Driver My Hubby

Driver My Hubby
Bab 72 Kelakuan Agresif


__ADS_3

Cinta yang sedang melamun karena, terpana atas sikapnya Rio itu membuat Cinta sendiri menjawab dengan gerogi dan pastinya kecanggungannya itu sudah diketahui oleh Rio. Tapi, Rio tidak mau membuat Cinta merasa malu atas sikapnya Cinta yang sedang terpana atas perlakuannya itu.


" Apakah masih terasa sakit dek ?" Tanya Rio yang tidak sengaja membuyarkan lamunannya Cinta.


" Aakkh Iya Kak,," Jawab Cinta seketika kaget.


" Eeehhh, Kak Rio tadi nanya apa, soalnya Cinta gak denger, hujannya deras banget,," Ucap Cinta yang sengaja mengalihkan pembicaraannya.


Karena, memang benar, saat Cinta yang sedang fokus menatap wajahnya Rio, malah Rio sendiri menanyakan sesuatu kepadanya, secara langsung pastinya Cinta tidak mendengarkan pertanyaan dari Rio untuknya itu.


" Hehehe, Kak Rio tanya apakah lukanya masih terasa perih ?" Tanya Rio tertawa kecil saat melihat wajah Cinta yang penasaran dengan pertanyaannya itu.


" Ooohh, udah nggak lagi kak, makasih ya kak udah mau bantuin Cinta,," Bilang Cinta sambil tersenyum senang.


" Baguslah kalau begitu dek,," Jawab Rio balik sambil berdiri.


" Ya udah kalau gitu Dedek bobo ya, karena, hari sudah larut malam,," Bilang Rio sambil membantu kaki Cinta untuk naik ke tempat tidur.


" Iya Kak, makasih banyak ya kak,," Bilang Cinta sambil memposisikan tubuhnya untuk segera berbaring.


Setelah selesai membantu Cinta untuk memposisikan tubuhnya dalam keadaan berbaring, dengan segera Rio melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana ia meletakkan semua peralatan untuk tidurnya. Dan, Cinta merasa heran pada tindakan Rio yang sedang mengambil peralatan tidurnya itu.


" Kak Rio mau kemana ?" Tanya Cinta spontan pada Rio yang menyebabkan Rio sontak kaget.


" Aakkhh, Kak Rio mau ngambil ini dek, Kak Rio mau tidur di depan pintu kamar Dedek seperti biasa,," Jawab Rio sambil mengangkat semua peralatan tidurnya.


Dengan cemberut Cinta sengaja mengingatkan Rio atas omongannya sendiri yang telah dijanjikannya pada Cinta.


" Bukannya tadi Kak Rio bilang, setelah mengobati Cinta, Kak Rio nggak akan pergi kemana-mana,," Ungkap Cinta dengan wajah cemberutnya.


" Iya memang betul dek, Kak Rio memang nggak akan kemana-mana dan nggak akan ninggalin Dedek sendirian,," Jawab Rio yang sudah selesai mengambil semua barang-barang peralatannya tidur.


" Kak Rio cuma tidur di depan pintu kamar dan Dedek tidur di kamar ini, jadi, sama aja Kak Rio jagain Dedek bukan,," Bilang Rio lagi yang menyambung omongannya.


" Oh begitu, ya udah tidur aja diluar dan jangan pernah lagi bantuin Cinta,," Ucap Cinta sambil membalikkan tubuhnya serta menutup wajahnya menggunakan selimut.


Rio seketika kaget saat melihat Cinta yang terlihat sedang marah dan kesal akan sikapnya itu. Karena, sebenarnya Rio tidak tahu apa maksud dari perkataan Cinta yang menginginkan Rio untuk selalu menemaninya itu. Dengan segera Rio melangkahkan kakinya mendekati Cinta yang sudah membalikkan tubuhnya menghadap arah lain.


" Eehhh, jangan marah dek, Kakak gak bermaksud untuk buat Dedek marah," Ungkap Rio yang langsung mendekati tubuhnya Cinta.


" Dek, kakak minta maaf ya jika kelakuan Kakak ataupun ucapan Kakak ada yang salah menurut Dedek." Gumam Rio sambil duduk di atas tempat tidur tepat di belakang tubuhnya Cinta.


