Driver My Hubby

Driver My Hubby
Bab 61 Masakan Rio


__ADS_3

Sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Cinta kembali lagi menguap karena, memang benar Cinta begitu merasa mengantuk sekali. Lalu, saat Cinta kembali menaiki tempat tidurnya, Cinta teringat pada Rio bahwa setelah sholat ini Rio akan melakukan aktivitas apa ?


Apakah Rio akan pergi ke tambaknya pagi ini juga ?


Atau melakukan hal lain.


Yang pastinya saat ini Cinta kembali turun dari tempat tidurnya untuk menanyakan kepastian aktivitas yang akan dilakukan Rio. Dengan segera Cinta kembali membuka pintu kamarnya dan mencari keberadaan Rio saat ini, Cinta mendengar suara Rio yang sedang mengaji di dalam ruang sholat.


" Kak Rio,," Panggil Cinta pada Rio dan segera menuju ke arah ruang sholat.


" Oohh, Kak Rio lagi ngaji ya,," Gumam Cinta mendengar suara Rio yang sedang mengaji.


Rio melihat kaki Cinta yang sedang berdiri di depan ruang sholat. Untuk sementara Rio menghentikan pengajian yang sedang dibacakannya itu, setelah menutup kitab sucinya sambil tersenyum Rio bertanya pada Cinta yang masih berdiri di depan pintu ruang sholat.


" Ada apa dek ?" Tanya Rio pada Cinta.


" Eemmm, maaf kak, kalo Cinta gangguin Kak Rio yang sedang mengaji,," Bilang Cinta sambil menyunggingkan senyumannya.


" Hehehe nggak apa-apa dek, ada apa ?" Tanya Rio lagi yang masih duduk di ruang sholat.


" Eemmm, Cinta mau tanya, setelah mengaji nanti Kak Rio mau kemana hari ini ?" Tanya Cinta dengan nada suara yang terdengar begitu perlahan.


Seketika, Rio sedikit merasa geli ketika mendengar pertanyaan dari Cinta yang terdengar begitu tertata.


" Nggak kemana-mana dek, paling hari ini Kakak akan ke tambak," Jawab Rio dengan jujur.


" Ke tambak, Cinta boleh ikut ?" Tanya Cinta langsung pada Rio akan kegiatannya nanti.


" Ya, boleh donk dek,," Jawab Rio mengangguk.


" Oke deh kalo gitu,," Jawab Cinta tersenyum.


Ketika mendengar jawaban dari Rio yang begitu yakin padanya itu, dengan segera Cinta kembali ke kamarnya lagi, namun, kembali Cinta membalikkan tubuhnya dan kembali bertanya kapan Rio akan pergi ke tambak.


" Oh ya kak, memangnya kapan mau ke tambak ?" Tanya Cinta lagi saat kembali ke depan ruang sholat.


" Paling agak siangan dek,," Jawab Rio lagi sambil bangkit dari duduknya.


" Oke siang ya Kak, awas kalo sampe ninggalin Cinta sendiri di rumah,," Bilang Cinta yang sengaja memberi penekanan pada Rio.


" Hehehe iya dek," Jawab Rio tertawa mendengar penekanan dari Cinta yang begitu terlihat gemas sekali.


Karena, sudah begitu jelas dan yakin akan jawaban dari Rio sambil tersenyum senang Cinta segera kembali ke kamarnya dan menyambung tidurnya yang belum terlalu tuntas.


" Heemm siang nanti akan ke tambak, oke tidur dulu,," Gumam Cinta sambil menutup pintu kamar tanpa menguncinya lagi.


Dengan segera Cinta menaiki kasur tempat tidurnya dan menarik kembali selimut yang sudah digunakannya itu. Karena, masih mengantuk dan juga hari masih terlihat malam serta matahari yang menyinari bumi belum muncul sedikitpun. Tidak butuh waktu lama untuk Cinta kembali lelap dalam tidurnya.


Sementara Cinta sedang tertidur pulas di dalam kamarnya, Rio sendiri mulai melakukan aktivitasnya dalam memasak makanan pagi ini. Sambil tersenyum Rio segera meletakkan kitab suci di tempatnya kembali, lalu, melangkah keluar dari ruangan menuju dapur untuk melihat bahan makanan yang sudah disusun oleh Cinta semuanya kemarin saat ia sedang tertidur pulas karena, sakit.

