
Ketika, kaki Cinta tersandung dan terluka karena kepentok kaki meja, Rio semakin terkejut mendengar suara Cinta yang berteriak dan meringis kesakitan itu. Hingga membuat Rio tidak bisa merasa bersabar untuk segera membuka pintu kamarnya itu.
" Ada apalagi dengan Dedek,," Gumam Rio ketika mendengarkan suara teriakan dan rengekan Cinta yang menangisi luka di kakinya itu.
" Dek, Dedek kenapa ?" Tanya Rio lagi sambil menggoyangkan gagang pintu dan menggedor-gedor pintu.
" Sebentar Kak, Kaki Cinta tersandung dan luka," Jawab Cinta sambil menahan luka di kakinya.
" Luka ?" Tanya Rio dari luar dengan wajah cemasnya.
" Ya ampun, Dek, Dedek udah dekat dengan pintu belum ?" Tanya Rio lagi kepada Cinta.
" Iya, Kak, sebentar,," Jawab Cinta sambil menahan luka di kakinya.
Sambil menahan luka di kakinya dan Cinta hanya bisa menggeserkan tubuhnya ke arah pintu, akhirnya secara perlahan Cinta berdiri dan membukakan pintu kamar. Saat pintu kamarnya terbuka, dengan segera Rio masuk sambil memeluk Cinta begitu erat sekali.
" Ya ampun dek, apa yang terjadi hah ?" Tanya Rio ketika masuk ke dalam kamar dan langsung memeluk erat tubuh Cinta.
" Kenapa sampai terluka, mana lukanya ?" Tanya Rio lagi yang spontan membuat Cinta merasa canggung sendiri.
Namun, ketika Rio memberikan pertanyaan yang begitu banyak terhadap Cinta. Akhirnya Cinta tidak bisa lagi menolak atas keinginannya yang membutuhkan Rio ketika ia sedang sendirian di dalam kamar saat hujan dan mati lampu seperti ini.
Saat ini Cinta sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rio yang begitu banyak sekali kepada dirinya, melainkan sikap kekesalannya terhadap Rio yang sengaja tidak mendengarkan panggilan darinya itu.
" Kak Rio sengaja ya, nggak denger suara teriakan Cinta ?" Tanya Cinta balik pads Rio.
" Dan, Kak Rio juga sengaja kan ingin ninggalin Cinta sendiri di kamar dalam keadaan hujan deras serta mati lampu seperti ini ?" Tanya Cinta lagi yang tubuhnya masih berada di dalam pelukan Rio.
" Nggak Dek, Nggak, Kak Rio nggak seperti itu,," Jawab Rio sambil menggelengkan kepalanya dan tetap mengeratkan pelukannya terhadap Cinta.
" Maafkan Kak Rio ya dek, karena, Kak Rio memang gak dengar suara Dedek,," Jawab Rio lagi dengan jujur.
" Terus Kak Rio dimana saat Cinta teriak tadi ?" Tanya Cinta masih dengan suara manjanya.
" Kak Rio tidur di ruang tamu, karena, Kak Rio kedinginan, Dek,," Jawab Rio dengan jujur.
" Bohong, Kak Rio pasti ingin ninggalin Cinta Kan, Kak Rio sengaja bikin Cinta nangis,,," Ucap Cinta lagi yang terdengar begitu bawel dan manja.
" Ya, ampun dek, Kak Rio nggak seperti itu," Jawab Rio dengan perlahan melepaskan pelukannya.
Ketika Rio ingin melepaskan pelukannya terhadap Cinta. Cinta malah semakin mengeratkan pelukannya terhadap Rio.
" Akkkhhh, jangan lepas pelukannya, Cinta takut,," Ucap Cinta sambil mengeratkan pelukannya terhadap Rio.
Barulah Rio tersadar bahwa dirinya sejak tadi memeluk tubuh Cinta dengan erat dan memberikan kenyamanan terhadap istrinya itu. Sedangkan, Cinta sendiri memang terasa begitu nyaman ketika dirinya berada di dalam pelukan Rio. Apalagi saat ini cuaca diluar masih dalam keadaan hujan yang deras dan mati lampu. Rio juga ingat bahwa kakinya Cinta terluka, hingga ia pun langsung membawa Cinta untuk kembali ke tempat tidur dan membersihkan luka yang ada di kakinya Cinta.
