
Rio tersenyum senang ketika melihat keceriaan dan semangat kembali lagi pada diri Cinta, walaupun semua masakan Cinta saat ini hancur, kemungkinan lain kali masakannya ini merupakan masakan yang selalu dirindukan oleh lidah Rio sendiri. Cinta segera meletakkan semua makanan di atas meja makan yang begitu minimalis cuma hanya bisa dua kursi yang berjejer. Karena, kebetulan meja makan di dapur ini di letakkan berdempetan dengan dinding. Walaupun masih ada dua kursi lagi, tapi dua kursi itu tidak digunakan melainkan diletakkan di tempat lain. Satu di kamar Cinta dan satunya lagi di ruang sholat.
Cinta dengan wajah yang begitu bahagia merasakan pertama kalinya makan malam bersama dengan Rio di rumah Neneknya Rio ini. Dan, malam ini juga pertama kalinya Cinta akan tidur di rumah ini, walaupun rumah ini begitu sederhana tapi ada kesenangan dan juga kebahagiaan yang akan tumbuh di dalam rumah mungil ini.
" Kakak bantu ya dek,," Gumam Rio sambil ikut mengambil nasi di dalam magic com.
" Hah, iya kak,," Jawab Cinta tersenyum ketika melihat Rio sedang mengaduk nasi di dalam magic com.
Setelah mengambil nasi yang begitu lembek tapi tidak terlalu bonyok seperti bubur, Rio segera meletakkan wadah yang berisi nasi ke atas meja, sementara itu, Cinta sendiri mengambil dua piring dan juga gelas di dalam lemari. Setelah tersusun rapi dan sudah disiapkan semuanya, barulah Cinta meminta Rio untuk duduk di kursi meja makan itu.
" Udah siap semuanya kak, silahkan makan,," Bilang Cinta sambil tersenyum senang.
" Hehehe, Dedek bisa aja," Gumam Rio tersenyum saat mendengar ucapan Cinta yang sengaja menyuguhkannya makan malam pertama mereka saat jadi pengantin.
Setelah Cinta menyuguhkan makan malam untuk Rio, Rio segera duduk di kursi, namun Rio heran kenapa Cinta tidak ikut duduk makan bersama dengannya. Rio kembali menolehkan wajahnya ke arah Cinta yang sedang berdiri di belakang tubuhnya.
" Loh, kok Dedek gak ikut makan ?" Tanya Rio langsung pada Cinta.
Seketika Cinta menyunggingkan senyumannya pada Rio dan masih berdiri tepat di belakang tubuhnya Rio.
" Hehehe, Cinta ingin lihat Kak Rio makan terlebih dahulu, karena, Kak Rio sedang sakit jadi Kak Rio harus banyak makan supaya cepat sembuh,," Jawab Cinta sambil tersenyum.
Entah benar atau tidak jawaban dari Cinta itu, tapi, sungguh terlihat akan ketulusan di balik wajahnya yang begitu terlihat anggun tanpa polesan make up.
" Heemm, nggak boleh gitu, walaupun Kakak sedang sakit dan Dedek lagi sehat, Dedek juga harus makan supaya nggak ikut-ikutan sakit seperti Kakak, yuk duduk sini, kita makan bersama,," Bilang Rio yang spontan menarik tangan Cinta dengan lembut untuk duduk di sampingnya.
Saat Rio tidak sengaja menarik tangan Cinta untuk duduk di sampingnya itu, Cinta juga merasakan hal yang biasa saja, namun, ketika Cinta menuruti ucapan dari Rio. Rio tersenyum senang karena, ternyata Cinta juga bisa menuruti ucapannya yang terdengar begitu lembut bagi Cinta sendiri.
" Oke deh kalo gitu,," Bilang Cinta segera duduk di kursi samping Rio.
Rio dan Cinta akhirnya duduk berdampingan, yang pertama kali mengambil nasi adalah Rio dan Rio sengaja meletakkan nasi itu ke dalam piringnya Cinta. Namun, terlihat Cinta menolak malu, karena, merasa dituankan oleh Rio di dalam rumahnya sendiri.
" Eeehhh, nggak usah kak biar Cinta sendiri yang ambil,," Bilang Cinta ketika melihat Rio meletakkan nasi ke dalam piringnya.