__ADS_1


Rio melihat semua bahan makanan yang sudah disusun oleh Cinta dengan susunan yang begitu terlihat rapi. Rio mengambil semua bahan makanan yang akan digunakannya untuk membuat masakannya pagi ini. Setelah selesai menyiapkan semua bahan masakannya itu, sebelum mulai untuk memasak, Rio melihat pintu kamar Cinta yang sudah tertutup.


" Heemm, tidur yang nyenyak ya, dek," Gumam Rio sambil meletakkan bahan makanan di atas meja dekat kompor.


" Kakak tahu kalo Dedek masih lelah karena, perjalanan yang begitu panjang," Ucap Rio lagi sambil mengiris beberapa bahan masakan.


" Kalo Kakak udah punya uang lebih, Kakak akan belikan kompor gas baru, supaya Dedek gampang menggunakannya untuk memasak,," Gumam Rio tersenyum ketika mengingat Cinta yang tidak bisa menyalakan api di dalam kompor minyak.


Dengan perlahan Rio memasak semua makanan yang akan dibuatkannya itu, walaupun Rio seorang pria, Rio sendiri cukup mahir dalam hal memasak, karena, selama ini Rio selalu hidup sendiri dan juga mampu untuk memasak sendiri dalam membuat makanannya sehari-hari. Oleh sebab itu, Rio memaklumi kondisi Cinta yang tidak bisa memasak, karena, ia merupakan seorang putri tunggal pengusaha kaya raya yang tidak pernah masuk ke dapur untuk memasak.


Dan, juga Rio tertawa sendiri ketika melihat hasil masakan dari Cinta yang begitu amburadul malam tadi. Walaupun Cinta seorang putri tunggal, namun sifat Cinta itu sama sekali sungguh luar biasa, karena, dirinya tidak pernah masuk ke dapur untuk memasak, namun, ketika ia merasa hidup di luar dari kehidupan mewah kediamannya itu, dengan tekad yang kuat akhirnya Cinta berhasil melakukan sesuatu dalam hal masakan walaupun masakan yang dibuatnya begitu amburadul dan juga tidak tahu rasanya.


Yang pasti masakan Cinta kemarin adalah masakan pertama Cinta dalam dunia makanan, sehingga, Rio sungguh tulus untuk menghabiskan semua masakannya Cinta semalam, memang rasanya sedikit enak, namun, untuk lidah Cinta sendiri masakannya itu jauh dari kategori enak, oleh sebab itu, Cinta merasa sungguh menyesal kenapa selama ini ia tidak pernah belajar untuk memasak.


Sambil memasukkan semua bahan masakan ke dalam wajan penggorengan, sambil mencuci beras yang ada di wadah, Rio sedikit mengecilkan api di dalam kompor, setelah merasa bahwa beras itu bersih barulah Rio menakar air di dalam wadah beras, setelah selesai Rio segera meletakkan wadah beras itu ke dalam alat penanak nasi dan mencolokkan steker ke dalam lubang listriknya.


Sambil menunggu nasi matang, Rio sengaja mengaduk-aduk semua bahan yang ada di dalam wajan, dengan bunyi yang khas dari seseorang yang sedang memasak, karena terlalu nyenyak Cinta sama sekali tidak mendengarkan suara kegiatan yang sedang dilakukan oleh Rio. Oleh sebab itu, Rio hanya bisa tersenyum manis ketika menyelesaikan masakan pertamanya.


" Heemm, tidurlah yang nyenyak Dedek, setelah bangun nanti Kakak sengaja menyiapkan semua masakan ini khusus untuk kita berdua,," Gumam Rio sambil melakukan kegiatan untuk kembali memasak makanan yang kedua.


Setelah selesai memasak makanan yang pertama, Rio segera menyambung kembali untuk memasak makanan yang kedua. Tetap dengan senyuman yang masih tersungging di dalam wajahnya itu, Rio begitu bersemangat sekali ketika melakukan pekerjaannya yang sedang sibuk untuk memasak itu. Sebenarnya, Rio ingin membalas kebaikan Cinta yang sengaja memasak makanan untuk dirinya itu pada malam tadi.