Saat di dalam selimutnya, sebenarnya Cinta sedang mengulum senyumannya ketika mendengar ucapan permintaan maaf dari Rio yang begitu terdengar tulus dan juga sangat takut atas ancaman yang tidak sengaja diucapkannya itu.


" Maafkan Cinta ya Kak, hihihihihihi," Gumam Cinta sambil tertawa kecil di dalam selimutnya.


" Dek, Dedek marah ya sama Kak Rio, ya udah kalau begitu, Kak Rio akan selalu standby duduk disini untuk jagain Dedek, Dedek jangan marah ya," Ucap Rio yang terlihat sedang memberanikan sikapnya untuk menyentuh lengan Cinta.


" Hihihihihihi,, Cinta hanya main-main Kak,," Seru Cinta dalam hatinya yang masih saja tertawa kecil ketika mendengar pernyataan dari Rio.


Karena, sudah tidak bisa lagi menahan perbuatannya itu terhadap Rio, dengan perlahan Cinta membukakan selimutnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Rio yang sedang menatap dirinya itu.


" Cinta gak marah kok Kak,," Jawab Cinta sambil tersenyum setelah membuka selimutnya dan menatap wajah Rio langsung.

__ADS_1


" Terima kasih ya dek,," Ucap Rio yang spontan menciumi keningnya Cinta dan memeluk lembut tubuhnya itu.


Karena, tindakan Rio itu begitu spontan terhadap Cinta. Tentu saja hal itu membuat Cinta kaget hingga selama Rio sedang mengecup lembut keningnya itu menyebabkan matanya Cinta terbelalak tanpa berkedip sedikitpun, karena, ikut merasakan suatu yang sedang terjadi di keningnya itu.


Cukup lama Rio mengecup lembut puncak kepala Cinta dan memeluk erat tubuh itu, hingga membuat Cinta hanya bisa terdiam atas perbuatan yang sedang Rio lakukan untuk dirinya itu. Setelah selesai menciumi keningnya Cinta dengan lembut Rio mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahnya Cinta hingga hal itu membuat kecanggungan di wajah itu semakin menjadi.


" Kak Rio berjanji tidak akan pernah untuk meninggalkan Dedek sedikitpun, jadi jangan ngambek lagi ya dek,," Ucap Rio yang hembusan napasnya begitu sejuk dirasakan oleh Cinta.


Karena, terlalu canggung Cinta hanya bisa mengangguk atas pernyataan yang dilontarkan oleh Rio terhadapnya itu. Namun, saat Rio akan beranjak dari tempat tidur dengan segera Cinta menahan tangannya Rio dan hal itu juga membuat Rio langsung menolehkan wajahnya kembali menatap Cinta.


" Kak Rio tunggu,," Cegah Cinta terhadap Rio yang akan beranjak dari tempat duduknya itu.


" Ada apa dek ?" Tanya Rio singkat sambil menoleh ke arah Cinta.


" Eeemmm, Kak Rio jangan tidur di luar, tapi, Cinta minta Kak Rio untuk tidur di kamar ini bersama Cinta,," Ucap Cinta yang terdengar lembut di telinga Rio.


Ketika mendengar pernyataan Cinta yang begitu lembut itu membuat Rio menyunggingkan senyumannya dan langsung mengangguk senang.


" Baiklah, Kak Rio akan tetap disini dan tidur di kamar ini,," Jawab Rio langsung.


" Tapi, Kak Rio mau mengambil semua peralatan itu dulu ya dek sekaligus mengunci pintu kamar,," Bilang Rio lembut menatap Cinta.


" Iya Kak,," Jawab Cinta mengangguk.


" Tunggu sebentar ya dek,," Bilang Rio lagi sambil beranjak dari tempat duduknya.


Cinta hanya menganggukkan kepalanya saja untuk memberikan sebuah isyarat terhadap Rio. Dan, Rio langsung beranjak menuju ke arah pintu lagi untuk membawakan masuk semua peralatan tidurnya itu, setelah selesai membawa semua peralatan tidurnya itu ke dalam kamar, barulah Rio menutup pintu kamar dan menguncinya.


Karena, merasa semuanya sudah aman barulah Rio membentangkan kasur di lantai untuk tempat tidurnya sendiri. Namun, hal itu lagi-lagi membuat Cinta berkomentar.


" Ya, untuk tempat tidur Kakak Dek,," Jawab Rio jelas.


