Driver My Hubby

Driver My Hubby
Bab 56 - Kelembutan Cinta


__ADS_3

Setelah merasa yakin untuk meninggalkan Rio sementara di dalam rumah, dengan segera Cinta beranjak dari tempatnya berlari kecil ke arah luar lalu menekan tombol alarm pembuka mobilnya. Setelah alarm itu berbunyi menandakan pintu sudah terbuka dengan segera Arif membantu Cinta mengambil barang di bagian belakang mobil. Sedangkan Cinta sendiri mengambil barang di bagian kursi tengah dan bagian depan.


" Barangnya dikeluarkan semua ya, Mbak ?" Tanya Arif pada Cinta sambil mengeluarkan semua barangnya di ruang mobil bagian belakang.


" Iya Rif, bawa masuk aja semuanya,," Jawab Cinta sambil mengeluarkan barang juga di bagian kursi tengah.


" Oke beres,," Bilang Arif dengan segera beralih memindahkan barang ke dalam rumah.


Sudah dua kali Arif bolak-balik keluar masuk dari rumah dan semua barang di dalam mobil sudah selesai diangkut ke dalam rumah. Cinta tersenyum melihat Arif saat membantunya yang begitu rajin dan juga penuh semangat, sehingga membuat Cinta segera mengeluarkan uang kecil untuk memberi upah pada Arif.


" Terima kasih, ya Rif atas bantuannya,," Bilang Cinta sambil menguncikan kembali mobilnya.


" Iya Mbak, sama-sama,," Jawab Arif tersenyum.


" Oh ya kita masuk lagi, sekaligus Mbak buatin teh ya,," Bilang Cinta kepada Arif setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.


" Oke Mbak,," Jawab Arif sambil melangkah masuk ke dalam rumah kembali.


Setelah sampai di dalam rumah, Cinta melihat Rio yang sedang berada di atas sofa sedang tertidur pulas hingga membuat Cinta sedikit menyunggingkan senyumannya ketika mendengar suara dengkuran halus yang dikeluarkan dari mulut Rio.


" Heeemm, Kak Rio pulas banget sih bobonya,," Gumam Cinta sambil melangkahkan kakinya mendekati Rio yang sedang tertidur.


Dengan segera Cinta menatap kain kompres yang sengaja ia letakkan di atas dahinya Rio. Lalu, Cinta kembali memasukkan kain itu ke dalam baskom dan memerahnya, setelah merasa cukup kering untuk digunakan barulah Cinta kembali meletakkan kain kompres itu pada dahinya Rio. Seketika membuat Arif berkomentar lucu, saat melihat Cinta yang begitu lembut merawat keadaan Rio yang sedang sakit.


" Walah Mbak, begitu telatennya ngerawat Mas Rio," Gumam Arif sambil mendongakkan kepalanya melihat kelakuan Cinta terhadap Rio yang membuat Cinta sedikit tertawa kecil.


" Hehehehe, kamu bisa aja Rif, sebenarnya Mbak kasihan dengan Mas Rio, karena sudah beberapa hari menyetir mobil untuk pulang kampung,," Jelas Cinta pada Arif dan Arif juga mengangguk mendengarkan penjelasan itu.


" Ooohhh pantesan, Mas Rio sampe kelelahan dan jadi sakit, memangnya Mbak dari kota ya ?" Tanya Arif langsung kepada Cinta.


Cinta sedikit tertegun diam ketika mendapatkan sebuah pertanyaan langsung dari Arif. Namun, dengan memberikan senyuman kepada Arif, Cinta menjawab pertanyaan itu dengan santai.


" Betul, Rif, kebetulan Mbak dari kota yang tidak terlalu jauh dari desa ini,," Bilang Cinta dengan nada suara santai.


" Ooohhh, begitu," Gumam Arif mengangguk.


" Sungguh beruntung Mas Rio, mendapatkan istri yang begitu cantik seperti, Mbak,," Bilang Arif sambil mengomentari keberuntungan Rio yang bisa menikahi Cinta.


Sebenarnya, Cinta ingin sekali tertawa saat mendengarkan pernyataan Arif yang mengomentari keberuntungan Rio karena telah menikahinya. Tapi, tidak mungkin Cinta memberikan respon seperti itu kepada Arif, walaupun Arif sudah dianggap saudara sendiri oleh Rio, namun, Cinta tidak mau memberitahukan kepada siapapun tentang rahasianya dengan Rio dalam sebuah pernikahan.


" Hehehe kamu bisa aja Rif, namanya juga jodoh,," Bilang Cinta sambil tersenyum.