" Nggak apa-apa dek, sekali-sekali,," Jawab Rio yang masih meletakkan nasi ke dalam piring Cinta.
" Heemm, ya udah deh, terima kasih Kak,," Bilang Cinta tersenyum bahagia.
" Iya dek,," Jawab Rio juga ikut tersenyum.
Setelah diberikan kode cukup dari Cinta, barulah Rio meletakkan nasi ke dalam piringnya sendiri. Sedangkan Cinta menuangkan air putih ke dalam gelas mereka masing-masing. Sungguh kehidupan rumah tangga yang begitu romantis sekali dimana kedua pasangan yang baru saja sudah menikah secara halal dan sah melakukan sesuatu hal dengan begitu indah dan saling mendukung. Sehingga terbentuklah kebahagiaan yang ada walaupun makanan yang disuguhkan Cinta begitu hancur dan amburadul.
Walaupun seperti itu, Rio begitu menghargai tindakan Cinta yang bersedia melakukan pekerjaan dapur ketika ia sedang sakit. Dan sementara itu Cinta selama ini tidak pernah melakukan suatu pekerjaan apapun yang cukup berat seperti ini karena dia merupakan seorang putri tunggal dari keluarga kaya raya Hendrawan. Jadi, walaupun masakan Cinta hancur, bagi Rio masakan Cinta ini merupakan suatu keberuntungan untuknya sendiri.
Saat ini Cinta sedang meletakkan mie instan ke dalam piring Rio dan piringnya juga lalu, Cinta meletakkan telur gosong yang tidak sengaja ditinggalkannya pergi ke kamar mandi tadi. Namun, sebelum meletakkan telurnya ke dalam piring, terlebih dahulu Cinta bertanya dengan Rio apakah Rio mau menyantap telur gosong ini.
" Eeemmm, Kak, Kakak mau makan telur ini ?" Tanya Cinta terlebih dahulu pada Rio sebelum memasukkan telur ke dalam piring Rio.
" Letakkan aja dek, semuanya pasti Kakak makan, mau telurnya gosong ataupun nggak yang terpenting makanan itu harus kita makan, karena, jika kita tidak memakannya akan jadi mubazir aja betulkan,," Bilang Rio sambil menjelaskan suatu masukkan penting pada Cinta.
" Heemm betul banget kak,," Jawab Cinta mengangguk.
__ADS_1
" Jadi telurnya yakin kakak mau ?" Tanya Cinta lagi pada Rio.
" Iya dek, taruh aja,," Ucap Rio yang melihat wajah Cinta.
Karena, sudah mendapatkan persetujuan dari Rio dengan senang hati Cinta meletakkan telur itu ke dalam piring Rio. Dan, Cinta hanya menyisakan sedikit untuk dia cicipi. Rio merasa lucu sendiri atas sikap Cinta yang terlihat membagikan lauk begitu banyak padanya sedangkan di piring Cinta sendiri hanya sedikit. Begitu terlihat sekali bahwa Cinta berpikir akan kondisi yang sedang sakit.
" Kenapa makanan di piring Dedek hanya sedikit ?" Tanya Rio langsung pada Cinta yang membuat Cinta sedikit kaget.
" Hehehe, kayak nggak tau aja kalo Cinta makannya dikit,," Jawab Cinta sambil mengambil sendok di dekat teko air.
" Heemm Dedek nggak boleh makan dikit seperti itu, makan yang banyak, supaya nggak sakit,," Bilang Rio sambil meletakkan lauknya ke dalam piring Cinta.
Betapa kagetnya Cinta ketika melihat Rio memindahkan lauknya ke dalam piring milik Cinta sendiri. Cinta memang sengaja dikit makan, karena, Cinta merasa kasihan pada Rio yang sudah menyiapkan semua makanan ini untuk dirinya juga. Sedangkan Rio sendiri sudah tidak memiliki pekerjaan dan pastinya uang di dalam tabungannya akan berkurang, karena, juga ikut membantu memberikan makan untuk Cinta.
" Kak jangan, Kakak itu sedang sakit, lebih baik kakak aja yang banyak makan,," Bilang Cinta ketika melihat Rio masih memasukkan lauk ke dalam piringnya.