" Dek, bukannya kaki Dedek terluka ?" Tanya Rio lagi pada Cinta yang saat ini masih berada dalam pelukannya.
" He'eh,," Jawab Cinta mengangguk.
" Boleh Kakak obati nggak ?" Tanya Rio lembut kepada Cinta.
" Iya, Kak,," Jawab Cinta mengangguk.
" Tapi, bagaimana Kak Rio harus mengobati kakinya Dedek jika kita masih berpelukan seperti ini,," Ucap Rio yang membuat Cinta langsung melepaskan pelukannya.
" Oh iya maaf jika Cinta masih memeluk tubuh Kak Rio,," Gumam Cinta sambil melangkah sedikit menginjit menjauhi Rio.
__ADS_1
Karena, suasana di dalam kamarnya saat ini cukup terang atas sinar yang ada dari senternya Rio, secara segera Cinta melangkahkan kakinya menjauhi Rio menuju ke tempat tidur sambil menginjit dan hal itu membuat Rio tersenyum ketika melihat wajah Cinta yang berubah total menjadi cemberut atas ungkapannya itu.
" Heemm, dek, bukan begitu maksud Kak Rio,," Gumam Rio sambil merangkul tubuh Cinta untuk membantu Cinta melangkah menuju tempat tidurnya.
" Nggak apa-apa kok Kak, Cinta bisa," Ucap Cinta masih dengan wajah cemberutnya.
Karena, melihat Cinta seperti sedang jengkel terhadap dirinya itu dengan segera Rio langsung mengangkat tubuh Cinta dan menggendongnya. Seketika hal itu membuat Cinta begitu kaget hingga Cinta tidak bisa menahan teriakan kagetnya itu. Namun, Rio sendiri malah semakin senang ketika mendengarkan suara teriakan Cinta yang kaget atas sikapnya ini.
" Aaaakkkhhhh Kak Rio,," Teriak Cinta yang kaget ketika merasakan tubuhnya sudah berada di dalam gendongannya Rio.
" Jangan takut, sampai kapanpun Kak Rio tidak akan pernah meninggalkan Dedek,," Ucap Rio sambil tersenyum dan melangkah menuju ke tempat tidur.
Sedangkan saat ini Cinta hanya bisa pasrah terdiam menatap wajah Rio yang begitu dekat dengan wajahnya di dalam suasana gelapnya ruangan kamar. Walaupun saat ini hanya ada penerangan dari sebuah senter, namun hal itu masih saja membuat jantung Cinta berdegup dengan kencang.
" Ternyata dia begitu cantik, apabila dia sedang marah seperti ini,," Gumam Rio sambil menatap lembut wajah Cinta.
Rio begitu tertegun ketika melihat wajah Cinta yang begitu cantik saat berada di dalam gendongannya ini, sehingga membuat Rio terlupakan akan tindakannya yang ingin membantu Cinta untuk mengobati lukanya di kakinya itu.
Begitu juga dengan Cinta yang begitu tertegun menatap ketampanan wajahnya Rio yang sedang menggendongnya itu.
" Kenapa, Kak Rio begitu tampan sekali,," Gumam Cinta yang menatap dalam wajah beserta senyuman Rio itu.
Secara tidak sengaja karena terbawa arus keindahan yang sedang dirasakan, akhirnya Cinta melingkarkan kedua tangannya tepat pada lehernya Rio, sehingga menyebabkan wajah mereka semakin dekat. Begitu jelas sekali terasa napas yang dihembuskan oleh mereka masing-masing. Sebenarnya Rio begitu ingin merasakan keindahan yang dilakukannya saat ini bersama Cinta, namun apakah hal itu tidak akan membuat Cinta marah.
Dalam sekejap pikiran Rio masih tersadar dan dengan begitu lembut Rio meletakkan Cinta di atas tempat tidur hingga menempelkan kedua bagian tubuh depannya itu, serta saat ini tatapan mata Rio begitu lekat sekali dengan tatapan matanya Cinta.
Saat Rio ingin melepaskan gendongannya terhadap Cinta, karena, sudah merasa tepat saat meletakkan tubuhnya Cinta di atas tempat tidur. Cinta sendiri mencegah tindakan Rio yang melepaskan pelukannya ataupun gendongannya itu, sehingga hal itu membuat Rio semakin terpana atas kelakuan Cinta ini.
