Driver My Hubby

Driver My Hubby
Bab 70 Kecanggungan Yang Terjadi


__ADS_3

Rio sedikit tercengang ketika mendengarkan pertanyaan dari Cinta yang begitu tertuju kepada suatu hubungan inti dari sebuah ikatan. Dan, pertanyaan Cinta itu terdengar begitu lembut namun tegas bagi Rio yang mendengarkannya.


" Kenapa Cinta nanyain ini padaku ?" Tanya Rio yang begitu tercengang saat mendengar pertanyaan dari Cinta.


" Apakah Cinta merasa cemburu ketika mendengar cerita dari Arif ?" Tanya Rio lagi yang merasa bingung atas ucapan Cinta.


Dengan perlahan Rio menjawab semua pertanyaan dari Cinta yang membuat pikiran Rio sendiri tercengang. Dan, dengan penuh kesabaran juga Cinta menunggu jawaban dari Rio atas pertanyaannya itu.


" Heemm, memangnya kenapa dek ?" Tanya Rio yang seolah-olah memberikan sebuah pertanyaan lain pada Cinta.


" Nggak apa-apa Kak, cuma pengen tahu aja,," Gumam Cinta sambil tersenyum.


" Apakah Cinta gak boleh tau tentang kepribadian Kak Rio, bukannya Kak Rio sendiri yang sudah menganggap Cinta sebagai keluarga,," Sambung Cinta lagi yang masih tersenyum menatap wajah Rio.


Dengan perlakuan lembut dan sambil tersenyum Rio langsung mengelus lembut wajah Cinta hingga menyebabkan Cinta sedikit kaget atas tindakan yang sedang dilakukan oleh Rio padanya itu.


" Eemmm, nggak apa-apa dek, justru Kakak senang jika Dedek ingin tahu tentang kepribadian Kak Rio,," Jawab Rio yang sambil mengelus lembut pipi Cinta.


Saat Rio mengelus lembut wajahnya Cinta itu, hal itu membuat Cinta merasa deg-degan terdiam sejenak saat menatap wajah Rio yang sambil berbicara kepadanya.


" Sebenarnya, Rossa itu bukan siapa-siapa bagi Kak Rio, dia hanya berteman biasa saja dek, soalnya karena, satu kampung oleh sebab itu ia merasa lebih dekat dengan Kakak begitu dek,," Jawab Rio tersenyum menatap wajah Cinta.


" Ooohh, jadi seperti itu ya Kak,," Gumam Cinta dengan wajah yang canggung.


Dengan segera Cinta bangkit dari duduknya dan meminta izin untuk masuk ke dalam kamarnya. Karena, napas Cinta saat ini merasa tidak karuan akan suatu hal yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.


" Cinta langsung tidur ya Kak, permisi,," Bilang Cinta yang langsung bangkit dari duduknya dan meminta izin kepada Rio.


" Aaakkhh secepat itu dek, Dedek udah mau tidur ?" Tanya Rio yang wajahnya terlihat tidak merelakan Cinta untuk pergi meninggalkannya.


" He'eh Kak, soalnya ngantuk banget, heheheh,," Jawab Cinta sambil berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.


" Ya udah kalau gitu selamat tidur ya, dek,," Ucap Rio sambil tersenyum kepada Cinta.


Dan, Cinta hanya menganggukkan kepalanya saja atas ucapan Rio terhadap dirinya, karena, ia ingin segera masuk ke dalam kamarnya, menutupi rasa malu dari wajahnya itu. Sedangkan, Rio sendiri hanya bingung dengan kelakuan Cinta yang begitu terlihat jelas bahwa saat ini Cinta merasa malu akan perlakuan yang sedang dilakukan Rio terhadapnya.


" Heemm, kenapa Dedek, jadi seperti itu, apa karena,," Gumam Rio sambil berpikir tentang kelakuannya tadi.


" Ooohhh, sepertinya Dedek mulai merasa canggung akan sikap dan tindakan yang kulakukan padanya itu,," Gumam Rio lagi sambil tersenyum sendiri.


" Baiklah, aku akan bersikap lembut, agar bisa meluluhkan hatinya,," Ucap Rio lagi yang merencanakan sesuatu hal baik bagi Cinta.


