah, Alberto sama sekali tidak memberikan sebuah perintah seperti itu kepada Zavier sebagai orang yang telah dipercayakan oleh Alberto untuk melakukan perintahnya ini. Namun, Alberto sama sekali juga tidak pernah memberikan sebuah perintah untuk menghabisi nya -wa seseorang seperti Jimmy, karena, Alberto tidak mau memiliki urusan terhadap orang yang sama sekali tidak memiliki kesalahan pada dirinya secara langsung.


Memang benar Jimmy tidak bersalah pada Alberto, karena, Jimmy hanya membawa pergi Zoya ke negara lain selain Eropa yaitu Australia itu juga atas dasar kehendak dari Zoya sendiri. Dan pastinya Jimmy tidak akan memberanikan dirinya untuk menyelinap masuk menculik Zoya pergi dari kediamannya itu. Kalau tidak Zoya sendirilah yang melakukan tindakan seperti ini kabur dari kediaman Alberto dan pergi bersama dengan Jimmy sejauh mungkin dari jangkauan Alberto.


Oleh sebab itu Alberto sama sekali tidak memiliki urusan apapun dengan Jimmy dan untuk apa juga ia memberikan sebuah perintah kepada anak buahnya dalam sebuah misi yang memang sudah direncanakannya itu dengan sangat matang serta membuat Jimmy lenyap di dalam rencana matangnya itu.


Jadi, tidak mungkin sekali jika Alberto yang meminta kepada anggotanya untuk melenyapkan Jimmy. Karena, sudah jelas sekali bahwa Alberto hanya memiliki sebuah rencana yang singkat namun jelas, membawa kembali Zoya ke dalam genggaman tangannya sebelum Erwin pamannya Zoya telah berhasil kembali mendapatkan Zoya dan menukar kembali dua gadis kembaru itu yang pastinya akan mengganggu kehidupan Alberto kembali.


Kembali lagi pada posisi saat ini, terlihat bahwa Zavier tengah memahami apa yang baru saja disampaikan oleh Zoya mengenai Jimmy yang sudah tidak ada lagi bersama dengannya itu. Dan Zavier tentu saja langsung mengatakan hal yang sebenarnya pada Zoya supaya Zoya bisa mengerti apa yang telah terjadi padanya dan juga Jimmy. Serta pastinya Zavier ingin memberitahukan kepada Zoya bahwa sebenarnya orang yang pertama kali menangkapnya itu adalah grup mafia Roserish bukan grup mafia dari Alexandre.


" Oh sepertinya Zoya telah salah mengira,," Gumam Zavier dalam hatinya sambil menganggukkan kepalanya bahwa ia telah memahami apa maksud dari perkataan yang baru saja disampaikan oleh Zoya secara bertubi-tubi padanya itu.


" Zoya pikir bahwa orang yang telah menangkapnya itu adalah Alberto, padahal sebenarnya itu adalah kelompok orang gi -la itu yang tidak memiliki nyali sedikitpun yaitu Roserish,," Ucap Zavier lagi yang sudah memahami maksud dari perkataan Zoya padanya.


" Baiklah akan aku jelaskan semuanya, supaya si palsu istri dari Alberto ini tidak lagi berteriak, jika ia sudah mengetahui siapa sebenarnya orang yang telah menangkapnya dan juga membuat Jimmy pergi dari hidupnya,," Sambung Zavier lagi dalam hatinya sambil melihat dengan jelas tindakan Zoya yang tengah menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama Jimmy dengan posisi duduk serta memeluk erat kedua kakinya.


Karena, sudah mengetahui semuanya perkataan dari Zoya mengenai kepergian Jimmy dari kehidupannya itu akhirnya Zavier menyatakan sebuah kesalahan pada Zoya bahwa Zoya memang jelas telah salah berpikir mengenai kepergian Jimmy. Yang sebenarnya Zavier juga tidak mengetahui siapa yang telah membuat Jimmy pergi dari kehidupan Zoya dengan cara yang begitu menakutkan.


" Salah, jelas sekali yang kau katakan ini adalah salah,," Ucap Zavier dengan suaranya yang terdengar begitu jelas hingga membuat Zoya yang awalnya menangis tersedu-sedu langsung terdiam menatap wajah Zavier dengan tatapan mata begitu tajam.


Seketika Zoya terdiam menghentikan tangisannya yang terdengar cukup kuat dan dari suara tangisannya itu cukup mengganggu telinga Zavier yang masih berada di dalam ruang kamar Zoya. Sebenarnya Zavier tidak ingin menjelaskan sesuatu apapun kepada Zoya sebelum mereka tiba dan sampai di tempat yang telah ditentukan oleh Alberto sebelumnya.


" Daripada aku memendam semuanya lebih baik aku jelaskan kepada Zoya,," Ucap Zavier dalam hatinya yang telah siap untuk menjelaskan mengenai perihal apa saja yang tengah Alberto berikan sebuah misi padanya itu.


" Supaya Zoya tahu bahwa sebenarnya ia masih berpikir salah mengenai apa yang telah terjadi padanya dan juga Jimmy." Gumam Zavier lagi dalam hatinya sambil menganggukkan kepalanya terhadap Zoya agar Zoya bisa mengerti atas apa yang telah terjadi.


Dan serta, Zoya bisa melihat sendiri apa yang tengah ia lakukan terhadap Zoya ketika Zoya sudah bertemu kembali secara langsung kepada Alberto, namun apa boleh buat karena, keadaan yang cukup mendesak sehingga membuat Zavier akhirnya menjelaskan semuanya kepada Zoya. Supaya selama perjalanan mereka yang mereka tempuh saat ini dalam menggunakan kapal pesiar itu tidak memiliki kendala apapun lagi. Serta pastinya gangguan dari suaranya Ziya yang selalu berteriak keras memanggil dan menyebutkan nama Jimmy.


Zavier sama sekali tidak ingin mendengar rengekan suara yang telah dilakukan oleh Zoya di dalam ruang kapal ini, ya meskipun ruang kamar tempat menahan Zoya saat ini cukup kedap suara, tapi, jika Zoya sudah berteriak dengan suaranya yang terdengar begitu kencang itu cukup mengganggu kenyamanan yang tengah dirasakan oleh Zavier apalagi saat ini mereka sedang berada di tengah lautan yang begitu indah.


Oleh sebab itu mau tidak mau Zavier akhirnya menjelaskan semua apa yang telah menjadi misi rahasia mereka dan rencana Alberto dalam menangkap kembali Zoya saat ini kepada Zoya sendiri.


" Alberto temanku itu tidak mungkin memberikan sebuah perintah rendahan seperti itu,," Ucap Zavier dengan nada suara yang jelas namun bermartabat.


" Alberto hanya memberikan perintah padaku untuk mengawasi kehidupan yang kau lakukan selama ini di negara Australia,," Sambung Zavier lagi kepada Zoya hingga membuat kening Zoya sedikit berkerut dan bergumam sendiri seolah tidak percaya atas apa yang telah di dengarkannya ini.


" Mengawasi ku ?" Tanya Zoya kepada Zavier dengan keadaan wajah yang sedikit penasaran dan juga sambil mengerutkan keningnya.


" Ya, mengawasi aktivitas kau,," Jawab Zavier singkat dan jelas sambil menganggukkan kepalanya dengan ringan kepada Zoya.


" Alberto juga tahu bahwa kau sedang pergi bersama dengan Jimmy, kau tinggal bersama dengan Jimmy,," Jawab Zavier lagi dengan jelas pada Zoya.


Karena mendengar ucapan Zavier yang begitu jelas mengenai dirinya yang selama ini sudah diawasi oleh Alberto. Hal itu membuat Zoya berpikir kenapa Alberto tidak menangkapnya secara langsung padahal sudah jelas sekali bahwa ia selalu berada di dalam pengawasan Alberto.


Sehingga hal inilah yang saat ini menjadi pertanyaan besar yang ada dalam pikiran Zoya ?


Namun ketika Zoya ingin menanyakan langsung kepada Zavier, mengenai apa yang telah dilakukan oleh Alberto selama ini dalam mengintai dan juga mengawasinya pertanyaan itu dengan secepat mungkin langsung dijawab dan dijelaskan oleh Zavier hingga membuat Zoya dapat memahami dengan keadaan semuanya.


" Sebentar, aku mau tanya ?" Ucap Ziya yang sengaja menghentikan perkataan Zavier dan memberikan sebuah pertanyaan kembali.


" Heemm, tanyakanlah,," Jawab Zavier dengan santai.


" Jika Alberto memerintah orang untuk mengawasi aktivitas ku, kenapa, Alberto tidak menangkap ku ?" Tanya Zoya lagi pada Zavier.


" Akan aku jelaskan,," Jawab Zavier singkat namun pasti.


Setelah mendapatkan pertanyaan dari Zoya yang memiliki sebuah pertanyaan dengan jawabannya yang memang sudah jelas sekali ingin dijelaskan dan dijawab oleh Zavier oleh sebab itu Zavier hanya bisa langsung memberikan jawaban yang singkat kepada Zoya.


Sambil menghela nafasnya Zavier kembali memberikan sebuah penjelasan kepada Zoya dan Zoya juga bisa memahami situasi saat ini di antara mereka bahwa Zoya tidak akan pernah bermain-main jika sudah mendapatkan sebuah jawaban yang serius pastinya dari orang seperti Zavier.


" Selama mengawasi aktivitas yang kau lakukan bersama Jimmy, Alberto sama sekali tidak mau memikirkan siapa itu Jimmy,," Ucap Zavier dengan jelas kepada Zoya.


" Serta kau ingin tahu bahwa selama kau pergi secara diam-diam dari kediaman Alexandre,," Ucap Zavier dengan wajah yang begitu serius saat sedang memberikan sebuah penjelasan.


" Kau juga sudah dibebaskan olehnya karena, hanya kau adalah seorang ibu kandung dari putranya yaitu Demian,," Sambung Zavier lagi dengan jelas hingga membuat Zoya sedikit meneguk air liurnya sendiri karena, merasa takut dengan ucapan yang disampaikan oleh Zavier mengenai kepemilikan yang ia miliki dan masih berada di dalam kediaman Alexandre yaitu Demian.


" Jika kau tidak memiliki apa-apa dalam kehidupan Alberto, kemungkinan sudah lama kau ditangkap oleh Alberto dan pastinya aku tidak tahu lagi kau akan mendapatkan hukuman apa saja darinya,," Ucap Zavier lagi yang kembali membuat Zoya merasa cemas dan mengeluarkan keringat dinginnya.


Begitu jelas sekali terlihat di wajah Zoya bahwa ketika ia mendengarkan penjelasan yang baru saja disampaikan oleh Zavier itu membuat Zoya merasa ketakutan serta mengeluarkan sedikit keringat dingin. Hingga hal yang tengah dirasakannya itu juga diketahui oleh Zavier namun Zavier tidak ingin mengambil pusing mengenai apa yang sedang terjadi pada Zoya saat ini.


Yang pastinya saat ini di dalam pemikiran Zavier adalah penjelasan yang akan diberikannya kepada Zoya supaya Zoya bisa mengetahui semuanya mengenai apa yang akan diterima olehnya jika ia sudah berada di dalam genggaman Alberto kembali dan juga jika disaat penangkapan yang dilakukan oleh Roserish dan saat itu ia sama sekali tidak mendapatkan bantuan dari Alberto mungkin saja nasibnya saat ini sudah tidak tahu menjadi apa.


Zavier kembali menjelaskan apa yang aka n menjadi topik pembicaraan yang akan ia jelaskan pada Zoya. Dengan suaranya yang terdengar begitu jelas Zavier kembali memberikan sebuah penjelasan kepada Zoya.


" Jadi, aku jelaskan sekali lagi bahwa Alberto sama sekali tidak pernah ingin menangkap kau selama kau berada di Australia, karena ia hanya ingin memintaku untuk mengawasi aktivitas yang tengah kau lakukan,," Ucap Zavier lagi yang tengah menyambungkan penjelasan yang belum selesai ia jelaskan pada Zoya.


" Apalagi kau berpikir bahwa Alberto ingin menangkap teman pria yang kau miliki itu yaitu Jimmy,," Sambung Zavier sambil memberikan sebuah tatapan mata yang begitu dalam hingga membuat Zoya merasa bersalah terhadap apa yang telah ia lakukan dan tuduhkan kepada anggota anak buahnya Alberto.


" Heehhh itu sangat jauh dari perintah yang telah diberikan oleh Alberto,," Sambung Zavier lagi sambil menyunggingkan senyumnya yang terlihat licik.


Memang benar sekali apa yang telah disampaikan oleh Zavier, tidak mungkin Alberto memberikan sebuah perintah penangkapan terhadap Zoya sambil memberikan pelajaran terhadap Zoya dengan sebuah ancaman dan juga perlakuan yang tidak adil pada Jimmy.


Karena, selama ini Alberto hanya memberikan sebuah perintah kepada Zavier untuk selalu mengawasi pergerakan Zoya bukan untuk menghabisi Jimmy begitu saja dan menangkap Zoya dengan penangkapan yang begitu kasar seperti kelakuan yang telah dilakukan oleh kelompok Roserish.


****


****


Karena, selama ini Alberto hanya memberikan sebuah perintah kepada Zavier untuk selalu mengawasi pergerakan Zoya bukan untuk menghabisi Jimmy begitu saja dan menangkap Zoya dengan penangkapan yang begitu kasar seperti kelakuan yang telah dilakukan oleh kelompok Roserish.


" Kau tahu kenapa aku tiba-tiba menyelamatkan kau dari sebuah markas besar itu ?" Tanya Zavier pada Zoya yang membuat Zoya hanya bisa terdiam saja tanpa memberikan sebuah jawaban ataupun ekspresi sedikitpun pada Zavier.


Karena tidak memiliki reaksi apapun di wajahnya Zoya, sehingga membuat Zavier kembali menanyakan lagi perihal tentang penjelasan yang akan ia jelaskan pada Zoya hingga membuat Zoya pastinya akan tercengang disaat mendengarkan semua penjelasannya itu.


" Kau mau tahu ?" Tanya Zavier lagi pada Zoya dengan wajahnya yang terlihat serius saat memberikan sebuah pertanyaan pada Zoya.


" Ya,," Jawab Zoya singkat dengan sorot mata yang terlihat begitu ingin tahu jelas apa yang sebenarnya diinginkan oleh pihak Roserish yang telah menangkap dirinya dengan sengaja itu.


Sehingga membuat Zoya berpikir bahwa memang benar apa yang telah dinyatakan oleh beberapa anggota anak buah Roserish bahwa saat itu mereka menyatakan kalau mereka itu adalah anak buah yang telah diperintahkan oleh Alberto suaminya.


Tapi ternyata bukanlah Alberto yang telah sengaja melakukan tindakan seperti penangkapan dan juga pembu -nuhan yang terjadi pada Jimmy. Melainkan Roserish yang sengaja memiliki sebuah rencana tersendiri terhadap Zoya dan juga Alberto pastinya.