" Aakkh, jangan dilepaskan, Cinta mohon,," Ucap Cinta yang bibirnya begitu dekat sekali dengan bibirnya Rio.
Sambil memberikan senyuman dengan penuh keyakinan dirinya, dengan segera Rio menyatakan bahwa ia ingin keluar mengambil obat untuk Cinta. Namun, karena, efek takut atau manja terlihat sekali bahwa Cinta memang benar-benar tidak mau ditinggalkan oleh Rio.
" Eemmm, nggak mau, pokoknya Kak Rio nggak usah pergi disini aja temenin Cinta,," Ucap Cinta sambil mengeratkan kedua tangannya yang dilingkarkan tepat di lehernya Rio.
" Iya dek, setelah mengambil obat untuk Dedek, Kakak nggak akan kemana-mana, Kakak akan selalu menemani Dedek,," Jawab Rio sambil tersenyum menatap wajah Cinta dengan tatapan yang begitu dekat sekali.
" Nggak boleh, Cinta takut, kalau Kak Rio mau keluar mengambil obat untuk Cinta, Cinta harus ikut,," Ucap Cinta yang begitu terlihat jelas ketakutan di wajahnya.
" Kak Rio cuma mau mengambil obat di lemari dapur,," Jawab Rio sambil tersenyum menatap Cinta.
" Pokoknya, Cinta harus ikut,," Bilang Cinta dengan wajahnya yang begitu memaksa.
Ketika melihat wajah Cinta yang memaksa untuk mengikutinya itu, Rio malah semakin senang dan bahagia atas kelakuan Cinta yang begitu manja saat ini padanya.
" Baiklah, kalau begitu, maunya jalan sendiri atau digendong ?" Tanya Rio lembut sambil tersenyum menatap wajah Cinta.
" Gendong,," Jawab Cinta dengan manjanya.
" Oke,," Jawab Rio sambil mengangkat kembali tubuhnya Cinta.
Dengan segera Rio mengangkat kembali tubuhnya Cinta, sambil tersenyum senang menatap wajah Rio, Cinta malah semakin bahagia karena, bisa selalu membuat Rio untuk berada di dekatnya saat dirinya dalam ketakutan seperti ini. Namun, hal itu malah semakin membuat Rio merasa senang, karena, memang hal seperti inilah yang Rio inginkan dari hubungan pernikahannya itu.
" Dedek bisa pegang senternya ?" Tanya Rio kepada Cinta sambil memberikan senternya.
" Heemm, bisa kak,," Jawab Cinta mengangguk senang.
Setelah menerima senter dari Rio, tangan Cinta satunya sudah standby memegang senter untuk memberikan cahaya terhadap jalannya Rio, sedangkan tangan satunya lagi tetap Cinta kaitkan di lehernya Rio dengan sangat erat.
__ADS_1
Setelah sampai di luar kamar, Rio segera melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur. Saat ingin menurunkan Cinta ke tempat duduk kursi meja makan dengan sikap manjanya Cinta tidak bersedia untuk duduk disana, malah Cinta lebih menginginkan jika Rio selalu menggendongnya.
" Dedek, duduk disini dulu ya,," Ucap Rio sambil meletakkan Cinta di atas kursi meja makan.
" Nggak mau, Dedek maunya digendong,," Bilang Cinta sambil menggelengkan kepalanya.
" Kenapa, maunya digendong terus, apa ada suatu hal yang bikin Dedek takut atau,,, ?" Tanya Rio penasaran yang membuat wajah Cinta sedikit memerah.
" Nggak ada Kak, cuma Cinta nggak berani aja ditinggal sendiri kalau cuaca lagi hujan dan mati lampu,," Jawab Cinta sambil mengalihkan pandangannya.
" Benarkah, atau ada hal lainnya ?" Tanya Rio sengaja menambah kemerahan di wajahnya Cinta.
" Eemmm, Nggak ada Kak,," Jawab Cinta.
" Ya udah kalau gitu Kak Rio gendong Dedek, tapi Dedek yang ambil obatnya ya di dalam lemari, karena, tangan Kakak nggak bisa ngambil obatnya kalau lagi gendong Dedek," Gumam Rio yang kembali mengangkat tubuh Cinta dan membawa tubuh Cinta menuju ke lemari.
" Siap,," Jawab Cinta tersenyum.