" Nggak usah, jika mau jagain Cinta, Kak Rio harus tidur di samping Cinta,," Bilang Cinta lagi dengan wajah seriusnya.


" Maksudnya di atas tempat tidur bersama Dedek ?" Tanya Rio balik pada Cinta.


" He'em, kenapa Kak Rio nggak mau untuk tidur di samping Cinta ?" Tanya Cinta lagi pada Rio.


" Ya, bukannya begitu dek, cuma,," Jawab Rio sambil memikirkan sesuatu.


" Cuma apa ?" Tanya Cinta lagi sambil membuka selimutnya dan terlihatlah separuh tubuhnya.


" Cuma takutnya nanti gangguin Dedek yang lagi tidur,," Gumam Rio yang membuat jawaban asal untuk menjawab pertanyaan dari Cinta.


" Bukannya selama di perjalanan kita selalu


tidur berdua dan hal itu juga nggak pernah Cinta merasa terganggu,," Bilang Cinta lagi yang membuat Rio sedikit tersenyum tipis.


" Hehehe iya dek, karena itu faktor di perjalanan,," Jawab Rio lagi.


" Heemm, ya udah nggak apa-apa kalau Kak Rio nggak mau tidur di atas bersama Cinta." Bilang Cinta pada Rio sambil bangkit dari baringnya.


" Bentangkan aja kasurnya Kak, biar Cinta tidur di bawah bersama Kak Rio,," Sambung Cinta lagi yang membuat Rio terperanjat.

__ADS_1


Saat Cinta ingin beranjak dari tempat tidurnya itu, Rio segera mencegah tindakan Cinta untuk segera beralih memindahkan posisi tidurnya di bawah bersama dengan Rio di lantai yang hanya beralaskan kasur.


" Eeehhh jangan dek, biar Kak Rio aja yang tidur di atas, karena, di bawah cukup dingin,," Ucap Rio sambil menahan lengan Cinta.


Dan Cinta hanya menganggukkan kepalanya saja serta kembali duduk di atas tempat tidurnya dan langsung menggeserkan tubuhnya ke arah dinding. Sedangkan, Rio sedikit canggung untuk menaiki tempat tidurnya itu, karena, semenjak mereka berdua menikah baru kali ini Rio akan tidur bersama dengan istrinya itu.


" Ya ampun, kenapa aku merasakan hal yang aneh, kenapa aku jadi gugup begini,," Gumam Rio dalam hatinya saat menaiki tempat tidur dan duduk dengan posisi tubuhnya begitu dekat dengan tubuhnya Cinta.


Memang Rio dan Cinta sudah pernah tidur berdua saat mereka berada di dalam mobil maupun di kamar Villa, namun hal itu sama sekali tidak tidur berdekatan seperti saat ini, di dalam mobil mereka dipisahkan oleh semua peralatan mobilnya. Sedangkan di dalam kamar Villa tempat tidurnya begitu luas dan juga dipisahkan oleh banyak guling. Namun, saat di kamar seperti ini dalam kondisi hujan deras dan juga mati lampu serta cuaca yang begitu dingin membuat kecanggungan yang sedang terjadi dalam diri Rio.


Serta tempat tidur tidak terlalu luas dan juga bantal guling yang sedikit membuat Rio menelan salivanya ketika akan merebahkan tubuhnya itu. Sedangkan Cinta merasa biasa saja saat sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Setelah merebahkan tubuhnya, sambil tersenyum Cinta membagikan selimut tebalnya untuk Rio yang sudah berada di sampingnya itu.


" Selimutnya dipakai ya Kak,," Bilang Cinta yang sedang memasangkan selimutnya untuk tubuhnya beserta Rio.


" Heemm makasih ya dek,," Ucap Rio yang terlihat begitu canggung ketika mengucapkan kata terima kasih atas kelakuan Cinta itu pada dirinya.


" Sama-sama," Jawab Cinta sambil merebahkan tubuhnya kembali tepat di samping Rio dan membuat aroma tubuhnya begitu tercium oleh hidungnya Rio.


" Ya ampun dek, kenapa aroma tubuhnya Cinta membuatku merasa seperti ingin melakukan sesuatu." Gumam Rio saat merasakan aroma tubuh Cinta begitu memikat hasrat tubuhnya itu.