Karena, selama ini hanya Alberto yang merupakan satu-satunya kelompok mafia terhebat serta terbonafid yang ada di negara Perancis. Oleh sebab itu Roserish ingin mendapatkan sebuah keuntungan serta nama baik di negaranya yang bisa mengalahkan kelompok dari mafia Alexandre.


Dengan sengaja mencari tahu keberadaan istrinya Alberto dan juga menangkap istri Alberto agar ia bisa menguasai diri Zoya dan mendapatkan keuntungan dari penguasaan yang akan ia lakukan itu. Tapi sayangnya rencana yang telah ia lakukan dan juga matang dalam penangkapan, Zoya berhasil diselamatkan oleh anggotanya Zavier sehingga membuat seluruh anggota anak buah Roserish di markas besar itu kewalahan dan mengalami kekalahan besar.


Terutama adik kandung Roserish dan juga keponakan kandung Roserish yang bernama Mellina harus mengalami sebuah kekalahan yang telak atas apa yang telah dilakukan oleh Alberto dalam memberikan sebuah misi rahasia kepada Zavier.


Setelah melihat Zoya mengangguk dan begitu jelas sekali terlihat bahwa ia ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya Zavier kembali menanyakan perihal apa yang akan dilakukan oleh pihak Roserish terhadap dirinya. Sehingga dengan anehnya kenapa harus menangkap dirinya hanya untuk sekedar mengetahui rahasia di dalam kehidupan Alberto. Sedangkan di dalam kehidupan aslinya Zoya tidak mengetahui apa yang sebenarnya menjadi rahasia besar Alberto itu.


" Karena, mereka ingin menangkap kau dan menjadikan kau sebagai alat serta budak dari kelompok mereka untuk mengetahui semua apa saja rahasia yang telah dimiliki oleh Alberto,," Jawab Zavier dengan jelas pada Zoya, hingga membuat Zoya cukup tercengang ketika mendengarkan jawaban dari Zavier itu.


" Haahhh, apa !!" Seru Zoya ketika mengetahui jawaban dari Zavier mengenai apa yang akan dilakukan oleh kelompok mafia Roserish ketika menangkap dirinya itu.


Tentu saja hal itu membuat Zoya merasa terkejut karena, sudah jelas sekali bahwa jawaban yang disampaikan oleh Zavier ini tidaklah sebuah jawaban yang mengandung makna kebohongan melainkan sebuah jawaban yang memang benar adanya. Oleh sebab itu meskipun Zoya merasa yakin dan percaya atas apa yang telah dijelaskan oleh Zavier padanya, tapi, di dalam hati Zoya juga merasa dia harus mendapatkan sebuah keyakinan atas apa yang telah dijelaskan oleh Zavier ini mengenai perihal tentang rencana yang akan dilakukan oleh Roserish.


" Kau cukup terkejut bukan, jika kau telah mengetahui jawabannya ini ?" Tanya Zavier pada Zoya secara langsung.


" Heemm,," Jawab Zoya singkat sambil menganggukkan kepalanya.


" Untuk apa mereka menangkap ku hanya ingin mendapatkan sebuah rahasia besar yang dimiliki oleh Alberto,," Gumam Ziya dalam hatinya ketika mendengarkan jawaban penjelasan dari Zavier.


" Sedangkan aku sendiri saja tidak tahu apa yang telah menjadi sebuah rahasia dan sebuah informasi yang akan mereka dapatkan dariku ?" Sambung Zoya lagi dalam hatinya merasa sedikit bingung dengan apa yang telah menjadi rahasia pihak Roserish dalam mendapatkan sebuah informasi darinya mengenai kepribadian ataupun rahasia besar milik Alberto.


" Saat ini aku tidak tahu, apa yang ingin dicari oleh mereka hingga mereka menangkap ku,," Gumam Zoya dalam hatinya merasa penasaran dengan penjelasan Zavier.


" Aku harus mencari alasan dibalik ini semua,," Ucap Zoya lagi di dalam hatinya.


Karena memang saat ini Zoya tidak tahu apa yang akan dicari oleh kelompok mafia Roserish dari dirinya, oleh sebab itu Zoya langsung menanyakan alasan dan juga jawaban tersendiri dari Zavier yang memang sudah tahu akan jawabannya.


" Tapi sayangnya,," Ucap Zavier yang terpotong karena, Zoya memang sengaja telah memotong pembicaraannya.


" Tunggu sebentar !" Seru Zoya yang seketika memotong pembicaraan Zavier.


Karena, Zoya sudah memotong pembicaraannya tentu saja Zavier hanya bisa diam sejenak mendengar perkataan yang akan disampaikan oleh Zoya di dalam pemotongan pembicaraan yang baru saja ia lakukan itu.


" Ya, katakan,," Ucap Zavier meminta Zoya untuk menyampaikan ungkapannya.


" Kenapa Roserish ingin menangkap ku hanya untuk mendapatkan sebuah informasi dariku ?" Tanya Zoya pada Zavier dengan pertanyaan yang begitu mudah dijawab oleh Zavier pastinya.


" Hehehehe, begitu mudah jawabannya,," Sahut Zavier sambil menaikkan sedikit ujung bibirnya.


" Kenapa ?" Tanya Zoya lagi pada Zavier.


" Karena, kau adalah putri dari Erwin dan kau juga adalah istri dari Alberto Alexandre,," Jawab Zavier singkat dan jelas hingga membuat Zoya sedikit memundurkan kepalanya merasa bingung atas apa yang baru saja dijawab oleh Zavier.


" Jadi tentu saja kau tahu apa yang ingin ditanyakan oleh mereka pada kau ini Zoya,," Sambung Zavier lagi yang jawabannya semakin membuat Zoya dalam keadaan kebingungan.


" Meskipun aku putri dari Erwin dan juga dulunya istri dari Alberto, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang telah menjadi rahasia besar dari Alberto sendiri,," Gumam Zoya dalam hatinya.


" Bagaimana bisa mengetahui rahasianya Alberto, sedetik saja Alberto tidak pernah memperdulikan aku yang selama ini berada di dalam kediamannya,," Ucap Zoya dalam hatinya yang memang benar bahwa selama ini ia tidak pernah dihiraukan oleh Alberto sedikitpun.


Memang benar apa yang dinyatakan oleh Zoya di dalam hatinya itu, karena, selama Zoya berada di dal kediaman Alberto Zoya sama sekali tidak pernah mendapatkan perhatian dari Alberto sehingga membuat Zoya sama sekali tidak mengetahui apa yang menjadi rahasia besar dari Alberto itu sendiri.


Jadi percuma saja jika klan mafia Roserish ingin menangkap dirinya hanya sekedar untuk menjadikannya sebagai budak dan bisa mengendalikan Zoya dalam sebuah rahasia besar dari Alberto sendiri. Karena, yang jelas Zoya sama sekali tidak tahu apa yang menjadi rahasia besar milik Alberto itu yang selama ini sedang dicari oleh kelompok mafia Roserish.


Karena, Zoya hanya bisa terdiam saja ketika mendengarkan jawaban yang baru saja disampaikan oleh Zavier itu, akhirnya Zavier kembali melanjutkan penjelasannya kepada Zoya mengenai apa yang telah dilakukannya beserta kelompoknya itu saat melenyapkan semua orang yang ada di dalam markas besar milik Roserish itu.


" Huuhh, dia hanya terdiam,," Celetuk Zavier dengan sengaja ketika melihat Zoya terdiam dan seperti sedang memikirkan suatu hal.


" Tapi sayangnya, kelompok mereka hanya berhasil menangkap kau saja dan tidak berhasil untuk menjadikan kau sebagai alat mereka,," Sambung Zavier lagi meskipun saat ini Zoya masih terdiam.


" Haahh, apa yang kau katakan ?" Tanya Zoya ketika dirinya sudah sadar dari lamunannya mengenai apa yang telah ia dapatkan selama ini dari sikap Alberto terhadap dirinya.


Karena, sudah sadar dari lamunannya mengenai apa yang telah terjadi padanya selama ini di dalam kediaman Alexandre bahwa ia tidak pernah merasakan dan juga mendapatkan kepedulian dari Alberto akhirnya Zoya kembali bisa mendengarkan suara Zavier yang tengah kembali melanjutkan penjelasannya itu, karena tidak mendengarkannya dengan jelas Zoya kembali meminta Zavier untuk mengulanginya lagi.


" Yang aku katakan barusan, untung saja kau hanya sekedar di tangkap oleh anak buah Roserish dan belum menjadi budak ataupun alat yang akan digunakan oleh Roserish,," Jawab Zavier yang tengah mengulangi kembali penjelasan yang ia lanjutkan sebelumnya.


" Oohhh,," Jawab Zoya singkat dan sambil menganggukkan kepalanya seolah mengerti akan penjelasan dari jawaban yang baru saja disampaikan oleh Zavier.


Terlihat saat ini Zoya tengah menganggukkan kepalanya dan seolah sudah mengerti akan penjelasan dari jawaban Zavier, lalu Zavier pun kembali melanjutkan penjelasannya lagi kepada Zoya supaya Zoya tidak gagal paham atas apa yang telah terjadi hari ini di dalam markas besar Roserish itu.


" Dan selanjutnya karena kepintaran yang telah dimiliki oleh Alberto,," Sambung Zavier namun sedikit terhenti.


Dan terlihat bahwa Zoya begitu serius menatapi wajah Zavier yang tengah memberikan sebuah penjelasan padanya itu. Tentu saja Zavier tidak mau menghabiskan waktunya lagi hanya untuk mendengarkan omelan dan juga tangisan serta teriakan yang dilakukan oleh Zoya di dalam kapal ini. Oleh sebab itu mau tidak mau Zavier melanjutkan penjelasannya yang semakin lama semakin membuat Zoya mengerti atas apa yang telah terjadi.


" Kapan saja ia ingin meminta untuk bertindak dan mengambil kau kembali dari negara Australia ini untuk dibawakan lagi ke negara Perancis, itu sangat mudah baginya,," Sambung Zavier lagi dengan jelas pada Zoya hingga membuat Zoya sedikit mengerutkan keningnya.


" Tapi hal itu sama sekali tidak dilakukannya bukan, karena, Alberto tahu bahwa kau memiliki sebuah jasa padanya,," Ucap Zavier yang semakin membuat Zoya mengerutkan dahinya.


Ketika mendengarkan ucapan Zavier yang menyatakan bahwa selama ini sebenarnya Alberto bisa saja memberikan perintah kepada anak buahnya untuk segera menangkap Zoya. Namun hal itu sama sekali tidak dilakukannya karena, selama ini Alberto telah berpikir akan suatu hal besar terhadap bahwa Zoya sudah memiliki sebuah jasa untuknya yaitu melahirkan seorang putra yang memang benar adanya bahwa putra itu adalah putra Alberto sendiri.


Berarti selama ini di dalam pemikiran Zoya mengenai Alberto yang sama sekali tidak pernah perduli padanya, ternyata memiliki sebuah kepedulian yang besar terhadap dirinya yaitu merasa memiliki sebuah jasa yang besar karena sudah melahirkan anak putra untuknya. Dan Zoya baru menyadari bahwa sikap dingin serta cuek Alberto bisa terlihat atas kepedulian yang ia berikan ketika Zoya sudah pergi jauh dari kehidupannya dan hal itu juga Zoya baru mengetahuinya.


Tentu saja hal itu membuat Zoya mengerutkan dahinya karena, selama ini Zoya merasa bahwa Alberto tidak pernah memiliki rasa simpati padanya tapi nyatanya dari penjelasan Zavier ini bahwa Alberto sudah jelas sekali terlihat memiliki sebuah rasa kepedulian untuknya karena ia memiliki sebuah jasa yaitu memberikan seorang putra di dalam kediaman Alexandre dan pastinya menjadi penerus kehebatan serta kekuatan dari Alberto Alexandre sendiri.


" Jasa ?" Tanya Zoya seolah tidak memahami apa yang telah disampaikan oleh Zavier padanya.


" Ya, jasa, karena kau adalah seorang ibu yang telah melahirkan putranya, yaitu Demian," Jawab Zavier dengan jelas hingga membuat Zoya menelan salivanya sendiri.


Betapa terkejutnya Zoya ketika mendengarkan jawaban dari Zavier yang menyatakan bahwa dirinya sudah melahirkan seorang putra yaitu Demian penerus dari kekuatan dan kekuasaan yang selama ini telah dibangun kembali oleh Alberto Alexandre.


Dan meskipun, Zavier mengetahui bahwa saat ini Zoya tengah kaget dan juga menelan salivanya sendiri hal itu tidak membuat Zavier luntur untuk melanjutkan kembali penjelasannya kepada Zoya.


" Dan jika tidak ada pemikiran pintar dari Alberto, kemungkinan saat ini kau sudah menjadi alat dari kelompok mafia bo -doh seperti Roserish itu," Ucap Zavier yang memecahkan keheningan ruangan di ruang kamar Zoya ini.


" Heehhh apalagi hanya sekedar membu -nuh Jimmy tentu saja itu bukanlah perintah dari Alberto,," Sambung Zavier lagi dengan jelas pada Zoya hingga membuat Zoya mengerti bahwa kepergian Jimmy pastinya bukanlah perintah dari Alberto melainkan Roserish sang mafia yang hanya ingin menangkap dirinya dan ia akan dijadikan alat oleh Roserish itu sendiri.


" Oohh jadi benar, bukan perintah dari Alberto yang telah melakukan ini,," Gumam Zoya dengan suara kecilnya sambil tertunduk saat mendengarkan penjelasan dari Zavier.


" Karena, grup dari Roserish tahu bahwa Jimmy tidak ada gunanya bagi mereka, makanya mereka langsung saja membu -nuh Jimmy begitu saja di depan mata kau,," Ungkap Zavier dengan wajah santai namun terlihat serius sekali saat menyampaikan penjelasannya ini.


Betul sekali apa yang telah disampaikan oleh Zavier mengenai kepergian Jimmy dari kehidupannya yaitu bukanlah perintah dari Alberto melainkan tindakan yang dilakukan oleh Roserish sendiri. Oleh sebab itu Zoya terdiam menunduk tidak bisa memberikan jawaban serta pertanyaan apapun lagi dan juga tidak menuduh tindakan Alberto lagi atas apa yang telah terjadi pada Jimmy dan juga yang telah dialaminya.


Karena, memang sudah jelas sekali terlihat dari penjelasannya Zavier bahwa tindakan yang begitu mudah itu bukanlah sebuah rencana yang diluncurkan oleh Alberto untuk anak buahnya dalam menangani masalah kepergian Zoya ke luar negeri itu melainkan rencana ataupun tindakan yang dilakukan oleh kelompok mafia Roserish yang ingin mendapatkan sebuah informasi dari Zoya agar ia bisa menghancurkan kelompok mafia yang selama ini dibangun oleh Alberto Alexandre.