" Heemm, lanjut yang kedua," Gumam Rio sambil menyiapkan bahan masakan yang kedua.


Setelah selesai menyiapkan semuanya barulah Rio mulai memasaknya kembali. Dan Rio juga melihat bahwa lampu penanda alat penanak nasi itu sudah berpindah berarti menandakan bahwa nasi yang dimasaknya itu sudah matang.


" Heemm, nasinya sudah matang,," Gumam Rio sambil mengaduk lauk yang ada di dalam wajan penggorengan.


" Aaahh beres,," Gumam Rio ketika melihat semua persiapan yang dilakukannya di atas meja terselesaikan.


Setelah semuanya selesai dengan segera, Rio melangkahkan kakinya keluar dari rumah untuk melihat keadaan diluar kediamannya itu. Sebenarnya sebelum keluar dari rumah Rio ingin mengambil pakaian kotornya di kamar Cinta namun, karena, Cinta masih tertidur pulas di dalam kamar, oleh sebab itu, Rio mengurungkan niatnya itu untuk mengambil pakaiannya.


" Heemm, Dedek masih bobo, lebih baik aku memeriksa keadaan luar dulu,," Gumam Rio setelah memperhatikan keadaan pintu kamar yang masih tertutup.


Dan, Rio langsung saja melangkahkan kakinya menuju ke arah luar. Saat Rio ingin membuka pintu rumahnya, Rio teringat bahwa ia meletakkan kunci mobil di dalam kamar Cinta. Karena, Rio ingin memeriksa keadaan dalam mobil, apakah masih ada batang yang belum diambil oleh Cinta ke dalam rumahnya.


" Ya ampun, kunci mobil bukannya di kamar Dedek,," Gumam Rio ketika teringat akan kunci mobilnya.


" Heemm, sepertinya gak usah diambil, aku ingin menghirup udara segar di pagi ini,," Gumam Rio sendiri sambil merentangkan kedua tangannya di depan teras.


Saat Rio sedang merentangkan kedua tangannya itu, tiba-tiba Rio mendapat sapaan dari para ibu-ibu yang baru saja melewati halaman rumahnya. Dan, jelas sekali terlihat sedang menenteng keranjang belanja yang berisi sayuran.


" Eehhh kapan pulangnya Mas Rio ?" Tanya salah satu Ibu yang lewat itu.


" Hah! baru saja Bu,," Jawab Rio sambil tersenyum.


" Waaaahhh, Mas Rio udah sukses nih kayaknya, pulang kampung bawa mobil sendiri,," Bilang Ibu satunya lagi sambil menunjukkan mobil Cinta.


" Hehehe bukan mobil Rio Bu,," Jawab Rio dengan jujur.

__ADS_1


" Bukan mobil Mas Rio, jadi mobilnya siapa Mas, masa mobilnya Pak Kepala Desa numpang parkir disini," Gumam Ibu itu lagi sambil tertawa kecil.


" Heemm, Ibu bisa saja,," Jawab Rio sambil tersenyum lagi.


" Oh ya Ibu dengar dari Arif yang nungguin tambak Mas Rio, Mas Rio udah nikah dan bawa istri, ya, mana istrinya Mas ?" Tanya ibu itu lagi yang begitu repot ingin serba tahu semuanya tentang keadaan Rio.


" Aakkhh iya Bu, ada di dalam,," Jawab Rio mengangguk dan memberitahukan keberadaan Cinta yang sedang di dalam.


" Diperkenalkan pada warga kampung, supaya warga kampung bisa tahu bahwa Mas Rio udah nikah,," Bilang ibu itu lagi pada Rio.


" Akkhhh iya Bu, karena Rio baru sampai makanya Rio belum mengenali istrinya Rio pada warga kampung,," Jawab Rio lagi dengan wajah sedikit canggung.


" Ya sudah kalau begitu Ibu-ibu di kampung ini tidak bisa lagi banyak berharap pada nak Rio untuk jadi menantu,," Bilang salah satu Ibu yang sedari tadi tidak bertanya apa-apa pada Rio.