Setelah selesai, meletakkan kain kompres pada dahi Rio, dengan segera Cinta beranjak dari tempatnya dan menuju ke arah dapur. Cinta sengaja ingin membuat suatu minuman untuk Arif yang sudah membantunya dalam memindahkan semua barang dari mobil ke dalam rumah. Dan, pastinya Cinta juga ingin membuat minuman hangat untuk disuguhkan langsung pada Rio.


" Oh ya Rif, tunggu sebentar ya, Mbak mau buatin teh dulu, sekaligus Mbak minta tolong bantuanmu untuk jagain Mas Rio sekaligus gantiin kompresnya ya,," Bilang Cinta langsung pada Arif.


" Oke Mbak,," Jawab Arif mengangguk.


Karena, merasa sudah sedikit nyaman dalam suasana dapur, akhirnya Cinta juga bisa melakukan suatu hal yang selalu dikerjakan oleh seorang wanita ketika di dalam dapur. Cinta segera menyeduhkan teh dan mengeluarkan beberapa kue yang sengaja sudah dibeli oleh Rio sebelum datang ke kampungnya ini.


" Eeemmm, karena, Kak Rio sedang demam, lebih baik aku ambilkan dulu obat penurun panasnya, supaya demamnya bisa cepat turun." Gumam Cinta sambil melangkahkan kakinya kembali ke kamar untuk mengambil obat yang sudah disediakannya di dalam tas.


Setelah mendapatkan obat itu dengan segera Cinta kembali lagi ke dapur dan membawa nampan yang berisikan teh, sepiring kue dan juga satu keping obat penurun panas ke ruang tamu dimana Rio sedang mengistirahatkan tubuhnya.


Sambil tersenyum Cinta meletakkan secangkir teh di atas meja tepat di hadapannya Arif, lalu, meletakkan piring yang berisikan kue tadi. Setelah itu Cinta duduk di samping sofa dimana Rio masih tertidur dengan pulas.


" Oh ya silahkan diminum dan dimakan kuenya Rif,," Tawar Cinta sambil meletakkan piring kue tepat di hadapannya Arif.


" Oh iya Mbak, terima kasih,," Bilang Arif tersenyum ketika menerima tawaran makanan dan minuman dari Cinta.

__ADS_1


" Ya, Rif sama-sama, Mbak cuma bisa nyuguhin itu," Jawab Cinta sambil duduk di tempatnya.


Karena, Cinta sudah berniat untuk memberikan uang sebagai jasa bantuan dari Arif, sambil mengeluarkan sedikit uang, lalu, Cinta segera memberikannya langsung kepada Arif.


" Oh ya ini ambil, untuk kamu belikan keperluan, terima kasih sudah membantu Mbak bawain barang ke dalam,," Bilang Cinta sambil meletakkan uang dengan lembut ke hadapan Arif.


Arif terperangah melihat Cinta yang memberikannya sejumlah uang, padahal Arif sudah terbiasa membantu siapa saja yang ingin dibantunya. Namun, Arif tidak pernah mendapatkan balasan dari bantuan itu, ya paling balasannya adalah amal dari Tuhan. Karena, Arif juga melakukannya dengan ikhlas. Saat Cinta memberikan uang seperti ini, Arif merasa baru kali ini menemukan orang yang begitu baik dan juga sopan seperti Cinta, oleh sebab itu, Arif semakin tidak mau menerima uang yang diberikan Cinta kepadanya.


" Oh ndak usah Mbak, Arif ikhlas kok bantuin Mbak, wong juga Arif sudah biasa jagain rumahnya Mas Rio, jadi, Mbak ndak perlu sungkan pada Arif,," Bilang Arif yang menolak uang pemberian Cinta kepadanya.


" Tapi, Mbak ikhlas kasih uang ini untuk Arif," Bilang Cinta lagi yang memang ikhlas untuk memberikan uangnya itu kepada Arif.


" Ndak, ndak, ndak, Arif ndak mau terima, jika Mbak kasih uang dengan Arif hanya karena, Arif membantu sedikit pekerjaan Mbak tadi." Bilang Arif yang begitu terlihat sungguh ikhlas membantu Cinta.


" Heeemm kamu ini, kenapa gak mau terima uang dari Mbak ?" Tanya Cinta langsung pada Arif.


" Ya, karena, Mbak istrinya Mas Rio dan Mas Rio sudah menganggap Arif sebagai adiknya sendiri. Oleh sebab itu, Arif juga harus menganggap Mbak seperti Mbak Arif sendiri." Jawab Arif jujur yang membuat Cinta tersenyum mendengarkan penjelasannya.


" Heemm ya udah kalo gitu, jangan pernah sungkan pada Mbak, oke,," Bilang Cinta lagi.


" Oke Mbak,," Jawab Arif.