Saat ini Rio sendiri sedang tersenyum senang ketika melihat wajah Cinta yang seketika merasa malu atas tindakan lembutnya itu. Sedangkan, Cinta sendiri saat ini sedang berdiri di balik pintu dan mengelus dadanya menahan napasnya dan juga detak jantungnya yang berdetak begitu cepat sekali.


" Apa yang sedang kurasakan, kenapa aku sangat malu saat Kak Rio membelai wajahku,," Gumam Cinta dalam hati sambil mengelus dadanya dan merasakan kembali suatu hal yang dilakukan Rio terhadap dirinya.


" Apa sebenarnya Kak Rio menyukaiku ?" Tanya Cinta dalam hatinya yang berpikir bahwa Rio menyukainya.


" Aaahh, tidak, tidak, tidak mungkin jika Kak Rio menyukaiku, pastinya Kak Rio hanya memberikan kesan lembut supaya aku tidak terlalu penasaran tentang identitas Rossa bagi dirinya,," Gumam Cinta lagi dengan suara yang begitu kecil.


" Lebih baik aku segera tidur dan nggak usah memikirkan suatu hal yang bukan berurusan denganku, karena, masalah ini adalah masalah kepribadian Kak Rio, sedangkan aku dan Kak Rio tidak memiliki hubungan perasaan apa-apa, kami menikah hanya karena, faktor identitas saja," Ucap Cinta lagi sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidurnya.


Saat ini, Cinta sedang berada di tempat tidurnya, tidur terlentang sambil memikirkan kegiatan apa yang harus dilakukannya saat ia tinggal di kediaman Rio ini. Karena, tidak mungkin Cinta hanya sekedar menumpang saja di tempatnya Rio ini.


Sebenarnya, Cinta ingin membahas mengenai hal lainnya, namun, karena, Cinta sendiri tidak bisa menahan rasa penasarannya tentang Rossa. Oleh sebab itu Cinta menanyakan kepada Rio tentang Rossa ini dan dari pertanyaannya itu membuahkan hasil yaitu sebuah rasa canggung yang sedang di alami oleh Cinta.

__ADS_1


Saat, berisitirahat tadi sebenarnya Rio ingin membahas tentang pekerjaannya saat sedang berada di kampung. Karena, tidak mungkin bagi Rio untuk tidak mencari nafkah saat berada di kampungnya ink. Apalagi saat ini ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang istri, pastinya ia harus memberikan nafkah juga untuk istrinya, sedangkan ia tidak memiliki pekerjaan apapun.


" Heemm, sebenarnya aku ingin membahas tentang pekerjaanku pada Dedek, tapi, bagaimana mau membicarakan tentang hal ini padanya." Gumam Rio sambil meletakkan tangannya ke atas dahinya.


Dan, saat ini Rio sedang berbaring santai di depan pintu kamar Cinta. Karena, memang Cinta dan Rio belum siap untuk tidur bersama, hal ini merupakan sebuah konsekuensi yang telah dilakukan oleh Cinta. Sedangkan Rio hanya bisa menuruti saja keinginan Cinta yang belum terlihat bahwa ia mencintai Rio


Dan, karena, hari sudah larut malam serta hujan semakin lama semakin deras menyebabkan cuaca bertambah dingin di kampungnya Rio ini. Rio sendiri juga lupa untuk menyiapkan tempat tidurnya seperti yang Cinta lakukan malam kemarin dan malam ini sepertinya Rio akan kedinginan lagi saat tidur di luar.


" Aduuhhh, kenapa aku sampai lupa lagi mengambil kasur dan juga bantal,," Gumam Rio sambil menepuk kepalanya dengan lembut.


" Heemm, sepertinya Dedek udah tidur dan aku gak mungkin membangunkan tidurnya." Ucap Rio lagi sambil menatap pintu kamarnya Cinta.


" Lebih baik aku ambilkan sarung dan bantal seperti kemarin," Ucap Rio sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke ruangan sholat.


Seperti malam kemarin, Rio kembali mengambil sarung di dalam ruang sholat dan kembali lagi keluar dari ruangan itu serta mengambil bantal yang ada di atas sofa. Setelah lengkap barulah Rio meletakkan bantal di bawah dan juga langsung menggunakan sarung untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Ya, walaupun begitu terasa pendek dari sarung yang menutupi tubuhnya itu, setidaknya bisa sedikit membantu Rio untuk mendapatkan kehangatan dalam tidurnya.