****


****


Karena, memang sudah jelas sekali terlihat dari penjelasannya Zavier bahwa tindakan yang begitu mudah itu bukanlah sebuah rencana yang diluncurkan oleh Alberto untuk anak buahnya dalam menangani masalah kepergian Zoya ke luar negeri itu melainkan rencana ataupun tindakan yang dilakukan oleh kelompok mafia Roserish yang ingin mendapatkan sebuah informasi dari Zoya agar ia bisa menghancurkan kelompok mafia yang selama ini dibangun oleh Alberto Alexandre.


Karena, sedikit mendengar pernyataan Zoya yang menyatakan bahwa insiden kepergian Jimmy bukanlah tindakan yang dilakukan oleh Alberto, oleh sebab itu Zavier meminta pengakuan dari Zoya bahwa sebenarnya insiden kepergian dari Jimmy memang bukanlah hal yang telah diperintahkan oleh Alberto melainkan tindakan yang telah dilakukan oleh beberapa anak buah dari kelompok mafia Roserish itu sendiri.


" Dan karena, kepergian Jimmy ini, kau mengira bahwa Alberto yang telah melakukannya dan bersalah ?" Tanya Zavier tegas dengan wajahnya yang serius menatap wajah Zoya yang sedang menundukkan kepalanya itu.


Jelas sekali Zoya tertunduk karena, sudah salah mengira bahwa kepergian Jimmy bukanlah tindakan yang dilakukan oleh Alberto melainkan Roserish.


" Kau salah Zoya, kau salah,," Seru Zavier lagi hingga membuat Zoya sedikit kaget dan begitu jelas sekali terlihat atas respon dari tubuhnya yang merasa kaget ketika mendengar seruan Zavier yang menyatakan bahwa dirinya telah bersalah karena mengira bahwa Alberto telah melakukan ini semua.


" Kau mengira bahwa pekerjaan yang ke -ji ini adalah perintah dari Alberto ?" Tanya Zavier lagi kepada Zoya yang semakin membuat Zoya terdiam serta menundukkan kepalanya.


" Tapi bukan ini bukanlah perintah dari Alberto,," Sambung Zavier lagi dengan nada suaranya yang terdengar cukup merendah dibandingkan sebelumnya ini.


Karena, tidak mendapatkan sebuah pertanyaan serta sanggahan dari Zoya, Zavier tetap saja melanjutkan penjelasannya itu tanpa henti. Dan bagi Zavier, bahwa saat ini sudah jelas sekali terlihat bahwa Zoya mungkin sudah memahami apa yang telah dijelaskannya secara rinci itu. Oleh sebab itu Zoya terdiam ketika mendengarkan semua penjelasan yang baru saja dijelaskannya.


" Dan satu lagi, Alberto hanya memberikan perintah padaku untuk menyelamatkan kau dari penahanan yang dilakukan oleh Roserish,," Ungkap Zavier kepada Zoya hingga membuat Zoya kaget dan langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Zavier dengan tatapan penuh tanya.


" Kenapa ?" Tanya Zoya langsung dengan nada suara yang terdengar begitu kecil hingga Zavier sendiri tidak terlalu mendengarkan suaranya itu.


Meskipun Zavier sama sekali tidak mendengarkan suara Zoya itu, tapi, Zavier bisa mengendalikan suasana untuk menanyakan kembali perihal pertanyaan yang baru saja di sampaikan oleh Zoya padanya dengan nada suara begitu kecil sekali.


" Apa yang kau tanyakan ?" Tanya Zavier dengan wajah seriusnya menanyakan perihal pertanyaan Zoya.


" Kenapa, Alberto memerintah kalian untuk menyelamatkan aku ?" Tanya Zoya pada Zavier dengan suaranya yang terdengar begitu jelas.


" Padahal, aku memiliki kesalahan yang besar padanya,," Sambung Zoya lagi sambil memberikan sebuah penjelasan atas pertanyaan yang baru saja disampaikannya.


" Heemmm, jawabannya cukup mudah,," Ungkap Zavier dengan jelas.


" Apa ?" Tanya Zoya lagi pada Zavier.


" Karena, Alberto ingin kau menebus semua kesalahan kau itu di hadapannya sendiri,," Jawab Zavier singkat namun padat hingga membuat Zoya merasa takut dan juga merinding ketika mendengarkan jawaban Zavier seperti itu.


Tentu saja hal itu membuat Zoya merasa takut dan juga cemas karena mendapatkan sebuah jawaban yang begitu membuatnya langsung mengeluarkan keringat dingin. Ini baru Zavier yang memberikan sebuah penjelasan dari hal yang telah dilakukan oleh Alberto padanya. Bukan semata-mata langsung dari Alberto saja sudah membuat Zoya mengeluarkan keringat dinginnya.


Apalagi jika Alberto sendiri yang memberikan sebuah hukuman ini padanya. Tentu saja Zoya tidak akan berani dan tidak akan kuat untuk menerima hukuman yang akan diberikan oleh Alberto nanti. Oleh sebab itu Zavier hanya bisa tersenyum kecil ketika melihat Zoya merasa ketakutan saat ia menjelaskan pertanyaan Zoya mengenai misi yang telah diberikan oleh Alberto kepadanya.


" Aku hanya menjalankan tugas yang telah diberikan oleh temanku itu padaku,," Ucap Zavier sambil memberikan sebuah senyuman kecil pada Zoya.


" Yang pastinya jika kau ingin mendapatkan sebuah jawaban yang jelas kau bisa menanyakan perihal ini kepada temanku itu yaitu Alberto,," Sambung Zavier lagi dengan jelas pada Zoya.


" Apakah kau bisa mengerti atas semua yang telah aku jelaskan ini ?" Tanya Zavier pada Zoya dengan ekspresi wajah kembali serius.


" Ya aku mengerti,," Jawab Zoya menganggukkan kepalanya namun jelas sekali terlihat bahwa ada beban seketika yang memberatkan hatinya ketika mendengarkan jawabannya yang paling terakhir mengenai hukuman yang pastinya akan diperoleh oleh Zoya sendiri dari Alberto.


Karena, melihat kondisi dan ekspresi wajah Zoya yang terlihat begitu tegang dan juga tertekan atas apa yang telah dijawabnya itu, akhirnya dengan begitu mudahnya Zavier memberikan sebuah peringatan kepada Zoya untuk tidak terlalu memikirkan masalah yang akan datang padanya itu melainkan menerimanya dengan senang hati saja tanpa membebani pikirannya untuk saat ini.


" Sudah kau jangan terlalu cemas, mengenai apa yang akan dilakukan oleh Alberto padamu,," Ungkap Zavier sambil memberikan sebuah kesan penyemangat untuk Zoya agar Zoya tidak terlalu memikirkan mengenai perihal hukuman yang akan diberikan oleh Alberto padanya nanti.


" Bukankah kau sudah memiliki sebuah jasa besar untuk Alberto,," Sambung Zavier lagi sambil mengingatkan Zoya bahwa Zoya sudah memiliki jasa besar untuk Alberto.


" Jadi kau tidak perlu takut dan tidak perlu membebani pikiran kau ini dengan apa yang akan terjadi,," Ucap Zavier lagi seolah sedang memberikan sebuah semangat kepada temannya sendiri. Padahal selama ini Zavier tidak terlalu dekat dengan Zoya. Dan begitu juga dengan Ziya yang tidak terlalu dekat dan juga tidak mau dekat dengan teman-temannya Alberto.


Memang benar sekali apa yang telah diucapkan oleh Zavier pada Zoya. Bahwa Zoya tidak perlu memikirkan apa hal yang akan dilakukan oleh Alberto padanya nanti. Namun, saat ini Zoya memiliki pemikiran yang lain tentang apa yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua yaitu Zoya tengah memikirkan dimana dan kemana kelompok mafia Roserish membuang tubuh Jimmy setelah mereka melakukan pembu -nuhan itu.


Sehingga hal itu membuat Zavier sendiri juga merasa penasaran dengan apa yang telah dipikirkan oleh Zoya saat ini. Dan pastinya karena, ini telah menjadi bagian dari tugas dan misi rahasia yang diberikan oleh Alberto. Tentu saja Zavier harus mencari tahu dimana dan kemana kelompok mafia Roserish itu meletakkan atau menyimpan tubuhnya Jimmy yang saat ini sudah lama di dalam pikiran Zoya.


" Aku bukan memikirkan hal itu,," Ungkap Zoya kepada Zavier secara langsung hingga membuat mata Zavier sedikit melirik ke arahnya dengan lirikan mata penasaran atas ungkapan Zoya saat ini.


" Lalu apa yang kau pikirkan ?" Tanya Zavier langsung pada Zoya atas ungkapan yang baru saja dicetuskan oleh Zoya.


" Aku hanya memikirkan Jimmy,," Jawab Zoya singkat namun memiliki sebuah makna yang mendalam.


" Jimmy,," Gumam Zavier singkat.


" Ya," Jawab Zoya menganggukkan kepalanya dengan lembut.


" Kemana mereka membawa pergi ma -yat Jimmy yang telah mereka bu -nuh ?" Tanya Zoya kepada Zavier dengan tatapan matanya yang terlihat kosong dan memelas untuk tahu dimana keberadaan Jimmy saat ini.


Ketika mendengar pertanyaan dari Zoya dengan tatapan matanya yang terlihat begitu kosong, hal itu membuat Zavier juga merasa bingung untuk memberikan jawaban apa kepada Zoya. Karena, memang jelas sekali bahwa Zavier juga tidak tahu kemana kelompok mafia Roserish itu telah membawa pergi Jimmy ketika mereka telah selesai melenyapkan Jimmy dengan begitu saja.


Karena, tidak ada jawaban kepastian dan juga Zavier tidak tahu dimana keberadaan Jimmy saat ini. Untuk memberikan sebuah alasan tersendiri dan juga ketenangan pikiran bagi Zoya akhirnya Zavier memberitahukan perihal yang sebenarnya bahwa ia juga tidak tahu kemana kelompok mafia Roserish telah membawa pergi Jimmy dari markas besar itu.


" Membawa pergi Jimmy,," Ucap Zavier sambil melirik balik ke arah Zoya.


" Heemm,, kemana mereka membawa pergi Jimmy ?" Tanya Zoya lagi pada Zavier.


Sambil menghela nafasnya, Zavier memberikan sebuah jawaban untuk Zoya, bahwa sebenarnya Zavier juga tidak tahu dimana keberadaan Jimmy saat ini dan supaya Zoya juga mengerti akan maksud dari jawaban Zavier itu.


" Heemmm, aku juga tidak tahu Zoya,," Jawab Zavier singkat pada Zoya sambil menggelengkan kepalanya dengan halus.


Ketika Zavier memberikan sebuah jawaban yang memang benar adanya bahwa Zavier sendiri juga tidak tahu dimana keberadaan Jimmy saat itu dan reaksi wajah Zoya hanya bisa mendengarkan jawaban dari Zavier saja serta pastinya tidak bisa memberikan sebuah pertanyaan dan bahkan sanggahan apapun.


Karena, selama Zavier berada di dalam ruangan kamarnya itu Zavier selalu memberikan sebuah jawaban yang tepat dan juga benar serta dapat dipercaya oleh Zoya dan memang benar tidak mungkin sekali jika Zavier menjawab dengan sebuah jawaban yang asal jawab saja.


Meskipun demikian Zoya masih tetap saja mencari tahu kebenaran yang ada apakah benar bahwa Zavier ini memang tidak tahu dimana keberadaan Jimmy setelah insiden yang telah dilakukan tepat di depan mata Zoya itu.


Ataukah Zavier juga ikut berpartisipasi dalam menyembunyikan keberadaan Jimmy supaya Zoya tidak selalu bersedih dan tidak menanyakan perihal dimana keberadaan Jimmy saat ini ?


Entahlah yang pastinya Zavier saat ini hanya bisa menjelaskan sesuatu hal yang memang benar adanya. Disaat ia masuk ke dalam ruangan penahanan Zoya, saat itu juga Zavier sama sekali tidak menemukan siapa-siapa di dalam ruangan itu kecuali Zoya sendiri yang tengah terikat dengan posisi tubuhnya sedang duduk di atas kursi.


Dengan menyampaikan sebuah perkataan yang jelas dan juga mudah dimengerti oleh Zoya, Zavier kembali memberikan penjelasannya kepada Zoya dengan ucapan yang perlahan tapi pasti.


" Kau tidak tahu bagaimana yang sedang terjadi di area luar markas itu bukan ?" Tanya Zavier pada Zoya dengan tatapan serius.


Dan terlihat bahwa saat ini Zoya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lembut seolah sedang memberikan sebuah jawaban kepada Zavier bahwa ia memang tidak tahu apa yang sedang terjadi di area luar ruangan tempat ia telah di tahan itu. Setelah melihat reaksi dari jawaban Zoya bahwa Zoya juga sepertinya tidak tahu apa yang telah terjadi, akhirnya Zavier kembali memberikan penjelasan kepada Zoya mengenai apa yang sedang terjadi pada saat itu.


" Saat itu semua anggota ku masuk ke dalam markas Roserish dan disaat semua anggota ku masuk ke dalam markas milik Roserish itu, dengan mudahnya anggota ku telah berhasil menangkap semua orang yang ada disana, termasuk wakil besar Roserish yaitu adik kandung Roserish sendiri serta keponakan wanitanya itu,," Ungkap Zavier dengan penjelasan yang detail pada Zoya.


" Dan disaat itu juga anggotaku sama sekali tidak melihat adanya Jimmy di dalam ruangan manapun, karena, mereka semua telah ku kerahkan untuk mencari di ruangan manapun, tapi tidak ada yang bisa menemukan Jimmy di ruangan itu,," Sambung Zavier lagi menjelaskan sesuatu hal yang telah ia lakukan di dalam semua ruangan markas Roserish itu.


Cukup jelas dari penjelasan yang Zavier ungkapkan ini bahwa semua anggota Zavier sudah Zavier kerahkan untuk mencari dimana keberadaan Zoya serta Jimmy yang telah ditangkap oleh anggota Roserish saat itu. Dan di dalam semua pencarian yang tengah mereka lakukan, dalam satu ruangan tidak ada sedikitpun tanda-tanda mereka menyimpan tubuh Jimmy. Dan Zavier kembali menjelaskan suatu hal kepada Zoya agar Zoya bisa mengerti jelas apa yang telah terjadi.


" Serta disaat aku masuk ke dalam ruangan yang menjadi sebuah ruangan terdalam untuk menahan kau disana,," Ucap Zavier lagi pada Zoya yang telah membahas titik misi rahasia mereka saat melakukan tindakannya itu.


" Aku juga tidak menemukan siapa-siapa disana, hanya kau sendiri yang ada disana,," Sambung Zavier lagi kepada Zoya dan Zoya bisa dilihat saat ini seperti masih kurang percaya dengan penjelasan Zavier mengenai apa yang telah terjadi sesungguhnya.


" Apakah benar seperti itu ?" Tanya Zoya dengan suaranya yang tidak terlalu kuat sehingga membuat Zavier tetap melanjutkan penjelasannya.


" Dan Jimmy aku tidak tahu mereka telah membawanya kemana,," Sambung Zavier lagi yang telah mengakhiri pembicaraannya kepada Zoya.