Setelah selesai menyeruput teh hangat yang disuguhkan Cinta kepadanya, Arif segera melihat ke arah jam dinding dan ternyata saat ini jam sudah menunjukkan angka di tengah hari. Oleh sebab itu, Arif segera mohon diri dari rumahnya Rio, karena, ia harus kembali ke tambak ikan milik Neneknya Rio juga.


" Oh ya Mbak, Arif balik ke tambak dulu," Bilang Arif setelah melihat angka dari sebuah jam yang terletak di dinding.


" Secepat itu, kenapa nggak nungguin Mas Rio bangun dulu,," Ucap Cinta pada Arif.


" Karena, di tambak ndak ada orang yang nungguin disana,," Jawab Arif jujur.


" Oh gitu, ya udah silahkan,," Bilang Cinta mengangguk.


" Dan, kalo Mas Rio udah sembuh dan bangun, Mbak dan Mas Rio langsung aja ke tambak biar Mbak bisa lihat lele peliharaannya Arif,," Bilang Arif lagi sambil menawarkan Cinta untuk melihat ikan yang ada di tambaknya.


" Benar, Mbak, nanti langsung aja ke tambak ajak Mas Rio ya Mbak,," Ucap Arif lagi sambil bangkit dari duduknya.


" Oke Rif, hati-hati ya,," Bilang Cinta langsung kepada Arif.


" Beres, permisi, Mbak,," Ucap Arif ketika keluar dari pintu rumahnya.


Setelah Arif keluar dari rumah mereka ini, dengan segera Cinta bangkit dari duduknya beranjak menuju ke arah pintu, lalu, pintu itupun di tutup. Cinta, kembali melangkahkan kakinya mendekati tempat Rio yang sedang tertidur pulas. Tiba-tiba Cinta kaget ketika tangannya merasa sentuhan dari tangan Rio dengan suhu tubuh yang masih panas.


" Ooohh ya ampun, ngagetin aja Kak Rio,," Ucap Cinta seketika kaget tangannya tersenggol tangannya Rio.


" Eehhh, kenapa badan Kak Rio panas banget,," Gumam Cinta lagi ketika memeriksakan keadaan Rio.


" Lebih baik aku bangunkan Kak Rio dulu, karena, sebelum tidur Kak Rio memang tidak minum obat," Bilang Cinta yang mengingatkan kembali keadaan Rio.


Karena, merasa tubuh Rio sangat panas, dengan segera Cinta membangunkan Rio untuk memberikan obat penurun panas yang telah ia siapkan itu.


" Kak, Kak Rio,," Panggil Cinta langsung pada Rio sambil menggoyangkan lengan Rio.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Rio bisa mendengarkan suara panggilan dari Cinta untuk dirinya, Rio sendiri terbangun dari tidurnya dan perlahan menoleh ke arah Cinta dengan wajah yang masih pucat dan suhu tubuh yang masih terasa panas.


" Ya, ada apa, Dek ?" Tanya Rio setelah bangun dari tidurnya.


" Kak Rio bangun dulu, ya, makan cemilan ini dulu setelah itu minum obat, kalo sudah selesai Kakak tidur aja di kamar, jangan disini," Bilang Cinta yang terdengar begitu lembut sekali.


" Heemm, iya dek,," Jawab Rio mengangguk.

__ADS_1


Dengan perlahan Rio bangun dari baringnya sambil dibantu oleh Cinta untuk duduk di atas sofa sambil menikmati sedikit cemilan yang sudah disiapkan oleh Cinta. Dengan tubuh yang masih terasa lemah, perlahan Rio ingin mengambil secangkir teh yang ada di atas meja, namun, hal itu dicegah oleh Cinta. Dan, Cinta langsung mengambilkannya untuk Rio.


" Eeehhh, biar Cinta aja,," Bilang Cinta setelah merapikan posisi duduk Rio.


Segera Cinta mengambil secangkir teh di atas meja lalu, duduk tepat di sampingnya Rio. Setelah itu Cinta langsung menyuapi Rio air teh hangat dengan begitu hati-hati. Sebenarnya, Rio begitu tertegun melihat kelakuan Cinta yang begitu memperhatikan kondisinya.


Sambil tersenyum lembut Rio memuji kepandaian Cinta dalam hal lainnya seperti membuatkan teh untuknya dan juga sudah merawatnya.


" Terima kasih, dek, ternyata Dedek juga bisa bikinin teh,," Bilang Rio yang memuji Cinta.


" Benarkah, apakah rasanya manis atau kurang ?" Tanya Cinta balik pada Rio, karena, Cinta ingin mengetahui rasa teh yang telah dibuatnya itu.