Saat ini hujan semakin lama semakin deras dan pastinya membuat cuaca jadi semakin dingin. Karena, merasa begitu dingin tubuh Rio sendiri tidak bisa menahan dinginnya cuaca yang begitu dalam hingga menembus ke seluruh tulang di tubuhnya itu.


" Iiihhhh, kenapa dingin sekali,," Ucap Rio seketika terbangun dari tidurnya.


Wajar sekali jika Rio sampai terbangun dari tidurnya itu karena, cuaca hujan deras semenjak sore saat ia pulang dari tambaknya itu. Rio ingin sekali mengetuk pintu kamarnya Cinta untuk mengambil kasur dan juga selimut, tapi Rio takut jika hal itu bisa mengganggu tidurnya Cinta saat ini.


" Gimana ini, aku kedinginan jika sampai pagi harus seperti ini,," Ucap Rio dengan mulutnya yang bergetar karena faktor cuaca yang begitu dingin.


Karena, cuaca sedang hujan yang begitu deras hingga akhirnya petir menyambar dengan suara yang begitu kuat sekali. Sehingga membuat listrik di kampung ini padam. Dan, pastinya membuat Cinta terkesiap kaget, ketika mendengarkan suara gemuruh petir yang begitu keras sekali itu.


GELEGAAARRR !!!


Dengan segera, Rio beranjak perlahan-lahan mencari senter untuk menerangi ruangan rumahnya dikala mati lampu seperti saat ini.


Suara petir yang begitu kuat sekali sehingga menyebabkan Cinta terbangun dari tidurnya dan kaget ketika melihat suasana kamarnya menjadi gelap. Betapa terkejutnya Cinta ketika membuka matanya dan melihat suasana kamar sudah menjadi gelap seperti saat ini.


" Aaaawwwww,," Seru Cinta ketika kaget mendengar suara gemuruh petir yang kuat sekali dan lebih kaget lagi ketika melihat suasana kamarnya sudah gelap seperti ini.


" Hah!! kenapa gelap, dimana lampunya ?" Tanya Cinta sambil meraba-raba ke seluruh di atas tempat tidur.


Seketika Cinta merasa takut saat mendengar suara petir lagi yang bertambah besar sehingga membuat dirinya harus berteriak memanggil nama Rio.


GELEGAAARRR !??


" Aaakkkhh, Kak Rio,," Suara Cinta yang berteriak memanggil Rio karena, ketakutan dengan suasana kamarnya yang begitu gelap.


" Kak Rio, Cinta takut,," Ucap Cinta sambil menutup tubuhnya dengan selimut dan berteriak memanggil nama Rio.


Karena, hujan begitu deras sekali, Rio yang berada diluar sama sekali tidak bisa mendengarkan suara teriakan Cinta saat ini. Karena, Rio sendiri juga sedang menaiki sofa yang ada di ruang tamu dan mencoba untuk tidur di atas sofa itu.


" Iiihhh kenapa hujannya deras sekali,," Gumam Rio sambil menggetarkan giginya sambil mencoba untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Cinta yang sedang berada di dalam kamarnya, menangis sesenggukan merasa takut dengan suasana kamarnya yang gelap dan juga hujan yang deras berserta gemuruh petir yang begitu kencang sekali. Hal itu, membuat Cinta tetap berteriak memanggil nama Rio, karena sedari tadi Rio tidak mendatangi dirinya di dalam kamar ini.


" Kak Rio, Cinta takut,," Teriak Cinta di kamar.


Sudah berapa kali Cinta meneriakkan suaranya yang memanggil nama Rio. Namun, Rio sama sekali tidak mendengarkan suara Cinta yang memanggil namanya itu. Karena, sudah terlalu sering berteriak memanggil nama Rio, akhirnya Cinta memanggil nama Rio yang terakhir hingga mulutnya lelah memanggil nama Rio yang tidak kunjung datang ke kamarnya itu.

__ADS_1


" Kak Rio,,,," Teriak Cinta yang terakhir cukup panjang.


Dan, hal itu membuat Rio sedikit kaget mendengar suara Cinta yang berteriak di dalam kamar sedang memanggil namanya.


" Dedek,, seperti suara Dedek,," Gumam Rio yang sedikit mendengarkan suara teriakan Cinta.