" Ingat Rio, ingat, dia belum menerimamu untuk menjadi seorang suami yang seutuhnya,," Ucap Rio lagi dalam hatinya yang sedang menguatkan perasaannya sendiri.


Karena, merasa bantal tidak terlalu banyak, akhirnya Cinta tidak bisa meletakkan semua bantal untuk menjadi pemisah antara dirinya dan Rio di tempat tidur ini. Dan, lagian juga apabila ada bantal maka, bantal itu juga tidak bisa digunakan untuk memisahkan tempat tidur mereka. Karena, faktor tempat tidur yang sempit, jadi, percuma saja jika diberikan benda untuk memisahkan tempat tidurnya itu.


Setelah selesai merapikan semua yang ada di tempat tidurnya itu, sambil tersenyum Cinta mengucapkan kata selamat tidur kepada Rio, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dinding.


" Selamat tidur Kak Rio,," Ucap Cinta sambil tersenyum.


" Hah! iya dek, selamat tidur,," Jawab Rio juga sambil tersenyum tipis.


Sambil mengibaskan rambutnya ke arah Rio, Cinta sengaja membalikkan tubuhnya dan menempatkan belakang tubuhnya dekat dengan tubuh Rio, supaya ia bisa mendapatkan kehangatan dari tubuh seorang pria yang sudah menjadi suaminya itu. Dan, saat Cinta sudah mengibaskan rambutnya ke arah Rio dan hal itu juga membuat Rio semakin tidak bisa menahan hasratnya untuk menghirup aroma harum dari rambutnya Cinta ditambah lagi kelakuan Cinta yang semakin mengundang hasrat tubuh Rio untuk segera menempelkan kulitnya pada kulit Cinta.


" Uuuhhh ya ampun dek, jika Dedek seperti ini terus di malam ini, maafkan Kakak jika Kakak tidak bisa menahan gejolak naf.su ini,," Gumam Rio sambil menenangkan seluruh tubuhnya.


Di balik wajah Cinta yang sedang menghadap ke arah dinding, Cinta sendiri merasa penasaran dengan respon Rio yang sama sekali tidak menyentuh kulitnya itu. Padahal Cinta sudah memancing Rio dari bahasa tubuhnya yang menginginkan respon dari tubuhnya Rio untuk memeluk erat tubuhnya itu. Namun, begitu dirasakan oleh Cinta bahwa Rio sama sekali tidak bergerak sedikitpun.


" Kenapa Kak Rio, tidak menyentuhku atau memelukku,," Ucap Cinta dalam hati sambil memikirkan suatu hal pada sikap Rio.


" Apa karena, Kak Rio belum memiliki pikiran apapun terhadap diriku,," Gumam Cinta lagi yang merasa penasaran akan pikiran Rio.


" Apakah aku harus meminta pelukan langsung dari Kak Rio ?" Tanya Cinta dalam hatinya yang tetap berpikir tentang pendapatnya ini.


Lalu, sambil menarik napasnya dengan perlahan Cinta memikirkan sebuah inisiatif untuk mendapatkan kehangatan yang disalurkan oleh Rio untuk dirinya minimal cuma pelukan saja saat tidur seperti ini. Tapi, apakah hal itu benar, karena, Cinta merasakan bahwa pikirannya itu salah, jika ia harus meminta sebuah pelukan dari Rio.


" Aakkh nggak, nggak, aku nggak mungkin meminta itu pada Kak Rio." Gumam Cinta sambil menggelengkan kepalanya.


" Katakan atau nggak, katakan atau nggak,, aakkhh sungguh memalukan,," Ucap Cinta lagi sambil menutupi matanya.


" Masa aku harus minta hal itu pada Kak Rio, betapa memalukan jika aku sampai mengatakannya,," Bilang Cinta lagi sambil menepuk keningnya sendiri.


" Lebih baik aku tidur saja daripada aku harus meminta hal yang aneh-aneh pada Kak Rio." Ucap Cinta sambil memejamkan matanya dan mengurungkan semua niatnya itu untuk mendapatkan sebuah pelukan dari Rio.


Dan, saat ini Rio sendiri juga bingung harus melakukan apa, ketika hasrat tubuhnya sengaja bangkit dan bergelora, karena, tingkah laku Cinta yang sengaja membangkitkan gairah percintaannya itu.

__ADS_1


****


__ADS_2