" Aku tidak percaya atas apa yang telah kau jelaskan ini,," Gumam Zoya dengan suaranya yang terlihat seperti tidak mempercayai ucapan yang disampaikan oleh Zavier. Sehingga membuat Zavier hanya bisa menghela nafasnya saja ketika mendapatkan pernyataan dari Zoya seperti itu.


" Heeeehhhh,," Suara helaan nafas yang terdengar dari mulut Zavier ketika ia mendengarkan pernyataan dari Zoya bahwa Zoya sama sekali tidak mempercayai apa yang telah dijelaskan olehnya dengan pernyataan yang begitu panjang dan juga detail.


Memang benar begitu jelas sekali terlihat bahwa reaksi wajah Zoya ketika mendengarkan pembicaraan Zavier yang menyatakan bahwa ia sama sekali tidak mengetahui dimana keberadaan Jimmy setelah insiden yang telah terjadi itu. Dan Zoya kembali memberikan sebuah pernyataan kepada Zavier hingga membuat Zavier hanya bisa menghela nafasnya.


Karena, usaha Zavier dalam memberikan penjelasan yang terakhir ini mengenai apa yang telah terjadi itu sama sekali tidak pernah mendapatkan sebuah kepercayaan dari Zoya dan Zoya juga masih saja tetap terlihat bahwa penjelasan dari Zavier ini hanyalah sebuah trik semata untuk mengelabuhi dirinya.


****


****


Karena, usaha Zavier dalam memberikan penjelasan yang terakhir ini mengenai apa yang telah terjadi itu sama sekali tidak pernah mendapatkan sebuah kepercayaan dari Zoya dan Zoya juga masih saja tetap terlihat bahwa penjelasan dari Zavier ini hanyalah sebuah trik semata untuk mengelabuhi dirinya.


Oleh sebab itu Zavier hanya bisa memberikan sebuah jawaban yang pasti supaya Zoya tidak lagi memberikan sebuah pernyataan yang dapat membuat kepalanya semakin pusing saat sedang menghadapi Zoya yang begitu keras kepala dan juga bersikeras dengan keputusannya sendiri mengenai hilangnya Jimmy dan tidak ada sama sekali hubungannya dengan Zavier.


" Heeehhh,, sudah aku jelaskan panjang lebar dan detail,," Ucap Zavier sambil menghela nafasnya ketika mendengarkan pernyataan yang baru saja disampaikan oleh Zoya.


" Kau masih tetap tidak percaya,," Sambung Zavier lagi dengan reaksi wajah yang terlihat percuma saja memberikan penjelasan panjang lebar kepada Zoya, jika Zoya masih tetap saja bersikeras untuk tidak dapat mempercayai ucapannya itu.


Karena, merasa percuma saja dengan penjelasannya itu, akhirnya Zavier menyatakan bahwa ia tidak mau tahu apa yang sedang terjadi pada Zoya selanjutnya. Mengenai perihal apa saja yang tengah dipikirkan oleh Zoya terhadap Jimmy yang memang benar adanya bahwa Zavier tidak tahu dimana posisi Jimmy saat ini berada.


Oleh sebab itu akhirnya Zavier menyerah untuk menyampaikan sesuatu penjelasan kepada Zoya, karena, percuma saja memberikan sebuah penjelasan dimana penjelasan itu sama sekali tidak dianggap oleh Zoya dan juga tidak diterima oleh Zoya. Dan akhirnya Zavier menyatakan bahwa ia ingin keluar dari kamarnya Zoya ini untuk tidak lagi memberikan penjelasan apapun kepada orang yang sangat keras kepala seperti Zoya.


Namun ketika Zavier ingin keluar dari kamar tempat menahan Zoya di atas kapal ini tiba-tiba dengan mudahnya Zoya kembali memanggil Zavier dan ia sebenarnya mempercayai semua ucapan Zavier hanya saja ia ingin sebuah pembuktian mengenai semua perihal yang telah dijelaskan oleh Zavier ini padanya.

__ADS_1


Dan, karena melihat serta mendengar langsung bahwa sebenarnya zoya mempercayai ucapan dari penjelasannya itu akhirnya Zavier kembali memberikan sebuah pernyataan ketegasan supaya Zoya bisa benar-benar mempercayai ucapan penjelasannya itu dengan sebuah ucapan pembuktian.


" Heehh ternyata percuma saja aku menjelaskan semuanya dengan sedetail mungkin pada kau,," Gumam Zavier sambil mengulas senyumannya yang terlihat jelas bahwa senyumannya itu menandakan suatu hal yang dilakukannya itu adalah hal yang tidak berguna.


" Dan ujung-ujungnya kau masih tidak percaya dengan semua penjelasan yang aku sampaikan ini,," Ucap Zavier lagi sambil menggerakkan tubuhnya dan beranjak dari tempat duduknya saat ini terlihat bahwa Zavier ingin pergi dari ruangan itu. Karena, hal yang telah dilakukannya itu adalah suatu hal yang sia-sia dan percuma saja.


Jadi saat ini Zavier tengah menggerakkan tubuhnya untuk segera beranjak dari tempat duduknya dan memilih untuk keluar dari kamarnya Zoya. Karena, bagi Zavier percuma saja hal yang telah dilakukannya itu serta sia-sia saja bisa dilihat dari respon Zoya yang menanggapi penjelasannya itu dengan rasa yang tidak percaya.


" Heemm, ya sudah jika kau masih tetap tidak percaya,," Ungkap Zavier dengan wajahnya yang terlihat datar dan beranjak dari tempat duduknya.


" Intinya saat ini aku sudah menjelaskan semuanya pada kau,," Sambung Zavier lagi sambil menoleh ke arah Zoya dengan tatapan mata yang cukup serius.


" Dan terserah kau mau percaya atau tidaknya, karena, aku tidak mau tahu dengan pernyataan yang baru saja kau katakan itu,," Ungkap Zavier lagi dengan penjelasan yang begitu serius dan beranjak melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu untuk segera pergi dari ruangan itu.


Karena, melihat wajah datar yang ditunjukkan oleh Zavier serta nada ucapan Zavier juga terdengar begitu biasa-biasa saja tidak sama seperti awal ia masuk ke dalam kamarnya Zoya. Yang awalnya melarang Zoya untuk menyakiti diri sendiri dan juga memberitahu Zoya mengenai apa yang telah terjadi pada saat penangkapan Zoya dan juga Jimmy tepatnya di dalam area markas besar milik Roserish di Australia.


Oleh sebab itu ketika melihat Zavier yang segera ingin pergi dari kamarnya itu, tentu saja Zoya langsung menghentikan tindakan Zavier yang tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Karena Zoya juga ingin tahu setelah ini apa yang akan dilakukan oleh Alberto padanya. Ya, meskipun ia tahu bahwa tindakannya ini memang jelas salah dan pastinya akan mendapatkan sebuah hukuman tapi Zoya masih tetap saja memberanikan diri untuk mengahadapi semuanya.


" Tunggu !!" Seru Zoya terhadap Zavier ketika melihat Zavier yang melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu dan pastinya akan meninggalkan ruangan kamarnya.


Dan ketika Zoya menyerukan kata tunggu pada Zavier berharap bahwa seruan yang ia lakukan itu dapat menghentikan langkah kaki Zavier yang sedikit lagi sudah sampai ke arah pintu. Zoya kembali berteriak kepada Zavier bahwa ia telah mempercayai semua ucapan yang baru saja dijelaskan oleh Zavier padanya.


" Tunggu, aku percaya padamu,," Seru Zoya lagi yang masih terlihat tengah memanggil Zavier untuk segera kembali dan menjelaskan suatu hal lagi padanya.


Ketika mendengarkan ucapan Zoya yang menyatakan bahwa ia mempercayai ucapan dari keterangan Zavier itu. Tentu saja Zavier sedikit menghentikan langkah kakinya ke arah pintu. Dan ketika langkah kaki Zavier berhenti Zoya merasa cukup lega karena ia telah berhasil mencegah Zavier untuk keluar dari kamarnya.


" Heehh, bukannya kau tidak percaya atas semua penjelasan dari ku ?" Tanya Zavier sambil menghentikan langkahnya dengan posisi tubuh yang tetap membelakangi Zoya.


" Aku percaya,," Jawab Zoya singkat.


" Hanya saja,," Lanjut Zoya lagi dan hal itu semakin membuat Zavier penasaran.


" Hanya saja apa ?" Tanya Zavier berbalik arah menatap langsung Zoya yang ada di hadapannya walaupun agak jauh dari posisinya saat ini.


Ketika Zavier menghentikan langkah kakinya dan memberikan sebuah jawaban pasti pada Zoya. Hal itu membuat Zoya memberikan sebuah jawaban kepada Zavier yaitu jawaban yang pasti juga bahwa ia mempercayai ucapan penjelasan yang baru saja dijelaskan oleh Zavier padanya.


Dan hal itu membuat Zavier sedikit memahami bagaimana sifat yang dimiliki oleh Zoya, bahwa Zoya merupakan seorang perempuan yang memiliki karakter kuat dan teguh dalam berpendapat. Oleh sebab itu, Zoya memang cukup sulit menerima dan mempercayai begitu saja ucapan-ucapan orang meskipun orang itu sudah lama ia kenal dan juga dekat dengannya.


Karena, bagi Zoya tidak ada orang yang patut dipercayainya lagi kecuali hanyalah insting dari dirinya sendiri. Meskipun Zoya memiliki sebuah pemikiran dengan karakteristik yang begitu kuat hal itu tidak membuat Zavier gentar memberikan sebuah penjelasan pada Zoya meskipun penjelasannya itu tidak akan mudah untuk diterima begitu saja oleh Zoya.


" Hanya saja aku ingin tahu lagi mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi ?" Tanya Zoya kepada Zavier hingga membuat Zavier bingung atas pertanyaannya itu.


Tentu saja Zavier bingung tentang apa yang jadi pertanyaan dari Zoya saat ini bukankah Zavier sendiri sudah memberitahukan masalah ini dengan jelas mengenai apa yang telah terjadi, tapi, kenapa Zoya kembali menghentikan langkahnya dan sengaja seolah-olah tidak mengerti dengan apa yang telah ia jelaskan secara detail itu.


Sambil menghela nafasnya Zavier kembali menolehkan kepalanya ke arah pintu dan berkata sendiri di dalam hati menanyakan pendapat dari pemikirannya sendiri mengenai apa yang telah ditanyakan kembali oleh Zoya padanya itu.


Apakah Zoya ini dengan sengaja menghentikan langkahnya hanya untuk sekedar mengetahui semua keadaan yang telah terjadi ?


Ataukah memang benar Zoya ini belum mengerti dengan penjelasan yang baru saja disampaikan oleh Zavier padanya ?


Ataukah Zoya meminta Zavier kembali untuk menjelaskan lagi secara rinci kejadian yang telah terjadi itu padahal Zavier sendiri sudah menjelaskannya secara detail ?


Entahlah yang pastinya saat ini Zoya ingin Zavier kembali untuk menjelaskan apa saja yang telah terjadi di saat ia ditahan di ruang penahanan tepatnya di markas rahasia milik Roserish saat di Australia.


" Apakah wanita ini sedang mempermainkan aku seolah tidak mengerti dengan semua penjelasan yang aku sampaikan,," Gumam Zavier di dalam hatinya ketika selesai mendengarkan ucapan Zoya yang tengah mencegahnya untuk keluar dari kamar.


" Apakah ia memang belum memahami semua penjelasan dari ku ?" Tanya Zavier sendiri di dalam hatinya sambil mengingat kembali semua yang telah dijelaskannya pada Zoya.


Karena, sudah cukup mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai apa saja yang telah dijelaskannya pada Zoya dan kemungkinan besar memang Zoya belum memahami apa yang telah ia jelaskan itu. Oleh sebab itu, sambil menghela nafasnya yang terdengar cukup panjang, akhirnya Zavier kembali memundurkan langkahnya untuk mendekati Zoya dan kembali ke tempatnya semula.


" Huuuhhh, lebih baik aku kembali saja,," Gumam Zavier sambil kembali melangkahkan kakinya menuju ke tempatnya semula.


" Dan mendengarkan kembali apa yang ingin ditanyakan olehnya,," Ucap Zavier yang saat ini sudah kembali ke tempatnya semula.


Dimana posisi awal Zavier adalah tengah duduk di hadapan Zoya yang sedang duduk meringkuk di atas lantai sudut kamarnya itu sambil menangis dan selalu menyebutkan nama Jimmy. Ketika melihat Zoya yang tengah menangis tersedu-sedu sambil menyebutkan nama Jimmy hal itu membuat Zavier hanya bisa menghela nafasnya saja.


Karena, bagi Zavier apa yang telah dilakukan oleh Zoya saat ini tidaklah terlalu penting hanya sekedar membuang-buang waktu saja, oleh sebab itu, Zavier lebih memilih untuk diam tidak melakukan tindakan apapun sambil melihat Zoya yang tengah menangisi kepergian Jimmy yang terjadi di depan matanya sendiri.


Zavier ingin sekali memberikan sebuah solusi ketenangan untuk Zoya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihannya yang selalu memikirkan kepergian Jimmy, namun, hal itu tidak jadi Zavier lakukan karena, jika Zavier memberikan solusi ataupun pendapat pastinya Zoya akan merasa curiga lagi padanya. Seolah memang benar bahwa selama di dalam markas besar milik Roserish itu Zavier mengetahui apa yang telah terjadi.


Dan menyimpannya sebagai sebuah rahasia besar dan juga rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Zoya. Saat ini Zavier sedang diterpa rasa kebingungan mengenai kepergian Jimmy yang memang ia tidak ketahui dimana keberadaan Jimmy saat ini. Antara dilema yang terjadi untuk memberikan sebuah keyakinan pada Zoya namun hal itu tidak membuat Zavier gentar menghadapi Zoya yang sama sekali tidak mempercayai semua ucapan dari penjelasannya itu.


" Heehhh, masih saja menangisi orang yang sudah tidak ada,," Gumam Zavier dalam hatinya ketika melihat Zoya yang sedang menangis sambil menyebutkan nama Jimmy.


" Memangnya aku dipanggil kesini hanya untuk menemaninya menangis,," Umpat Zavier yang tengah duduk di hadapan Zoya seperti keadaan semula.


Sebenarnya tidak ada di dalam kamus kehidupan Zavier untuk menemani seorang wanita menangis sesenggukan seperti apa yang dilihatnya saat ini. Tapi apa mau dikata, di dalam keadaan yang tidak begitu memungkinkan seperti saat ini. Jadi, Zavier hanya bisa menerima kenyataan yang ada di hadapannya sekarang, karena, tidak mungkin jika Zavier ingin memberikan sebuah perkataan agar bisa membuat Zoya menghentikan tangisannya.


" Heemmm, lebih baik aku diam saja, menjadi pendengar setia dia saat ia sedang menangis,," Gumam Zavier dengan suaranya yang tidak terlalu kuat sehingga membuat Zoya tidak mendengarkan ucapan Zavier itu.