Dan, dengan segera Rio berlari menuju ke arah kamarnya Cinta, sambil mengetuk pintu kamarnya Cinta Rio berharap bahwa itu bukanlah suara teriakan Cinta yang sedang memanggil namanya.


" Dek,, Dek,," Panggil Rio terhadap Cinta sambil mengetuk pintu kamar.


Dan, Cinta segera berteriak lagi ketika mendengarkan suara Rio yang memanggilnya dari depan pintu kamar.


" Hiks, Hiks,, Kak Rio Cinta takut,," Gumam Cinta sambil menangis sesenggukan dengan suara yang terdengar seperti serak.


Sedikit samar-samar Rio mendengar suara Cinta dari dalam, karena, suara Cinta sudah terlalu serak sehingga membuat Rio tidak terlalu mendengarkan ucapannya. Rio masih saja mengetuk pintu kamarnya supaya Cinta bisa membuka pintu kamar itu.


" Dek, buka pintunya,, buka pintunya, Dek,," Ucap Rio sambil mengetuk pintu kamarnya.


" Cinta gak bisa lihat Kak, soalnya gelap,," Bilang Cinta sambil menangis sesenggukan di dalam selimut.


" Bagaimana Kak Rio bisa masuk jika kamarnya dikunci,," Bilang Rio dari luar dengan suaranya yang terdengar di sela derasnya air hujan yang turun.


" Baiklah tunggu sebentar, Cinta buka, tapi, bagaimana Cinta gak bisa lihat kak,," Bilang Cinta dari dalam kamarnya.


Rio berinisiatif untuk mengajarkan Cinta melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arah pintu walaupun tidak bisa melihat. Pasti akan terlihat juga dengan suasana ruangan ketika ada petir yang menyambar.


" Dedek bisa nyalakan ponsel di kamar ?" Tanya Rio lagi dari luar pintu.


" Ponsel Cinta di lemari,," Jawab Cinta sambil meraba-raba dinding di sampingnya.


" Dedek melangkah perlahan-lahan mendekati pintu ketika ada sinar kilatan petir dek,," Ucap Rio yang berinisiatif mengajar Cinta.


" Aaahh Cinta gak berani kalau ada petir." Jawab Cinta yang masih meraba-raba dan maju ke depan mendekati pintu.


Karena, mendengar ucapan Cinta yang begitu takut dengan adanya suara petir, apalagi saat ini suasana sedang mati lampu sehingga menyebabkan Rio bingung untuk melakukan apalagi terhadap pintu pembatas antara dirinya dengan Cinta.


" Aduuuhhh bagaimana ini, ya, udah kalo gitu pintu kamarnya, Kakak dobrak aja ya,," Ucap Rio yang berinisiatif untuk mendobrak pintu kamarnya itu.


" Nggak usah, Kak, jangan nanti pintunya rusak, biar Cinta aja yang bukakan pintunya." Jawab Cinta merasa bersalah karena, ia selalu menutup dan mengunci pintu kamarnya itu.


Padahal selama ini, Cinta juga begitu mengenali sifat Rio terhadap dirinya. Karena, semenjak mereka pergi bersama Rio tidak pernah menyentuh tubuhnya sedikitpun. Apalagi setiap harinya Rio selalu menghormati tubuhnya itu, kenapa Cinta harus takut akan sikap dan kelakuan Rio.


" Kenapa aku bisa bodoh banget sih, harus mengunci pintu. Jika sudah begini akhirnya repot sendiri kan,," Umpat Cinta yang merasa kesal dengan dirinya sendiri itu.


Ketika Cinta sedang perlahan-lahan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu kamar, Cinta lupa bahwa di dekat pintu kamarnya itu ada sebuah kursi dsn juga meja, sehingga perabotan itu menyebabkan kakinya tersandung dan terluka.


GELEBUK !!?


" Akkkhhh,," Teriak Cinta ketika kakinya tersandung di kaki meja yang begitu tajam hingga membuat kakinya terluka.


" Aduhhh,," Gumam Cinta yang meringis merasakan sakit di kakinya.


Ketika, kaki Cinta tersandung dan terluka karena kepentok kaki meja, Rio semakin terkejut mendengar suara Cinta yang berteriak dan meringis kesakitan itu.


****

__ADS_1


__ADS_2