" Rasanya sedang, dek, tidak terlalu manis dan jujur kakak begitu selera untuk segera menghabiskannya,," Jawab Rio yang mengomentari teh buatan Cinta.


" Heemmm, terima kasih, Kak," Gumam Cinta sambil meletakkan cangkir teh kembali ke atas meja.


" Memangnya Dedek nggak mencicipi teh nya ?" Tanya Rio sambil menoleh ke arah Cinta.


" Nggak, ya ditakarin aja bahannya,," Jawab Cinta sambil mengambil piring yang berisi kue.


" Kuenya harus dihabiskan, supaya perut kakak nggak kosong sudah itu harus minum obat,," Bilang Cinta sambil memberikan piring kepada Rio.


" Kakak nggak bisa ngehabisin kuenya kalo sebanyak ini, dek,," Jawab Rio ketika melihat kue yang begitu banyak di dalam piring.


" Heemmm, pokoknya harus dimakan,," Bilang Cinta yang sengaja menggoda Rio.


" Ya udah Kakak makan,," Jawab Rio dengan wajah sendu, karena, terpaksa harus menghabiskan semua kue di dalam piring.


Saat melihat wajah Rio yang berubah menjadi sendu ketika Cinta menggoda Rio untuk menghabiskan semua makanan, hal itu membuat Cinta sedikit merasa lucu dan kasihan. Oleh sebab itu Cinta segera mengakhiri lelucon yang ia buat untuk Rio.


" Hihihihihihi, maaf Cinta hanya main-main aja kak, intinya Kakak harus makan dulu sebelum minum obat ya,," Bilang Cinta sambil tersenyum lembut menatap Rio.


" Eemmm, terima kasih ya Dek,," Ucap Rio sambil memakan kue yang ada.


Sudah cukup banyak Rio menyantap kue-kue yang disediakan oleh Cinta, sambil menikmati kue yang enak, Rio juga menikmati wajah Cinta yang terlihat begitu indah di matanya, karena, saat ini Cinta sengaja menyiapkan kembali alat kompres untuk Rio dan beberapa obat yang harus diminum oleh Rio.


" Udah selesai, dek, Kakak udah kenyang,," Bilang Rio sambil meletakkan piring ke atas meja.


" Oh iya kak, nih obatnya, langsung diminum ya,," Ucap Cinta yang memberikan perintah kepada Rio.


Dan, Rio segera menerima obat dari tangan Cinta dan menenggaknya dengan begitu cepat. Lalu, sambil memberikan gelas air minum kepada Rio, Cinta yang begitu teliti tetap melihat Rio saat menelan obatnya. Setelah selesai, barulah Cinta mengacungkan jempolnya terhadap Rio.


" Bagus,," Puji Cinta terhadap Rio.


" Sekarang, Kakak istirahat lagi ya, bobonya di kamar aja,," Bilang Cinta langsung yang mengizinkan Rio untuk tidur di dalam kamarnya saat ini.


Sebenarnya itu dahulunya adalah kamar Rio, berhubung karena, Rio dan Cinta untuk tinggal disini, oleh sebab itu, Rio mengalah dari Cinta dan memberikan kamarnya itu pada Cinta. Tapi, disaat Cinta memerintahkan Rio untuk tidur di kamarnya, Rio menolak karena, itu sudah diberikannya untuk Cinta. Oleh sebab itu, Rio lebih memilih untuk istirahat di ruang tamu dan di atas sofa ini saja.


" Gak dek, Kakak istirahatnya disini aja dan Dedek juga harus istirahat, karena, Dedek juga lelah, lebih baik Dedek istirahat di kamar dan Kakak tetap istirahat disini." Bilang Rio sambil menolak halus permintaan Cinta.


Karena, selama ini Cinta memiliki sifat yang begitu keras, walau Rio sekuat tenaga bersikeras menolak keinginan Cinta, akhirnya Rio sendiri yang kalah akan perintahan dari Cinta.


" Nggak bisa, pokoknya Kakak harus bobo di kamar saat ini juga, lagian Dedek sama sekali gak lelah dan gak ngantuk, jadi, sekarang kakak harus pindah ke kamar, ayo,," Bilang Cinta yang sengaja memberikan penekanan pada Rio.


" Heeemm dek, tapi,," Sanggah Rio seketika.


" Tidak ada kata tapi-tapian,," Jawab Cinta sambil menggoyangkan jari telunjuknya tepat di hadapan Rio.


" Baiklah,," Jawab Rio mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Dengan perlahan Cinta membantu Rio untuk bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah kamarnya. Rio tersenyum melihat kelakuan Cinta yang begitu lembut terhadapnya.


****


__ADS_2