Namun, percuma saja jika Zavier menyampaikan sesuatu kata-kata dengan tujuan agar bisa membuat Zoya menghentikan tangisannya, karena, Zavier tahu pasti akan ada lagi kata-kata sanggahan yang dilontarkan oleh Zoya pada dirinya.


Dengan kondisi saat ini Zavier lebih memilih tenang untuk tidak melakukan tindakan apapun dan juga tidak mengeluarkan komentar apapun. Dan posisi yang terbaik adalah mendengarkan Zoya menangisi kepergian Jimmy meskipun hal itu tidak disukai oleh Zavier.


" Heehhh, hanya karena, dia masih memiliki sebuah perasaan yang baik saja aku masih bersedia mematung di tempat ini,," Umpat Zavier sambil menghela nafasnya ketika melihat Zoya yang masih menangis itu.


" Jika tidak, aku tidak akan mau menjelaskan semuanya pada dia,," Gumam Zavier lagi merasa tidak nyaman akan keadaan yang tengah terjadi di hadapannya itu.


" Untuk apa aku menunggunya seperti ini, heemm," Celetuk Zavier yang suaranya cukup terdengar oleh Zoya.


Ucapan terakhir yang diucapkan oleh Zavier yang menyatakan bahwa hal yang sedang dilakukannya saat ini adalah suatu hal yang begitu menghabiskan waktunya, sehingga membuat Zoya yang mendengar ucapannya itu seketika langsung menghentikan tangisannya dan menoleh ke arah Zavier dengan tatapan mata yang penuh tanya.


" Apa yang kau katakan ?" Tanya Zoya pada Zavier dengan seketika tangisannya ia hentikan.


Sehingga membuat Zavier merasa aneh dengan kelakuan Zoya yang selalu berubah-ubah ini. Karena, tidak mau terlihat oleh Zoya atas dirinya yang merasakan suatu kejanggalan mengenai tatapan mata Zoya terhadapnya itu akhirnya Zavier memalingkan wajahnya menoleh ke arah lain dan seolah tidak mengetahui apa yang tengah dilakukan oleh Zoya.


" Haahh Apa ?" Tanya Zavier balik pada Zoya seolah ia tidak melihat kelakuan Zoya yang tengah menangisi kepergian Jimmy.


Bukannya menjawab langsung pertanyaan Zoya yang bisa mendengarkan semua umpatannya itu, Zavier malah seolah tidak mengucapkan perkataan apapun di hadapan Zoya dan seolah tidak sedang terjadi apa-apa. Sehingga dengan mudahnya Zavier mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika Zoya berhasil menangkap sedikit umpatannya itu. Padahal sebenarnya Zavier sungguh merasa tidak nyaman ketika harus menghadapi seorang wanita seperti Zoya yang sedang menangis itu.


****


Karena, melihat Alberto mengabaikan ucapannya itu akhirnya Vena meletakkan ponsel Alberto ke atas meja di dekat tempat tidur. Dan Vena berinisiatif untuk segera mencari sesuatu hal agar bisa menyadarkan Ziya dari pingsannya itu. Ya meskipun masih ada Alberto Vena sama sekali tidak takut jika nantinya tindakan yang akan dilakukannya itu dicegah oleh Alberto.


Lalu, saat Vena ingin membalikkan badannya dan melangkah keluar, saat itu juga, Alberto mencegah langkah kaki Vena.


" Mau kemana, kau,," Bentak Alberto kepada Vena membuat Vena menghentikan langkah kakinya.


Vena pun berbalik menghadap tepat di depan Alberto.


" Ma, ma,, maaf Tuan,, saya mau mengambil air hangat untuk membersihkan luka di tubuh Nyonya,," Bilang Vena yang ternyata ingin mengambil air hangat untuk membersihkan luka di tubuh Ziya sementara Daniel belum datang.


Karena, mendengar ucapan Vena yang berinisiatif untuk mengambil air hangat itu membuat Alberto mengizinkan Vena untuk segera cepat mengambilnya.


" Cepat, lakukan,, dalam waktu dua menit, kau harus sampai disini lagi,," Bilang Alberto yang membuat Vena segera berlari keluar.


" Ba,, baik Tuan,," Ucapan Vena dengan segera melesat keluar dan berlari dengan langkah kaki yang begitu besar.


Karena, waktu yang diberikan oleh Alberto begitu singkat sekali, menyebabkan Vena kelabakan berlari menuju ke bagian dapur yang begitu jauh dari kamar Alberto saat ini.


Karena, sekarang tidak ada lagi di kamar, membuat Alberto segera mengambil baju Ziya yang telah robek dan mengelap lembut bibir Ziya yang telah mengeluarkan darah karena, pukul-an dari laki-laki yang tidak dikenal itu.


" Maafkan aku, maafkan aku, yang telah menyakiti dirimu,," Ucap Alberto yang menatap wajah cantik Ziya penuh dengan lebam kebiruan akibat pukul-an tadi.


Membuat Alberto merasa begitu bersalah akan sikapnya yang telah menyakiti Ziya selama ini.


" Jika kau sadar, tolong jangan meminta untuk pergi dari kehidupanku,," Ucap Alberto yang mengelap lembut bibir Ziya saat ini.


Sambil mengelap lembut bibir itu, Alberto tanpa sengaja mengusap lembut pipi Ziya dengan penuh kasih sayang dan mengecup pipi Ziya, mata Ziya yang saat ini berlinang air mata. Ziya sama sekali tidak merasakan apa-apa yang dilakukan oleh Alberto saat ini.


Apakah saat Ziya sadar, Ziya akan menuruti semua keinginan Alberto,?


Apakah setelah sadar Ziya akan memaafkan Alberto.?


Entahlah, karena sebelum terjadi kejadian ini Alberto telah tega melakukan tindak kasar pada dirinya beserta perasaannya.


***


Zoya yang kembali ke kamarnya dengan wajah sedikit khawatir itu, membuat Jimmy yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Zoya dengan wajah ekspresi yang begitu cemas. Segera mendekati Zoya yang masih bersandar di balik pintu, dengan wajah yang bertanya-tanya.


" Ada apa, Baby,," Tanya Jimmy yang mendekati tubuh Zoya.


" Hah! Tidak apa-apa,," Jawab Zoya yang menghilangkan kecemasan di wajahnya dan sengaja tersenyum dibuat di depan wajah Jimmy.


" Oohh,," Ucap Jimmy mengangguk, karena, Jimmy berpikir mungkin Zoya sedang tidak ingin mengatakan sesuatu padanya.


Lalu, Jimmy membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju ke sebuah lemari pakaiannya. Sekilas tubuhnya berbalik arah menghadap Zoya lagi dan pastinya membuat Zoya kaget.


" Kamu, tidak bohong Baby, kalau kamu lagi ada suatu masalah," Tanya Jimmy yang tubuhnya segera berbalik ke arah Zoya.


" No,, I said No," Jawab Zoya yang kaget melihat Jimmy berbalik ke arahnya dengan suara yang sedikit meninggi membuat Jimmy merasa bahwa Zoya yang kaget itu marah atas sikap Jimmy yang terlalu menyelidiki dirinya.


" Ooohhh,, Came on Baby,, Calm down,, I'm so sorry,," Ucap Jimmy yang segera membujuk Zoya.


" Yeah,, Never mind,," Ucap Zoya yang kembali duduk di sofa dekat tempat tidur.


Sementara, Jimmy mendekati Zoya dan memegang dagu Zoya, bermaksud menanyakan sesuatu kepada Zoya, kenapa sepertinya Zoya sangat kaget dan marah atas sikap pertanyaannya itu.


" Ada apa, Baby,, Heemm,," Tanya Jimmy dengan suara lembutnya.


" Tidak apa-apa,, aku hanya heran saja kenapa, hari ini ada pelayan baru di mansion mu,," Tanya Zoya yang akhirnya menanyakan siapa saja pelayan baru di mansion nya itu.


Jimmy juga merasa heran, dirinya saja yang tidak mengetahui apa yang dimaksud Zoya saat ini.


" Pelayan,, maksudnya.?" Tanya Jimmy yang penasaran dengan pembicaraan Zoya.


Zoya merasa apakah Jimmy ini pura-pura penasaran atau pura-pura membohonginya.


" Kau, pura-pura penasaran atau,,?" Tanya Zoya menyelidik wajah Jimmy.


Karena, mendengar ucapan Zoya yang terdengar menyelidik itu membuat Jimmy yang memang tidak tahu apa-apa akhirnya melembutkan suaranya dan mengalah, daripada harus bertengkar dengan Zoya dan kehilangan dirinya.


" Baby,, aku memang tidak tahu apa-apa, memangnya aku mengurus masalah pelayan baru atau lama di mansion ini." Tanya Jimmy yang mengedipkan matanya pada Zoya.


Mendengar ucapan Jimmy yang melembut itu membuat Zoya merasa bahwa dirinya terlalu menyelidik Jimmy yang memang benar tidak tahu apa-apa.


" Heemm,, Benar juga,, I'm so sorry Jim,," Ucap Zoya yang merasa terlalu menyelidiki Jimmy.


" Yeah,, Never Mind, Baby,," Jawab Jimmy yang tersenyum kepada Zoya.


Karena, melihat Jimmy yang masih memakai handuknya itu, membuat Zoya mengingatkan Jimmy untuk segera memakai bajunya.


" Pakai bajumu, katanya mau mengajakku pergi,," Ucap Zoya yang manja pada Jimmy.


" Ok, Baby,," Jawab Jimmy yang segera melangkahkan kaki menuju lemari pakaiannya.


Jimmy pun mengganti pakaiannya, sesaat Zoya yang masih bingung dan penasaran siapa pelayan baru yang berjumlah lima orang di mansion Jimmy ini. Walaupun Zoya, merasa penasaran tapi, Zoya ingin menghindari perasaan penasarannya itu pada apa yang ada di pikirannya saat ini.


***


" Akan aku lacak dia melalui CCTV yang tersembunyi,," Ucap Alberto yang tidak terlalu pusing karena tidak bisa menangkap orang yang telah berani masuk ke dalam kamarnya itu.


" Walaupun dia dengan beraninya menghancurkan semua sistem CCTV di atas, tapi dia tidak tahu betapa pintarnya Alberto,, Kau salah, friends,, telah berani-beraninya berhadapan dengan Alberto. Dan telah berani mengganggu bidadari milik Alberto." Ucap Alberto yang menyunggingkan senyumannya.


Alberto tersenyum senang, karena memang dirinya melihat semua CCTV yang berada di atas sudut kamar sengaja dihancurkan oleh orang yang telah berani masuk ke dalam kamarnya itu dan mengganggu serta mencelakakan Zoya.


Namanya juga mafia handal, banyak trik dan tak tik yang ia miliki serta pastinya banyak kode yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh orang yang telah berani mengelabuinya itu. Alberto memang sengaja tidak mengejar orang yang telah berhasil kabur dari kamarnya itu, walaupun pengawalnya tidak mendapatkan hasil sedikitpun. Namun Alberto bisa tersenyum lega karena, pikirannya telah kembali tenang seperti ini, menyebabkan kepintarannya terhadap pelacakan itu kembali pulih.


Sesaat Alberto yang memeluk Ziya ingin memindahkan posisinya itu, tapi ternyata Alberto menyentuh pecahan kristal yang bertebaran di tempat tidurnya.


" Pecahan kristal,," Ucap Alberto yang mengambil satu persatu pecahan kristal.


Dan saat itu Alberto membuka selimut yang ia pakaikan untuk menutup tubuh Ziya. Dalam jangka waktu yang cepat mata Alberto melihat pecahan kaca yang masih ada darahnya.


" Darah,," Ucap Alberto yang melihat darah segar yang masih cair dan belum membeku itu membuat Alberto tersenyum mendapatkan bukti yang otentik.


Yaitu Darah !!


Alberto masih menelusuri tubuh Ziya apakah tubuh Ziya di bagian lain terluka, dari atas hingga ke bagian kaki Ziya tidak ada luka yang mengeluarkan darah segar seperti ini.


Lalu, Alberto meneliti dada Ziya yang telah digigit oleh lelaki itu menyebabkan Alberto marah besar.


" Damn it,, berani-beraninya dia menggigit Ziya seperti ini,," Ucap Alberto yang ingin membersihkan luka gigitan yang masih ada air liurnya itu.


Sesaat pikiran Alberto kembali fokus terhadap gigitan itu. Alberto melihat ada sedikit air liur yang membekas pada gigitan itu. Lalu, Alberto teringat akan air liur merupakan bukti otentik.


" Air liur,," Ucap Alberto yang segera mengambil air liur itu menggunakan pecahan kristal yang tidak tajam apabila tersentuh pada tubuh Ziya.


" Bukti otentik,," Ucap Alberto yang mengira bahwa air liur itu tidak mungkin air liur Ziya.


Pasti itu adalah air liur laki-laki itu, pikir Alberto sambil tersenyum puas.


Karena melihat di tempat tidurnya saat ini hancur lebur membuat Alberto menggendong tubuh Ziya dan memindahkan Ziya ke sofa yang berada tidak terlalu jauh dari tempat tidur.


Dan, tanpa bantuan pelayan, Alberto sendiri yang membersihkan tempat tidurnya saat ini. Karena, ia tidak mau kehilangan bukti yang ada di seluruh tempat tidurnya itu. Setelah mengambil semua barang-barang seperti pecahan kaca, robekan baju Ziya dikumpulkan menjadi satu dalam seprai yang ia jadikan sebagai tempat barang bukti.


Lalu, Alberto kembali melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana ia meletakkan Ziya dan segera menggendongnya lagi. Alberto kembali meletakkan Ziya ke atas tempat tidur yang mana dipangku oleh dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, dalam waktu kurang dari dua menit, Vena yang mengambil air hangat dari dapur dengan berlari cepat menuju ke kamar Alberto, dan segera mendekati tubuh Ziya yang telah digendong oleh Alberto.


" Ma, ma, maaf Tuan,, ini airnya." Ucap Vena yang terbata-bata meletakkan air hangat di atas meja dekat tempat tidur.


Dengan suara dinginnya, Alberto mengangguk dan mempersilahkan Vena untuk sementara mengobati luka yang ada di tubuh Ziya.


" Ya sudah lakukan,," Ucap Alberto yang memberi kesempatan lagi pada Vena.


" Ba, baik Tuan,," Ucap Vena yang segera melakukan tugasnya sebagai seorang perawat.


" Ma, maaf Nyonya,," Ucap Vena yang mulai melakukan tugasnya untuk membersihkan luka Ziya.


Vena tidak pernah lupa bagaimana caranya melakukan pembersihan luka yang terjadi pada pasiennya, apalagi pasiennya ink merupakan majikannya sendiri. Alberto yang tetap di samping Ziya, melihat keadaan Ziya yang masih belum sadarkan dirinya, membuat Vena pelan-pelan untuk membersihkan wajah Ziya karena luka yang diakibatkan oleh orang yang telah mencelakakan majikannya ini.


" Pelan-pelan,," Ucap Alberto yang merasa dirinya juga terasa sakit pada luka yang terjadi pada tubuh Ziya.