" Pokoknya Dedek harus banyak makan, jika, Dedek nggak mau makan, Kakak ikut nggak mau makan,," Bilang Rio sambil melihat reaksi di wajah Cinta.
" Baik, Cinta makan kak, tapi, kalo Cinta makan, Kakak juga harus makan ya,," Gumam Cinta sambil menoleh dan melihat wajah Rio.
" Bagus, gitu donk,," Bilang Rio yang sudah berani berbicara akrab dengan Cinta.
Akhirnya Cinta mau juga untuk menyantap semua makanan yang ada di dalam piringnya dan bahkan Rio sengaja menambahkan lauk yang masih tersisa di dalam piring ke dalam piringnya sendiri dan piringnya Cinta. Cinta sempat menolak akan tindakan Rio yang menaruh semua lauk ke dalam piringnya juga, karena, saat ini posisinya perut Cinta sudah kenyang malah ditambah lagi oleh Rio.
" Eehhh nggak usah, nggak usah kak, Cinta udah kenyang serius,," Bilang Cinta sambil melambaikan tangannya ke hadapan Rio.
" Pokoknya harus dimakan dek,, jangan dibuang nanti mubazir,," Bilang Rio yang membuat Cinta akhirnya mau juga menghabiskan semua makanan itu lagi.
" Shutt,, nggak boleh ngomong seperti itu di depan makanan, nanti makanannya menangis,," Bilang Rio pada Cinta dan terdengar seperti orang tua yang sedang menasehati anaknya.
Seketika Cinta tertawa geli mendengarkan ucapan Rio yang memberikannya sebuah nasehat itu.
" Hahahaha, Kaka Rio bisa aja, ya udah Cinta habiskan,," Bilang Cinta langsung menyantap makanannya kembali.
Rio begitu bahagia melihat Cinta yang selalu tertawa ketika hidup bersama dengannya dalam keadaan yang begitu sederhana. Rio memaklumi kondisi dirinya saat ini karena, belum bisa membahagiakan Cinta layaknya seperti orang tua Cinta sendiri yang memberikan semua kebahagiaan dan kesejahteraan yang begitu banyak dan juga berlimpah. Rio hanya berharap semoga Cinta bisa mengerti akan perasaannya selama ini pada wanita yang sedang berada di sampingnya itu.
Setelah selesai makan bersama dengan penuh kebahagiaan, barulah Cinta membereskan semua alat-alat yang kotor di atas meja makan. Rio segera membawakan semua piring, mangkok, sendok dan semua peralatan makan ke dalam tempat cuci piring. Rio mengerti akan dirinya yang sudah terbiasa mencuci piring itu, namun, Rio tidak mau jika ia hanya bisa bersantai setelah makan. Ketika melihat Rio sedang bersiap mencuci piring yang ada di dalam tempat pencucian piring, Cinta segera melarang Rio untuk mencucikan semua peralatan yang ada.
" Eeehhh Kak jangan dicuci biar Cinta aja,," Bilang Cinta sambil mengelap kembali meja yang sedikit kotor.
" Nggak apa-apa dek, lagian kakak malas jika berbaring terus." Jawab Rio dengan enteng merasa kondisi tubuhnya memang sudah fit.
" Tapi, Kakak sedang sakit,," Bilang Cinta sambil mendekati Rio dan membawa sisa peralatan yang kotor ke dalam tempat cuci piring.
" Udah sembuh dek,," Bilang Rio.
" Benarkah," Ucap Cinta sambil meletakkan tangannya tepat di dahinya Rio.
" Heemm benar juga ya,," Gumam Cinta lagi setelah mengetahui keadaan Rio.
" Udah sembuhkan, makasih ya dek udah ngerawat Kakak,," Bilang Rio sambil tetap mencuci piring.
__ADS_1
" Heemmm ya kak,," Jawab Cinta sambil tersenyum malu.
" Oh ya Kakak bangunnya udah lama, apa ?" Tanya Cinta lagi pada Rio.
" Heemmm, saat Dedek mandi Kakak udah bangun dan saat Dedek lagi sholat, Kakak juga mandi dan sholat,," Ucap Rio yang menjelaskan keadaannya.
" Ooohhh pantesan, Kok rapi banget,," Gumam Cinta sambil melirik ke semua tubuhnya Rio.