Sambil menerangi ruangan lemari serta mengambil obatnya barulah Rio melangkahkan kakinya kembali menuju ke kursi meja makan untuk mengoleskan obat merah pada bagian luka di kakinya Cinta. Namun, Cinta sendiri yang meminta Rio untuk mengoleskan obat itu di dalam kamarnya, supaya Cinta bisa langsung istirahat.
" Duduk sebentar ya dek, biar Kak Rio yang oleskan obatnya,," Ucap Rio yang akan menurunkan Cinta ke kursi meja makan.
" Nggak mau, di kamar aja,," Jawab Cinta singkat.
" Ya udah kita kembali ke kamar,," Jawab Rio yang selalu mengikuti permintaan dari Cinta.
Cinta tersenyum ketika melihat Rio yang selalu menuruti kehendaknya itu, walaupun belum merasakan suatu apapun di dalam hatinya, namun, Cinta sudah membuat Rio semakin sayang dan juga mencintainya. Cinta sebenarnya begitu menghargai Rio yang selama ini sudah membantunya untuk keluar dari perjodohan yang dilakukan oleh Papanya. Oleh sebab itu, Cinta sendiri belum berani untuk mendapatkan semua keinginan hatinya terhadap Rio.
Karena, pernikahan yang mereka lakukan memang sah di depan agama maupun hukum, namun, Cinta tidak bisa mengetahui bagaimana perasaan Rio ketika ia dipaksa oleh idenya Cinta untuk menikahinya itu. Walaupun Rio bersedia untuk menikahinya, tapi, Cinta tidak berhak atas kepemilikan dan juga kebebasan Rio untuk mencintainya.
" Kamu sungguh baik terhadap Cinta kak, maafkan Cinta, jika Cinta memaksa Kak Rio untuk menikah dengan Cinta." Gumam Cinta dalam hati sambil tersenyum menatap Rio.
" Tapi, Cinta harap selama Cinta menjadi istri Kak Rio, Kak Rio mendapatkan kebahagiaan bersama Cinta. Karena, sejujurnya Cinta menyadari bahwa Cinta mengagumi Kakak,," Ucap Cinta menatap Rio di dalam suasana yang temaram.
Setelah sampai di kamarnya, tanpa sengaja Rio mengagetkan Cinta dan membuyarkan lamunannya saat sedang asyik melamunkan wajahnya Rio sendiri.
" Udah sampai di kamar dek,," Ucap Rio sambil meletakkan Cinta di atas tempat tidur.
" Aakkhh iya Kak,," Jawab Cinta tersenyum sendiri karena, merasa perkataan Rio itu sudah membuyarkan lamunannya.
Setelah meletakkan Cinta di atas tempat tidur, Rio sendiri menjongkokkan tubuhnya dan segera menyentuh kakinya Cinta. Dengan lembut Rio mengoleskan obat langsung pada kakinya Cinta yang terluka. Cinta sama sekali tidak mau menolak perlakuan Rio yang begitu lembut untuk dirinya itu. Karena, hal ini merupakan sebuah keinginan yang juga diinginkan oleh Cinta sendiri.
" Kakak oleskan obatnya dulu ya dek,," Ucap Rio lembut sambil membuka tutup obatnya.
" Iya Kak,," Jawab Cinta mengangguk sambil tersenyum.
Setelah mengoleskan obatnya pada lukanya Cinta, namun sedikit terasa perih yang sedang dirasakan oleh Cinta sendiri. Sehingga membuat Cinta jadi meringis sendiri saat merasakan perih yang menjalar dari lukanya itu.
" Aaaauuuww perih Kak Rio,," Ucap Cinta yang meringis menahan pedih di kakinya.
" Fuuuhhhhh,," Suara tiupan mulut Rio pada lukanya Cinta.
Dengan segera Rio meniup luka Cinta yang baru saja dioleskan obat olehnya itu. Atas perlakuan Rio seperti ini membuat Cinta semakin terpana melihat wajah Rio yang begitu tampan di matanya itu.
" Apakah masih perih dek ?" Tanya Rio yang mendongakkan kepalanya menatap Cinta.
Cinta yang sedang melamun karena, terpana atas sikapnya Rio itu membuat Cinta sendiri menjawab dengan gerogi dan pastinya kecanggungannya itu sudah diketahui oleh Rio. Tapi, Rio tidak mau membuat Cinta merasa malu atas sikapnya Cinta yang sedang terpana atas perlakuannya itu.
__ADS_1
****