" Baik, Tuan,," Ucap Vena yang sangat lembut sekali membersihkan luka di wajah Ziya.


Setelah membersihkan luka di wajah Ziya, Vena segera membersihkan luka yang ada di bagian dada Ziya. Menyebabkan Vena sendiri meringis melihat luka gigitan tersebut.


" Maaf,, Nyonya,," Ucap Vena yang meringis sendiri itu.


Dengan sentuhan yang sangat lembut itu Vena segera membersihkan luka itu memakai air hangat yang telah disiapkannya. Vena juga melihat bahwa di luka itu terdapat seperti lendir air liur. Lalu Vena dengan segera berkata kepada Alberto ada air liur yang terdapat di luka, itu merupakan sebuah bukti yang bisa didapatkan dari pelaku yang telah melakukan kejahatan pada Ziya.


" Tu,, Tu, Tuan,, di luka Nyonya, ada bukti,," Ucap Vena yang terbata-bata melaporkan apa yang telah dilihatnya sekarang.


Alberto yang mendengar ucapan Vena mengatakan ada bukti segera menatap apa maksud dari Vena.


" Bukti, apa,,?" Tanya Alberto yang sedikit memperjelas matanya.


" Ini Tuan,," Tunjuk Vena pada luka yang masih ada air liurnya itu.


Alberto melihat air liur yang telah dirinya ambilkan terlebih dahulu, membuat dirinya membiarkan Vena untuk membersihkan seluruh tubuh Ziya saat ini.


" Sudah aku dapatkan,," Ucap Alberto singkat.


" Lanjutkan bersihin lukanya,," Ucap Alberto yang memerintahkan lagi Vena saat itu.


" Oh, baik Tuan." Ucap Vena yang mengangguk.


Lalu, sesaat Vena ingin membersihkan luka itu, Vena dengan segera mengambil plastik kecil steril tempat obat dan segera mengambil air liur itu sebagai bukti, walaupun Alberto sendiri sudah mengambilnya.


" Kenapa kau mengambilnya,," Tanya Alberto yang melihat kelakuan Vena ikut merasa marah terhadap orang yang telah memperlakukan kasar pada majikannya ini.


" Aku ingin Tuan mendapatkannya,," Ucap Vena yang meneteskan air matanya.


Lalu, memberikan bungkusan kecil yang sangat sedikit terisi air liur kepada Alberto. Alberto menolaknya karena, Alberto merasa Vena juga simpati pada Ziya. Sehingga membuat Alberto kembali percaya pada Vena saat ini untuk menjadi pelayan pribadi Ziya.


" Tidak perlu, kau yang simpan," Ucap Alberto pada Vena.


" Tapi, Tuan,," Ucap Vena yang masih mengulurkan tangannya memberikan kantong plastik pada Alberto.


" Kau simpan dan pasti akan aku pinta darimu,," Ucap Alberto yang berbicara pada Vena.


Vena mengerti atas ucapan Alberto untuk dirinya, bahwa Alberto ingin dirinya menyimpan bukti itu juga.


" Baik, Tuan,," Ucap Vena mengangguk segera menyimpan kantong plastik yang berisi sebuah bukti.


Setelah menyimpan barang bukti di dalam kantong pakaiannya, Vena melihat tubuh Ziya yang polos itu membuat dirinya segera meminta izin kepada Alberto untuk segera memasangkan pakaian Ziya.


" Tuan, apakah saya boleh memakaikan baju Nyonya,," Ucap Vena yang meminta izin dari Alberto.


Vena selalu minta izin terlebih dahulu, karena dirinya merasa bersalah tidak bisa melindungi Ziya dan menemani Ziya yang berada sendirian di kamar Alberto ini.


" Ya, pakaikan,," Ucap Alberto segera berdiri dari tempat duduknya yang masih memangku tubuh Ziya itu.


Vena yang diperbolehkan untuk memakai baju Ziya, segera melangkah ke ruangan Alberto yang satunya yang berisi semua pakaian Ziya. Setelah mendapatkan pakaian untuk Ziya, Vena segera memakaikan baju itu pada tubuh Ziya.


Sementara itu, Alberto segera berdiri yang sedari tadi memangku tubuh Ziya.


***


Sementara itu, Daniel yang telah dihubungi oleh Alberto, menyebabkan dirinya segera terbang melesat ke kediaman Alberto saat ini juga, ya, walaupun saat ini Daniel masih dalam waktunya di rumah sakit. Tapi, karena permintaan dari temannya yaitu Alberto menyebabkan dirinya harus segera kesana.


Daniel yang sangat cepat sekali sampai ke kediaman Alberto segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah menaiki tangga dan langsung menuju ke arah kamar Alberto.


Alberto yang sudah tidak sabar lagi menunggu lama Daniel datang membuat dirinya segera menelepon Daniel lagi.


Telepon Alberto segera diangkat oleh Daniel yang sedang berlari kecil menaiki tangga itu.


" Kamu, dimana kenapa lama sekali,," Teriak Alberto dengan nada suara yang tinggi mengagetkan telinga Daniel saat ini.


" Aku sudah sampai, dan sekarang tepat di depan kamarmu,," Ucap Daniel yang memberitahu keadaan dirinya.


Sesaat Alberto melihat Daniel telah muncul di balik pintu kamarnya. Dengan berlari kecil, Daniel segera naik ke tempat tidur mengeluarkan semua alat-alat untuk memeriksa kondisi Ziya.


Walaupun tubuh Ziya saat ini sudah rapi, tapi, Daniel merasa ada hal yang aneh pasti terjadi pada Ziya.


" Memangnya apa yang terjadi,?" Tanya Daniel yang mendengar detak jantung Ziya yang begitu lemah.


" Suatu hal terjadi," Ucap Alberto singkat menjelaskan rincian kepada Daniel.


" Jantungnya lemah dan nafasnya juga lemah, segera berikan dia nafas buatan, semenjak kapan ini terjadi,," Tanya Daniel yang membuat Alberto panik seketika.


" Haah! Apa yang kau katakan,, nafasnya lemah,," Bilang Alberto yang segera mendekati Ziya.


" Sedari tadi, kau tidak berikan oksigen nafas buatan padanya,," Ucap Daniel yang menatap Alberto.


Dengan segera Alberto memberikan nafas buatan pada Ziya tanpa mendengarkan perkataan dari Daniel saat ini.


UUHHHUK


Suara Ziya yang terdengar keluar dari mulutnya.


Heeeeehhhh,,


Suara nafas Ziya yang sudah tertarik kembali.


" Oohh God,, Thanks,," Ucap Alberto yang melihat Ziya kembali bernafas dengan normal.


Alberto yang merasa lega, ternyata Ziya lemah karena, nafasnya yang telah melemah itu. Kemungkinan, karena panik dan cemas membuat Alberto lupa akan diri Ziya yang tadinya pingsan karena, efek nafasnya yang melemah.


Daniel segera mencatat resep yang diperlukan oleh Ziya saat ini. Lalu, memberikannya pada Vena yang berdiri di samping Ziya.


" Dapatkan semuanya,," Ucap Daniel yang memberikan secarik kertas resep kepada Vena.


" Baik Tuan,, Ucap Vena yang segera mengambil kertas dan melangkah keluar.


Saat Vena telah keluar, Daniel kembali bertanya kepada Alberto sebenarnya apa yang telah terjadi pada Ziya, Daniel melihat saat ia sampai di tempat Alberto semua pengawal Alberto sedang mengejar sesuatu.


Tapi, Daniel tidak ikut campur dalam urusan pengawal Alberto, saat ini yang terpenting baginya memeriksa keadaan Ziya sesegera mungkin.


****


Setelah merasa aman Daniel mulai bertanya kepada Alberto yang masih duduk di samping Ziya. Karena, merasa penasaran, tidak mungkin terjadi hal yang mengenaskan bagi Ziya saat ini, karena, dirinya saja sedang berada di dalam kamar pribadi Alberto. Apabila Ziya sedang berada di luar ruangan kamar Alberto atau berada di kamarnya sendiri, kemungkinan bisa muncul kejadian yang sangat mengenaskan seperti ini.


" Memangnya apa yang terjadi,?" Tanya Daniel yang begitu penasaran terlihat dari raut wajahnya saat ini.


Alberto juga menyesali akan sikap dirinya yang begitu kasar pada Ziya, sebelum kejadian yang mengenaskan menimpa Ziya setelah tindakan yang dilakukannya itu.


" Seseorang yang telah berani masuk ke dalam kamar ini hanya dengan menggunakan jendela itu." Ucap Alberto yang menunjukkan jendela kecil yang tepat sekali tidak ada sedikitpun kecurigaan pada jendela itu.


" Bukannya kau, telah meletakkan pengaman semuanya di kamar ini,," Tanya Daniel yang begitu yakin bahwa kamar Alberto tidak mungkin kemasukan orang yang tidak dikenal begitu saja.


" Ya, memang benar, tapi bodohnya orang itu, meninggalkan semua jejak bukti di kamar ini,," Ucap Alberto yang tersenyum sinis merasa dirinya menang, karena, telah mengumpulkan bukti yang otentik sebelum Daniel tiba di kamar ini.


Daniel semakin penasaran dengan ucapan Alberto yang mengatakan telah mengumpulkan bukti.


" Maksudnya, bukti,," Tanya Daniel penasaran.


" Kau akan tahu, setelah aku memeriksakannya, Dude,," Ucap Alberto yang tersenyum ringan.


" Heh,,! Ok Dude,, kau orang terbaik yang selama ini aku tahu,," Bilang Daniel yang memuji kepintaran Alberto.

__ADS_1


" Yeah,, aku sengaja tidak menangkapnya secara langsung, karena, aku ingin tahu, dia bekerja sama dengan siapa saja,," Ucap Alberto dengan tatapan tajam.


Walaupun, Alberto sengaja tidak menangkap hidup-hidup orang itu, Alberto ingin mengetahui siapa orang yang dibalik ini semua menjadi otak dalam perencanaan keji ini. Apabila, tertangkap dengan segera, kemungkinan orang itu akan segera bunuh diri dan menghilangkan semua bukti kuat untuk membuka tabir rahasia yang selama ini Alberto ingin cari tahu.


Tapi, Daniel merasa bahwa perbuatan Alberto yang tidak mendapatkan orang itu merasa kesal, karena, telah mengganggu keamanan dan keselamatan Ziya. Walaupun, Daniel selalu setia dan jujur kepada Alberto, tapi niat dalam hati Daniel juga sedang melacak siapa sebenarnya Ziya, apakah dia benar hanya kembarannya Zoya atau dia benar-benar Zoya.


Sedangkan, Daniel tahu sebenarnya Zoya juga sedang pergi bersama kekasih gelapnya di luar negeri sana. Yang Daniel kesalkan pada sikap Alberto adalah sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, walaupun Daniel tahu, bahwa Alberto orang yang hebat, tapi masih saja membuat Daniel kesal dan merasa kecewa akan sikap Alberto itu.


" Jadi, kau melepaskannya begitu saja,," Tanya Daniel yang ekspresi wajahnya begitu kesal.


" Tidak juga,, aku telah berkelahi dengannya dan aku juga telah menembak tepat di punggung, kaki, dan karena tidak tembus sedikitpun aku memilih kepalanya menjadi sasaran, tapi ternyata, kau lihat itu,," Ucap Alberto yang menunjukkan peluru pistol milik Alberto telah tembus di atas dinding.


Tentu saja membuat Daniel kaget, karena, pastinya orang itu telah berencana yang matang untuk melakukan hal ini pada Ziya. Karena, ia menunggu kesempatan saat Alberto sedang tidak berada di rumah dan menunggu kesempatan Ziya yang selalu berada di kamar Alberto. Padahal sebenarnya orang itu tahu bagaimana sistem keamanan yang telah dipasang oleh Alberto di kamarnya ini.


" Apakah dia memakai semua pengaman juga di tubuhnya,," Tanya Daniel yang begitu serius ekspresi di wajahnya.


" Yeah,, that's right,,," Ucap Alberto mengangguk.


Daniel pun menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Alberto saat mengatakan bahwa memang benar orang tersebut telah memakai pengaman di semua tubuhnya termasuk kepalanya.


" Sepertinya, dia ingin menjadi mafia seperti dirimu juga, Alberto," Ucap Daniel yang membuat Alberto sedikit menaikkan bibirnya.


Alberto yang mendengarkan ucapan Daniel mengatakan orang tersebut ingin menjadi mafia seperti dirinya. Tapi, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan diri Alberto. Alberto seorang mafia yang memiliki banyak bisnis terbaik di dunia tanpa sedikitpun melukai orang seperti yang dilakukan orang itu pada Ziya.


Hanya mampu menyelinap masuk ke dalam kamar pribadi Alberto, saat kamarnya Alberto lengah dari sistem pengaman. Dan, sengaja datang dengan tujuan memperkosa Ziya. Itu bukan seorang mafia seperti dirinya, Alberto tidak akan mungkin melakukan hal busuk seperti memperkosa wanita yang sedang lemah seperti Ziya. Apabila Alberto menginginkan wanita, pastinya wanita itu sendiri yang rela memberikan tubuhnya pada dirinya.


Seorang penjahat yang tujuannya hanya melecehkan seorang wanita tidak bisa disebutkan sebagai seorang mafia. Karena, seorang Mafia yang memiliki jabatan dan jaringan besar tidak mungkin melakukan sesuatu hal busuk seperti yang telah dilakukan oleh orang tersebut pada Ziya.


Kalau penjahat kelas kecil kebanyakan seperti itu, ya.


Tahu nya cuma, mencuri, memperkosa, membunuh, dan pastinya korupsi, Nah itu, merupakan penjahat kelas kecil yang bodoh dalam melakukan hal kejahatan.


Mungkin mereka tidak punya otak kali, ya, karena, cuma bisa berpikir sebatas itu saja. Tanpa memikirkan sebab dan akibat setelahnya.


" Heh !! Kau salah, kau tidak bisa membandingkan dirinya dengan diriku, hanya sebatas itu saja kemampuan yang dia gunakan." Ucap Alberto di dalam kamarnya yang masih menjelaskan keadaan kejadian yang terjadi pada Ziya.


" Aku cuma bercanda,," Ucap Daniel tersenyum ringan.


Lalu, Alberto kembali menanyakan tentang keadaan Ziya, yang telah tertidur pulas karena, Daniel telah memasang semua alat-alat kesehatan pada tubuh Ziya, seperti infus yang cairannya telah mengalir di dalam tubuh Ziya. Dan, Daniel juga telah menyuntikkan Ziya dengan obat penenang dan penghilang rasa sakit pada tubuh Ziya saat ini.


" Bagaimana dengan keadaannya,," Tanya Alberto yang sengaja kembali duduk di samping Ziya.


" Menurutku, seharusnya kau menjadikan dia layaknya seorang istri dan seorang Nyonya yang sebenarnya bagi dirimu, Dude,," Ucap Daniel yang menjelaskan hal lain pada Alberto membuat Alberto mendengus mendengarkan ucapan Daniel saat ini.