" Hahahaha benar sekali Bu," Jawab semua ibu-ibu itu yang membuat Rio juga tersenyum mendengarnya.


" Ya sudah nak Rio, nanti ajak istrinya main ke rumah Ibu ya, supaya bisa akrab dengan warga kampung,," Bilang ibu itu pada Rio.


" Baik Bu,," Jawab Rio mengangguk.


Setelah merasa sedikit lega karena melihat semua ibu-ibu yang sengaja bertanya dengannya itu, sehingga membuat Rio merasa sedikit kaku jika diberikan pertanyaan mengenai hubungannya dengan Cinta. Karena, saat ini Cinta masih tertidur dengan pulas oleh sebab itu, Rio merasa santai disaat rombongan Ibu-ibu tadi bertanya dengannya.


" Uuuhhh, untung saja mereka gak lihat bahwa aku begitu canggung menjawab pertanyaan mereka,," Gumam Rio yang segera kembali masuk ke dalam rumah.


Karena, baru saja keluar dari rumah langsung diberikan pertanyaan yang bertubi-tubi dari para tetangga hingga membuat Rio terasa begitu canggung untuk menjawab semua pertanyaan dari para Ibu-ibu tadi. Dan, untuk menghindari kemungkinan ada pertanyaan lagi, Rio segera masuk ke dalam rumahnya itu.


" Lebih baik, aku di dalam saja, daripada di luar, banyak sekali pertanyaan warga kampung padaku,," Gumam Rio sambil menutup pintu rumahnya.


Namun, Rio bingung sendiri untuk melakukan aktivitas apa di dalam rumahnya ini, jika selama ini Rio selalu disibukkan dengan kegiatan yang setiap harinya mengantarkan Cinta kemana saja Cinta akan pergi. Tapi, kali ini Rio tidak memiliki pekerjaan apapun di kampungnya ini. Dan, juga sebagai seorang suami seharusnya Rio segera mendapatkan pekerjaan lagi untuk memberikan nafkah terhadap istrinya itu.


" Eemmm, bingung mau ngapain ya,," Gumam Rio sambil duduk santai di atas sofa.


Dan, disaat Rio sedang memikirkan sesuatu tentang aktivitas kegiatannya di kampung ini, Rio melihat pintu kamar Cinta tidak tertutup seutuhnya. Dan terlihat bahwa pintu itu sama sekali tidak terkunci sedikitpun.


" Pintu kamar Dedek kenapa terbuka, apa Dedek udah bangun,," Ucap Rio ketika melihat pintu kamarnya itu tidak tertutup.


Dengan segera Rio melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya sendiri yang saat ini kamar itu sudah jadi milik Cinta. Perlahan Rio memperhatikan pintu kamar itu dan sedikit mendorongnya, Setelah terbuka semuanya sungguh terlihat jelas bahwa Cinta masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya dan bergelung di dalam selimut.


" Heemm ya ampun dek, kenapa gak dikunci pintu kamarnya,," Gumam Rio setelah melihat pintu kamar itu tidak dikunci.


" Ternyata masih bobo dengan pulas istriku ini,," Bilang Rio sambil membuka jendela kamarnya.


" Maaf ya Kakak buka jendela kamarnya dulu ya dek, supaya udara segar bisa masuk,," Ucap Rio setelah membuka jendela kamar itu.


Sambil melihat wajah Cinta yang masih tertidur pulas itu, Rio segera membuka jendela kamar supaya udara segar masuk ke dalam kamarnya Cinta. Setelah itu dengan segera Rio mengambil beberapa pakaian kotornya untuk dicuci.


" Kemana semua baju kotornya ?" Tanya Rio sendiri yang bingung akan baju kotornya sudah tidak ada di belakang pintu itu lagi.


Namun, saat Rio mencari pakaian kotornya yang digunakannya kemaren sore tidak ada di dalam gantungan baju belakang pintu. Lalu, Rio melihat bajunya itu sudah ada di dalam ember yang sengaja Cinta siapkan di kamarnya itu.

__ADS_1


****


__ADS_2