" Apa dek ?" Tanya Rio menoleh langsung ke arah Cinta.
" Nggak, Nggak apa-apa kok hehehe,," Jawab Cinta tersenyum.
Setelah selesai mencuci semua peralatan makan barulah Rio dan Cinta membahas tentang masalah tempat tidur mereka. Sebenarnya Cinta malu membahas masalah tempat tidur mereka saat ini, karena, Cinta merasa mereka sudah menikah tidak mungkin mereka tidur di tempat berpisah, tapi, mereka menikah karena suatu hal yang harus membuat mereka menikah mendadak seperti ini. Oleh sebab itu, saat ini Cinta hanya bisa terdiam saat sedang duduk di ruang tv yang tidak terlalu besar.
" Heemm, bagaimana ini, tidak mungkin aku yang terlebih dahulu membahas tempat tidur, sedangkan rumah ini rumahnya Kak Rio, masa aku yang mengatur semuanya." Gumam Cinta dalam hati yang sedang bingung harus berbicara apa.
Cinta berpura-pura menguap supaya bisa diizinkan oleh Rio untuk tidur terlebih dahulu darinya. Rio juga mengerti bahwa tubuhnya Cinta pasti kelelahan sama seperti tubuhnya tadi pagi saat ia baru sampai di rumah ini.
" Dedek ngantuk, kenapa nggak tidur aja,," Bilang Rio ketika mendengar suara Cinta yang sedang menguap.
" Heeemm, sebenarnya ngantuk, tapi,," Jawab Cinta yang sengaja digantung karena, ingin tahu reaksi jawaban dari Rio.
" Tapi, kenapa, dek ?" Tanya Rio balik pada Cinta.
" Hehe nggak apa-apa, Kak,," Jawab Cinta nyengir sendiri.
Rio sungguh mengerti akan maksud dari perkataan dan sikap Cinta seperti ini, pasti ada sesuatu yang diinginkannya, namun, Cinta merasa tidak sanggup untuk mengungkapkannya. Oleh sebab itulah Rio sendiri yang harus cepat memberikan sebuah pemahaman yang benar kepada Cinta.
" Eemmm, Dedek tidur aja di kamar, biar nanti Kakak bisa tidur di ruang tv ini,," Bilang Rio sambil memberikan sebuah pemahaman yang diinginkan oleh Cinta.
" Eeemmm, Kakak yakin mau tidur disini ?" Tanya Cinta langsung pada Rio.
" Iya dek,," Jawab Rio mengangguk.
" Tapi, apakah nggak apa-apa, jika Cinta tidur di kamarnya Kak Rio ?" Tanya Cinta lagi pada Rio.
" Iya dek, anggap saja kamar itu kamar Dedek sendiri, ya walaupun kamarnya kecil tapi bisa nyaman untuk Dedek istirahat,," Bilang Rio lagi yang terdengar begitu meyakinkan Cinta.
" Oke deh, kalo gitu,," Jawab Cinta yang segera bangkit dari duduknya.
Cinta segera bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar. Saat dirinya sudah berada di depan pintu kamar, Cinta kembali menanyakan sesuatu hal pada Rio hingga membuat Rio merasa bingung sendiri.
" Eeemm, Kak yakin nggak mau tidur di kamar ?" Tanya Cinta lagi yang begitu spontan pada Rio.
" Hah! apa dek ?" Tanya Rio balik pada Cinta yang memang tidak terlalu mendengarkan suara Cinta itu.
" Hehe nggak apa-apa, Kak,," Jawab Cinta segera melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Sambil tertawa geli Cinta segera menutup pintu kamar dan kembali membersihkan kamarnya itu, setelah selesai dibersihkan dengan seadanya barulah Cinta merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Saat tubuhnya sudah berada di atas tempat tidur begitu terasa nikmat sekali. Karena, sudah beberapa hari ini Cinta sungguh penat saat tidur di dalam perjalanan. Walaupun hanya dua malam tidur di hotel, hal itu tidak membuatnya merasa nyaman. Dan, baru kali ini Cinta merasakan suatu hal yang begitu nikmat dalam tubuhnya ketika tubuhnya sudah direbahkan di atas tempat tidur.
****
__ADS_1