" Huuhh,, Aku sudah bilang kalau aku ingin mencari tahu apa sebenarnya maksud dia yang telah masuk dalam kehidupanku,," Bilang Alberto yang masih saja penasaran dengan kehadiran Ziya dalam hidupnya saat ini.


Daniel tersenyum sinis saat jawaban Alberto hanya seperti itu itu saja membuat Daniel mendengus kesal pada sikap Alberto yang terlalu mengulurkan waktu dalam menyelesaikan dan menyelidiki masalah Ziya dan Zoya yang sebenarnya.


" Selalu itu saja jawabanmu,, baiklah, kalau begitu aku pergi,," Ucap Daniel yang merasa bahwa dirinya juga mengikuti langkah Alberto yang mengulur waktu dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada Ziya.


" Yeah, thanks Dude," Ucap Alberto tersenyum.


" Yah,, kalau terjadi apa-apa lagi dengannya, cepat panggil aku,, aku akan segera datang." Bilang Daniel yang tersenyum nakal pada Alberto.


" Dasar kau,," Ucap Alberto yang menatap wajah Daniel dengan tatapan tajam.


" Hehehehe,, Sorry Dude,, Ok Bye,," Ucap Daniel yang terkekeh mendengar ucapan Alberto yang seakan tidak rela bahwa Ziyanya itu disentuh oleh lelaki lain.


Ya, Walaupun Daniel menyentuh Ziya tapi, sentuhan itu hanya sentuhan dari seorang dokter kepada pasiennya yang sedang memeriksa keadaan pasiennya. Jadi, Daniel sama sekali tidak bisa memeriksa siapa Ziya sebenarnya. Karena, ia belum pernah melihat mata Ziya aslinya saat Ziya sedang sadar atau saat Ziya membuka matanya.


Yang Daniel dapatkan hanyalah sorot mata Ziya yang tertidur lemah dan hanya dalam keadaan sakit.


" Jaga dia baik-baik,," Ucap Daniel yang memberi pesan kepada Alberto.


Alberto hanya mengangguk dan melihat bahwa Daniel telah melangkah keluar dari kamarnya saat ini.


Vena yang telah kembali dari luar membawakan semua keperluan yang telah dibuat oleh Daniel khusus untuk Ziya. Tak sengaja bertemu dengan Daniel yang ingin keluar dari kamar Alberto itu. Vena pun menyapa Daniel bagaimana dengan semua obat yang dibutuhkan oleh Ziya ini.


" Tuan Daniel, sudah mau pulang." Tanya Vena yang menyapa Daniel saat itu.


" Yeah,," Jawab Daniel yang melewatkan panggilan Vena, karena Daniel juga lupa akan resep yang ia buatkan itu.


Lalu, Vena segera mencegah langkah kaki Daniel untuk pergi saat ini. Karena, Vena tidak tahu bagaimana caranya memberikan semua obat itu, walaupun Vena seorang perawat dan dokter berbeda, karena ada hal dokter yang tidak bisa dilakukan oleh seorang perawat.


" Tuan Daniel tunggu,," Cegah Vena segera pada Daniel.


" Yeah,, ada apa,," Tanya Daniel yang membalikkan tubuhnya sesaat menoleh ke arah Vena.


" Aku tidak tahu, bagaimana cara memberikan obat ini,," Tanya Vena yang menunjukkan obatnya kepada Daniel.


Daniel baru teringat akan obat yang telah ia tulis dan sebenarnya dirinya belum bisa pulang kalau Vena belum kembali mendapatkan semua yang telah dituliskannya dalam resep.


" Oh God,, aku lupa,," Ucap Daniel yang menepuk pelan keningnya sendiri.


Daniel pun segera melangkahkan kakinya mendekati Vena dan mengajak Vena untuk kembali masuk ke dalam kamar Alberto saat ini.


" Ayo ikut aku,, aku mempercayai dirimu,," Ucap Daniel yang segera mengajak Vena ke dalam kamar Alberto.


Di dalam kamar terlihat Alberto sedang memeluk erat tubuh Ziya saat ini tercengang dengan kedatangan temannya yaitu Daniel dan kedatangan Vena tanpa mengetuk pintu lagi.


" Kenapa tidak mengetuk pintu saat masuk,," Ucap Alberto yang kesal atas sikap Daniel saat itu.


" Memang harus,," Tanya Daniel yang seperti tampang anak kecil.


" Ya sudahlah, masuk,," Ucap Alberto kesal dan menyuruh kedua orang itu masuk ke dalam kamarnya.


Ya, memang itu yang sering dilakukan oleh Daniel tanpa harus mengetuk pintu apabila masuk ke dalam ruangan apapun di tempat Alberto ini. Cuma Vena saja yang merasa tidak enak akan sikap Daniel yang main selonong saja masuk ke ruangan pribadi Alberto saat ini.


" Memangnya ada apa,, Kenapa kembali,,?" Tanya Alberto pada Daniel yang kembali lagi masuk ke dalam kamarnya itu.


" Aku lupa, sebenarnya aku harus pulang setelah Vena kembali membawa semua resep yang aku tulis,," Ucap Daniel yang memberitahu keadaan dirinya.


Alberto yang seakan tidak mengerti maksud dari omongan Daniel cuma mengangguk saja seolah mengerti.


" Ya sudah lakukan,," Ucap Alberto yang mempersilahkan Daniel untuk melakukan sesuatu hal yang seharusnya dia lakukan.


Karena, Daniel bagian kedokteran dan Vena bagian keperawatan jadi sama-sama mengerti akan dunia kesehatan.


" Baik, Vena kau adalah seorang perawat jadi aku mempercayai dirimu untuk memberikan obat ini sebanyak dosis yang aku tuliskan ini," Ucap Daniel yang menulis dosis obat lalu ia menempelkannya pada botol obat injeksi untuk Ziya.


Vena yang seakan mengerti apa yang dimaksudkan oleh Daniel mengangguk memperhatikan dengan detail gerak-gerik Daniel saat itu.


" Kau ambil obatnya menggunakan syringe disposible sesuai dosis yang aku berikan, lalu kau masukkan cairan obat ini dengan menginjeksikan bagian ini,," Ucap Daniel yang menunjukkan bagian selang infus yang menempel di tangan Ziya dan Vena memperhatikannya dengan sejelas mungkin.


" Baik Tuan,," Ucap Vena.


" Apa kau mengerti,, karena, menurutku kau pastinya mengerti karena, ini tugasmu setiap hari di rumah sakit." Ucap Daniel yang mempercayai Vena.


Sedangkan Alberto sendiri menatap gerak-gerik Daniel menjelaskan seberapa banyak cairan obat yang harus masuk ke dalam tubuh Ziya.


" Ya Tuan saya mengerti,," Ucap Vena mengangguk.


Lalu, Vena melihat cairan infus yang tetesannya cukup cepat tidak seperti biasanya itu, kembali lagi Vena bertanya kepada Daniel, kapan seharusnya cairan infus itu menetes sesuai dalam kebutuhan normal.


" Maaf Tuan,, apakah cairan infus yang dialirkan ke tubuh Nyonya harus secepat itu,," Tanya Vena lagi, karena, yang berhak mengatur semua dosis obat adalah seorang dokter dan perawat hanya menjalankan tugasnya yang telah diinstruksikan dosisnya oleh seorang dokter.


Lalu, Daniel melihat cairan infus yang disebutkan oleh Vena.


" Ya, memang seperti itu, kau tunggu dan hitung setelah habis botol infus yang pertama ini, kau sambung sampai lima botol infus,," Ucap Daniel yang menjelaskan keadaan Ziya yang begitu dehidrasi.


Ziya mengalami dehidrasi yang terjadi pada dirinya karena, kecemasan yang telah ia dapatkan sebelumnya.


" Setelah botol yang kelima kau boleh mengaturnya dengan kecepatan normal seperti biasanya,," Bilang Daniel yang menginstruksikan dosis cairan infus kepada Vena.


" Ya, Baik Tuan,," Ucap Vena mengangguk mengerti akan maksud dari Daniel.


Sekiranya telah selesai dan aman pada tubuh Ziya saat ini, Daniel kembali izin pulang keluar dari rumah Alberto.


" Aku pulang, Dude,, kalau terjadi apa-apa padanya segera panggil aku,," Ucap Daniel yang berbicara kepada Alberto.


" Yeah, Thanks,," Ucap Alberto mengangguk.


Alberto yang mengangguk dan hanya mengucapkan terima kasih kepada temannya itu yang telah melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Dan, segera kembali lagi duduk mendekati tubuh Ziya yang tertidur pulas.


Alberto melihat Vena sedang sibuk akan semua obat yang telah diperintahkan oleh Daniel merasa kembali percaya kepada Vena saat ini.


" Kau jaga Nyonya,, aku akan keluar,," Ucap Alberto yang menegur Vena di sudut tempat yang sedang meracik semua obat untuk Ziya.


Vena yang mendengarkanpun segera mengangguk dan mengerti apa yang dikatakan oleh Tuan besarnya itu.


" Baik Tuan,," Jawab Vena mengangguk.


" Dan ingat, jangan ulangi lagi kesalahanmu,," Ucap Alberto yang mengingatkan Vena telah meninggalkan Ziya sebelum kejadian tadi.


" Iya, Tuan,, Vena berjanji tidak akan mengulanginya lagi,," Ucap Vena yang begitu serius sambil menundukkan kepalanya.


" Aku mempercayaimu,, lakukan apa yang harus kau lakukan." Bilang Alberto yang memerintahkan Vena saat itu.


" Baik, Tuan, terima kasih banyak,," Ucap Vena yang wajahnya begitu bahagia telah mendapatkan kepercayaan kembali dari Alberto.


" Dan ingat, jangan berpikir untuk berkhianat denganku,," Bilang Alberto tegas pada Vena.


Karena, mendengar ucapan Alberto seperti itu, dari awalnya Vena juga takut apabila berkhianat kepada seorang Alberto Alexandre. Maka, tidak akan mungkin hal itu terjadi.


" Baik Tuan, demi keluarga dan demi nyawaku sendiri, saya tidak akan pernah berkhianat." Ucap Vena yang penuh keyakinan itu.


Alberto pun mengangguk lalu, melangkahkan kakinya pergi keluar dari kamarnya saat ini.


Dengan segera Alberto masuk ke dalam ruangan kerja pribadinya dimana terdapat ruangan tersembunyi yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk semua temannya dan juga orang terdekatnya itu.


Apalagi kalau bukan ruangan deteksi pelacak milik Alberto.


****


Happy New Year 2022 🥰🥰🤗🤗💐💐🥳🥳


For All My Love Readers 😘


Bag. 63 - Pendeteksi Handal Alberto


Alberto yang merasa keadaan Ziya saat ini aman, segera melakukan tugasnya dalam melacak siapa sebenarnya orang yang telah berani-beraninya masuk dan menggangu Ziya yang kondisinya dalam keadaan lemah.


Alberto segera keluar dari kamar, sesaat Alberto melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana Alberto telah mengumpulkan semua bukti yang ia dapatkan disaat semua orang sudah tidak ada lagi di ruangan kamarnya itu.


" Dalam waktu beberapa detik, identitasmu akan segera diketahui." Ucap Alberto yang mengambil semua bukti yang telah ia kumpulkan tadi.


Tetapi, sesaat sebelum Alberto melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja pribadinya, mendengar suara Frengky asisten pribadinya yang segera ingin melaporkan sesuatu melangkahkan kakinya mendekati Alberto.


" Tuan,," Ucap Frengky yang melangkahkan kakinya mendekati Alberto.


Langkah kaki Alberto pun terhenti.


Frengky segera melangkahkan membungkukkan badannya memberi hormat kepada Alberto tepat di hadapan Alberto saat ini.


" Ada apa,,?" Tanya Alberto kepada pengawalnya.


" Maaf Tuan, kami tidak mendapatkan orangnya, tapi setelah kami lihat orangnya masuk ke dalam ruangan milik,,," Ucap Frengky yang menyebutkan nama ruangan yang dimaksudkannya dengan membisikkan sesuatu ke telinga Alberto secara langsung.


Alberto terlihat sedikit membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Frengky yang membisikkan sesuatu nama di balik telinganya.


" Apa benar, dia masuk kesana,,?" Ucap Alberto dengan suara dinginnya.


" Sudah dipastikan, Tuan,," Ucap Frengky yang menguatkan perkiraannya.


" Ini buktinya,," Ucap Frengky yang menyambung ucapannya dengan memberikan sebuah kunci yang memiliki mainan rantai cukup panjang.


" Bagus,, tapi, tetap lakukan pengintaian di tempatnya sebelum bukti kuat menyatakan dirinya." Ucap Alberto kepada Frengky saat itu.


Sebagai pengawal pribadi keselamatan Alberto dan yang pastinya keselamatan istrinya juga itu membuat Frengky menganggukkan kepalanya dan segera menyuruh orang kepercayaannya juga untuk selalu mengintai di tempat orang yang dimaksudkannya itu.


" Baik Tuan,," Jawab Frengky mengangguk.


" Ok, Good luck,," Ucap Alberto yang memberi dukungan kepada pengawalnya.


" Yeah, Tuan,," Jawab Frengky yang segera mundur dan melangkah menjauhi Alberto.


Setelah selesai mengambil sebuah kunci yang telah diberikan oleh Frengky, Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke ruangan kerja pribadinya.


Alberto masuk dalam ruang kerja pribadinya, lalu, mematikan tombol lampu ruangan kerjanya, sehingga ruangan kerjanya menjadi gelap, setelah gelap, Alberto memutar kepala patung dan berputarlah sebuah lemari yang berisi banyak buku, sungguh menakjubkan,, terlihatlah sebuah ruangan pribadi Alberto yang selalu digunakan Alberto untuknya melacak sebuah benda atau sebuah bukti otentik yang ingin ia deteksi itu.


Lalu, Alberto mengulangi lagi memutar kepala patung kecil yang berada di dinding ruangan itu dan tertutup rapat kembali ruangan yang telah dimasukkan olehnya itu.


Dengan sistem pembuka ruangan yang menggunakan sorot matanya itu membuat Alberto mendekatkan matanya dan menatap layar pendeteksi yang terlihat di depan matanya itu,


BERHASIL !!


Suara yang dikeluarkan oleh sistem pembuka kunci rahasia di dalam ruangan tersebut. Maka terbukalah kunci kode rahasia ruangan yang terdapat di dalamnya lagi.


Sesaat Alberto yang telah berada di dalam ruangan itu kembali melihat semua sistem keamanan yang ia letakkan tersembunyi di kamarnya.


Alberto tercengang melihat keadaan dimana sebelum kejadian mengenaskan yang menimpa Ziya. Alberto merasa bersalah setelah dirinya melakukan tindakan kasar pada Ziya dan ucapan yang begitu menyakitkan membuat Ziya merasakan sakit di kepalanya.


Alberto melihat dan mendengar suara isak tangis Ziya yang menahan rasa sakit di kepalanya saat itu.


" Kenapa, Ziya merasa sakit sekali yang menyerang kepalanya,, apakah aku menarik rambutnya terlalu keras dan menyebabkan sakit yang begitu pada kepalanya." Ucap Alberto saat ia melihat keadaan Ziya yang begitu miris merasakan sakit yang begitu besar di kepalanya.


Alberto mendengar suara Ziya yang menyebutkan dirinya sakit dan memanggil Mamanya.


" Ma,, to,, long Ziya, Ziya sakit,," Ucap Ziya yang terdengar terakhir oleh Alberto, lalu Ziya terhuyung lemah dan tidak sadarkan diri membuat Alberto tercengang membelalakkan matanya.


" Oh God,," Bilang Alberto yang merasa begitu bersalah kepada Ziya saat itu.


Lalu, tak lama kemudian sekitar beberapa menit tak lama dari Ziya yang telah pingsan itu, terlihat ada satu sosok orang yang memakai pakaian serba hitam masuk ke dalam kamar tempat tidur pribadinya itu.


Sebelum itu Alberto melihat di layar yang lainnya bagaimana cara dia bisa masuk dengan mudah ke dalam kamarnya itu. Alberto melihat bahwa orang itu sengaja masuk melalui jendela kecil dimana jendela itu merupakan ada sistem alarm pengaman yang telah dipasang oleh Alberto selama ini.


" Oohh,, Sh.it,, Kurang ajar, berani-beraninya dia masuk lewat jendela itu," Ucap Alberto yang melihat aksi orang tersebut.


Sesaat Alberto melihat lagi aksi orang tersebut yang sebelumnya telah menghancurkan semua CCTV di sudut kamarnya. Dan, Alberto melihat sangat jelas bahwa orang tersebut mendekatkan matanya pada CCTV yang sebelumnya dihancurkan oleh orang itu.


Alberto kembali melangkahkan kakinya menuju ke sistem kamera CCTV yang terpasang di sudut kamar, melihat dan mendeteksi mata yang telah masuk ke dalam rekaman CCTV nya. Dengan mengklik tombol rekam lalu pause menghentikan video rekaman tepat saat merekam mata orang tersebut membuat Alberto tersenyum senang.


" Stupid,, kau mau bermain dengan Alberto, Hah,," Ucap Alberto yang telah berhasil mengambil hasil rekaman mata yang ingin di deteksi olehnya.


Lalu, sebelum Alberto ingin mendeteksi semua bukti yang ada, Alberto terlebih dahulu melihat aksi orang itu bagaimana orang tersebut membawa Ziya ke tempat tidur dan bagaimana bisa pecahan kristal ada di tempat tidurnya saat ia menemukan darah segar di tempat tidurnya itu.


Alberto kembali melangkahkan kakinya melihat layar yang telah terkoneksi dengan sistem keamanan tersembunyi di kamarnya, karena, dirinya tidak bisa lagi melihat kelanjutan aksi orang itu pada layar monitor CCTV, yang telah dihancurkan oleh orang tersebut.


Sesaat Alberto sangat marah melihat orang itu yang sengaja mengendus tubuh Ziya dari bawah kaki sampai atas kepala yang tergeletak lemah tak sadarkan diri di atas lantai, karena, melihat Ziya yang pingsa membuat orang itu dengan sangat mudah menggendong tubuh Ziya ke atas tempat tidur.


" Kurang ajar,," Ucap Alberto yang segera ingin memukul orang itu.


Alberto kembali melihat bagaimana orang itu, meletakkan Ziya dengan lembut di atas tempat tidur dan membuka baju Ziya sehelai demi sehelai. Dan membuat Alberto membelalakkan matanya melihat lidah orang itu yang keluar meleleh melihat indahnya dan mulusnya tubuh Ziya.


" Damn it,," Ucap Alberto saat melihat laki-laki itu menciumi perlahan-lahan wajah, bibir Ziya saat itu, membuat Alberto menerjang apapun yang berada di ruangan tersebut.


Ingin sekali Alberto segera menembak mati orang itu, karena, Alberto tidak mengetahui wajah orang tersebut menyebabkan emosinya menjadi jadi karena, kesal atas perlakuan orang itu pada Ziya.


" Kenapa, Ziya tidak bergerak sedikitpun,," Ucap Alberto yang menatap Ziya saat itu tidak bergeming atas sentuhan yang dilakukan oleh orang yang tak dikenal itu.


Karena, merasa terlalu lama orang itu menciumi bibirnya Ziya, menyebabkan Ziya menarik nafas dengan kesulitan dan akhirnya Ziya tersadar atas tindakan orang tersebut yang telah menciumi bagian leher Ziya.


Sesaat Ziya yang baru sadar dari pingsannya membuat dirinya kaget saat melihat ada seseorang yang telah mengunci rapat tubuhnya dan telah membuka bajunya.


Dengan kesadaran dan tenaga yang belum kembali normal itu membuat Ziya berteriak dan menepis-nepis wajah orang itu yang ingin mendapatkan bibir Ziya kembali.


" Aakkhhh,, lepaskan aku,," Suara Ziya yang terdengar saat ini jelas di telinga maupun di mata Alberto.


Alberto merasa sangat marah saat melihat laki-laki itu ingin sekali menundukkan Ziya dengan mencium bibir Ziya hingga kembali lemas lagi, membuat dirinya sangat mudah untuk melakukan apapun pada tubuh Ziya saat itu.


" Damn it,," Ucap Alberto yang sangat kesal sekali.


Sesaat, karena perlakuan Ziya yang meronta-ronta karena merasa laki-laki itu telah merobek asal celana bagian luarnya, membuat Ziya berteriak meminta tolong pada Alberto.


" Al,, ber,, to,, tolong,, aku,," Teriak Ziya yang suaranya sangat membuat telinga dan hati Alberto pedih bagaikan teriris tajamnya sembilu.


" Maafkan aku yang terlambat datang,," Bilang Alberto yang wajahnya memerah karena sangat marah kepada perlakuan orang itu pada Ziya.


Sesaat, Alberto melihat kelakuan Ziya yang satu tangannya menepis wajah orang itu dan satunya lagi menggapai sebuah tempat minum kristal yang diletakkan oleh Vena sebelum Vena pergi dari ruang kamarnya itu.


Alberto melihat Ziya berhasil menggapai benda itu dan memukul keras kepala orang itu menggunakan tempat minum kristal dan akhirnya pecah, menyebabkan darah yang merembes dan mengalir serta berbekas pada pecahan kristal tersebut.


" Berarti itu darahnya,, bagus,," Ucap Alberto yang merasa bahwa kelakuan perlawanan yang dilakukan Ziya sangat tepat sekali.


Karena, merasa Ziya telah berani melawan dengan memukul kepalanya, dengan sangat keras orang tersebut memu-kul wajah Ziya di bagian kiri dan bagian kanan. Alberto sangat marah saat orang itu menam-par wajah Ziya dengan begitu keras. Sehingga membuat di bagian ujung bibir Ziya mengeluarkan sedikit darah.


" AKKKHH,, LEPASKAN AKU,," Ucap Ziya yang lagi-lagi meronta, melawan perbuatan orang itu.


Membuat Alberto yang melihat peristiwa itu sangatlah memanaskan dan menyulut emosinya.


Karena, Ziya telah berani melawan dan memberontak sehingga orang tersebut segera menggi-git dada Ziya dengan begitu keras menyebabkan Ziya berteriak kesakitan dan membuat tubuhnya melemah menahan rasa sakit pada dadanya yang telah digigit itu.


" AAKKKHHH,, SAKITTTT,,," Teriak Ziya yang tubuhnya menahan rasa sakit yang telah dilakukan oleh orang itu.


Membuat Alberto lagi-lagi memukul benda apa saja di dalam ruangan itu.


Seketika laki-laki tersebut ingin membuka kedua kaki Ziya, walaupun Ziya dalam keadaan menahan rasa sakit di bagian dadanya tapi masih saja dia bisa menendang kaki laki-laki itu, membuat laki-laki itu mengeluarkan suara dan pastinya membuat Alberto sangat tahu jelas mengenal orang itu.


" AAAAKKKHHHH, ZOYA KAU BERANI MELAWANKU,," Suara yang keluar dari mulut laki-laki itu yang tadinya selalu diam melakukan aksinya, tapi kali ini laki-laki itu berbicara, membuat Alberto mengulang kembali video itu supaya bisa mendengar lebih jelas suara orang itu.


" Apa,, apa yang dikatakannya,," Ucap Alberto yang kembali mengulang memutar suara orang tersebut.


" AAAKKKHH,, ZOYA KAU BERANI MELAWANKU,," Ucap Suara yang terdengar jelas oleh Alberto.


" Apa, dia,," Bilang Alberto yang sangat emosional dan segera keluar dan menangkap langsung orang yang sangat ia kenal itu.


Sesaat, Alberto teringat akan bukti yang ia dapatkan itu, apabila tidak dilakukan secara cepat kemungkinan darah, air liur itu akan mengering dan Alberto tidak mendapatkan bukti yang kuat untuk menuduh dan membunuh secara langsung laki-laki tersebut.


" Baik, kau mau bermain denganku,, ok, kita lihat siapa yang menang,," Ucap Alberto yang segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan pelacakan tubuh seseorang di dalam ruangannya ini hanya dengan menggunakan setetes darah segar, sedikit air liur dan pendeteksian mata.


Alberto dengan gerakan cepat dan dengan otaknya yang sangat pintar melakukan kegiatannya untuk segera memeriksa keaslian bukti-bukti yang didapatkan dari pelaku yang ia kumpulkan itu, walaupun Alberto tidak bisa melihat sidik jari orang itu, tapi dengan bukti valid seperti darah dan air liur cukup membuat Alberto puas menangkap orang itu hidup-hidup lalu membuatnya mati dalam keadaan yang mengenaskan.


Alberto yang di dalam ruangannya itu sedang meletakan semua bukti ke dalam satu gelas percobaan dan gelas percobaan lainnya berisi air liur dan darah. Setelah itu Alberto meneteskan sebuah cairan yang bisa mendeteksi hasil gen dari orang tersebut. Tidak lama menunggu hasil tersebut telah didapatkan oleh Alberto saat ini.


Karena, melihat hasil deteksi itu cukup valid dengan pendengarannya terhadap suara pelaku membuat Alberto tersenyum sinis telah mendapatkan sebuah sasaran yang bodoh menurut Alberto saat itu. Karena dengan sekali tiup nyawa orang tersebut akan melayang ke akhirat bagi Alberto.


" Ternyata, kau yang berani-beraninya mengganggu Ziya milikku,," Ucap Alberto yang menaikkan bibirnya saat telah selesai mendapatkan sebuah bukti valid dari hasil pendeteksiannya itu.


Alberto segera meletakkan rekaman mata milik pelaku di sebuah monitor yang bisa mendeteksi dan mengetahui mata itu mata siapa, membuat Alberto sedikit menunggu hasil yang diinginkannya itu. Karena, masih menunggu beberapa menit hasil pendeteksian mata dari sang pelaku membuat Alberto kembali melihat monitor di kamarnya yang memperlihatkan Ziya meronta-ronta lemah sambil memanggil nama Alberto.


" Al,, ber,, to,, to, long aku,," Ucap Ziya terakhir sebelum dirinya melemah dan tidak sadarkan diri.


Karena, mendengar Ziya selalu memanggil dan berteriak memanggil Alberto membuat Alberto merasa bersalah dalam perasaan yang sangat menyakitkan.


" Maafkan aku, Ziya yang terlalu lama membantumu, dengan mengorbankan nyawa dan dirimu seperti ini, membuatku merasa begitu bersalah dan berdosa besar terhadapmu,," Ucap Alberto yang melihat Ziya mengalirkan air matanya dimana tubuhnya tidak bisa lagi melawan perbuatan orang itu padanya.


Dengan sangat keji memaksa merobek penutup bagian bawah Ziya dan membuka kedua kaki Ziya, serta Alberto sangat melihat dengan jelas, laki-laki itu dengan segera ingin memasukkan miliknya dengan milik Ziya.


Tepat dengan aksi Alberto dan tembakan Alberto orang tersebut kaget dan segera melompat dari tempat tidur Ziya saat itu dan terlihat Ziya telah lemah tidak sadarkan diri dengan kondisi tubuh yang mengenaskan.


Alberto melihat wajah Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya menatap wajah Alberto yang sedang mengejar orang itu. Alberto tidak mengerti maksud dari senyuman Ziya yang telah menatapnya itu walaupun Ziya sudah tidak sadarkan diri itu.


" Aku akan membunuh orang itu, ini janjiku, padamu, Ziya." Ucap Alberto yang mendengar suara sistem dari monitornya telah mendapatkan hasil data dari pendeteksian mata yang telah ia rekam itu.


Alberto kembali melangkahkan kakinya menuju ke monitor pendeteksi mata dan terbelalak ternyata benar apa yang Alberto pikir, dengan beraninya orang itu bermain-main pada dirinya.


" Benar ternyata dia,, Aku akan lihat bagaimana wajahnya saat aku membunuh dirinya di depan mata orang itu." Ucap Alberto yang menaikkan kedua alisnya.


Dengan cepat Alberto melangkahkan kakinya keluar ruangan rahasianya itu. Dan, dengan segera menutup rapat menggunakan kode rahasia untuk menutup ruangannya ini. Karena, ruangan ini tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri.


****


Bag. 64 - Pengintaian ?


Di dalam kamar pribadi Alberto, terlihat Vena yang sedang sibuk meracik obat untuk Ziya, serta sesekali melihat dan menghitung botol infus yang cairannya telah dialirkan ke tubuh Ziya.


Alberto yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar melihat kegiatan Vena apakah benar atau tidak dalam mengurusi pengobatan yang dilakukan terhadap Ziya. Vena yang melihat Alberto masuk ke dalam kamarnya itu, segera membungkukkan badannya memberi hormat kepada Alberto.


" Tuan,," Ucap Vena yang membungkukkan badannya menyapa Alberto.


Alberto hanya mengangguk atas sapaan Vena dan segera mendekatkan dirinya dan duduk di samping Ziya. Melihat kondisi Ziya dan menatap wajah Ziya dengan penuh rasa bersalah.


" Bagaimana keadaannya,," Tanya Alberto pada Vena yang menanyakan keadaan Ziya.


Vena yang mendengarkan ucapan Alberto menanyakan tentang keadaan majikannya itu, segera menjawab apa saja yang telah dilakukannya yaitu telah memonitor perkembangan keadaan Ziya saat ini.


" Bersyukur,, Keadaan Nyonya sedikit membaik Tuan,," Jawab Vena yang menjelaskan keadaan Ziya saat itu.


Alberto yang melihat sendiri keadaan Ziya yang memang benar seperti penjelasan Vena, mengangguk atas ucapan yang disampaikan oleh Vena.


" Bagus,," Ucap Alberto singkat.

__ADS_1


Vena yang menanyakan bagaimana apabila Nyonya telah sadar dan membutuhkan makanan, apakah dia boleh keluar ke dapur untuk mengambil makanannya itu.


__ADS_2